11.11.18

Formula Sukses

Formula Sukses



Achmanto Mendatu

While we don’t promise equal outcomes, we have strived to deliver equal opportunity – the idea that success... depends on effort and merit,” —Barack Obama
If there is no dark and dogged will, there will be no shining accomplishment; if there is no dull and determined effort, there will be no brilliant achievement.—Chinese saying

“Keluarga berbahagia semuanya mirip, sedangkan keluarga tidak berbahagia, tidak bahagia dalam caranya sendiri.” Demikian kalimat pembuka novel termasyhur ‘Anna Karenina’ karya Leo Tolstoy, yang kemudian populer disebut sebagai “asas Anna Karenina”, yakni bahwa keluarga-keluarga bahagia serupa sama satu sama lain karena mereka berhasil dalam semua faktor yang mempengaruhi kehidupan berkeluarga, misalnya dalam komunikasi, seks, pengasuhan anak, kepercayaan, penggunaan sumber daya ekonomi, dan lainnya. Sebaliknya, keluarga-keluarga yang tidak berbahagia berbeda satu sama lain karena kegagalan mereka ada di faktor yang berlainan: ada yang gagal di dalam seks, ada yang gagal dalam ekonomi, ada yang gagal dalam pengasuhan anak, atau mungkin ada yang gagal semuanya, dan sebagainya. 

Asas Anna Karenina berlaku dalam banyak hal, salah satunya dalam kesuksesan: “orang-orang sukses semuanya mirip, sedangkan orang yang tidak sukses tidak sukses dalam caranya sendiri.” Semua orang sukses memiliki kemiripan satu sama lain karena mereka harus berhasil dalam semua faktor terpenting yang mempengaruhi kesuksesan. Sebaliknya, orang yang tidak sukses berbeda satu sama lain karena kegagalannya bisa ada pada faktor yang berlainan. Lantas, apa kemiripan yang terdapat pada semua orang yang sukses? 

Mari kita lihat dulu apa itu formula sukses.

Sudah lebih dari satu abad, para ilmuwan psikologi meneliti sifat-sifat (trait) apa saja dalam diri individu yang relevan dalam pencapaian sukses. Hasilnya bisa diformulasikan dalam rumus sederhana, yakni:

pencapaian = skill × usaha

Formula di atas memiliki analogi sangat pas dengan salah satu rumus fisika, yakni jarak = kecepatan × waktu. Semakin tinggi kecepatannya dan semakin lama waktunya, maka semakin jauh jarak tempuhnya. Apabila kecepatan nol, maka seberapa pun waktu yang dikerahkan, jaraknya akan nol. Sebaliknya, jika waktu nol, maka berapa pun kecepatannya, jaraknya akan tetap nol. Jarak merupakan analogi dari pencapaian (achievement, yang idem-dito dengan produktivitas, prestasi, sukses), kecepatanadalah analogi dari skill, dan waktu merupakan analogi dari usaha. Skill yang tinggi bisa menjadi kompensasi usaha yang rendah, sebaliknya usaha yang tinggi bisa menjadi kompensasi skill yang rendah, tetapi hanya jika skill maupun usaha tidak nol.Jika salah satunya nol, maka tidak ada pencapaian.[1]

Skill didefinisikan sebagai kecepatan perubahan dalam pencapaian per unit usaha (the rate of change in achievement per unit effort) atau dengan kata lain, seberapa cepat seseorang bisa belajar menguasai sesuatu dalam kurun waktu tertentu. Semakin tinggi skill-nya berarti semakin cepat seseorang bisa menguasai sebuah keterampilan/pengetahuan dan semakin otomatis melakukannya. Usaha didefinisikan sebagai jumlah waktu yang didedikasikan khusus untuk sebuah tugas atau jumlah waktu melakukan sebuah tugas dengan konsentrasi tinggi. Pencapaian didefinisikan sebagai keahlian atau penguasaan (mastery) yang diperoleh dari pengerahan skill dan usaha. 

Hubungan antara pencapaian, skill dan usaha bisa diilustrasikan dengan contoh pemain gitar.[2] Pencapaian adalah keahlian bermain gitar, yang diberi rating dari 0 (total tidak bisa) sampai 10000 (ahli); usaha adalah jumlah waktu (jam) yang didedikasikan khusus untuk berlatih gitar; dan skill adalah tingkat kecepatan menaikkan keahlian bermain gitar per unit waktu. SiA dan si B adalah dua orang yang mulai belajar gitar dengan keahlian 0. Setelah 1 jam berlatih dengan usaha yang sama keras dan konsentrasi sama tinggi, si A bisa menaikkan level bermain gitar ke 2, sedangkan si B hanya bisa menaikkan levelnya ke 1. Artinya, si A memiliki kecepatan belajar 2 level/jam, sedangkan si B hanya 1 level/jam. Artinya, si A memiliki skill lebih tinggi dari si B. Untuk menyamai keahlian bergitar si A, maka si B harus mendedikasikan waktu 2× lebih banyak dari si A. Jika si A berlatih 500 jam, maka si B harus berlatih 1000 jam hanya agar tidak tertinggal dari si A. Jika ingin melampaui si A, si B harus mendedikasikan waktu berlatih setidaknya 3× lipat dari si A. 

Terkait erat dengan skill adalah talenta yakni kecepatan perubahan dalam skill per unit usaha (the rate of change in skill per unit effort) alias seberapa cepat perubahan dalam kecepatan belajar. Misalnya kecepatan belajar si A adalah 2 level/jam, tapi setelah belajar 50 jam, kecepatan belajarnya berakselerasi menjadi 3 level per jam, dan lalu setelah 100 jam, kecepatan belajarnya berakselerasi lebih cepat lagi menjadi 6 level/jam. Sayangnya, tidak semua orang seperti A. Kecepatan belajar sebagian orang bersifat konstan atau bahkan menurun. Ada yang kecepatan awalnya 2 level/jam, namun setelah 1000 jam tetap 2 level/jam, bahkan ada yang turun menjadi 1 level/jam. Mereka yang memiliki akselerasi lebih tinggi ketimbang orang lain berarti lebih bertalenta atau lebih berbakat. 

Salah satu aspek skill adalah pemelanan (slowness), yakni upaya disengaja untuk memelankan diri agar bisa melakukan perencanaan, penyempurnaan, pengecekan kesalahan dan untuk kreativitas.[3] Semakin tinggi kecepatan belajar, berarti semakin banyak waktu yang bisa digunakan untuk proses pemelanan itu. Melalui pemelanan, seseorang bisa berpikir lebih mendalam dan fokus, menelisik apa-apa saja kesalahan yang telah dilakukan dan memperbaikinya, serta berpikir kreatif dan inovatif atas sebuah permasalahan. Jika si A bisa menyelesaikan sebuah pekerjaan selama 3 jam, sedangkan si B bisa melakukannya 8 jam, maka si A memiliki keuntungan sebanyak 5 jam di depan B untuk memoles pekerjaannya, mengedit dan menyempurnakannya. Hasilnya, berkat pemelanan itu, si A bisa menghasilkan karya yang lebih baik. Oleh karena itu, saran bagi mereka yang memiliki kecepatan, adalah “Pelankan dirimu!” yang maknanya membaca lebih pelan (agar bisa lebih menyerap), berbicara lebih pelan (agar bisa berpikir lebih dalam apa yang dibicarakan dan tidak menyela oranglain bicara), dan seterusnya.

Jadi, ada 3 hal dalam skill, yakni kecepatan belajar (speed), akselerasi kecepatan belajar (rate of learning, talenta) dan pemelanan (slowness). Ketiganya sangat dipengaruhi inteligensi.[4] Semakin tinggi inteligensi yang dimiliki seseorang, maka semakin tinggi kecepatan belajar dan akselerasi kecepatan belajarnya, serta semakin mungkin untuk mendemonstrasikan pemelanan. Pendek kata, semakin tinggi inteligensi maka semakin tinggi skill-nya.


Pencapaian


Pencapaian (achievement) atau produktivitas atau prestasi atau sukses, yang diperoleh individu dalam hidupnya bisa dikelompokkan menjadi 2, yakni pencapaian subjektif dan pencapaian objektif. Pencapaian subjektif adalah pencapaian yang pengukurannya mengandalkan pada laporan individu yang bersangkutan berdasarkan penilaian subjektifnya. Contoh yang paling gampang adalah kebahagiaan. Penilaiannya hanya bisa dilakukan dengan merating, misalnya dengan menjawab pertanyaan: “Dari skala 0 sampai 10 berapa tingkat kebahagiaan Anda?” Lalu orang yang bersangkutan memilih angka yang menurutnya paling menggambarkan dirinya. Contoh lainnya adalah keberhasilan menjadi orangtua, kondisi pernikahan, kualitas pertemanan dan sejenisnya.

Pencapaian objektif merupakan pencapaian yang bisa diukur dan dibandingkan dengan oranglain secara objektif dan atau bisa diakui/dikenali orang lain. Pencapaian objektif bisa digolongkan ke dalam 4 domain, yakni akademik, karir, ekonomi, dan sosial. Pencapaian akademik paling mudah dilihat dengan prestasi akademik (misalnya indeks prestasi, kemampuan matematika, kemampuan sains) atau tingkat pendidikan yang diselesaikan (misalnya selesai sarjana atau doktor). Pencapaian berkarir bisa dilihat dari seberapa jauh posisi karir yang diraih (misalnya menjadi manajer, direktur, gubernur, panglima, profesor), atau seberapa besar reputasinya (misalnya seberapa sering dikutip dan dijadikan rujukan, seberapa banyak fans atau pengikutnya atau pemilihnya), atau seberapa penting sumbangannya diakui dalam bidang karirnya (misalnya seberapa bergengsi penghargaan yang diraih: Nobel, Pulitzer, Time’s People of the Year, Oscar, Ballon D’Or, Life-Time Achievement Awards, Bintang Mahaputra, dan sebagainya). Pencapaian ekonomi paling gampang dilihat dari jumlah pendapatan dan kepemilikan (kekayaan) yang diperolehnya dibandingkan yang lain. Dan pencapaian sosial bisa diketahui dari reputasinya: seberapa dikenal dan dihormati oleh masyarakat atau komunitasnya, baik level setempat, daerah, nasional maupun internasional.[5] Setiap domain saling terkait, meskipun tidak semua orang bisa sukses di semua domain. 

Sukses mengikuti hukum kurva lotka: semakin ke kanan jumlahnya semakin kecil. Dengan kata lain, semakin tinggi suksesnya, semakin sedikit orang yang meraihnya. Meskipun ada banyak orang yang ikut berkarir, berkarya dan berkontribusi dalam suatu bidang, hanya ada sedikit orang yang memiliki prestasi sangat tinggi dalam bidang tersebut. Ambil contoh dalam dunia bulutangkis Indonesia. Meskipun sepanjang sejarahnya ada ribuan pemain bulutangkis Indonesia yang pernah masuk pelatnas dan berkompetisi secara profesional, namun hanya segelintir saja yang mengalami sukses besar dengan prestasi mengkilap dan dikenal luas oleh masyarakat.


Skill & Inteligensi


Inteligensi merupakan salah satu konsep terpenting dalam psikologi dan sekaligus menjadi salah satu yang paling kontroversial. Dalam perbincangan keseharian dan media populer, inteligensi dan IQ (intelligence quotient) dianggap sebagai hal yang sama. Namun itu keliru. Inteligensi lebih luas dari sekedar skor IQ. Inteligensi merupakan kemampuan untuk mempelajari dan memahami segala sesuatu yang ada di sekeliling. Di dalamnya tercakup kemampuan untuk bernalar, perencanaan, pemecahan masalah, berpikir abstrak, memahami ide yang kompleks, belajar dengan cepat dan belajar dari pengalaman. Peran skor IQ bagi inteligensi seperti peran kilogram bagi massa-berat. Jadi, skor IQ hanya sebuah ukuran bagi inteligensi. Dan harus diingat bahwa IQ tidak mengukur semua bentuk inteligensi. Yang diukur IQ hanya sebagian dari konsep inteligensi yang luas. Meskipun demikian, merupakan fakta yang tidak terbantah bahwa skor IQ bisa memprediksi dengan baik pencapaian seseorang, dari pencapaian akademik, karier, ekonomi hingga sosial. Diketahui, hanya skor IQ yang bisa sendirian memprediksi pencapaian sukses masa depan.[6] Jadi, dari asas kegunaan, IQ merupakan konsep yang sangat bermanfaat. [7

IQ merupakan skor terstandarisasi yang diperoleh dari tes inteligensi standar, seperti WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children), WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale), Stanford-Binet dan K-ABC (Kaufman-Assessment Battery for Children),yang memakai patokan rerata skor IQ 100 dengan standar deviasi 15 poin. Itu artinya, 68,26% orang memiliki IQ dalam rentang 1 standar deviasi atau antara 85-115, dan 95% orang memiliki IQ dalam rentang 2 standar deviasi atau antara 70-130. Mereka yang memiliki skor IQ di bawah 2 standar deviasi atau <70 dianggap memiliki ketidakmampuan mental dan yang di atas 2 standar deviasi atau >130 dianggap berbakat (gifted). Kategorisasi IQ yang lazim digunakan adalah <70 sangat rendah (extremely low); 70-79 borderline; 80-89 rerata bawah (low average); 90-109 rerata; 110-119 rerata atas (high average); 120-129 superior; >130 sangat superior (very superior). Patut diingat bahwa setiap tes IQ, seberapa pun valid dan reliabel mengandung eror pengukuran, yang pada tes IQ modern berkisar 5 poin. Itu artinya, ketika seseorang mendapatkan skor IQ 110, maka IQ sebenarnya terentang dari 105 sampai 115.[8] Jadi, skor IQ bisa berubah. Ganti pengujinya, lakukan di hari berbeda, kerjakan saat mood berlainan, maka skor IQ yang diperoleh bisa berbeda. 

IQ yang dimiliki seseorang memberinya batasan pencapaian. Diperlukan IQ sekurangnya 112 untuk menjadi ahli profesional-teknikal seperti misalnya konsultan teknik (sekurang-kurangnya sekitar 25% orang bisa menjadi ahli profesional-teknikal yang sukses); diperlukan 104 untuk menjadi administrator dan manager yang berhasil (sekurang-kurangnya 37% orang bisa menjadi manajer sukses); diperlukan 101 untuk menjadi pekerja terlatih, klerikal (tukang, pengrajin), pramuniaga/marketing; diperlukan92 untuk menjadi tenaga kerja semi-terlatih; dan diperlukan minimal 82 untuk menjadi tenaga-kerja tidak terlatih. Dengan demikian, asalkan seseorang memiliki IQ rata-rata saja, maka hampir semua bidang pekerjaan terbuka untuknya. Pun untuk menjadi ilmuwan kelas dunia hanya diperlukan IQ sekitar 120, yang artinya sekurang-kurangnya 8% orang bisa menjadi ilmuwan kelas dunia.[9] Namun kenyataannya, hanya segelintir orang saja yang menjadi ilmuwan ternama. Mayoritas orang yang memiliki kapabilitas sukses tidak sukses seperti potensinya. 

Ada fakta yang sangat menarik mengenai kelompok Asian-American (warga negara Amerika Serikat yang berasal dari Asia, khususnya dari Jepang, Korea dan China). Mereka cukup memiliki IQ 93 untuk bisa melakukan pekerjaan profesional atau teknikal atau manajerial yang bagi White-American (warga negara Amerika Serikat kulit putih) membutuhkan IQ sekurangnya 100. Diketahui, meskipun jumlah Asian-American tidak lebih dari 2% populasi di negara tersebut, tetapi jumlah mahasiswa Asian-American di perguruan tinggi paling terkemuka di AS, misalnya Harvard mencapai 20% dan Berkeley mencapai 45%, atau jauh menjulang di atas yang diharapkan (harusnya hanya 2% sesuai jumlah populasi). Padahal, dari segi skor IQ, kelompok Asian-American tidak lebih tinggi ketimbang kelompok lainnya. Richard E. Nisbett, pakar inteligensi dan profesor psikologi dari Universitas Michigan, AS, dalam bukunya “Intelligence and How to get it: Why schools and cultures count” (2009)pun menyimpulkan, “Tidak terbantah lagi bahwa Asian-American meraih capaian jauh di atas capaian yang diharapkan dari skor IQ-nya. Pencapaian intelektualitas orang Asia adalah hasil keringat ketimbang otak yang istimewa.”[10]

Daya prediksi IQ terhadap kesuksesan memiliki batasan atas. Di atas 120-an, IQ sudah tidak lagi atau kurang memberikan keunggulan praktis di dunia nyata. Sebagai misal, si A memiliki IQ 100, si B memiliki IQ 120 dan si C memiliki IQ 140. Berkat IQ-nya yang lebih tinggi, si B dan si C berpeluang lebih besar untuk sukses ketimbang si A. Akan tetapi, si C tidak bisa diprediksi akan lebih sukses ketimbang si B, meskipun si C memiliki IQ lebih tinggi daripada si B. Sebab, semua orang yang memiliki IQ di atas 120 memiliki kecerdasan yang lebih dari cukup untuk bisa sukses berkarir di segala bidang, termasuk untuk menjadiilmuwan kelas dunia.[11] Oleh karena itu, perbedaan IQ menjadi tidak relevan lagi.

Pada usia dini dan sampai batas tertentu, inteligensi masih bersifat bisa diubah (malleable). Diketahui, pengadopsian anak dari keluarga sosial-ekonomi-bawah oleh keluarga sosial-ekonomi-atas bisa meningkatkan IQ hingga 12 poin (dibanding saudaranya yang tetap berada di rumah asalnya). Apabila anak yang diadopsi berasal dari panti asuhan yang terbengkalai, peningkatannya bisa mencapai 18 poin. Anak yang disusui air-susu-ibu bisa meningkat skor IQ-nya sebanyak 3 poin, sebagai hasil dari asupan LC-PUFA (long-chain polyunsaturated fatty acid, yang dikenal juga sebagai omega-3 fatty acids) yang hanya terdapat pada air-susu-ibu. Pemberian LC-PUFA secara khusus pada ibu saat hamil dan pada bayi bisa meningkatkan IQ hingga 3,5 poin. Aktivitas membaca untuk anak secara interaktif dimana anak ikut terlibat aktif bisa menambah skor IQ hingga 6 poin, yang apabila semakin dini dilakukan penambahannya semakin besar (khususnya bila dilakukan sebelum anak melewati usia 4 tahun). Memasukkan anak ke pendidikan pra-sekolah (usia-dini) bisa menaikkan skor IQ sebanyak 4 poin. Apabila dalam pendidikan pra-sekolah (usia dini) menyertakan pengembangan khusus kemampuan berbahasa, peningkatannya bahkan bisa mencapai 7 poin, khususnya pada anak-anak dari sosial-ekonomi-bawah.[12] Yang menarik, meskipun sangat populer, mendengarkan musik klasik tidak memberikan peningkatan terhadap IQ. Jadi, efek Mozart hanya mitos.[13]

Kesimpulannya, memiliki inteligensi lebih tinggi merupakan keuntungan. Semakin tinggi inteligensinya berarti memiliki modal lebih banyak untuk berhasil (ingat, sukses = skill × usaha). Itu sebabnya, sebagaimana telah dibuktikan oleh berbagai penelitian selama beberapa dekade, IQ bisa memprediksi kesuksesan. Mereka yang memiliki skor IQ lebih tinggi memiliki pencapaian lebih baik dalam akademik, karier, ekonomi dan sosial, serta memiliki taraf kesehatan yang lebih tinggi sehingga memiliki umur yang lebih panjang.[14] Akan tetapi, meskipun bisa memprediksi sukses masa depan, korelasinya hanya berkisar 0.5 untuk sukses akademik (padahal bidang akademik dianggap sebagai bidang yang paling tinggi korelasinya dengan IQ). Dengan demikian, IQ hanya menjelaskan 25% perbedaan dalam kesuksesan akademik, sedangkan sebesar 75% sisanya harus dijelaskan oleh faktor lain.[15] Apakah faktor lain itu? Jawabnya adalah usaha.

“Usaha adalah jumlah waktu yang didedikasikan untuk melakukan sebuah tugas. Semakin banyak jumlah waktu yang didedikasikan, semakin tinggi peluangnya untuk sukses.”

Usaha & Belajar disengaja (deliberate practice)


“Genius is born!” Demikian yang diyakini secara luas sejak berabad-abad lalu. Hingga hari ini pun, masih sangat banyak orang yang meyakini bahwa mereka-mereka yang sukses besar hanya bisa sukses karena memiliki bakat-istimewa atau bakat-jenius atau talenta, yakni kemampuan bawaan istimewa sejak lahir.[16] “Tanpa bakat-istimewa, tidak ada kesuksesan,” ujar banyak orang begitu yakin. Oleh karena itu klub olahraga, produser musik dan seni, serta perusahaan-perusahaan menyebarkan para pencari bakat untuk merekrut bakat-bakat istimewa. Para talent-scout dari klub olahraga, klub sepakbola misalnya, mencari anak-anak berbakat di penjuru bumi. Para talent-recruiter di perusahaan-perusahaan mencari karyawan melalui beragam prosedur seleksi untuk mencari tahu yang paling istimewa (dalam tes karyawan selalu terdapat tes yang mengukur inteligensi!). Keberhasilan menarik bakat-bakat jenius dipercaya sebagai asuransi sukses di masa depan.[17] Alhasil, ketika mengagumi para peraih sukses besar di bidangnya, orang-orang pun hanya bisa membuat kesimpulan tunggal: mereka sukses karena memiliki bakat-istimewa.

Lalu, pada tahun 1993 sebuah artikel dipublikasikan dalam jurnal bergengsi Psychological Review, dengan judul “The Role of Deliberate Practice in The Acquisition of Expert Performance.”[18] Sekejap, artikel tersebut menjadi selebriti karena menjungkirbalikkan asumsi sebelumnya. Artikel itu menunjukkan bahwa bakat istimewa atau keahlian (expertise) muncul sebagai hasil dari usaha suka-rela yang disengaja (deliberate practice) untuk meningkatkan performanya. Banyak keahlian yang dianggap sebagai bakat-bawaan sebenarnya merupakan hasil belajar/latihan disengaja yang intensif selama ribuan jam. Untuk menjadi ahli dan memberikan kontribusi penting dalam area tertentu, diperlukan belajar disengaja hingga rerata 10.000 jam, dengan waktu latihan rerata 3-4 jam per hari selama rerata 10 tahun. Keahlian dimulai dari level yang sangat rendah atau nol dan pelan-pelan meningkat seiring waktu.[19] Sejak saat itu diyakini bahwa, “genius is made, not born.” 

Studi cermat terhadap orang-orang yang memiliki pencapaian besar (dan dianggap jenius) memperlihatkan bahwa seberapapun berbakatnya mereka (setinggi apapun skor IQ-nya), tidak ada seorangpun yang bisa mengelakkan diri dari belajar/berlatih dan magang dalam jangka panjang.[20] Seorang Wolfgang Amadeus Mozart, yang musiknya dikenal luas dan ditasbihkan sebagai musisi terbesar sepanjang masa, memerlukan waktu 20 tahun untuk menghasilkan sebuah karya besar atau masterpiece.[21]Hal serupa ditemukan di berbagai bidang lainnya dari olahraga, seni (termasuk musik), keilmuan, kepenulisan, profesional (seperti misalnya dokter, pengacara dan arsitek) hingga dalam dunia bisnis. Sebagai misal, dibutuhkan waktu rerata 10,6 tahun bagi seorang penulis fiksi untuk menghasilkan tulisan terbaiknya sejak mengeluarkan tulisan pertamanya. Usia rerata para penulis ketika mempublikasikan karya pertama adalah 32,8 tahun, namun baru pada usia rerata 43,4 tahun bisa menghasilkan karya besar.[22]

Dean K. Simonton, salah seorang tokoh utama dibalik studi tentang kecerdasan dan kejeniusan dari Universitas California, Davis, AS, menyatakan:
Genius is made, not born. Anda tidak bisa menjadi seorang jenius tanpa usaha keras. Anda harus belajar, berlatih dan mencoba sampai Anda benar-benar menguasainya. Lebih buruk lagi, Anda harus melakukannya dalam waktu sangat lama, demi memperoleh keahlian di sebuah bidang. Anda tidak bisa melakukannya dalam setahun atau 5 tahun sekalipun. Anda membutuhkan satu dekade penuh tekad untuk memperoleh keahlian sebelum Anda bisa memiliki apa yang diperlukan untuk memberikan kontribusi nyata dan berarti pada dunia... dibutuhkan 10 tahun… Tanpa satu dekade dedikasi berlatih, tidak ada jenius! Tanpa kerja terarah (deliberate practice), Anda tidak bisa ke mana-mana, tidak peduli seberapa berbakatnya Anda…”[23]

Setelah memutuskan berkomitmen terjun dalam sebuah bidang, seorang ahli menghabiskan rerata 50-60 jam per minggu untuk beraktivitas di bidangnya, di mana rerata separuhnya —25 jam, kira-kira 3-4 jam per hari— dihabiskan khusus untuk belajar disengaja (deliberate practice). Untuk menjadi ilmuwan bahkan lebih berat lagi karena harus menghabiskan 80 jam seminggu agar bisa memiliki kesempatan mencapai reputasi internasional di bidangnya. Untuk capaian lebih rendah, seperti ‘hanya’ menjadi profesional di bidangnya, misalnya menjadi dokter yang berhasil, pengacara yang bagus, arsitek yang dikenal, engineer yang sukses, tetap diperlukan belajar disengaja 3-4 jam sehari, namun mungkin tidak perlu harus 1 dekade dilakukan. Pertanyaannya, mengapa harus 3-4 jam sehari? Sebab, apabila kurang dari 3 jam sehari akan sulit membentuk keahlian, sedangkan lebih dari 4 jam berpotensi menimbulkan kelelahan (burn-out) yang mengurangi kemampuan mempertahankan rutinitas belajar disengaja hariannya.[24]

Belajar/berlatih disengaja (deliberate practice) bukan satu-satunya jenis aktivitas yang bisa meningkatkan performa atau keahlian. Setidaknya ada 2 jenis aktivitas lain yang bisa meningkatkan performa, yakni bekerja dan bermain. Bekerja merupakan aktivitas yang mendapatkan bayaran (gaji) atau insentif lainnya dari pihak lain. Sebagai contoh, seorang pemain gitar dibayar untuk memainkan gitar di sebuah cafe hotel. Bermain adalah aktivitas yang dilakukan karena menyenangkan, misalnya seorang pemain gitar memainkan gitar untuk menghibur teman-temannya ketika pesta atau untuk menghibur diri. Aktivitas bekerja dan bermain kurang memiliki dampak terhadap peningkatan keahlian. Hanya belajar/latihan disengaja (deliberate practice) yang khusus didesain dan dilakukan semata-mata dengan tujuan untuk meningkatkan performanya, yang bisa meningkatkan keahlian secara signifikan.[25]

Pada beberapa tahun terakhir, muncul berbagai studi yang menyatakan bahwa ‘genius are born, then made’, khususnya pada bidang-bidang yang membutuhkan keterampilan tinggi, seperti musik dan catur.[26] Dalam catur diketahui bahwa belajar/berlatih disengaja (deliberate practice) hanya menjelaskan 34% perbedaan keahlian (yang diukur dengan elo rating) di antara para pecatur. Sisanya, sebesar 66% tidak bisa dijelaskan oleh latihan disengaja (deliberate practice). Pada musik, belajar/berlatih disengaja (deliberate practice) hanya menjelaskan 29,9% perbedaan keahlian di antara para pemusik, sedangkan 70,1% sisanya tidak bisa dijelaskan oleh latihan disengaja (deliberate practice).[27] Sebagian musisi ahli hanya membutuhkan 10 ribu jam untuk menjadi ahli, sementara yang lain membutuhkan waktu hingga 30 ribu jam untuk menjadi ahli; ada pecatur level master membutuhkan 26 tahun berlatih keras dan ada yang hanya memerlukan 2 tahun, serta ada juga yang sudah menghabiskan lebih dari 10 ribu jam latihan namun keterampilannya masih medioker.[28] Fakta-fakta itu memperlihatkanbahwa deliberate practice tidak selalu cukup untuk membentuk seseorang menjadi ahli kelas dunia. Setidaknya ada dua penjelasan yang mungkin, yakni faktor usia ketika memulai terjun ke dalam catur dan musik (semakin muda semakin baik) dan kecerdasan (semakin tinggi semakin baik). Artinya, meskipun semua orang bisa menjadi ‘ahli’ asalkan mau mencurahkan waktu untuk itu, namun pada bidang-bidang tertentu yang mensyaratkan kemampuan tinggi seperti musik dan catur, diperlukan talenta di atas rata-rata untuk menjadi ahli yang luar biasa.

Apa yang menyebabkan seseorang mau mendedikasikan waktunya untuk belajar/berlatih disengaja? Jawabannya datang dari faktor non-inteligensi.[29] Ada tiga kualitas pribadi yang berperan penting, yakni kontrol-diri, grit, dan advokasi diri.[30]. Kontrol-diri merupakan pengaturan diri secara sengaja agar tetap sesuai dengan standar yang diharapkan dan untuk mengejar sebuah tujuan tertentu. Orang yang memiliki kontrol-diri tinggi mempunyai kemampuan menunda mendapatkan hasil segera yang kurang bernilai demi mendapatkan hasil yang lebih bernilai di masa mendatang (delay of gratification) dan memiliki kekukuhan menunaikan tugas-tugas untuk mengejar tujuan (task persistence). Mereka mampu mengelola pikiran, perilaku dan emosinya agar tetap fokus mengejar apa yang menjadi tujuannya dan mengabaikan apa yang menghalangi jalannya. Seorang mahasiswa dengan kontrol-diri tinggi tidak akan tergoda pergi menonton ke bioskop apabila pada malam hari harus menyelesaikan tugas kuliahnya. Saat belajar, mereka fokus belajar dan tidak mudah teralihkan perhatiannya untuk bersenang-senang sesaat, seperti berselancar di internet, main game, atau ikut aktif chatting di social-media. Lawan kontrol-diri adalah impulsif, yakni kegagalan untuk menahan diri dari memperturutkan hasrat.

Grit adalah ketekunan dan kegigihan meraih tujuan dalam jangka panjang. Di dalamnya ada dua hal, yakni konsistensi minat (consistency of interest) dan kegigihan untuk terus berusaha (persistence of effort) dalam jangka panjang. Orang yang memilikigrit tinggi bisa terus memelihara minatnya dan gigih dalam usahanya selama bertahun-tahun atau bahkan berdekade demimengejar kemahiran (excellence) dalam suatu bidang. Minatnya tidak berubah-ubah. Mereka konsisten. Tantangan, halangan, kemandegan, kegagalan tidak akan menghentikan usaha dan minatnya, meskipun kesukaran itu terjadi bertahun-tahun. Keunggulannya adalah stamina. Apabila orang lain mengubah haluan saat gagal atau jemu, mereka jalan terus. Sebaliknya, orang ber-grit rendah lebih mudah patah semangat, cenderung tiarap di tengah usaha/perjuangannya, dan sering mengubah haluan karena memiliki minat baru. 

Biasanya, orang yang memiliki grit ditopang karena memiliki pola pemikiran yang sesuai. Pola pemikiran itu adalah growth-mindset (pola pikir bertumbuh) yakni keyakinan bahwa kualitas dasar yang dimiliki seseorang, misalnya kecerdasan, bisa terus ditingkatkan melalui usaha. Orang yang memiliki growth-mindset percaya bahwa keberhasilan ditentukan semata-mata oleh usaha yang dilakukannya. Lawan growth-mindset adalah fixed-mindset (pola pikir statis), yakni keyakinan bahwa kualitas dasar yang dimiliki seseorang bersifat menetap dan tidak bisa diubah lagi. Erat terkait dengan growth-mindset adalah rasa memiliki (sense of belonging) terhadap sebuah subjek yang ditekuni, yang jika semakin tinggi, maka semakin banyak jumlah waktu untuk belajar/berlatih disengaja. Selain itu, diperlukan juga kebebasan dari ancaman stereotip negatif (stereotype threat). Sebab, ancaman-stereotip bisa merusak performa. Misalnya, stereotip bahwa perempuan lemah dalam menggambar teknik menghambat performa perempuan dalam arsitektur. 

Advokasi-diri adalah kesadaran akan hak (sense of entitlement) dan keberanian memintanya (courage). Orang yang memilikiadvokasi-diri sadar bahwa mereka memiliki hak untuk diperhatikan, didengarkan, dan untuk berhasil. Pada saat yang sama, mereka berani menyampaikan keinginannya dan berani meminta agar keinginan itu dipenuhi. Dan alih-alih menunggu kesempatan datang dengan sendirinya, mereka berani aktif mengejarnya. Mereka bernegosiasi dan berunding. Jika perlu, mereka menyesuaikan diri dalam berbagai situasi berbeda agar situasinya menguntungkan baginya.

Kontrol-diri, grit, dan advokasi-diri mempertinggi tingkat usaha yang dilakukan yang pada gilirannya memprediksi sukses, baik sukses akademik, karir-ekonomi, hingga sosial. Semakin tinggi kadarnya dalam diri seseorang dan komunitas, maka seseorang dan komunitas itu berpeluang semakin sukses dalam kehidupan modern. Diketahui, ada komunitas budaya tertentu yang secara inheren lebih tinggi memilikinya, sehingga mereka cenderung lebih sukses ketimbang komunitas budaya lainnya. Sebagai misal, etnis-etnis yang dipengaruhi budaya konfusian dan memiliki tradisi bertani sawah selama ribuan tahun, seperti China, Korea dan Jepang, termasuk etnis diasporanya di seluruh penjuru dunia (misalnya etnis Tionghoa di Indonesia), memiliki filosofi dasar bahwa nasib bisa diubah dengan usaha. Maka tidak mengherankan jika mereka cenderung lebih sukses di mana-mana.

Orang yang lebih sukses, siapapun dia, di manapun tempatnya, apapun bidangnya, selalu merupakan orang-orang yang memiliki kontrol-diri di bidang yang ditekuninya, grit dan advokasi-diri yang lebih tinggi ketimbang orang lain di sekitarnya.  Setiap orang sukses, —entah bagaimana cara mendapatkannya— berhasil memiliki tiga kualitas-sukses itu dalam dirinya. Kontrol-diri, grit dan advokasi-diri bisa ditumbuhkan sejak usia dini melalui pola asuh dan model pendidikan yang sesuai (di sinilah faktor budaya berpengaruh), serta bisa ditumbuhkan atau ditingkatkan sepanjang hayat melalui intervensi yang tepat. Jadi, meskipun tidak berasal dari pola asuh dan institusi pendidikan yang berhasil membentuk anak dan peserta didik memiliki tiga kualitas-sukses, seseorang tetap bisa mengadopsi ketiganya menjadi bagian dari dirinya.

Akhirnya, untuk menutup tulisan ini, sebuah kutipan dengan tepat mengilustrasikan apa yang ada dibalik orang-orang sukses: “Kesuksesan adalah hasil kegigihan, ketahanan, dan kemauan untuk bekerja keras selama dua puluh dua menit untuk memahami sesuatu yang kebanyakan orang akan meninggalkannya setelah tiga puluh detik.”[31] Dan jika formula sukses harus disederhanakan ke dalam sebuah frase atau kata, maka kata itu adalah “pantang menyerah!”


(Tulisan 2014)

[1] Formula sukses ini dikutip dari buku karya Martin EP Seligman, seorang profesor psikologi dari Universitas Pennsylvania, AS, dan merupakan salah satu tokoh utama dalam gerakan psikologi positif, yang berjudul “Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-being” (2011). Rumusan formulanya sendiri berasal dari Angela Lee Duckworth. Sangat direkomendasikan untuk dibaca.
[2] Contoh kasus pemain gitar hanya ilustrasi untuk memudahkan penggambaran apa yang dimaksud skill, usaha dan pencapaian. Jadi tidak berdasarkan studi nyata dan contoh di sini sangat menyederhanakan.
[3] Seligman (2011).
[4] Khusus olahraga, skill dipengaruhi keatletisan tubuh, sedangkan untuk musik, skill dipengaruhi pengenalan nada.
[5] Dalam sukses objektif juga terkandung penilaian subjektif, seperti misalnya tentang siapa lebih berpengaruh, pelukis A atau pelukis B. Namun, penilaian subjektif tersebut bisa dilakukan oleh orang lain, misalnya oleh sekelompok pakar seni dan kurator lukisan, dan dengan demikian bisa dibuat kesepakatan mayoritas mana karya yang paling diakui.
[6] Hanya mengetahui skor IQ saja sudah bisa memprediksi pencapaian di masa depan. Apabila tidak mengetahui IQ, maka dibutuhkan mengetahui beberapa faktor sekaligus untuk bisa memprediksi. Lihat misalnya Laidra, Pullmann & Allik (2007).
[7] Ada bermacam-macam rumusan konsep inteligensi yang dikemukakan para ahli. Untuk lebih jauh tentang inteligensi, tes inteligensi dan skor IQ, lihat Kaufman & Lichtenberger (2006), Kaufman (2009), Sternberg (ed.) (2004), dan Sternberg & Kaufman (eds.) (2011). Lihat juga review penelitian tentang inteligensi dan IQ, yakni Nisbett, dkk. (2012). Tambahan bacaan menarik mengenai keduanya, lihat Nisbett (2009), Hernstein & Murray (1994), Murdoch (2007). Khusus mengenai kupasan tentang salah satu aspek inteligensi yang penting, yakni kreativitas, lihat Sternberg, Grigorenko & Singer (eds.) (2004).
[8] Lihat Kaufman & Lichtenberger (2006), Kaufman (2009).
[9] Lihat Kaufman (2009) untuk konversi skor IQ ke persentil dan untuk implikasi IQ di dunia nyata/keseharian. Pencapaian yang bisa dicapai oleh seseorang dengan skor IQ tidak bersifat mutlak. Perkiraan pencapaian di atas adalah perkiraan normatif.
[10] Nissbet (2009). Hal itu mengindikasikan ada faktor lain selain IQ yang berperan penting (dan lebih berpengaruh) dalam kesuksesan. Diduga penyebabnya adalah model pola asuh dalam keluarga Asia yang sangat mendorong pencapaian prestasi (disebut juga “tiger-parenting”), termasuk kesediaan orangtua untuk mengikutkan anak-anaknya dalam pendidikan luar sekolah untuk membantu anak menguasai pelajaran sekolah, seperti kursus atau mendatangkan guru-tutor (yang sering diistilahkan sebagai shadow-education). Gambaran ekstrem mengenai pola asuh ala keluarga Asia bisa ditemukan dalam buku karya Amy Chua berjudul “Battle Hymn of the Tiger Mother” (Chua, 2011). Lihat Nisbett (2003) untuk kupasan tentang filosofi dan cara berpikir yang melandasi pola asuh ala asia. Tentang review dan kritik model pengasuhan/pendidikan ala Asia, silakan lihat di antaranya Kim (2013), Kim, dkk. (2013), Choi, dkk. (2013), Muhtadie, dkk. (2013), Cheah, Leung & Zhou (2013), Eisenberg, dkk. (2009), Byun & Park (2012), Russell, Crockett & Chao (eds.) (2010), Pomerantz & Wang (2009). Banyak disebut bahwa meskipun menghasilkan anak-anak yang berprestasi, pola asuh itu menimbulkan permasalahan psikologis lebih besar dan anak-anak menjadi kekurangan keterampilan sosial. Terlepas dari debat yang terjadi, ada fakta yang tidak bisa dibantah bahwa raihan prestasi banyak ditentukan oleh faktor non-inteligensi.
[11] Simonton (2009), Kaufman (2009).
[12] Lihat Protzko, Aronson & Blair (2013) untuk review penelitian tentang intervensi untuk meningkatkan IQ. Lihat juga Nisbett, dkk. (2012) untuk review tentang penelitian IQ secara menyeluruh.
[13] Tentang mitos efek Mozart, lihat Lilienfeld, dkk. (2010).
[14] Lihat misalnya Hernstein & Murray (1994), Gottfredson & Deary (2004), Deary, Batty & Gottfredson (2005), Kaufman & Lichtenberger (2006), Kaufman (2009), Junger & van Kampen (2010), Deary & Batty (2011), Shakeshaft, dkk. (2013), Plomin, dkk. (2013).
[15] Dalam statistik, varian adalah kuadrat dari korelasi yang dikonversi ke persen.
[16] Lihat Elferink-Gemser, dkk. (2011) untuk ulasan singkat tentang talenta dalam olahraga. Dalam bidang non-olahraga dan seni, mereka yang disebut bakat-istimewa atau jenius biasanya diukur dengan skor IQ sekurang-kurangnya 130 dalam term tes inteligensi WISC. Tentang kajian-kajian jenius/keberbakatan, lihat misalnya Simonton (1999, 2009), Sternberg & Davidson (eds.) (2005), Pfeiffer (ed.) (2008). Lihat juga Sternberg & Kaufman (eds.) (2011). Dalam konsep keberbakatan menurut Joseph Renzulli, yakni 3 lingkaran keberbakatan (three-ring conception of giftedness), seseorang disebut berbakat hanya jika memiliki kemampuan (kecerdasan) di atas rata-rata, memiliki komitmen tinggi terhadap penyelesaian tugas (yang merupakan faktor non-kognitif) dan sekaligus memiliki kreativitas tinggi. Jadi, hanya memiliki kecerdasan yang tinggi tidak cukup untuk disebut berbakat. Lihat Renzulli (2005, 2011) dan Reis & Renzulli (2011).
[17] Pada banyak perusahaan, divisi perekrutan karyawan bahkan dinamai “Talent-Sourcing“, dan pengembangan karyawan dinamai ‘Talent-Development’ untuk menekankan betapa pentingnya talenta atau bakat-bakat spesial. Sayangnya, asumsi bahwa perusahaan tergantung semata pada talenta orang-orang hebat di perusahaan adalah keliru. Bakat-istimewa tidak menggaransi sukses. Ulasan menarik dengan talenta/keberbakatan dan kegagalannya memenuhi harapan bisa ditemukan dalam artikel yang ditulis Malcolm Gladwell, dengan judul ‘Talent Myth’ (Gladwell, 2009), dan dalam buku yang ditulis oleh Carol S. Dweck tentang ‘mindset’ orang-orang yang dianggap jenius (Dweck, 2006).
[18] Ericsson, Krampe & Tesch-Römer (1993). Lihat juga Ericsson & Charness (1994).
[19] Ada yang memerlukan kurang dari itu dan ada juga yang lebih. Angka tersebut adalah angka rerata yang diperlukan untuk menjadi ahli, bukan angka mutlak. Mereka yang memiliki bakat lebih bisa lebih cepat menjadi ahli.
[20] Lihat Ericsson, dkk. (2006), Ericsson (2009) dan Subotnik, Olszewski-Kubilius & Worrell (2011) untuk review penelitian tentang keahlian dan faktor yang mempengaruhinya. Lihat juga Kaufman & Kaufman (2007), Simonton (2000, 2008, 2009), Ericsson, Roring & Nandagopal (2007), Ericsson & Ward (2007), Ericsson (2007), Hambrick, dkk. (2013).
[21] Simonton (2000, 2009),
[22] Kaufman & Kaufman (2007). Meskipun tentu saja, pada sebagian penulis, karya pertamanya juga merupakan karya terbaiknya.
[23] Simonton (2009)
[24] Lihat Ericsson, Krampe & Tesch-Römer (1993)
[25] ibid
[26] Lihat Ruthsatz, dkk. (2008), Campitelli & Gobet (2011), Wai (2013), Hambrick, dkk. (2013).
[27] Hambrick, dkk. (2013), Meinz & Hambrick (2010).
[28] Ericsson, Krampe & Tesch-Römer (1993)
[29] Untuk review tentang kaitan faktor non-inteligensi atau non-kognitif dengan pencapaian sukses, lihat diantaranya Barrick, Mount & Judge (2001), Borghans, dkk. (2008), Poropat (2009), Almlund, dkk. (2011). Lihat juga Farrington, dkk. (2012) yang mereview faktor-faktor non-kognitif yang berperan penting dalam pencapaian akademik.
[29]Uraian mengenai empat kualitas sukses akan dimasukkan dalam tulisan tersendiri. Sebagai awalan, untuk grit, silakan lihat Duckworth, Peterson, Matthews, & Kelly (2007), untuk growth-mindset lihat Dweck (2006), untuk kontrol-diri lihat Mischel, Shoda & Peake (1988), Moffitt, dkk. (2011), dan untuk advokasi-diri lihat Calarco (2011), Lareau (2003, 2011).
[30] Gladwell (2008).


Referensi
Almlund, M., Duckworth, A.L., Heckman, J., & Kautz, T. (2011). Personality psychology and economics. Dalam E.A. Hanushek, S. Machin & L. Woessmann (Eds.), Handbook of the Economics of Education, hal. 1-181. Amsterdam: Elsevier.

Barrick, M.R., Mount, M.K., & Judge, T.A. (2001). Personality and performance at the beginning of the new millennium: What do we know and where do we go next. International Journal of Selection and Assessment, 9, 1/2, 9-30.

Borghans, L., Duckworth, A.L., Heckman, J.J., & ter Weel, B. (2008). The economics and psychology of personality traits. Journal of Human Resources, 43, 4, 972-1059.

Byun, S., & Park, H. (2012). The academic success of East Asian American youth: The role of shadow education. Sociology of Education, 85, 1, 40-60

Calarco, J.M. (2011). 'I need help!' Social class and children's help-seeking in elementary school. American Sociological Review, 76, 6, 862–882.

Campitelli, G., & Gobet, F. (2011). Deliberate practice: Necessary but not sufficient. Current Directions in Psychological Science, 20, 5, 280–285.

Cheah, C.S.L., Leung, C.Y.Y., & Zhou, N. (2013). Understanding “tiger parenting” through the perceptions of Chinese immigrant mothers: Can Chinese and U.S. parenting coexist? Asian American Journal of Psychology, 4, 1, 30–40.

Choi, Y., Kim, Y.S., Kim, S.Y., & Park, I.K. (2013). Is Asian American parenting controlling and harsh? Empirical testing of relationships between Korean American and western parenting measures. Asian American Journal of Psychology, 4, 1, 19–29.

Chua, A. (2011). Battle Hymn of the Tiger Mother. New York: Penguin Press.

Deary, I.J., Batty, D., & Gottfredson, L.S. (2005). Human hierarchies, health, and IQ (letter). Science, 309, 703-703.

Deary, I.J., & Batty, G.D. (2011). Intelligence as a predictor of health, illness, and death. Dalam Robert J. Sternberg & Scott Barry Kaufman. (eds.) (2011). The Cambridge Handbook of Intelligence, hal. 683-707. New York: Cambridge University Press.

Duckworth, A.L., Peterson, C., Matthews, M.D., & Kelly, D.R. (2007). Grit: Perseverance and passion for long-term goals. Journal of Personality and Social Psychology, 92, 6, 1087–1101.

Dweck, C.S. (2006). Mindset: The new psychology of success. New York: Random House.

Eisenberg, N., Chang, L., Ma, Y., & Huang, X. (2009). Relations of parenting style to Chinese children’s effortful control, ego resilience, and maladjustment. Development and Psychopathology, 21, 2, 455–477.

Elferink-Gemser, M.T., Jordet, G., Coelho-E-Silva, J., & Visscher, C. (2011). The marvels of elite sports: How to get there? British Journal of Sports Medicine, 45, 683-684.

Ericsson, K.A. (2007). Deliberate practice and the modifiability of body and mind: Toward a science of the structure and acquisition of expert and elite performance. International Journal of Sport Psychology, 38, 4-34.

Ericsson, K.A. (ed.) (2009). Development of Professional Expertise: Toward measurement of expert performance and design of optimal learning environments. New York: Cambridge University Press.

Ericsson, K.A., & Charness, N. (1994). Expert performance: Its structure and acquisition. American Psychology, 49, 8, 725–747.

Ericsson, K.A., & Ward, P. (2007). Capturing the naturally occurring superior performance of experts in the laboratory: Toward a science of expert and exceptional performance. Current Directions in Psychological Science, 16, 6, 246-350.

Ericsson, K.A., Charness, N., Feltovich, P.J., & Hoffman, R.R. (eds.). (2006). The Cambridge Handbook of Expertise and Expert Performance. New York: Cambridge University Press.

Ericsson, K.A., Krampe, R.Th., & Tesch-Römer, C. (1993). The role of deliberate practice in the acquisition of expert performance.Psychological Review, 100, 3, 363–406.

Ericsson, K.A., Roring, R.W., & Nandagopal, K. (2007). Giftedness and evidence for reproducibly superior performance: An account based on the expert performance framework. High Ability Studies, 18, 1, 3–56.

Eskreis-Winkler, L., Shulman, E.P., Beal, S.A., & Duckworth, A.L. (2014). The grit effect: Predicting retention in the military, the workplace, school and marriage. Frontier in Psychology, 5, 36, 1-12.

Farrington, C.A., Roderick, M., Allensworth, E., Nagaoka, J., Keyes, T.S., Johnson, D.W., & Beechum, N.O. (2012). Teaching Adolescents to Become Learners: The role of noncognitive factors in shaping school performance - A critical literature review. Chicago: University of Chicago Consortium on Chicago School Research

Gladwell, M. (2008). Outliers: The story of success. New York: Little, Brown and Company.

Gottfredson, L.S., & Deary, I.J. (2004). Intelligence predicts health and longevity, but why? Current Directions in Psychological Science, 13, 1, 1-4.

Hambrick, D.Z., Oswald, F.L., Altmann, E.M., Meinz, E.J., Gobet, F. & Campitelli, G. (2013). Deliberate practice: Is that all it takes to become an expert? Intelligence, http://dx.doi.org/10.1016/j.intell.2013.04.001

Herrnstein, R.J., & Murray, C. (1994). The Bell Curve: Intelligence and class structure in American life. New York: Free Press.

Junger, M., & van Kampen, M. (2010). Cognitive ability and self-control in relation to dietary habits, physical activity and bodyweight in adolescents. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity, 7, 22, 1-12.

Kaufman, A.S. (2009). IQ Testing 101. New York: Springer Publishing.

Kaufman, A.S., & Lichtenberger, E.O. (2006). Assessing Adolescent and Adult Intelligence, 3rd ed. Hoboken, NJ: Wiley.

Kaufman, S.B., & Kaufman, J.C. (2007). Ten years to expertise, many more to greatness: An investigation of modern writers. Journal of Creative Behavior, 41, 2, 114–124.

Kim, S.Y. (2013). Defining Tiger Parenting in Chinese Americans. Human Development, 56, 217–222.

Kim, S.Y., Wang, Y., Orozco-Lapray, D., Shen, Y., & Murtuza, M. (2013). Does "tiger parenting" exist? Parenting profiles of Chinese Americans and adolescent developmental outcomes. Asian American Journal of Psychology, 4, 1, 7–18.

Laidra, K., Pullmann, H., & Allik, J. (2007). Personality and intelligence as predictors of academic achievement: A cross-sectional study from elementary to secondary school. Personality and Individual Differences, 42, 3, 441–551.

Lareau, A. (2003). Unequal Childhoods: Class, race, and family life. Berkeley: University of California Press.

Lareau, A. (2011). Unequal Childhoods: Class, race, and family life, 2nd ed. Berkeley: University of California Press.

Lilienfeld, S.O., Lynn, S.J., Ruscio, J., & Beyerstein, B.L. (2010). 50 Great Myths of Popular Psychology: Shattering widespread misconceptions about human behavior. Chichester: Blackwell Publishing.

Meinz, E.J., & Hambrick, D.Z. (2010). Deliberate practice is necessary but not sufficient to explain individual differences in piano sight-reading skill: The role of working memory capacity. Psychological Science, 21, 7, 914–919.

Mischel, W., Shoda, Y., & Peake, P.K. (1988). The nature of adolescent competencies predicted by preschool delay of gratification. Journal of Personality and Social Psychology, 54, 4, 687-96.

Moffitt, T.E., Arseneault, L., Belsky, D., Dickson, N., Hancox, R.J., Harrington, H.L., Houts, R., Poulton, R., Roberts, B.W., Ross, S., Sears, M.R., Thomson, W.M., & Caspi, A. (2011). A gradient of childhood self-control predicts health, wealth, and public safety. Proceedings of the National Academy of Sciences, 108, 2693-2698.

Muhtadie, L., Zhou, Q., Eisenberg, N., & Wang, Y. (2013). Predicting internalizing problems in Chinese children: The unique and interactive effects of parenting and child temperament. Development and Psychopathology, 25, 3, 653–667.

Murdoch, S. (2007). IQ: A smart history of a failed idea. New Jersey: John Wiley & Sons.

Nisbett, R.E. (2003). The Geography of Thought: How asians and westerners think differently .. . and why. New York: Free Press.

Nisbett, R.E. (2009). Intelligence and How to get it: Why schools and cultures count. New York: W.W. Norton

Nisbett, R.E., Aronson, J., Blair, C., Dickens, W., Flynn, J., Halpern, D.F., & Turkheimer, E. (2012). Intelligence: New findings and theoretical developments. American Psychologist, 67, 2, 130–159.

Pfeiffer, S.I. (ed.) (2008). Handbook of Giftedness in Children: Psychoeducational theory, research, and best practices. New York: Springer.

Plomin, R., Shakeshaft, N.G., McMillan, A., & Trzaskowski, M. (2013). Nature, nurture, and expertise. Intelligence (2013),http://dx.doi.org/10.1016/j.intell.2013.06.008

Pomerantz, E.M., & Kempner, S.G. (2013). Mothers' daily person and process praise: Implications for children's theory of intelligence and motivation. Developmental Psychology. Advance online publication. doi: 10.1037/a0031840

Pomerantz, E.M., & Wang, Q. (2009). The role of parental control in children’s development in western and east asian countries. Current Directions in Psychological Science, 18, 5, 285-289.

Poropat, A.E. (2009). A meta-analysis of the five-factor model of personality and academic performance. Psychological Bulletin, 135, 2, 322–338.

Protzko, J., Aronson, J., & Blair, C. (2013). How to make a young child smarter: Evidence from the database of raising intelligence.Perspectives on Psychological Science, 8, 1, 25–40.

Reis, S.M., & Renzulli, J.S. (2011). Intellectual giftedness. Dalam Robert J. Sternberg & Scott Barry Kaufman. (eds.) (2011). The Cambridge Handbook of Intelligence, hal. 235-252. New York: Cambridge University Press.

Renzulli, J.S. (2005). The three-ring conception of giftedness: A developmental model for promoting creative productivity. Robert J. Sternberg & Janet E. Davidson (eds.) (2005). Conceptions of Giftedness, 2nd ed, hal. 246-279. Cambridge: Cambridge University Press

Renzulli, J.S. (2012). Reexamining the role of gifted education and talent development for the 21st century: A four-part theoretical approach.Gifted Child Quarterly, 56, 3, 150–159.

Russell, S.T., Crockett, L.J., & Chao, R.K. (eds.) (2010). Asian American Parenting and Parent-Adolescent Relationships. New York: Springer.

Seligman, M.E.P. (2011). Flourish: A visionary new understanding of happiness and well-being. New York: Free Press.

Shakeshaft, N.G., Trzaskowski, M., McMillan, A., Rimfeld, K., Krapohl, E., Haworth, C.M.A., Dale, P.S., & Plomin, R. (2013). Strong genetic influence on a UK nationwide test of educational achievement at the end of compulsory education at age 16. PLoS ONE 8, 12, e80341. doi:10.1371/journal.pone.0080341.

Simonton, D.K. (1999). Origins of Genius: Darwinian Perspectives. New York: Oxford University Press.

Simonton, D.K. (2000). Creative development as acquired expertise: Theoretical issues and an empirical test. Developmental Review, 20, 283-318.

Simonton, D.K. (2008). Scientific talent, training, and performance: Intellect, personality, and genetic endowment. Review of General Psychology, 12, 1, 28-46.

Simonton, D.K. (2009). Genius 101. New York: Springer Publishing.

Sternberg, R.J. (ed.) (2004). International Handbook of Intelligence. New York: Cambridge University Press.

Sternberg, R.J., & Davidson, J.E. (eds.) (2005). Conceptions of Giftedness, 2nd ed. Cambridge: Cambridge University Press

Sternberg, R.J., & Kaufman, S.B. (eds.) (2011). The Cambridge Handbook of Intelligence. New York: Cambridge University Press.

Sternberg, R.J., Grigorenko, E.L., & Singer, J.L. (eds.) (2004). Creativity: From potential to realization. Washington, DC: American Psychological Association.

Subotnik, R.F., Olszewski-Kubilius, P., & Worrell, F.C. (2011). Becoming an expert in the musical domain: It takes more than just practice. Psychological Science in the Public Interest, 12, 1, 3–54.

Tangney, J.P., Baumeister, R.F., & Boone, A.L. (2004). High self-control predicts good adjustment, less pathology, better grades, and interpersonal success. Journal of Personality, 72, 271-324.

Wai, J. (2013). Experts are born then made: Combining prospective and retrospective longitudinal data shows that cognitive ability matters. Intelligence (2013), http://dx.doi.org/10.1016/j.intell.2013.08.009