JAWA
Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra
BUKU SATU
Daratan Sebelum Laut
Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra
Yang paling dalam tenggelam selalu yang
paling dahulu dilupakan;
dan yang paling dilupakan selalu yang
paling dalam tenggelam.
BAGIAN I
Tanah yang Utuh
BAB SATU
Pasar di Tengah Daratan
Yang paling dalam tenggelam selalu yang
paling dahulu dilupakan; dan yang paling dilupakan selalu yang paling dalam
tenggelam.
pepatah Nagara Tirta, dari masa yang tak
lagi punya nama
Pada musim
ketika padi serendah lutut dan langit belum belajar marah, Nagara Rata adalah
pusat dunia, dan dunia tahu betul akan hal itu.
Kanal-kanal lurus membelah daratan seperti garis pada telapak tangan yang
sangat tua, dan di sepanjang tepinya kota-kota berdiri menghadap satu sama
lain, saling memandang menyeberangi tanah yang datar tak berujung. Tak ada laut
di sini. Laut adalah dongeng yang diceritakan para pedagang Tirta, sesuatu yang
jauh, yang dimiliki orang lain, yang baunya menempel di kain mereka dan tak
pernah benar-benar dipercaya oleh siapa pun yang lahir di tengah daratan. Di
Nagara Rata, air adalah hamba. Ia datang lewat kanal ketika dipanggil dan pergi
ketika disuruh, dan ia mengairi padi dengan kesetiaan seekor anjing yang tak
pernah membayangkan bahwa ia bisa, suatu hari, menjadi serigala.
Awu berjalan di depan, seperti biasa, dan Sela mengikuti, seperti biasa.
Mereka sudah berjalan sejak matahari masih sebatas pucuk lumbung,
menyusuri tanggul yang membatasi ladang keluarga mereka dari ladang keluarga
lain, dan kini, ketika matahari sudah naik cukup tinggi untuk memendekkan
bayangan menjadi genangan hitam di bawah kaki, jalan setapak itu mulai ramai.
Orang-orang membawa keranjang. Orang-orang menuntun lembu. Seorang anak
menangis karena alasan yang hanya dimengerti oleh anak-anak, lalu berhenti
menangis karena alasan yang sama, dan ibunya tidak menoleh sama sekali, sebab
di Nagara Rata seorang ibu tahu, dari nada tangisan, persis seberapa besar
bahaya yang sedang dihadapi anaknya, dan tangisan ini bukan apa-apa.
“Kalau kau berjalan secepat itu, ” kata Sela, “kau akan sampai sebelum
hari layak ditiba-tibai.”
“Dan kalau kau berjalan selambat itu, ” balas Awu tanpa menoleh, “dunia
akan berakhir sebelum kau melihatnya.”
Ia tidak tahu mengapa ia mengatakannya. Kelak, jauh, jauh kelak, ketika
tak ada lagi yang tersisa untuk berjalan di atasnya, ia akan mengingat kalimat
itu dan tidak bisa berhenti mengingatnya, akan memutarnya di dalam kepalanya
selama bertahun-tahun yang tak terhitung sampai kata-katanya aus seperti anak
tangga batu yang diinjak terlalu banyak kaki. Tapi hari ini ia hanya seorang
gadis yang tergesa di hari pasar, dan saudarinya hanya tertawa, dan tanah di
bawah kaki mereka terasa seperti satu-satunya hal di seluruh ciptaan yang tidak
akan pernah pergi.
Di bawah mereka, terlalu dalam untuk didengar siapa pun, air sudah mulai
menghitung.
❖
Mereka bukan
saudari yang mirip, dan orang-orang di kota sudah lama berhenti heran akan hal
itu.
Awu adalah yang lebih tua, walau hanya selisih dua musim panen, dan ia
membawa ketuaan itu seperti orang membawa sebuah gelar, dengan kesadaran penuh,
dan dengan sedikit kelelahan. Wajahnya adalah wajah yang sudah memutuskan
banyak hal sebelum orang lain sempat bertanya. Ketika ia memandang sesuatu, ia
memandangnya seolah-olah sedang mengukurnya: berapa nilainya, berapa lama ia
akan bertahan, dan apa yang akan terjadi pada dunia bila benda itu tiada.
Tetua-tetua Nagara Rata berkata, di antara mereka sendiri dan tidak di hadapan
Bapa, bahwa anak sulung itu memiliki mata seorang empu dan hati seorang raja,
dan bahwa keduanya, dalam satu tubuh, adalah hal yang entah akan menyelamatkan
atau menghancurkan, dan bahwa biasanya, dalam pengalaman panjang sebuah peradaban
yang sudah melihat banyak anak tumbuh, hal semacam itu melakukan keduanya
sekaligus.
Sela tidak diukur orang seperti itu. Sela diukur, kalau ia diukur sama
sekali, dengan ukuran-ukuran yang lebih hangat dan lebih murah: bahwa ia tak
pernah lupa nama, bahwa ia tahu di sebelah mana sungai kecil itu berbelok,
bahwa ia bisa menenangkan lembu yang gelisah dengan menaruh telapak tangannya
di antara dua mata binatang itu dan berbisik kata-kata yang ia sendiri tak
ingat dari mana ia pelajari. Ia lebih pendek dari Awu, lebih gelap dari Awu,
dan ia tertawa lebih sering daripada seorang anak bangsawan seharusnya tertawa,
sebab, dan ini adalah hal yang tak pernah diucapkan keras-keras di rumah
mereka, Sela bukan sepenuhnya seorang anak bangsawan. Ibu mereka satu. Ayah
mereka, kata orang, tidak.
Tapi Bapa Rata tak pernah membedakan keduanya, setidaknya tidak dengan
kata-kata, dan maka tak seorang pun berani membedakannya pula, dan maka kedua
gadis itu tumbuh bersama di rumah yang sama, di bawah atap yang sama, di tepi
kanal yang sama, dua tunas dari satu rumpun yang, bila orang cukup jeli, tumbuh
ke arah yang berlawanan. Yang satu condong ke matahari. Yang satu condong ke
tanah.
Hari itu, di jalan menuju pasar, mereka belum tahu bahwa arah condong
adalah sebuah takdir.
❖
Pasar Nagara
Rata bukan sekadar tempat orang menukar barang. Ia adalah tempat daratan
memandang dirinya sendiri.
Ia digelar di sebuah lapangan luas tempat empat kanal besar bertemu, dan
karena keempat kanal itu datang dari empat penjuru daratan, maka pasar itu
mengumpulkan, dalam satu lingkaran yang ramai dan berdebu dan berbau, segala
sesuatu yang dimiliki oleh dunia yang dikenal. Dari utara datang gandum merah
dan batu asah dan perempuan-perempuan tinggi yang menjalin rambut mereka dengan
benang tembaga. Dari barat datang madu, dan kayu wangi, dan kabar-kabar tentang
perbukitan tempat orang menyembah batu. Dari timur datang garam gunung, bukan
garam laut, sebab tak seorang pun di Nagara Rata yang sudi memakai sesuatu yang
berasal dari laut, dan datang pula para pendeta api dengan mata yang selalu
tampak seperti baru saja menatap sesuatu yang terlalu terang. Dan dari selatan
tidak datang apa-apa, sebab di selatan tidak ada apa-apa kecuali daratan yang
semakin lama semakin sepi sampai akhirnya bertemu dengan kabut yang tak pernah
diseberangi siapa pun, dan yang oleh orang-orang tua disebut, dengan suara yang
direndahkan tanpa alasan yang bisa mereka jelaskan, sebagai tepi.
Awu suka pasar. Sela mencintainya. Perbedaan itu kecil, dan perbedaan itu
adalah segalanya.
Awu suka pasar sebagaimana seorang pewaris menyukai tanah warisannya:
dengan rasa memiliki, dengan perhitungan, dengan kepuasan tenang melihat
sesuatu yang besar bekerja sebagaimana mestinya. Ia berjalan di antara
lapak-lapak dan ia melihat sebuah sistem, kanal yang membawa, tangan yang
menukar, angka yang dihitung pada simpul-simpul tali oleh para juru hitung yang
duduk bersila di bawah tenda. Ia melihat keteraturan, dan keteraturan, bagi
Awu, adalah bentuk keindahan yang paling tinggi, sebab keteraturan adalah bukti
bahwa sesuatu bisa dibuat untuk bertahan.
Sela mencintai pasar sebagaimana seseorang mencintai sebuah lagu yang ia
tahu tak akan terdengar dua kali dengan cara yang persis sama. Ia tidak melihat
sistem. Ia melihat seorang tua yang menjual periuk dan menamai tiap periuknya
seolah-olah mereka anak-anaknya. Ia melihat seorang anak mencuri buah dan
seorang penjual buah berpura-pura tidak melihat. Ia melihat dua orang asing
dari dua penjuru daratan yang berbeda, yang tak bisa saling memahami bahasa,
menawar harga seekor ayam hanya dengan jari tangan dan dengan tawa, dan
berhasil, dan berpisah sebagai sesuatu yang nyaris seperti sahabat. Ia melihat
hal-hal yang terjadi sekali dan tak akan terulang, dan ia menyimpannya, sebab
ia adalah jenis orang yang menyimpan.
Ia belum tahu bahwa menyimpan adalah sebuah bakat. Ia belum tahu bahwa,
kelak, menyimpan akan menjadi sebuah beban yang berat seperti tujuh kerikil di
dalam perut. Hari ini menyimpan hanyalah cara seorang gadis mencintai dunianya,
dan dunianya begitu penuh sehingga mencintainya terasa seperti pekerjaan yang
menyenangkan dan tak pernah selesai.
❖
Mereka
menemukannya di tepi pasar, di tempat para pedagang Tirta selalu ditempatkan,
tidak diusir, tidak pula dipersilakan masuk, melainkan diberi ruang di pinggir,
sebagaimana orang memberi ruang pada sesuatu yang berguna tapi tak sepenuhnya
dipercaya.
Ia masih muda untuk seorang nakhoda, dan ia memiliki kulit orang yang
menghabiskan hidup di bawah langit terbuka, dan ada sesuatu pada caranya
berdiri, kaki sedikit terbuka, lutut sedikit lentur, seolah-olah tanah yang
rata pun sewaktu-waktu bisa bergoyang, yang menandai dia sebagai orang yang
bukan dari sini. Di hadapannya tergelar dagangan biasa: kerang yang dijadikan
perhiasan, garam yang tak akan dibeli siapa pun, tali yang dianyam dengan cara
yang tak dikenal di daratan. Tapi orang-orang tidak mengerumuni dagangannya.
Orang-orang mengerumuni mulutnya. Sebab seorang pedagang Tirta, di Nagara Rata,
menjual dua hal: barang, yang tak terlalu dibutuhkan, dan kabar, yang selalu.
“…dan dusun itu sekarang ada di bawah air, ” ia sedang berkata, ketika
Awu dan Sela tiba di tepi kerumunan. “Bukan tenggelam karena banjir sungai.
Tidak ada sungai di sana. Air laut yang naik. Pelan. Tidak dalam satu malam,
dalam satu musim, dua musim. Garis pantai bergeser sejauh orang berjalan dari
pagi sampai siang. Dusun-dusun yang dulu kering sekarang harus dijangkau dengan
perahu, dan penduduknya pindah ke tanah yang lebih tinggi, dan tanah yang lebih
tinggi itu, kata mereka, juga mulai terasa lembap di musim tertentu.”
Seseorang dalam kerumunan tertawa. Bukan tawa jahat, tawa orang yang
merasa lega bahwa sebuah masalah adalah masalah orang lain. “Laut menelan rumah
orang pesisir, ” katanya. “Berita apa itu? Laut memang begitu. Karena itu kami
tinggal di tengah.”
Beberapa orang ikut tertawa, dan kerumunan mulai mengendur, sebab kabar
yang tak mengancam diri sendiri adalah kabar yang membosankan. Tapi Sela tidak
beranjak, dan karena Sela tidak beranjak, Awu pun tinggal.
“Seberapa jauh, ” tanya Sela, dan suaranya cukup pelan sehingga si
nakhoda harus mencari dari mana suara itu datang sebelum ia menemukan wajahnya.
“Garis pantai itu. Seberapa jauh ia bergeser, dibanding zaman kakekmu?”
Nakhoda muda itu memandangnya. Ada sesuatu dalam pertanyaan itu yang
membuatnya, untuk sesaat, berhenti menjadi seorang pedagang dan menjadi seorang
yang benar-benar berpikir.
“Kakekku, ” katanya akhirnya, “melaut dari sebuah pelabuhan yang sekarang
harus kuselami untuk kulihat. Tiang-tiangnya masih ada di bawah sana. Ikan
tinggal di rumah yang dulu ditinggali manusia.” Ia mengangkat bahu, gerak yang
ingin terlihat acuh dan tidak berhasil. “Tapi orang itu benar. Kalian tinggal
di tengah. Laut butuh waktu yang sangat lama untuk berjalan sejauh ini.”
“Berapa lama?” Sela bertanya lagi.
Dan si nakhoda tidak menjawab, sebab ia tidak tahu, dan sebab pertanyaan
itu, yang ditanyakan oleh seorang gadis daratan dengan suara setenang permukaan
kanal di pagi hari, entah bagaimana terasa seperti pertanyaan yang tak
seharusnya ditanyakan di hari yang secerah ini, di tengah pasar yang seramai
ini, di pusat dunia yang sekokoh ini.
Awu menarik lengan saudarinya. “Ayo, ” katanya. “Bapa menunggu. Dan orang
ini menjual ketakutan seperti orang lain menjual garam, terlalu mahal, dan tak
seorang pun benar-benar membutuhkannya.”
Sela membiarkan dirinya ditarik. Tapi di ambang antara lapak si nakhoda
dan keramaian pasar, ia menoleh sekali, dan ia melihat orang itu masih
memandangnya, dan ia melihat di belakang orang itu, tergantung pada seutas
tali, sebuah benda kecil yang tak ia kenali: sepotong kayu yang sudah lama
terendam, dimakan air sampai bentuk aslinya hilang, halus dan pucat seperti
tulang. Dulu, ia tahu entah dari mana, kayu itu adalah bagian dari rumah
seseorang. Sekarang ia adalah jimat. Begitulah cara air bekerja, pikir Sela,
tanpa tahu mengapa ia memikirkannya: air mengambil rumahmu, lalu mengembalikan
sepotong kecilnya bertahun-tahun kemudian, sudah berubah menjadi sesuatu yang
kau gantungkan di leher untuk keberuntungan.
Ia berbalik, dan ia mengikuti saudarinya, dan ia tidak menceritakan
kepada siapa pun pikiran itu, sebab ia tak punya kata-kata untuknya, dan sebab
di Nagara Rata tak ada orang yang akan mengerti.
❖
Mereka pulang
ketika matahari sudah condong dan bayangan-bayangan kembali memanjang, meregang
dari kaki setiap orang seperti hendak menggapai sesuatu di belakang mereka yang
tak bisa mereka lihat.
Kanal di sisi jalan memantulkan langit yang mulai berwarna tembaga, dan
di permukaannya yang tenang seekor burung air berjalan di atas pantulan awan
seolah-olah langit adalah sesuatu yang bisa diinjak. Awu berjalan dengan kepala
penuh oleh hal-hal yang akan ia katakan kepada Bapa, tentang harga gandum,
tentang seorang juru hitung yang menurutnya curang, tentang seribu urusan kecil
sebuah peradaban yang sehat dan yakin akan dirinya sendiri. Sela berjalan
dengan kepala penuh oleh sepotong kayu yang halus dan pucat seperti tulang.
“Kau diam, ” kata Awu, ketika lumbung-lumbung rumah mereka sudah tampak
di kejauhan, hitam menghadap matahari yang turun. “Kau tidak pernah diam.”
“Aku berpikir, ” kata Sela.
“Tentang orang Tirta itu.”
Sela tidak menjawab langsung. Mereka berjalan beberapa langkah, dan suara
kaki mereka di atas tanggul tanah adalah satu-satunya suara di seluruh sore,
sebab angin telah berhenti dan padi berdiri diam dan bahkan burung air itu kini
hanya berdiri, satu kaki terangkat, memandang ke dalam air seolah-olah ada
sesuatu di sana yang patut dipandang.
“Awu, ” akhirnya Sela berkata. “Kalau benar laut sedang berjalan, pelan,
sangat pelan, sepanjang banyak generasi, ke arah mana ia berjalan?”
Awu tertawa, dan tawanya tulus, dan itulah yang membuatnya, kelak, begitu
sulit untuk diingat tanpa rasa sakit. “Ke arah kita, kalau kau percaya pedagang
yang menjual ketakutan, ” katanya. “Tapi pikirkan, Sela. Pikirkan seberapa
jauh. Pikirkan seberapa lama. Laut harus menyeberangi seluruh daratan untuk
sampai ke sini. Ia harus menelan setiap kota di antara pesisir dan kita. Dan
bahkan seandainya ia melakukannya, bahkan seandainya, dalam mimpi terburuk
seorang anak, itu akan memakan waktu lebih lama daripada nama kita akan
diingat. Kau dan aku akan jadi tanah. Anak-anak kita akan jadi tanah. Tujuh
generasi anak-anak mereka akan jadi tanah. Yang harus mengkhawatirkan laut,
kalau memang ada yang harus, adalah orang-orang yang belum lahir, yang namanya
pun belum ada di dunia.”
Ia mengatakannya untuk menenangkan. Ia mengatakannya sebagaimana orang
mengatakan kepada seorang anak bahwa badai akan berlalu, bukan karena ia tahu,
melainkan karena cinta menuntut sebuah kalimat yang menenangkan diletakkan di
antara ketakutan dan tidur.
Dan ia benar dalam segala hal kecuali satu. Ia benar bahwa laut harus
menyeberangi seluruh daratan. Ia benar bahwa itu akan memakan banyak generasi.
Ia benar bahwa ia, dan saudarinya, dan anak-anak mereka akan menjadi tanah jauh
sebelum air mencapai pintu mereka.
Ia hanya keliru tentang satu hal: ia mengira bahwa menjadi tanah berarti
berhenti mengkhawatirkan. Ia belum tahu bahwa ada cara untuk tidak menjadi
tanah. Ia belum tahu bahwa, kelak, ia sendiri yang akan memilih cara itu, dan
bahwa dari dasar laut yang belum tiba, dengan mata yang tak akan pernah lagi
menutup, ia akan mengkhawatirkan, selama sepuluh ribu tahun, persis hal yang
sore ini ia tertawakan.
Mereka sampai di rumah ketika matahari menyentuh tepi daratan. Di
belakang mereka, di sepanjang kanal yang lurus dan tenang dan setia, langit
kehilangan warna tembaganya dan menjadi kelabu, dan permukaan air menjadi
gelap, dan di dalam kegelapan itu, terlalu pelan untuk dilihat, terlalu dalam
untuk didengar, tapi sudah dimulai, sudah lama dimulai, air terus menghitung,
dengan kesabaran sesuatu yang tahu bahwa ia memiliki segala waktu di dunia, dan
bahwa daratan, betapapun luas, betapapun yakin, betapapun dicintai, pada
akhirnya hanyalah sebuah angka yang belum selesai dijumlahkan.
❖
BAB DUA
Dua Saudari
Tanyakan kepada seseorang apa yang ia
lakukan dengan sesuatu yang mati, dan kau akan tahu apa yang akan ia lakukan
dengan sesuatu yang ia cintai.
ajaran para pembaca bintang Nagara Giri
Rumah mereka
adalah rumah yang baik, sebagaimana rumah-rumah Nagara Rata adalah rumah yang
baik: dibangun untuk bertahan, dan dibangun oleh orang-orang yang tak pernah
membayangkan bahwa ia perlu bertahan terhadap apa pun selain waktu.
Dindingnya dari tanah yang dijemur sampai keras seperti batu, dan
tiang-tiangnya dari kayu yang dibawa dari barat dengan biaya yang hanya bisa
ditanggung oleh keluarga seperti keluarga mereka, dan atapnya cukup tinggi
sehingga di musim panas udara di dalam tetap sejuk dan di musim hujan suara air
yang jatuh terdengar jauh, seperti tepuk tangan sebuah kerumunan di kota lain.
Di tengah rumah ada perapian yang tak pernah benar-benar mati; bahkan ketika
apinya padam, baranya disimpan di bawah abu, dan tiap pagi seseorang, biasanya
Sela, sebab Awu menganggap pekerjaan itu di bawah martabatnya, dan sebab Sela
menganggap tak ada pekerjaan yang di bawah martabat siapa pun, akan menggali
bara itu keluar, meniupnya, dan membujuk nyala baru dari sisa nyala lama.
Begitulah hidup di Nagara Rata diteruskan: bukan dengan menyalakan yang
baru, melainkan dengan menjaga yang lama agar tak pernah padam sepenuhnya.
Seluruh peradaban itu dibangun di atas prinsip yang sederhana itu, walau tak
seorang pun pernah mengucapkannya keras-keras, sebab prinsip yang paling dalam
dipegang adalah prinsip yang paling jarang diucapkan. Padi disimpan agar musim
depan ada benih. Nama disimpan agar anak tahu dari siapa ia turun. Bara
disimpan agar pagi selalu punya api. Apa pun yang berharga, simpan; apa pun
yang hilang, sungguh-sungguh hilang, sebab di daratan yang datar dan kering ini
tak ada yang datang dari luar untuk menggantikannya.
Pagi itu, beberapa hari setelah pasar, Sela bangun lebih dulu seperti
biasa dan pergi ke perapian seperti biasa, dan ia sedang berlutut di depan abu
yang hangat, meniup dengan sabar, ketika ia mendengar Awu memanggil namanya
dari halaman, bukan dengan nada terkejut, bukan pula dengan nada takut,
melainkan dengan nada yang lebih buruk daripada keduanya: nada seseorang yang
telah menemukan sebuah masalah dan sedang memutuskan, dengan tenang, apa yang
harus dilakukan terhadapnya.
❖
Burung itu
terbaring di bawah pohon di sudut halaman, di tempat embun masih bertahan di
rumput karena matahari belum sampai ke sana.
Ia seekor burung air, jenis yang sama dengan yang berjalan di atas
pantulan langit di kanal, berleher panjang, berbulu kelabu yang di tepi-tepinya
menyimpan sedikit warna biru yang hanya tampak bila cahaya jatuh dengan tepat.
Salah satu sayapnya terlipat di bawah tubuhnya dengan cara yang salah, cara
yang membuat jelas, bahkan dari jauh, bahkan kepada seseorang yang belum pernah
melihat kematian, bahwa burung ini tak akan terbang lagi. Tidak ada darah.
Tidak ada tanda kekerasan. Ia hanya, di suatu titik dalam malam, berhenti,
sebagaimana bara di perapian berhenti bila tak ada yang menjaganya, dan jatuh
dari pohon, dan kini terbaring di rumput dengan satu mata terbuka memandang
langit yang tak lagi bisa dicapainya.
Awu berdiri di atasnya, memandangnya, dengan tangan terlipat. Ketika Sela
datang dan berlutut di samping burung itu, Awu tidak ikut berlutut.
“Sudah dingin, ” kata Awu. “Mati semalam, kurasa. Jatuh dari sarang, atau
sakit. Tidak ada gunanya menebak.” Ia berkata seolah-olah sedang menutup sebuah
perkara, seolah-olah pertanyaan satu-satunya yang pantas diajukan tentang
sesuatu yang mati adalah pertanyaan sebab, dan begitu sebab tak bisa diketahui,
perkara itu selesai. “Aku akan menyuruh seseorang membuangnya sebelum ia
menarik lalat.”
Sela tidak menjawab. Ia sedang memandang mata yang terbuka itu.
Ia tahu, dengan cara yang tak bisa ia jelaskan, bahwa burung ini kemarin
masih ada di antara burung-burung lain di kanal, bahwa ia adalah salah satu
dari yang berjalan di atas langit, bahwa ia memiliki sebuah tempat di antara
yang lain, sebuah tikungan sungai yang ia kenal, sebuah arah yang ia tuju
ketika musim berganti. Semua itu kini tidak ada di mana pun. Bukan pindah ke
tempat lain. Tidak ada. Dan yang membuat Sela tak bisa berdiri, yang membuatnya
tetap berlutut di rumput basah sampai dingin merembes ke lututnya, adalah
kesadaran, baru, mentah, terlalu besar untuk seorang gadis sepagi ini, bahwa
tidak ada di mana pun adalah sebuah tempat yang sebenarnya, sebuah tempat yang
menampung lebih banyak hal daripada seluruh daratan, dan bahwa segala sesuatu, cepat
atau lambat, berjalan ke sana.
“Jangan dibuang, ” kata Sela.
Awu menoleh. “Apa?”
“Jangan disuruh seseorang membuangnya seperti sampah.” Sela mengangkat
wajahnya, dan ada sesuatu di wajah itu yang membuat Awu, untuk sesaat, menahan
kata-kata yang sudah siap di lidahnya. “Ia pernah ada. Kemarin ia ada. Sesuatu
yang pernah ada tidak seharusnya dibuang seperti sesuatu yang tidak pernah
ada.”
❖
Awu adalah orang
yang sabar terhadap banyak hal, tapi ia tidak sabar terhadap apa yang ia anggap
kelembutan yang sia-sia, dan ia menganggap sebagian besar kelembutan sia-sia.
“Ia seekor burung, Sela, ” katanya, dan suaranya bukan suara yang kejam,
itulah yang kelak paling menyakitkan untuk diingat, bahwa tak ada satu pun dari
ini yang berasal dari kekejaman. “Ada ribuan seperti dia di kanal. Besok akan
ada ribuan lagi. Satu mati, dan sungai tidak berubah. Kawanannya tidak berubah.
Bila kau berdiri di tepi kanal sore nanti, kau tidak akan bisa menunjuk tempat
yang kosong dan berkata: di sini, di sinilah dulu ada satu yang sekarang tiada.
Tidak ada lubang. Air menutup di atas tempat ia dulu berdiri seolah-olah ia tak
pernah berdiri di sana.”
“Itu justru yang membuatku tak bisa membiarkannya, ” kata Sela.
“Mengapa?”
Sela memikirkannya. Ia bukan jenis orang yang menjawab sebelum ia tahu
apa yang ia maksud, dan maka ia diam cukup lama sehingga seekor lalat, yang
pertama, datang dan hinggap di mata burung itu yang terbuka, dan Sela
mengusirnya dengan tangan, pelan, seolah-olah burung itu masih bisa terganggu.
“Karena bila tak ada yang mengingat bahwa ia pernah ada, ” akhirnya Sela
berkata, “maka air benar. Maka memang seolah-olah ia tak pernah ada. Dan kalau
itu bisa terjadi pada seekor burung, ia bisa terjadi pada apa saja. Pada lembu.
Pada orang. Pada, ” ia menggerakkan tangannya, sebuah gerak kecil yang
merangkul halaman, rumah, kanal di kejauhan, seluruh daratan yang datar dan
yakin, “, pada semua ini. Suatu hari semua ini akan menjadi tidak ada di mana
pun, Awu, sebagaimana burung ini sekarang tidak ada di mana pun, dan
satu-satunya hal yang akan membedakan apakah ia pernah ada atau tidak adalah
apakah seseorang mengingatnya.”
Untuk sesaat, halaman menjadi sunyi. Bahkan Awu, yang punya jawaban untuk
hampir segala hal, tidak menjawab langsung. Sebab ia mendengar, di balik
kata-kata saudarinya, sesuatu yang ia sendiri juga rasakan, bukan rasa yang
sama, tapi rasa yang lahir dari sumber yang sama. Mereka berdua, kedua gadis
itu, sedang berdiri di tepi pemikiran yang sama, jurang yang sama: bahwa segala
sesuatu berakhir. Hanya saja mereka berdiri di tepi yang berseberangan, dan
memandang ke bawah, ke dalam jurang yang sama itu, mereka melihat dua hal yang
sama sekali berbeda.
Sela melihat jurang itu dan berkata: maka aku akan mengingat, supaya yang
jatuh ke dalamnya tidak benar-benar hilang.
Awu melihat jurang itu dan berkata, di dalam hatinya, dengan kata-kata
yang belum sepenuhnya ia temukan dan tak akan ia ucapkan hari ini: maka aku
akan mencari cara supaya tidak ada yang perlu jatuh.
Itulah seluruh perbedaan di antara mereka. Itulah, walau tak seorang pun
di halaman itu yang bisa mengetahuinya, seluruh perbedaan yang kelak akan
membelah dunia menjadi dua jenis keabadian, dan membelah laut dari daratan, dan
membelah yang mengingat dari yang menolak untuk berakhir. Tapi hari ini ia
hanyalah dua saudari yang berdebat tentang seekor burung, di sebuah halaman, di
pagi yang cerah, dengan embun yang mulai menguap dari rumput ketika matahari
akhirnya sampai ke sudut itu.
❖
Pada akhirnya
Awu membiarkannya, sebagaimana yang lebih kuat kadang membiarkan yang lebih
lembut menang dalam hal-hal kecil, justru karena ia tahu hal itu kecil.
“Lakukan apa yang kau mau dengannya, ” katanya, sudah berbalik menuju
rumah, sudah memikirkan hal-hal lain, hal-hal yang menurutnya lebih pantas
dipikirkan oleh seseorang dengan mata empu dan hati raja. “Tapi cuci tanganmu
sesudahnya. Dan jangan terlambat. Bapa ingin bicara tentang ladang utara.”
Maka Sela menggali. Ia menggali dengan tangannya sendiri, di bawah pohon
yang sama tempat burung itu jatuh, sebab tampaknya benar bahwa sesuatu harus
kembali ke tanah di tempat yang dekat dengan tempat ia terakhir hidup. Tanahnya
gembur dan gelap dan berbau seperti hujan yang belum turun, dan ketika lubang
itu cukup dalam, ia mengangkat burung itu, yang ternyata lebih ringan daripada
yang ia bayangkan, jauh lebih ringan, seolah-olah sebagian besar dari berat
seekor makhluk hidup bukanlah dagingnya melainkan hidupnya, dan ia
membaringkannya di dalam, dan ia melipat sayap yang patah itu ke posisi yang
seharusnya, supaya setidaknya di dalam tanah burung itu terbaring dengan benar.
Dan ketika ia menutupnya dengan tanah, sesuatu yang aneh terjadi, begitu
kecil sehingga ia hampir tak menyadarinya, begitu sepele sehingga ia tak akan
pernah menceritakannya kepada siapa pun, dan begitu penting sehingga, sepuluh
ribu tahun kemudian, keturunan dari keturunan dari keturunannya akan melakukan
hal yang persis sama tanpa tahu mengapa, di seluruh pulau, di setiap makam,
melipat sesuatu yang patah ke posisi yang seharusnya sebelum menutupnya dengan
tanah. Sela merasakan, lewat telapak tangannya yang menekan tanah, sesuatu yang
menjawab. Bukan suara. Bukan gerak. Sebuah pengakuan, seolah-olah tanah itu
sendiri telah menerima apa yang ia berikan, telah mencatatnya, telah
menambahkannya pada sebuah daftar panjang yang tak terlihat dari segala sesuatu
yang pernah ada dan kini disimpan di bawah, di tempat yang gelap dan dingin dan
setia, tempat yang tidak pernah membuang apa pun.
Ia menarik tangannya. Ia memandang gundukan kecil itu. Lalu, merasa
sedikit bodoh, dan tidak peduli bahwa ia merasa bodoh, ia berbisik kepadanya,
kata-kata yang sama yang ia gunakan untuk menenangkan lembu, kata-kata yang ia
tak ingat dari mana ia pelajari, kata-kata yang dalam lidah Nagara Rata sudah
kehilangan artinya dan tinggal bunyinya, tapi yang dalam lidah yang jauh lebih
tua, lidah yang tak seorang pun di daratan itu masih bisa bicara, masih berarti
sesuatu yang sederhana dan benar: kau diingat, kau diingat, kau diingat.
❖
Dari ambang
pintu rumah, Awu menyaksikan saudarinya berbisik kepada tanah, dan ia tidak
tertawa.
Ia ingin tertawa. Sebagian dari dirinya, bagian yang sudah memutuskan
banyak hal dan tak sabar terhadap kelembutan yang sia-sia, mendorongnya untuk
tertawa dan memanggil Sela masuk dan melupakan seluruh urusan konyol tentang
seekor burung ini. Tapi bagian lain dari dirinya, bagian yang lebih dalam,
bagian yang tak ia tunjukkan kepada siapa pun, bahkan kepada Bapa, bahkan
kepada dirinya sendiri di sebagian besar hari, memandang saudarinya yang
berlutut di tanah dan merasakan sesuatu yang sangat dekat dengan iri.
Sebab Sela telah menemukan sebuah jawaban, dan Awu belum. Sela memandang
kematian seekor burung dan menemukan sebuah cara untuk hidup berdampingan
dengannya: mengingat, dan dengan mengingat, menolak untuk menyetujui bahwa yang
hilang benar-benar hilang. Itu adalah jawaban yang lembut, dan Awu menganggap
kelembutan sia-sia, dan maka ia tak bisa menerimanya untuk dirinya sendiri.
Tapi ia juga tak punya jawaban yang lain, belum, dan ketiadaan jawaban itu
duduk di dalam dirinya seperti sebuah lubang yang menunggu, seperti sebuah
pertanyaan yang menunggu sesuatu untuk mengisinya, dan suatu hari,
bertahun-tahun dari sekarang, ketika air datang dan dunia berakhir dan seorang empu
menawarkan sebuah jawaban yang sama sekali berbeda dari jawaban saudarinya,
lubang itu akan terisi, dan Awu akan memilih, dan pilihannya akan menjadi
kutukan bagi sepuluh ribu tahun.
Tapi itu nanti. Hari ini, Awu hanya memanggil dengan lembut, lebih lembut
daripada biasanya, “Sela. Bapa menunggu.” Dan Sela berdiri, dan mencuci
tangannya di air kanal seperti yang disuruh, dan kedua saudari itu masuk ke
dalam rumah tempat bara lama sedang dibujuk menjadi api baru, dan halaman
ditinggalkan kosong kecuali oleh sebuah gundukan kecil di bawah pohon, yang tak
seorang pun akan ingat dalam seminggu, kecuali satu orang, yang tak akan pernah
melupakannya.
Dan di kanal, tempat burung-burung air berjalan di atas pantulan langit,
air mengalir lurus dan tenang dan setia, sebagaimana ia selalu mengalir,
membawa apa yang disuruh dan pergi ke mana yang diperintahkan. Tapi bila ada
orang yang cukup hening untuk mendengarnya, dan di seluruh Nagara Rata hanya
ada satu, dan ia masih terlalu muda untuk tahu bahwa ia mendengar, air itu, di
bawah ketenangannya, di bawah kesetiaannya, di bawah segala kepatuhannya yang
panjang, sedang menyimpan. Sebagaimana Sela menyimpan. Sebagaimana tanah
menyimpan. Air menyimpan segala sesuatu yang pernah jatuh ke dalamnya, dan ia
sabar, dan ia tidak pernah membuang apa pun, dan ia menunggu hari, masih jauh,
masih banyak generasi jauhnya, tapi sudah pasti, sudah lama pasti, ketika ia akhirnya
akan mengembalikan semuanya sekaligus.
❖
BAB TIGA
Bapa dan Kejayaan
Sebuah bangsa tidak pernah lebih dekat
pada kejatuhannya selain pada malam ia merayakan bahwa ia tak mungkin jatuh.
yang dikatakan orang Nagara Rata
sesudahnya, ketika tak ada lagi Nagara Rata untuk mengatakannya
Bapa Rata bukan
seorang raja, sebab Nagara Rata tidak memiliki raja, dan inilah hal pertama
yang harus dipahami tentang dia, dan tentang seluruh dunia yang ia wakili.
Di perbukitan barat, kata orang, ada bangsa yang menyembah satu orang di
antara mereka, menaruh seseorang di atas yang lain dan menyebutnya keturunan
batu atau anak bintang dan menundukkan kepala ketika ia lewat. Di pegunungan
timur, para pendeta api memerintah, dan kehendak mereka adalah kehendak nyala,
dan tak ada yang membantah nyala. Tapi di daratan yang datar tak ada tempat
yang lebih tinggi dari tempat lain, dan barangkali itulah sebabnya, barangkali
tanah membentuk jiwa orang yang tinggal di atasnya, sebagaimana ia membentuk
air yang mengalir di atasnya, barangkali itulah sebabnya orang Nagara Rata tak
pernah belajar menundukkan kepala. Mereka memerintah diri mereka sendiri
melalui dewan tetua, dan Bapa Rata adalah yang paling dituakan di antara yang
tua, bukan karena ia memiliki kuasa atas yang lain, melainkan karena, selama
bertahun-tahun, ia paling sering benar.
Ia seorang lelaki besar yang mulai menyusut, sebagaimana lelaki besar
menyusut di usia tua: bukan menjadi kecil, melainkan menjadi padat, seolah-olah
seluruh kehidupan yang dulu mengisi tubuh yang lebih besar kini dipadatkan ke
dalam tubuh yang lebih ringkas dan karena itu menjadi lebih pekat. Tangannya
adalah tangan orang yang dulu bekerja dan kini memerintah, dan suaranya adalah
suara orang yang sudah lama tak perlu mengulang dirinya. Ketika ia memandang
kedua anak perempuannya, dan ia memandang keduanya, selalu, dengan tatapan yang
sama, sehingga tak seorang pun pernah bisa memastikan apa yang ia ketahui atau
tak ketahui tentang asal-usul mereka, ada di matanya sesuatu yang lebih dekat
pada kepuasan seorang petani yang melihat ladangnya menjijau daripada
kelembutan seorang ayah, tapi di Nagara Rata kedua hal itu tidak selalu
dianggap berbeda.
Malam itu rumah mereka menyiapkan jamuan, sebab tetua-tetua dari
kota-kota lain akan datang, dan seorang tamu dari jauh telah tiba: seorang tua
dari Nagara Giri, dari perbukitan utara, yang turun ke daratan sekali dalam
beberapa tahun untuk menukar batu asah dan ramuan dan, yang paling berharga,
ramalan langit. Sela menghabiskan sepanjang sore membantu di dapur, dan Awu
menghabiskan sepanjang sore di sisi Bapa, belajar, sebagaimana ia selalu
belajar, dengan mata yang mengukur.
❖
Ketika malam
turun, rumah itu penuh, dan penuhnya rumah itu adalah penuhnya sebuah peradaban
yang sedang berada di puncaknya dan tahu betul akan hal itu.
Di atas tikar-tikar anyaman terbaik tergelar segala yang bisa dihasilkan
daratan: nasi yang ditanak dengan rempah dari timur, daging yang dipanggang di
atas bara yang dijaga seharian, ikan air tawar dari kanal yang dagingnya putih
dan manis, sayur dan umbi dan buah yang ditumpuk sampai melimpah, sebab di
Nagara Rata melimpah bukan sekadar tanda kekayaan melainkan tanda kebenaran,
bukti yang bisa dilihat dan dicicipi bahwa cara mereka hidup adalah cara yang
benar, bahwa tanah memberkati mereka karena mereka pantas diberkati.
Pelita-pelita minyak menyala di sepanjang dinding, dan asapnya naik lurus ke
atap yang tinggi, dan dalam cahayanya wajah-wajah para tetua tampak keemasan
dan yakin.
Mereka bicara, sebagaimana orang yang berkuasa bicara ketika mereka
berkumpul, tentang hal-hal yang menegaskan kuasa mereka. Tentang panen yang
melampaui panen tahun lalu. Tentang kanal baru yang akan dibuka ke arah
selatan, membuka tanah yang selama ini terlalu jauh dari air. Tentang seorang
pedagang barat yang mencoba menipu dan ditangani dengan cara yang membuat semua
tertawa. Dan di balik tiap kata, tak terucap tapi hadir di setiap ruang di
antara kata-kata, ada satu keyakinan yang menjadi udara yang mereka hirup:
bahwa ini akan berlangsung selamanya. Bahwa daratan ini, kanal-kanal ini, cara
hidup ini, telah berlangsung sejauh ingatan menjangkau dan akan berlangsung
sejauh ingatan akan menjangkau ke depan. Bahwa Nagara Rata bukanlah sesuatu
yang terjadi dalam sejarah, melainkan latar tempat sejarah terjadi, tetap, tak
tergoyahkan, sebuah dasar dan bukan sebuah bangunan.
Awu duduk dekat Bapa dan minum sedikit dan bicara sedikit dan mendengar
segalanya. Ia menyukai malam-malam seperti ini, menyukainya dengan kesukaan
yang sama dengan kesukaannya pada pasar: di sini ia melihat sebuah sistem
bekerja, melihat kuasa berpindah dan keputusan dibuat dan dunia diatur, dan ia
menyimpan tiap gerak dan tiap kata di dalam dirinya sebagaimana seorang juru
hitung menyimpan angka di simpul tali, untuk hari ketika ia sendiri akan duduk
di tempat Bapa dan dunia akan menunggu kata-katanya.
Sela duduk lebih jauh, di antara yang muda dan yang membantu, dan ia
tidak menyimpan kata-kata para tetua. Ia menyimpan hal-hal lain: cara seorang
tetua tua menyembunyikan tangannya yang gemetar di bawah tikar, cara seorang
istri memandang suaminya yang bicara terlalu keras, cara seorang anak tertidur
di pangkuan ibunya di tengah segala keramaian, dengan kepercayaan penuh seorang
anak bahwa dunia akan terus berputar dengan aman tanpa perlu ia jaga dengan
tetap terjaga. Hal-hal yang terjadi sekali. Hal-hal yang tak akan terulang
dengan cara yang persis sama. Hal-hal yang ia simpan tanpa tahu mengapa,
kecuali bahwa menyimpannya terasa seperti satu-satunya cara yang ia punya untuk
mencintai sebuah malam yang ia tahu, dengan kesedihan yang tak ia mengerti, tak
akan pernah benar-benar kembali.
❖
Tamu dari Nagara
Giri itu bicara sedikit sepanjang jamuan, dan justru karena ia bicara sedikit,
ketika ia akhirnya bicara, semua mendengar.
Ia jauh lebih tua dari siapa pun di ruangan, begitu tua sehingga usianya
sudah berhenti menjadi angka dan menjadi sebuah keadaan, seperti cuaca.
Kulitnya seperti kulit kayu yang sudah lama terkena matahari dan hujan
bergantian sampai ia tak lagi tampak seperti kulit melainkan seperti tanah, dan
matanya, ini yang diperhatikan Sela dari tempat duduknya yang jauh, matanya
memiliki kualitas yang aneh, kualitas orang yang terbiasa memandang jauh,
sangat jauh, ke benda-benda yang begitu tinggi dan begitu lambat sehingga
memandangnya mengubah cara seseorang memandang segala hal yang lebih dekat dan
lebih cepat.
“Kalian bicara tentang kanal selatan, ” katanya, pada satu titik, ketika
percakapan tentang pembukaan tanah baru sedang ramai. Suaranya pelan dan tak
tergesa, suara orang yang tak pernah khawatir tak didengar. “Kalian akan
menggali ke selatan, ke arah tepi.”
“Tanah di sana baik, ” kata salah satu tetua. “Hanya butuh air. Kami akan
membawa air kepadanya.”
“Hm.” Orang tua Giri itu mengangguk pelan, seolah-olah ini menjawab
sebuah pertanyaan yang sudah lama ia pikirkan. “Air. Ya. Kalian akan membawa
air ke selatan.” Ia diam sejenak, dan dalam diamnya ruangan ikut menunggu. “Aku
membaca langit malam kemarin, dari atap rumah ini, ketika kalian semua tidur.
Kebiasaan orang tua. Kami di perbukitan menyimpan catatan langit, bukan di kepala,
sebab kepala mati bersama orangnya, melainkan di batu, sebab batu mengingat
lebih lama dari daging. Catatan kami sangat panjang. Lebih panjang dari yang
bisa kalian bayangkan, kalian yang menyimpan ingatan hanya sejauh kakek bisa
bercerita kepada cucu.”
Ia mengangkat wajahnya, dan matanya yang terbiasa memandang jauh itu
menyapu ruangan, melewati para tetua yang keemasan dan yakin, dan untuk sesaat,
Sela bersumpah, kelak, bahwa ini terjadi, walau tak seorang pun lain yang
memperhatikannya, untuk sesaat mata itu berhenti pada dirinya, gadis yang duduk
jauh di antara yang muda, sebelum bergerak lagi.
“Susunan bintang malam kemarin, ” katanya, “pernah kulihat sebelumnya.
Bukan dengan mataku sendiri. Dalam catatan kami, di batu yang dipahat oleh
tangan yang sudah lama jadi tanah. Catatan itu mengiringi sebuah kata, dan kata
itu, dalam lidah lama kami, berarti: air yang besar. Terakhir kali langit
berdiri seperti ini di atas dunia, kata catatan itu, daratan menjadi lebih
kecil.”
❖
Untuk sesaat,
ruangan sunyi, dan dalam sunyi itu ada sebuah kemungkinan, tipis, sekejap, tapi
sungguh ada, bahwa sejarah bisa berjalan dengan cara yang lain.
Sebab kata-kata itu telah diucapkan, dan kini menggantung di udara di
atas para tetua seperti asap pelita yang naik ke atap, dan setiap orang di
ruangan itu, untuk satu detak jantung, merasakannya: sebuah dingin, sebuah
keraguan, sebuah pintu yang terbuka sedikit ke arah sesuatu yang gelap dan
luas. Bila satu orang di ruangan itu telah menjawab dengan ketakutan, mungkin
yang lain akan ikut takut, dan ketakutan, kadang, adalah awal dari
kebijaksanaan.
Tapi Bapa Rata tertawa.
Ia tertawa bukan dengan kekejaman, sekali lagi, dan ini adalah pola yang
akan diulang dunia ini sampai akhir, tak ada kekejaman dalam tawa yang
menghancurkannya, melainkan dengan kehangatan, dengan keramahan seorang tuan
rumah yang ingin tamunya yang tua dan dihormati tidak merasa malu telah
mengatakan sesuatu yang konyol. “Sahabatku yang bijak dari perbukitan, ”
katanya, dan ia mengangkat cangkirnya ke arah orang tua itu, “kami menghormati
batu-batumu, dan kami menghormati langitmu. Tapi pikirkanlah apa yang kau
katakan, di rumah ini, di tengah daratan ini. Air yang besar membuat daratan
lebih kecil. Mungkin. Di tepi. Di pesisir, tempat tanah sudah setengah milik
air sejak awal. Biarkan air mengambil pesisir; kami tak pernah menginginkan
pesisir.”
Beberapa tetua mulai tersenyum, lega, sebab Bapa sedang mengembalikan
dunia ke bentuknya yang aman.
“Tapi lihat di mana kita duduk, ” Bapa melanjutkan, dan kini suaranya
naik, mengisi ruangan, suara orang yang berbicara bukan kepada satu tamu
melainkan kepada seluruh keyakinannya sendiri. “Berjalanlah dari sini ke arah
laut mana pun yang kau pilih. Berjalanlah sampai kakimu berdarah. Kau akan
berjalan berhari-hari, dan setiap hari kau hanya akan melihat daratan, dan
kota, dan kanal, dan ladang, dan lebih banyak daratan. Untuk mencapai kami, air
harus menelan semua itu lebih dulu. Setiap kota di antara pesisir dan kita.
Setiap ladang. Setiap orang yang kau temui dalam perjalanan berdarahmu. Apakah
kau benar-benar percaya, sahabatku, bahwa langit yang sama, yang kembali
setelah waktu yang begitu lama sehingga butuh batu untuk mengingatnya, datang
untuk menelan Nagara Rata? Kami bukan dusun pesisir. Kami adalah pusat dunia.
Air bisa naik sampai kiamat, dan ia masih harus minta izin pada seribu kota
sebelum ia sampai di pintu kami.”
Dan ruangan tertawa. Tertawa dengan lega, dengan bangga, dengan cinta
pada lelaki tua yang sekali lagi telah mengubah ketakutan menjadi gurauan.
Cangkir-cangkir diangkat. Seseorang mulai bernyanyi. Jamuan, yang sempat
tergantung sesaat di tepi sesuatu, jatuh kembali dengan aman ke dalam dirinya
sendiri, ke dalam kehangatan dan keyakinan dan kebenaran yang melimpah.
Orang tua dari Giri tidak ikut tertawa. Tapi ia juga tidak membantah. Ia
hanya menundukkan kepalanya sedikit, gerak yang bisa diartikan sebagai sopan
santun, dan ia mengangkat cangkirnya membalas Bapa, dan ia minum. Sebab ia
sudah sangat tua, dan ia sudah melihat banyak hal, dan ia tahu, sebagaimana
hanya orang yang sangat tua tahu, bahwa ada saat-saat ketika kebenaran telah
diucapkan dan ditolak, dan ketika hal itu terjadi, tak ada lagi yang bisa
dilakukan kecuali minum bersama mereka yang menolaknya, dan diam, dan
membiarkan langit menyelesaikan perdebatan dengan caranya sendiri, dalam
waktunya sendiri, yang tak diukur dalam tahun-tahun manusia.
❖
Larut malam,
ketika jamuan mulai surut dan para tamu mulai mencari tempat tidur dan
pelita-pelita dibiarkan padam satu per satu, Sela menemukan orang tua dari Giri
itu sendirian di halaman, memandang langit.
Ia tak tahu mengapa ia mengikutinya keluar. Ia hanya tahu bahwa di antara
semua yang telah dikatakan malam itu, hanya kata-kata orang tua inilah yang ia
simpan dengan cara yang berbeda dari biasanya, bukan dengan kelembutan, melainkan
dengan sesuatu yang lebih dekat pada rasa dingin, sesuatu yang menetap di
dadanya dan tak mau pergi. Ia berdiri di samping orang tua itu, dan untuk
beberapa saat keduanya tidak bicara, hanya memandang ke atas, ke tempat
bintang-bintang berdiri dalam susunan yang bagi Sela tak berarti apa-apa dan
bagi orang tua itu berarti kematian sebuah dunia.
“Kau tidak tertawa, ” akhirnya orang tua itu berkata, tanpa menoleh.
“Tidak, ” kata Sela.
“Mengapa?”
Sela memikirkannya, sebagaimana ia selalu memikirkan sebelum menjawab.
“Beberapa hari lalu, ” katanya, “seekor burung mati di halaman ini. Di bawah
pohon itu.” Ia menunjuk dengan dagunya ke arah gundukan kecil yang kini tak
terlihat dalam gelap. “Saudariku bilang tak ada gunanya memperdulikannya, sebab
ada ribuan burung lain dan sungai tidak berubah. Dan ia benar. Sungai memang
tidak berubah. Tapi aku tak bisa berhenti memikirkan bahwa burung itu, untuk
dirinya sendiri, adalah seluruh dunia. Dan kalau seluruh dunia bisa berakhir,
dan sungai tidak berubah, maka sungai bukan tanda bahwa segala sesuatu aman.
Sungai hanya tanda bahwa ia tak peduli.”
Orang tua itu menoleh kepadanya untuk pertama kalinya, dan dalam gelap
Sela tak bisa melihat matanya, hanya bisa merasakan beratnya. “Berapa usiamu,
anak?” tanyanya.
Sela menyebutkan musim panennya, dan orang tua itu mengangguk, pelan,
lama, seolah-olah angka itu menjelaskan sesuatu dan sekaligus tidak menjelaskan
apa-apa. “Terlalu muda untuk mengerti hal itu, ” katanya. “Dan kau mengerti
juga. Itu bukan hal yang baik untuk dimiliki, anak. Mengingat bahwa segala
sesuatu berakhir, dan tak bisa berhenti mengingatnya. Itu adalah beban.
Kebanyakan orang dilahirkan dengan rahmat untuk melupakannya. Sebagian kecil
tidak. Mereka membawa, seumur hidup, berat dari mengetahui apa yang dilupakan
orang lain demi kebahagiaan mereka.” Ia berbalik kembali ke langit. “Bila air
yang besar memang datang, dan ia akan datang, anak, walau bukan di hari yang
ditakutkan ayahmu, walau bukan dalam hidupmu, mungkin, atau mungkin tepat di
akhir hidupmu, maka yang seperti dirimu yang akan paling menderita. Sebab
kalian akan mengingat daratan ini ketika daratan ini tak ada lagi. Dan tak ada
beban yang lebih berat daripada menjadi satu-satunya tempat di mana sesuatu
yang besar masih ada.”
Sela tidak menjawab, sebab tak ada jawaban, dan keduanya berdiri di
halaman dalam diam, di bawah bintang-bintang yang mengeja kematian sebuah dunia
dalam bahasa yang hanya bisa dibaca oleh seorang tua dari perbukitan dan
dirasakan, tanpa dimengerti, oleh seorang gadis daratan. Dan di kejauhan, di
balik rumah, di sepanjang kanal yang lurus dan gelap, air mengalir sebagaimana
ia selalu mengalir, tenang, setia, patuh, tapi malam itu, untuk pertama
kalinya, Sela mendengarnya bukan sebagai suara air yang mengalir, melainkan
sebagai suara sesuatu yang sedang menunggu, dengan kesabaran tak terbatas,
untuk berhenti berpura-pura menjadi hamba.
❖
BAGIAN II
Air yang Ganjil
BAB EMPAT
Layar dari Tirta
Orang daratan mengukur dunia dengan
jarak. Kami yang berlayar belajar mengukurnya dengan waktu, sebab hanya waktu
yang memberitahu seberapa jauh air telah berjalan.
kata para nakhoda Nagara Tirta
Pedagang Tirta
datang ke daratan sesuai musim, sebagaimana burung datang sesuai musim, dan
orang Nagara Rata mengenali kedatangan mereka tanpa perlu melihat mereka: dari
bau, yang mendahului mereka di jalan, bau garam dan kayu basah dan sesuatu lagi
yang tak bisa dinamai, bau jauh.
Tapi musim ini ada yang ganjil, dan keganjilannya bukan pada kedatangan
melainkan pada kedalaman kedatangan itu. Pedagang Tirta jarang masuk jauh ke
daratan. Mereka berhenti di kota-kota tepi, tempat kanal-kanal besar bermuara
ke arah pesisir, menjual dan membeli dan pergi, sebab mereka tak betah jauh
dari air, sebab seorang pelaut di tengah daratan adalah seperti ikan di tengah
ladang, hidup, tapi salah tempat, tapi gelisah dengan kegelisahan yang tak bisa
ia jelaskan. Maka ketika kabar sampai ke kota Bapa Rata bahwa seorang nakhoda
Tirta telah datang jauh ke pedalaman, melewati kota-kota tepi, menyusuri kanal
demi kanal sampai hampir ke pusat daratan, ke tempat yang sejauh-jauhnya dari
laut yang bisa dicapai seorang pelaut tanpa berhenti menjadi pelaut, maka kabar
itu sendiri adalah sebuah berita, bahkan sebelum si nakhoda mengucapkan sepatah
kata.
Sela mendengarnya dari perempuan-perempuan di sumur, yang mendengarnya
dari para pengangkut yang mendengarnya dari kota tepi, dan begitu ia mendengar
bahwa si nakhoda masih muda dan datang dari arah pesisir selatan, ia tahu,
dengan kepastian yang tak bisa ia jelaskan, bahwa itu adalah orang yang sama,
orang dari pasar, orang yang menggantungkan sepotong kayu terendam di lehernya,
orang yang tak bisa menjawab ketika ia bertanya berapa lama. Dan ia tahu pula,
dengan kepastian yang sama, bahwa ia tak datang sejauh ini untuk berdagang.
❖
Ia menemukannya
di tempat para tamu rendahan ditempatkan, di tepi kota, di sebuah penginapan
yang lebih dekat pada lumbung daripada pada rumah, tempat orang-orang yang
lewat tinggal semalam dan pergi tanpa meninggalkan nama.
Ia tampak lebih tua daripada di pasar, walau hanya beberapa minggu telah
lewat, bukan tua dalam usia, melainkan tua dalam cara orang menjadi tua ketika ia
membawa sesuatu yang terlalu berat untuk dibawa sendiri terlalu lama. Ketika ia
melihat Sela datang, ada di wajahnya sesuatu yang aneh: bukan keterkejutan
melihat seorang gadis bangsawan datang ke tempat serendah ini, melainkan
sesuatu yang lebih dekat pada kelegaan, seolah-olah ia telah menempuh
perjalanan panjang ke pedalaman dengan harapan samar bertemu kembali satu orang
yang, di seluruh daratan, telah bertanya kepadanya pertanyaan yang benar.
“Kau, ” katanya. “Gadis yang bertanya berapa lama.”
“Kau tidak menjawab waktu itu, ” kata Sela.
“Aku tidak tahu jawabannya waktu itu.” Ia menggeser dirinya di bangku,
memberi ruang, sebuah gerak yang di kota tepi adalah keramahan biasa dan di
sini, di antara mereka berdua, terasa seperti sesuatu yang lebih, pengakuan
bahwa mereka, untuk alasan yang tak satu pun dari mereka pahami, berada di
pihak yang sama dalam sesuatu yang belum mereka mengerti. “Sekarang aku tahu
lebih banyak. Tidak cukup. Tapi lebih banyak. Dan aku datang sejauh ini, ke
tempat yang membuat dadaku sesak karena tak bisa mencium laut, untuk
mengatakannya kepada seseorang yang akan mendengar. Aku sudah mencoba
mengatakannya di kota-kota tepi. Mereka mendengar seperti orang mendengar
cerita. Aku tak butuh pendengar cerita. Aku butuh seseorang yang akan percaya
cukup untuk takut.”
Sela duduk. “Katakan, ” ia berkata.
❖
Dan ia
mengatakannya, dan dalam pengataannya ada hal yang tak dimiliki tawa Bapa dan
tak dimiliki ramalan langit Giri Tua: ada angka, ada ukuran, ada hal-hal yang
telah ia lihat dengan matanya sendiri dan diukur dengan tubuhnya sendiri.
“Aku akan ceritakan bukan apa yang kutakutkan, ” katanya, “melainkan apa
yang kuukur, sebab ketakutan bisa dibantah dan ukuran tidak. Di kampungku ada
sebuah batu. Bukan batu istimewa, sebuah batu besar di tepi air, tempat para
perempuan dulu mencuci, tempat anak-anak melompat ke laut di musim panas.
Kakekku, ketika ia masih hidup, menandai batu itu. Ia membuat takik di sisinya,
setinggi air laut pada hari ia menjadi nakhoda. Itu kebiasaan keluargaku,
kebiasaan tua, dan dulu aku pikir itu kebiasaan konyol orang tua yang tak punya
kerjaan lebih baik. Tiap nakhoda baru di keluargaku menandai batu itu di
ketinggian air pada hari ia mengambil alih perahu.”
Ia mengangkat tangannya, dan dengan jari ia menggambar di udara di antara
mereka, garis demi garis, seolah-olah batu itu ada di sana.
“Takik kakek buyutku, paling bawah. Lalu takik kakekku, di atasnya,
setinggi dua jari. Lalu takik ayahku, di atasnya lagi, setinggi tiga jari. Lalu
takikku sendiri, yang kubuat ketika aku menjadi nakhoda, dan ketika aku
mengangkat pahat untuk membuatnya, aku harus berdiri lebih jauh ke darat dari
tempat ayahku berdiri, sebab tempat ayahku berdiri kini sudah di dalam air.” Ia
menurunkan tangannya. “Empat takik. Empat orang. Empat masa hidup. Dan dari
takik paling bawah ke takik paling atas, air telah naik setinggi lutut seorang
dewasa. Itu bukan ramalan, gadis. Itu bukan langit. Itu batu, dan pahat, dan
empat orang yang telah berdiri di tempat yang sama dan menandai air yang sama,
dan air itu telah naik setinggi lutut dalam waktu yang dibutuhkan oleh satu keluarga
untuk melahirkan empat nakhoda.”
Sela merasakan dingin yang sama yang ia rasakan di halaman bersama Giri
Tua, tapi kini lebih tajam, sebab kini ada bentuknya. “Setinggi lutut, ” ia
mengulang. “Dalam empat masa hidup. Tapi, ” ia mencoba memikirkannya, mencoba
membuat angka itu menjadi sesuatu yang tidak menakutkan, sebagaimana Awu akan
melakukannya, “, setinggi lutut bukan banjir. Setinggi lutut, orang bisa
berjalan di dalamnya.”
“Setinggi lutut di batu, ” kata si nakhoda, dan suaranya pelan, hampir
lembut, suara orang yang akan mengatakan hal yang ia harap tak perlu ia
katakan. “Tapi pikirkan tanahnya, gadis. Tanahmu. Daratanmu yang datar, yang
kau banggakan karena ia datar. Di tepi yang curam, air yang naik setinggi lutut
hanya menelan selutut tanah. Tapi di tanah yang datar, di tanah yang nyaris
rata dengan air sejauh mata memandang, air yang naik setinggi lutut tidak
berjalan ke atas. Ia berjalan ke dalam. Ia berjalan ke darat. Sehasta air yang
naik di tempat yang datar bisa menelan tanah sejauh kau berjalan dalam sehari.
Justru karena daratanmu datar, gadis, justru karena hal yang kau banggakan, ia
adalah tanah yang paling mudah ditelan di seluruh dunia. Bukan yang paling aman.
Yang paling rapuh.”
❖
Mereka masih
duduk dalam diam yang ditinggalkan kata-kata itu ketika Awu datang.
Ia datang sebagaimana Awu selalu datang, dengan langkah orang yang tak
pernah ragu ia berhak berada di tempat ia berada, dan ia datang mencari Sela,
sebab seorang gadis bangsawan yang menghilang ke tepi kota adalah hal yang
menarik perhatian, dan sebab Awu, walau ia tak akan pernah mengakuinya dengan
kata-kata, menjaga saudarinya dengan kewaspadaan seseorang yang menjaga satu-satunya
hal yang ia miliki yang tak bisa ia ukur nilainya. Ketika ia melihat siapa yang
duduk di samping Sela, wajahnya mengeras.
“Orang pasar, ” katanya. “Penjual ketakutan. Kupikir kita sudah selesai
denganmu.”
Si nakhoda berdiri, hormat tapi tak gentar. “Aku tidak menjual apa-apa
kepada saudarimu, ” katanya. “Aku memberitahunya apa yang kulihat.”
“Dan apa yang kau lihat?”
“Air naik setinggi lutut dalam empat masa hidup. Diukur di batu. Aku bisa
membawamu ke batu itu, bila perkataan tak cukup bagimu.”
Awu memandangnya, dan untuk sesaat Sela berharap, berharap dengan harapan
yang membuatnya malu, sebab ia mencintai saudarinya dan tak ingin saudarinya
keliru, berharap bahwa Awu akan mendengar, bahwa angka dan batu dan pahat akan
menembus tempat yang tak bisa ditembus oleh firasat dan langit. Tapi Awu hanya
tersenyum, senyum tipis yang Sela kenal, senyum yang berarti perkara sudah
ditimbang dan diputuskan.
“Setinggi lutut dalam empat masa hidup, ” kata Awu. “Kau dengar dirimu
sendiri? Kau datang sejauh ini, membuat dadamu sesak seperti yang kau bilang,
untuk memberitahu kami bahwa air mungkin sampai ke daratan tengah dalam,
berapa? Bila selutut butuh empat masa hidup untuk menelan tepimu yang curam,
berapa banyak masa hidup yang dibutuhkan air untuk menyeberangi seluruh daratan
yang datar ini? Seratus? Seribu? Kau meminta kami menakuti sesuatu yang tak
akan dilihat oleh cucu dari cucu dari cucu kami. Bahkan seandainya kau benar,
dan aku tak mengatakan kau salah, aku hanya mengatakan tak ada gunanya, bahkan
seandainya kau benar, apa yang kau ingin kami lakukan? Meninggalkan daratan
kami hari ini, karena air mungkin tiba seribu tahun lagi?”
Dan inilah yang paling buruk, Sela menyadarinya kelak: bahwa Awu tidak
salah. Tiap kata yang diucapkannya benar. Air memang akan butuh waktu yang
sangat lama. Mereka memang tak akan melihatnya. Meninggalkan rumah hari ini
karena air seribu tahun lagi memang akan menjadi kegilaan. Awu benar dalam
segala hal yang bisa diukur dengan akal, dan ia keliru hanya dalam satu hal
yang tak bisa diukur dengan akal sama sekali: ia mengira bahwa karena bencana
itu jauh, ia tak nyata. Ia mengira bahwa sesuatu yang tak akan menyakitimu tak
perlu kau percayai. Ia belum tahu, belum, tapi suatu hari akan tahu, dengan
cara yang paling pahit, bahwa beberapa hal benar dan jauh dan tak terhindarkan
sekaligus, dan bahwa menolak melihatnya tidak memperlambatnya bahkan sehari.
“Ayo, Sela, ” kata Awu, dan ia mengulurkan tangannya, dan dalam suaranya
ada kelembutan yang membuatnya lebih sulit dibantah daripada kemarahan.
“Tinggalkan orang ini dengan batu-batunya. Hari masih panjang, dan ada hal-hal
nyata yang menunggu.”
❖
Sela bangkit,
sebab ia selalu mengikuti saudarinya pada akhirnya, sebab itulah bentuk cinta
mereka, yang satu memimpin, yang satu mengikuti, dan keduanya menyebutnya kasih
sayang dan tak satu pun bertanya apakah ia bisa berbentuk lain.
Tapi di ambang, ia berbalik, sebagaimana ia berbalik di pasar, dan si
nakhoda masih berdiri di sana, dan kali ini ia berkata sesuatu yang akan
tinggal bersama Sela jauh lebih lama daripada batu mana pun.
“Saudarimu bertanya apa yang kuingin kalian lakukan, ” katanya, pelan,
hanya untuk Sela, sebab Awu sudah berjalan di depan. “Ia mengira aku akan
menjawab: tinggalkan rumah kalian. Tapi itu bukan jawabanku. Aku tahu kalian
tak akan pergi. Tak ada yang pergi karena air seribu tahun lagi; aku pun tak
akan. Jawabanku lebih kecil dari itu, dan lebih sulit. Jawabanku adalah:
ingatlah. Ingat bahwa air sedang berjalan. Ceritakan kepada anak-anak kalian,
dan suruh mereka menceritakan kepada anak-anak mereka, supaya ketika air
akhirnya tiba, bukan kepada kalian, bukan kepada cucu kalian, tapi kepada
seseorang, suatu hari, yang membawa darah kalian, supaya ketika ia tiba, ada
seseorang yang tidak terkejut. Seseorang yang berkata: ya, kami tahu ini akan
datang. Nenek moyang kami memberitahu kami. Itu saja yang kuminta. Bukan supaya
kalian melarikan diri dari air. Hanya supaya, ketika ia datang, ia tidak
menemukan kalian sedang tertawa.”
Sela memandangnya, dan ia merasa, di dalam dirinya, sesuatu yang seperti
sebuah tugas diberikan, sebuah beban yang diletakkan ke pundaknya oleh orang
asing di tepi kota, dan ia tak tahu bahwa beban itu adalah benih dari beban
yang jauh lebih besar, yang akan ia pikul kelak sampai ke dasar laut. Ia hanya
tahu bahwa ia akan mengingat. Bahwa di antara seluruh Nagara Rata yang sedang
tertawa, ia setidaknya tak akan tertawa. Bahwa bila itu satu-satunya hal yang
bisa ia lakukan, mengingat, dan menolak terkejut, maka ia akan melakukannya,
walau ia tak mengerti mengapa, walau tak seorang pun memintanya selain seorang
nakhoda yang besok akan pergi dan mungkin tak akan pernah ia lihat lagi.
“Aku akan ingat, ” katanya. Dan ia mengikuti saudarinya keluar, kembali
ke kota yang yakin, kembali ke daratan yang luas, kembali ke hari yang panjang
dan cerah dan penuh hal-hal nyata yang menunggu.
Di belakangnya, di tepi kota, seorang nakhoda muda berdiri sendiri dengan
sepotong kayu terendam di lehernya, memandang ke arah yang ia tahu adalah arah
laut walau laut terlalu jauh untuk dilihat atau dicium dari sini. Dan jauh di
selatan, di tempat yang oleh orang-orang tua disebut tepi, di tempat daratan
bertemu kabut yang tak diseberangi siapa pun, air bergerak ke darat dengan
gerak yang terlalu pelan untuk dilihat oleh mata mana pun dalam satu masa
hidup, selutut dalam empat generasi, sehasta dalam selusin, dan terus, dan
terus, dengan kesabaran sesuatu yang telah menunggu sejak sebelum ada nama
untuk menamainya, menghitung daratan langkah demi langkah, sebagaimana
seseorang menghitung anak tangga menuju sebuah pintu yang ia tahu, dengan
kepastian yang tenang, pada akhirnya akan ia capai.
❖
BAB LIMA
Sela dan Mata Air
Air tawar dan air asin adalah dua
saudara yang lama berpisah. Bila yang asin datang, yang tawar pergi
mendahuluinya, sebab saudara mengenali langkah saudara jauh sebelum ia tiba.
yang dibisikkan perempuan-perempuan tua
di tepi sumur, asalnya tak diketahui
Lanang tidak
pergi keesokan harinya, sebagaimana yang ia katakan akan ia lakukan, dan ia
sendiri tak sepenuhnya bisa menjelaskan mengapa.
Ia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia tinggal karena urusan
dagang, bahwa ada kain yang belum terjual, tali yang belum tertukar, kabar yang
masih bisa dikumpulkan. Tapi seorang pelaut tahu kapan ia berbohong kepada
dirinya sendiri, sebagaimana ia tahu kapan langit berbohong tentang cuaca, dan
Lanang tahu bahwa ia tinggal karena di seluruh daratan yang luas dan yakin ini,
di antara seluruh orang yang mendengar kata-katanya seperti orang mendengar
cerita, ada satu yang mendengarnya seperti orang mendengar kebenaran, dan ia
belum siap berlayar menjauh dari satu-satunya orang itu. Maka ia tinggal di
tepi kota, di penginapan yang lebih mirip lumbung, dan ia menunggu, tanpa
mengakui kepada dirinya sendiri bahwa ia sedang menunggu, hari-hari ketika Sela
bisa lepas dari rumah dan datang.
Dan Sela datang. Mula-mula dengan dalih, membawa kain yang katanya hendak
ia tukar, menanyakan sesuatu tentang laut yang katanya membuatnya penasaran,
lalu, ketika dalih-dalih itu menjadi terlalu tipis untuk ditahan dan keduanya
tahu ia terlalu tipis, tanpa dalih sama sekali. Mereka akan duduk di tepi kanal
yang membatasi kota dari ladang, di tempat seorang gadis bangsawan dan seorang
nakhoda asing bisa duduk tanpa terlalu banyak mata yang bertanya, dan mereka
akan bicara. Bukan selalu tentang air. Itulah yang mengejutkan Sela, dan yang
perlahan menjadi hal yang paling ia tunggu: bahwa mereka tidak selalu bicara
tentang air.
Lanang menceritakan laut kepadanya, bukan laut yang menakutkan, melainkan
laut yang ia cintai, sebab seorang pelaut mencintai hal yang sama yang ia
takuti, dan barangkali itulah yang membedakannya dari orang daratan, yang hanya
tahu mencintai hal-hal yang aman. Ia menceritakan warna air di pagi hari yang
berbeda dari warnanya di sore hari. Ia menceritakan pulau-pulau yang muncul
dari kabut seperti punggung binatang yang tidur. Ia menceritakan malam-malam di
tengah laut ketika tak ada daratan ke segala arah, dan bintang-bintang turun
sampai ke garis air, dan seorang manusia merasa dirinya begitu kecil sehingga
rasa kecil itu, anehnya, berubah menjadi sesuatu yang dekat dengan kedamaian.
Dan Sela mendengarkan, dan ia menyimpan, sebab ia adalah jenis orang yang
menyimpan, dan ia menyadari bahwa ia sedang menyimpan hal-hal ini dengan
kehati-hatian yang berbeda dari biasanya, bukan seperti orang menyimpan sebuah
malam yang indah, melainkan seperti orang menyimpan suara seseorang yang ia
tahu, suatu hari, akan pergi.
❖
Mata air itu ada
di sebuah cekungan di antara dua ladang keluarga mereka, dan sejauh ingatan
siapa pun menjangkau, ia selalu ada di sana.
Itu bukan mata air besar, hanya sebuah tempat di mana air tawar merembes
dari tanah, mengisi sebuah kubangan sebesar tampah, lalu mengalir tipis ke
kanal terdekat. Tapi ia tua, dan ia setia, dan keluarga-keluarga di sekitarnya
telah meminum darinya selama lebih banyak generasi daripada yang bisa mereka
hitung. Ada sebuah batu pipih di tepinya, diletakkan oleh entah siapa di masa
entah kapan, tempat orang berlutut untuk minum, dan batu itu sudah cekung di
tengahnya karena lutut yang tak terhitung jumlahnya.
Sela pergi ke sana pada suatu pagi untuk mengambil air, sebagaimana ia
telah pergi ke sana ratusan kali, dan ia menemukan mata air itu kering.
Bukan kering karena kemarau, musim sedang basah, dan tanah di sekitarnya
lembap, dan rumput hijau. Hanya mata airnya yang kering, kubangannya kosong dan
retak di dasarnya, batu tempat berlutut itu mengering di bawah matahari untuk
pertama kalinya dalam hidup siapa pun. Sela berdiri memandangnya cukup lama,
dengan perasaan ganjil yang belum bisa ia namai, sebelum ia menyadari bahwa ia
mendengar air. Dekat. Air yang mengalir. Ia mengikuti suaranya, menyeberangi
cekungan, naik ke sisi lain, dan di sana, beberapa puluh langkah lebih ke
utara, lebih ke darat, lebih jauh dari arah laut, ia menemukan air tawar
merembes dari tanah di tempat yang kemarin masih kering, mengisi sebuah
kubangan baru yang belum punya batu, belum punya nama, belum punya generasi
yang meminum darinya.
Mata air itu tidak mengering. Ia pindah. Ia berjalan, dalam satu malam,
beberapa puluh langkah menjauh dari laut.
Sela berlutut di tepi kubangan baru itu, dan ia menyentuh airnya, dan ia
merasakan, lewat telapak tangannya, sebagaimana ia pernah merasakan sesuatu
menjawab ketika ia menekan tanah di atas makam burung, ia merasakan tanah di bawahnya
bukan sebagai sesuatu yang diam, melainkan sebagai sesuatu yang sedang
bergerak, sangat pelan, sangat dalam, seperti tubuh seseorang yang menggeser
dirinya dalam tidur. Dan ia tahu, dengan pengetahuan yang datang dari tempat
yang lebih tua daripada pikirannya, mengapa mata air itu pindah. Air tawar di
dalam tanah sedang mundur. Sesuatu sedang mendorongnya dari bawah, dari arah
laut, sesuatu yang berat dan asin dan sabar, dan air tawar yang lebih ringan
sedang melarikan diri ke darat, ke tempat yang lebih tinggi, mendahului
saudaranya yang asin sebagaimana orang melarikan diri mendahului sesuatu yang
mereka tahu akan datang.
❖
Ia
menceritakannya kepada Lanang sore itu, di tepi kanal, dan ia menceritakannya
sebelum ia menceritakannya kepada siapa pun di rumahnya, dan ia menyadari makna
dari urutan itu hanya setelah ia melakukannya.
Bahwa ada hal-hal yang kini ia bawa lebih dulu kepada orang asing dari
pesisir daripada kepada saudarinya sendiri. Bahwa ada sebuah ruang yang tumbuh
di antara dirinya dan Lanang yang tak ada di antara dirinya dan siapa pun lain,
sebuah ruang tempat hal-hal yang tak bisa dikatakan di tempat lain bisa
dikatakan, tempat firasat tidak ditertawakan, tempat air dipercaya. Dan bahwa
ruang itu, ia mulai mengerti, adalah jenis ruang yang berbahaya, sebab sekali
seseorang menemukan tempat di mana ia bisa berkata jujur, ia tak akan pernah
lagi puas dengan tempat-tempat di mana ia harus berbohong.
Lanang mendengarkan kisah mata air itu tanpa menyela, dan ketika Sela
selesai, ia diam lama, memandang air kanal yang mengalir di kaki mereka.
“Di kampungku, ” akhirnya ia berkata, “itu sudah lama terjadi.
Sumur-sumur yang dulu tawar menjadi payau, lalu asin, lalu kami tinggalkan.
Kami pikir itu karena kami terlalu dekat laut. Kami tak pernah berpikir, ” ia
berhenti, dan Sela melihat sesuatu bergeser di wajahnya, sebuah pemahaman yang
datang terlambat dan karena itu lebih berat, “, kami tak pernah berpikir bahwa
hal yang sama bisa terjadi di sini. Di tengah daratan. Sejauh ini dari laut.
Bila air asin sudah mendorong air tawar bahkan di tanahmu, Sela, bahkan di
sini, maka ia tidak datang lewat permukaan, lewat pantai yang bisa kaulihat
bergeser. Ia datang dari bawah. Lewat tanah itu sendiri. Dan tanah tidak punya
pantai yang bisa kau jaga. Tanah ada di mana-mana, di bawah segalanya, dan bila
air bergerak di dalamnya, ”
Ia tidak menyelesaikannya. Ia tidak perlu. Mereka berdua duduk dengan
pengetahuan itu di antara mereka, pengetahuan yang terlalu besar untuk salah satu
dari mereka tanggung sendiri dan karena itu mengikat mereka lebih erat,
sebagaimana dua orang yang memikul satu beban berat harus berjalan dekat atau
menjatuhkannya. Dan Sela menyadari, dengan sebuah perasaan yang separuh
ketakutan dan separuh sesuatu yang sama sekali bukan ketakutan, bahwa ia tak
ingin berada di tempat lain. Bahwa di antara seluruh dunia yang sedang tertawa,
tempat ini, tepi kanal ini, di samping orang ini, dengan beban ini di antara
mereka, adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa ia sedang melihat dunia
sebagaimana adanya, dan tidak sendirian dalam melihatnya.
❖
Matahari turun
sementara mereka duduk, dan tak satu pun dari mereka beranjak, walau Sela tahu
ia seharusnya, walau ia tahu rumahnya menunggu dan saudarinya akan bertanya dan
hari memiliki bentuk yang seharusnya ia patuhi.
“Kau akan pergi, ” kata Sela. Itu bukan pertanyaan.
“Aku seorang pelaut, ” kata Lanang. “Daratan membuatku sesak. Sudah
terlalu lama aku jauh dari air yang bisa kuminum dengan mata, kalau kau
mengerti maksudku. Aku tak bisa tinggal.”
“Aku tahu.”
“Tapi, ” ia berkata, dan ia mengatakannya pelan, memandang air dan bukan
memandangnya, sebab ada hal-hal yang lebih mudah dikatakan kepada air yang
mengalir daripada kepada wajah seseorang, “aku datang sesuai musim. Setiap
musim. Selama ini aku berhenti di kota-kota tepi, sebab tak ada alasan masuk
lebih jauh. Sekarang, ” ia mengangkat bahu, gerak yang ingin terlihat acuh dan,
sebagaimana di pasar dulu, tidak berhasil, “, sekarang barangkali ada alasan
masuk lebih jauh. Sebuah mata air yang berpindah perlu ditengok lagi musim
depan, untuk melihat seberapa jauh lagi ia berjalan. Itu hal yang masuk akal
bagi seseorang yang mengukur air. Bukan begitu?”
Sela memandangnya, orang yang menyembunyikan sebuah janji di balik sebuah
alasan tentang mata air, dan ia merasa sesuatu di dadanya yang hangat dan tajam
sekaligus, sesuatu yang ia tak punya nama untuknya sebab di hidupnya yang muda
ia belum pernah punya alasan untuk menamainya. “Ya, ” katanya, dan suaranya
lebih pelan dari yang ia inginkan. “Itu masuk akal. Bagi seseorang yang
mengukur air.”
“Maka aku akan kembali, ” kata Lanang, “untuk mengukur air.”
Dan itulah seluruhnya. Tak ada lagi yang dikatakan, sebab tak ada lagi
yang perlu dikatakan, dan sebab keduanya masih cukup muda dan cukup
berhati-hati untuk membiarkan sebuah hal tetap kecil dan tak bernama sedikit
lebih lama, sebagaimana orang membiarkan bara tetap terpendam di bawah abu,
tahu bahwa ia ada di sana, tahu bahwa ia bisa dibujuk menjadi nyala kapan pun,
dan justru karena itu tak terburu-buru membujuknya. Mereka berpisah ketika
langit menjadi tembaga, dan Sela berjalan pulang dengan langkah yang lebih
ringan daripada beban yang ia bawa seharusnya membuatnya, dan ia tidak bertanya
kepada dirinya sendiri mengapa, sebab ada hal-hal yang seorang gadis pilih
untuk tidak tanyakan, supaya jawabannya tidak datang terlalu cepat dan membuat
segalanya menjadi nyata sebelum ia siap.
❖
Malam itu, di
rumah, Sela mencoba menceritakan tentang mata air kepada Awu, sebab ia merasa
ia harus, sebab ia tahu apa artinya dan ia tak bisa menyimpannya sendiri walau
ia tahu bagaimana ia akan disambut.
“Mata air pindah sepanjang waktu, ” kata Awu, tanpa mengangkat wajah dari
tali hitung yang sedang ia kerjakan, urusan ladang utara yang nyata dan bisa
diukur. “Tanah bergeser. Air mencari jalan baru. Kakek pernah cerita mata air
di ladang barat pindah dua kali dalam hidupnya. Itu bukan pertanda apa-apa,
Sela. Itu hanya tanah menjadi tanah.”
“Ia pindah menjauh dari laut, ” kata Sela. “Ke arah darat. Selalu ke arah
darat.”
Awu berhenti, sesaat. Hanya sesaat. Dan Sela melihat, ia yakin ia
melihatnya, walau ia tak akan pernah bisa membuktikannya, ia melihat sesuatu
melintas di mata saudarinya, sebuah perhitungan cepat, sebuah pintu yang
terbuka sedikit lalu, dengan sengaja, ditutup kembali. Sebab Awu cerdas, lebih
cerdas dari Bapa, lebih cerdas dari siapa pun di daratan, dan kecerdasan itu
telah mendengar apa yang dikatakan saudarinya dan memahaminya sepenuhnya dalam
sekejap, air tawar mundur dari air asin, di dalam tanah, bahkan di sini, dan
justru karena ia memahaminya sepenuhnya, ia memilih untuk tidak memahaminya.
Sebab beberapa kebenaran terlalu besar untuk diundang masuk tanpa membongkar
seluruh rumah, dan Awu belum siap membongkar rumahnya, belum, tidak hari ini,
mungkin tidak selama bertahun-tahun, sampai air itu sendiri yang membongkarnya
untuknya.
“Tanah menjadi tanah, ” Awu mengulang, dan ia kembali ke tali hitungnya,
dan perkara itu, baginya, selesai.
Sela tidak memaksa. Ia sudah belajar bahwa memaksa tak ada gunanya, bahwa
Awu tak bisa dibawa ke sebuah tempat yang ia putuskan untuk tidak datangi. Ia hanya
pergi tidur, dan ia berbaring lama dalam gelap mendengarkan rumah, bara yang
berdesis di perapian, napas Bapa di ruang sebelah, suara malam yang biasa dan
aman dan dicintai, dan ia memikirkan mata air yang berjalan menjauh dari laut,
dan ia memikirkan Lanang yang akan kembali musim depan untuk mengukur air, dan
ia memikirkan, untuk pertama kalinya dengan kata-kata yang hampir jelas, bahwa
ia hidup di dua dunia sekaligus: dunia siang, tempat segala sesuatu aman dan
tanah hanya menjadi tanah, dan dunia lain, lebih dalam, tempat air bergerak di
bawah segalanya dan tak ada yang mendengarnya kecuali dia, dan kini, satu orang
lagi.
Dan jauh di bawah rumah, jauh di bawah daratan yang tidur, di tempat yang
tak bisa dilihat siapa pun dan dirasakan hanya oleh satu gadis yang menekan
telapak tangannya ke tanah, air tawar terus mundur dan air asin terus maju, dua
saudara yang lama berpisah, yang satu melarikan diri dan yang satu mengejar,
sepanjang malam, sepanjang tahun, sepanjang generasi yang belum lahir, dan di
antara mereka, di lapisan tempat yang tawar bertemu yang asin, tanah Nagara
Rata terendam diam-diam dari dalam, jauh sebelum setetes pun air laut terlihat
di permukaannya, sebagaimana sebuah kabar buruk telah menjadi benar jauh
sebelum ia sampai ke telinga yang harus mendengarnya.
❖
BAB ENAM
Giri Tua Membaca Bintang
Daging melupakan dalam satu malam.
Kepala melupakan dalam satu hidup. Batu melupakan dalam seribu hidup. Maka kami
menulis di batu hal-hal yang tak boleh dilupakan sebelum seribu hidup berlalu,
dan kami berdoa agar seribu hidup cukup.
hukum para penjaga batu Nagara Giri
Orang tua dari
Giri itu seharusnya sudah pergi, sebagaimana ia selalu pergi setelah jamuan dan
pertukaran selesai, tapi musim ini ia tinggal lebih lama, dan tak seorang pun
bertanya mengapa, sebab seseorang tak bertanya kepada yang sangat tua mengapa
ia melakukan apa yang ia lakukan.
Sela mencarinya pada malam terakhir sebelum ia berangkat. Ia tahu itu
malam terakhir sebab orang tua itu telah mengikat kembali bungkusannya dan
memeriksa tongkatnya, gerak-gerik seseorang yang akan berjalan jauh di pagi
hari, dan Sela telah belajar membaca gerak-gerik perpisahan, belajar
membacanya, barangkali, dari menunggu satu perpisahan lain yang belum tiba,
perpisahan dari seorang nakhoda yang akan kembali musim depan untuk mengukur
air. Ia menemukan orang tua Giri itu di tempat yang sama dengan malam jamuan:
di halaman, memandang langit, sebab itulah yang dilakukan orang yang seluruh
hidupnya adalah memandang langit. Ia tak terkejut melihat Sela datang. Ia
bahkan, Sela merasa, telah menunggunya.
“Kau kembali, ” katanya. “Aku menduga kau akan kembali. Yang membawa
beban selalu mencari orang lain yang membawanya, sebagaimana orang kedinginan
mencari api. Duduklah. Langit malam ini jernih. Ini malam yang baik untuk
diajari sesuatu yang akan membuatmu lebih sulit tidur seumur hidupmu.”
Sela duduk. “Kau mengatakan, di jamuan, bahwa langit malam itu pernah kau
lihat dalam catatan. Bahwa terakhir kali ia berdiri seperti itu, daratan
menjadi lebih kecil.”
“Aku mengatakannya, dan ayahmu menertawakannya, dan ia benar untuk
menertawakannya, dengan caranya sendiri yang keliru.” Orang tua itu menepuk
tanah di sampingnya. “Tapi kau tidak datang untuk mendengar apa yang sudah
kukatakan. Kau datang untuk mendengar apa yang tidak kukatakan di hadapan
ayahmu. Maka dengarlah. Tapi pertama, lihat ke atas. Aku tak bisa mengajarimu
membaca langit dalam satu malam, itu butuh seumur hidup, dan kau punya
pekerjaan lain. Tapi aku bisa menunjukkan satu hal kepadamu, satu, dan setelah
kau melihatnya kau tak akan bisa berhenti melihatnya.”
❖
Ia mengangkat
tongkatnya dan menunjuk ke langit, ke sebuah titik di mana, bagi Sela, tak ada
apa-apa kecuali bintang-bintang yang sama dengan bintang-bintang lain.
“Orang daratan memandang langit dan melihat hiasan, ” katanya.
“Titik-titik terang yang indah dan tak berarti. Tapi langit bukan hiasan.
Langit adalah jam yang terlalu besar dan terlalu lambat untuk dibaca oleh satu
manusia, dan itulah sebabnya kami menulisnya di batu, supaya banyak manusia,
berturut-turut, sepanjang banyak hidup, bisa membaca satu putaran jam itu yang
tak bisa diselesaikan oleh satu pun dari mereka. Lihat di sana. Bintang-bintang
itu, yang membentuk seperti seekor burung yang membentangkan sayap. Tahun ini
ia terbit tepat ketika padi serendah lutut. Kakekku mencatat bahwa di masa
kakeknya, ia terbit ketika padi setinggi pinggang. Ia bergeser, anak. Sangat
pelan. Seukuran selebar jari dalam satu hidup manusia. Tapi ia bergeser, dan ia
bergeser dalam lingkaran, dan lingkaran itu, ” ia menggambar dengan tongkatnya
sebuah busur lebar di udara, “, lingkaran itu begitu besar sehingga dibutuhkan
lebih banyak hidup manusia untuk menyelesaikannya daripada jumlah orang yang
pernah tinggal di seluruh Nagara Rata.”
Sela memandang burung bintang itu, dan untuk pertama kalinya ia tidak
melihatnya sebagai hiasan. Ia melihatnya sebagai sesuatu yang bergerak, sangat
pelan, terlalu pelan untuk dilihat, sebagaimana mata air bergerak, sebagaimana
air di dalam tanah bergerak, sebagaimana garis pantai bergerak di batu Lanang,
dan ia merasakan, dengan rasa pusing yang hampir seperti jatuh, betapa banyak
hal di dunia yang bergerak terlalu pelan untuk dilihat, dan betapa seseorang
bisa hidup seluruh hidupnya mengira dunia diam hanya karena ia sendiri terlalu
cepat berlalu untuk melihatnya bergerak.
“Kau merasakannya, ” kata orang tua itu, mengamati wajahnya. “Bagus. Itu
rasa pusing yang benar. Itu adalah rasa seorang manusia yang, untuk pertama
kalinya, melihat dirinya sendiri sebagaimana adanya: sesuatu yang sangat kecil
dan sangat cepat, hidup dan mati dalam sekejap di hadapan jam yang begitu
lambat sehingga, baginya, ia tampak seperti diam. Daratan tampak abadi bagi
ayahmu, anak, hanya karena ayahmu tidak hidup cukup lama untuk melihatnya
bergerak. Tapi ia bergerak. Segalanya bergerak. Dan langit, langit adalah
satu-satunya benda yang kami punya yang cukup besar untuk menunjukkan kepada
kami seberapa banyak hal yang bergerak tanpa kami lihat.”
❖
“Sekarang, ”
kata orang tua itu, dan suaranya berubah, menjadi lebih pelan dan lebih
hati-hati, suara seseorang yang akan membuka sebuah pintu yang jarang dibuka,
“aku akan mengatakan kepadamu hal yang tidak kukatakan di hadapan ayahmu. Bukan
karena ia rahasia. Karena ia tak ada gunanya dikatakan kepada orang yang tak
akan percaya, dan ada gunanya, mungkin, dikatakan kepada satu orang yang akan.”
Ia menurunkan tongkatnya.
“Catatan kami panjang, kubilang. Lebih panjang dari yang bisa kalian
bayangkan. Begitu panjang sehingga sebagian dari batu kami sudah tak bisa lagi
kami baca, pahatan dari tangan yang begitu tua sehingga lidah yang mereka tulis
sudah mati, dan kami menjaga batu-batu itu tanpa tahu apa yang mereka katakan,
sebagaimana kau menjaga kata-kata yang kau bisikkan kepada lembu tanpa tahu
artinya.” Sela tersentak, ia tak pernah menceritakan kepada siapa pun tentang
kata-kata itu, tapi orang tua itu melanjutkan tanpa berhenti, seolah-olah ia
tak menyadari apa yang baru saja ia ungkap, atau seolah-olah ia menyadarinya
sepenuhnya dan memilih untuk membiarkannya lewat. “Tapi sebagian masih bisa
kami baca. Dan di antara yang masih bisa kami baca, ada satu catatan yang lebih
tua dari yang lain, yang diturunkan dengan peringatan bahwa ia tak boleh
hilang. Catatan itu berbicara tentang sebuah air yang besar. Bukan banjir
sungai. Bukan hujan. Sebuah air yang datang dari laut dan tidak surut. Yang
datang begitu pelan sehingga tujuh generasi hidup dan mati sementara ia datang,
sehingga tak ada satu pun manusia yang melihat awalnya dan akhirnya, sehingga
bagi siapa pun yang hidup di tengahnya, ia tampak bukan seperti bencana
melainkan seperti, dunia. Hanya dunia. Air memang di sana. Air selalu sedikit
lebih tinggi daripada di masa kakek. Itu hanya bagaimana dunia adanya.”
“Dan catatan itu, ” kata Sela, dan suaranya hampir tak terdengar,
“mengiringi susunan bintang yang sama dengan malam ini.”
“Susunan yang sama. Burung yang sama membentangkan sayap, di ketinggian
yang sama di atas padi yang sama tingginya.” Orang tua itu memandangnya. “Yang
berarti, anak, bahwa apa yang terjadi sebelumnya, sebelum Nagara Rata, sebelum
nama kami, sebelum apa pun yang kami ingat selain lewat batu yang tak bisa kami
baca lagi, sedang mulai terjadi lagi. Bukan untuk pertama kali. Itulah yang tak
akan dimengerti ayahmu, dan tak perlu ia mengerti. Daratan ini, yang ia kira
abadi, yang ia kira latar tempat sejarah terjadi, daratan ini sendiri adalah
sesuatu yang terjadi. Ia muncul ketika air yang sebelumnya surut, dan ia akan
hilang ketika air yang ini naik, dan suatu hari, jauh setelah kita semua
menjadi tanah dan tanah itu sendiri menjadi dasar laut, air akan surut lagi,
dan daratan baru akan muncul, dan orang-orang baru akan berdiri di atasnya dan
menyebutnya abadi.”
❖
Sela duduk
dengan kata-kata itu untuk waktu yang lama, dan langit berputar di atasnya
dengan kelambatan yang kini ia rasakan, untuk pertama kalinya, sebagai gerak
dan bukan sebagai diam.
“Kalau begitu, ” akhirnya ia berkata, “tidak ada gunanya. Tidak ada
gunanya apa pun. Bila daratan datang dan pergi seperti musim, bila segalanya
yang kita bangun akan menjadi dasar laut, bila bahkan ingatan kita, bahkan batu
kalian, pada akhirnya menjadi terlalu tua untuk dibaca, maka mengapa mengingat
sama sekali? Mengapa tidak melupakan seperti yang dilakukan ayahku, dan hidup
bahagia dalam waktu yang singkat yang kita punya, dan membiarkan air mengambil
semuanya sebab ia akan mengambil semuanya pada akhirnya?”
Ia mengatakannya dengan kepahitan, dan ia berharap, ia menyadari, agar
orang tua itu membantahnya, agar ia memberinya alasan, agar ada jawaban. Tapi
orang tua dari Giri itu tidak segera menjawab. Ia memandang langit, dan ia
membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara malam selama waktu yang cukup
lama sehingga Sela mulai takut tak akan ada jawaban sama sekali.
“Aku tidak tahu apakah ada gunanya, ” akhirnya orang tua itu berkata, dan
kejujuran itu lebih menakutkan daripada kepastian mana pun. “Aku sudah sangat
tua, dan aku belum tahu. Tapi aku akan mengatakan kepadamu apa yang kupercaya,
bukan apa yang kutahu, sebab di usiaku perbedaan keduanya sudah tak sebesar
dulu.” Ia menoleh kepadanya. “Aku percaya bahwa antara sebuah dunia yang ada
dan diingat, dan sebuah dunia yang ada dan dilupakan, ada perbedaan, walau aku
tak bisa membuktikannya, walau air tak peduli pada perbedaan itu sama sekali.
Burung yang kau kubur. Kau menceritakannya kepadaku malam jamuan. Kau berkata:
bila tak ada yang mengingat ia pernah ada, maka seolah-olah ia tak pernah ada.
Aku percaya kau benar. Aku percaya bahwa mengingat adalah satu-satunya hal yang
dimiliki makhluk fana yang bisa melawan air, bukan menghentikannya, tak ada
yang bisa menghentikannya, melainkan melawannya, menolaknya, berkata kepadanya:
kau boleh mengambil daratan ini, tapi kau tak akan membuatnya seolah-olah ia
tak pernah ada, sebab aku ada di sini, dan aku ingat, dan selama aku ingat, ia
ada.”
“Tapi aku akan mati, ” kata Sela. “Dan ingatanku akan mati bersamaku.”
“Maka kau wariskan, ” kata orang tua itu, sederhana, seolah-olah ini
adalah hal yang paling jelas di dunia. “Sebagaimana kami mewariskan batu kami.
Sebagaimana ayahmu mewariskan ladangnya tanpa berpikir bahwa itu juga adalah
cara mengingat. Kau wariskan ingatan itu kepada anak-anakmu, dan kau suruh
mereka mewariskannya, dan dengan begitu sebuah ingatan bisa berjalan lebih jauh
daripada satu hidup, bisa menyeberangi tujuh generasi sebagaimana air
menyeberangi tujuh generasi, bisa, bila ia cukup kuat, bila ia diwariskan
dengan cukup setia, bertahan bahkan sampai daratan itu sendiri hilang, sehingga
di suatu masa yang jauh, seseorang yang tak pernah melihat daratan ini akan
tetap mengetahuinya, akan tetap mengingatnya, akan berdiri di atas laut yang
menutupinya dan berkata: di sini, di bawah air ini, dulu ada sebuah dunia, dan
aku tahu namanya.”
❖
Orang tua dari
Giri itu pergi keesokan paginya, sebelum matahari penuh, sebagaimana orang tua
pergi: tanpa banyak kata, dengan tongkat dan bungkusan, menjadi semakin kecil
di sepanjang tanggul yang lurus sampai daratan yang datar menelannya ke dalam
jaraknya sendiri.
Sebelum ia pergi, di ambang halaman, ia berhenti di hadapan Sela sekali
lagi, dan ia menatapnya dengan mata yang terbiasa memandang jauh, dan untuk
sesaat Sela merasa ia sedang dipandang bukan sebagai seorang gadis melainkan
sebagai sebuah catatan, sebuah batu, sesuatu yang sedang dinilai apakah ia akan
cukup setia menjaga apa yang dituliskan padanya.
“Kau akan diberi banyak hal untuk dilupakan, dalam hidupmu, ” katanya.
“Dunia akan menawarimu kelupaan seperti orang menawarkan air kepada yang
kehausan, dan kau akan tergoda, sebab kelupaan itu manis dan mengingat itu
pahit. Tapi kau adalah jenis yang tak bisa lupa, anak, aku melihatnya pada
malam pertama, ketika kau tidak ikut tertawa, dan maka jangan buang dirimu
mencoba menjadi jenis yang lain. Ada sedikit dari kita di tiap zaman. Sangat
sedikit. Dan kami tidak ada untuk hidup bahagia. Kami ada supaya, ketika air
datang, ada seseorang yang ingat apa yang ditelannya.” Ia mengangkat tangannya,
sentuhan ringan di kepala Sela, berkat atau beban, atau keduanya, yang di
Nagara Giri barangkali tak dibedakan. “Wariskan, anak. Apa pun yang kau lakukan
dalam hidupmu, wariskan. Itu satu-satunya hal yang kuminta darimu, dan aku tak
akan hidup untuk tahu apakah kau melakukannya.”
Lalu ia pergi, dan Sela berdiri di halaman memandangnya mengecil, dan ia
tidak tahu, bagaimana ia bisa tahu?, bahwa ia baru saja diberi, oleh dua orang
asing dalam satu musim, satu sumpah dalam dua bagian. Lanang telah berkata:
ingatlah, supaya ketika air datang ia tidak menemukan kalian tertawa. Orang tua
Giri telah berkata: wariskan, supaya ingatan itu menyeberangi generasi sampai
ke seseorang yang akan berdiri di atas laut dan tahu namanya. Ingat, dan
wariskan. Dua bagian dari satu hal. Dan suatu hari, jauh, di air sebatas dada,
di tanah yang sudah tenggelam, Sela akan menyatukan dua bagian itu menjadi satu
sumpah, dan menelan tujuh kerikil supaya sumpah itu punya tubuh, dan tak satu
pun dari dua orang asing yang memberinya bagian-bagian itu akan hidup untuk
mengetahui apa yang mereka mulai.
Tapi itu nanti. Hari ini, Sela hanya seorang gadis di sebuah halaman,
memegang sebuah beban yang baru, dan di sekelilingnya Nagara Rata bangun untuk
hari yang lain, bara dibujuk menjadi api, lembu dituntun ke ladang, kanal-kanal
membawa air ke mana ia disuruh, seluruh peradaban yang luas dan yakin
meneruskan dirinya sebagaimana ia selalu meneruskan dirinya, dengan menjaga
yang lama agar tak padam, tanpa pernah membayangkan bahwa ia sendiri,
seluruhnya, adalah yang lama, dan bahwa sesuatu di bawahnya sudah mulai
memutuskan untuk membiarkannya padam. Dan jauh di selatan, di tepi, air yang
besar, yang pernah datang, yang selalu datang, yang sedang datang lagi,
bergerak ke darat selebar jari dalam satu hidup, seukuran burung bintang yang
bergeser di langit, terlalu pelan untuk ditakuti, terlalu pasti untuk
dihindari, menghitung tujuh generasi menuju sebuah hari yang sudah ditulis,
sangat lama yang lalu, di sebuah batu yang tak seorang pun lagi bisa
membacanya.
❖
BAGIAN III
Empu dan Ambisi
BAB TUJUH
Empu Wani
Segala sesuatu lapuk karena ia
mengandung waktu di dalam dirinya, sebagaimana buah mengandung biji. Buang
waktunya, dan kau membuang kelapukannya. Inilah seluruh ilmuku, dan inilah
seluruh dosaku.
Empu Wani, dari kata-kata yang hanya
didengar oleh satu murid
Di Nagara Rata
ada banyak empu, sebab sebuah peradaban yang dibangun di atas ukur-mengukur
menghormati orang-orang yang membuat dan memperbaiki: empu kanal yang tahu
bagaimana memiringkan tanah supaya air mengalir tanpa dipaksa, empu lumbung
yang tahu bagaimana menyimpan padi supaya ia tak membusuk dalam setahun, empu
tali yang menyimpan angka dalam simpul. Tapi Empu Wani bukan empu dari jenis
itu, dan inilah hal pertama yang membuat Awu tertarik kepadanya, sebab Awu
juga, dengan caranya sendiri, bukan dari jenis yang biasa.
Empu Wani tidak membuat apa pun yang berguna. Itulah yang dikatakan orang
tentang dia, separuh dengan hormat dan separuh dengan curiga, sebab di Nagara
Rata kegunaan adalah ukuran dari hampir segala hal, dan seorang empu yang tidak
membuat apa pun yang berguna adalah teka-teki yang membuat orang tidak nyaman.
Ia tinggal di tepi kota, di sebuah rumah yang terlalu besar untuk seseorang
yang tinggal sendiri, dan ia menghabiskan hari-harinya dengan, orang tak yakin
dengan apa. Mengamati. Mencoba. Merusak benda untuk melihat bagaimana ia rusak,
lalu mencoba membuatnya tidak rusak. Ada yang berkata ia setengah gila. Ada
yang berkata ia adalah orang paling cerdas di daratan. Bapa Rata, yang telah
lama berhenti membuat penilaian yang tergesa tentang siapa pun, berkata bahwa
keduanya seringkali adalah hal yang sama, dan bahwa sebuah peradaban yang sehat
menyediakan ruang, di tepinya, untuk satu atau dua orang seperti itu, tidak
terlalu dekat dengan pusat, supaya mereka tak mengganggu, tapi tidak diusir
pula, sebab tak ada yang tahu kapan teka-teki mereka akan ternyata berguna.
Awu mulai mengunjunginya bukan karena disuruh, melainkan karena ditarik,
ditarik oleh hal yang sama yang membuat seseorang menekan luka untuk merasakan
sakitnya, ditarik oleh sesuatu di dalam dirinya yang belum punya nama tapi
sudah punya bentuk: sebuah ketidakpuasan, sebuah penolakan, sebuah rasa bahwa
dunia sebagaimana adanya, dengan segala keteraturannya yang ia cintai,
mengandung satu cacat di jantungnya yang tak bisa ia terima. Dan cacat itu, ia mulai
menyadari, adalah cacat yang sama yang dilihat saudarinya pada seekor burung
mati. Hanya saja Sela melihat cacat itu dan memutuskan untuk mencintai dunia
justru karena ia cacat. Awu melihat cacat itu dan ingin memperbaikinya.
❖
Rumah Empu Wani
di dalam tidak seperti rumah. Ia lebih seperti isi kepala seseorang yang
ditumpahkan ke dalam ruang: rak-rak penuh benda yang tak punya hubungan satu
sama lain kecuali hubungan yang ada di pikiran si empu.
Di satu rak ada potongan-potongan kayu dalam berbagai tahap pembusukan,
diberi tanda dengan cara yang hanya dimengerti Wani, disusun, Awu perlahan
memahaminya, bukan menurut jenis kayu melainkan menurut seberapa jauh waktu
telah memakan mereka. Di rak lain ada buah-buahan, sebagian segar, sebagian
mengering, sebagian membusuk, dan satu, Awu memandangnya cukup lama untuk
yakin, satu buah yang seharusnya sudah lama membusuk tapi tidak, yang duduk di
antara saudara-saudaranya yang membusuk dengan keutuhan yang ganjil dan, entah
bagaimana, mengganggu, seperti orang yang tidak menua di antara orang-orang
yang menua.
“Kau memandang buah itu, ” kata Empu Wani, tanpa menoleh dari
pekerjaannya. Ia seorang lelaki kurus dengan tangan yang terlalu halus untuk
seorang empu, tangan yang tak pernah mengangkat beban, hanya menyentuh dan
menimbang dan mencoba. “Semua orang memandang buah itu. Ia satu-satunya benda
di ruangan ini yang membuat orang tidak nyaman, dan mereka tak selalu tahu
mengapa.”
“Mengapa ia tidak membusuk?” tanya Awu.
“Pertanyaan yang salah.” Wani akhirnya menoleh, dan matanya, Awu
memperhatikan, memiliki kualitas yang sama dengan mata Giri Tua, mata orang
yang terbiasa memandang sesuatu yang tak dilihat orang lain, tapi di mana mata
Giri Tua memandang jauh, ke atas, ke hal-hal yang besar dan lambat, mata Wani
memandang dekat, ke dalam, ke jantung benda-benda kecil. “Pertanyaan yang benar
adalah: mengapa yang lain membusuk? Apa yang ada di dalam sebuah buah yang
membuatnya membusuk, yang tidak ada, atau yang telah kuambil, dari buah ini?”
Awu tidak menjawab, sebab ia tahu ia tak tahu, dan ia sudah belajar dari
mengamati Bapa bahwa orang yang berkuasa tidak berpura-pura tahu apa yang tak
ia ketahui.
“Waktu, ” kata Empu Wani. “Itu jawabannya, walau jawaban itu hampir tak
berarti apa-apa sampai kau memahaminya. Segala sesuatu yang hidup, dan banyak
yang tak hidup, mengandung waktu di dalam dirinya. Bukan waktu yang di luar,
bukan matahari yang terbit dan tenggelam, melainkan waktu yang di dalam, sebuah
arah, sebuah dorongan, sebuah kehendak benda untuk bergerak dari utuh menuju
hancur, dari segar menuju busuk, dari muda menuju tua menuju tiada. Itulah yang
kupelajari, anak. Bukan bagaimana menghentikan waktu di luar, tak seorang pun
bisa, bahkan langit bergerak, orang tua dari perbukitan itu akan mengatakannya
kepadamu. Melainkan bagaimana mengambil waktu dari dalam sebuah benda. Dan
sebuah benda yang tak lagi mengandung waktu, ” ia menunjuk buah yang utuh itu,
“, tidak membusuk. Ia tidak menjadi tua. Ia hanya, selamanya, adalah dirinya
yang sekarang.”
❖
Awu mengambil
buah yang utuh itu, dengan izin yang diberikan lewat anggukan, dan ia
memegangnya, dan ia merasakan sesuatu yang membuat tangannya hampir
melepaskannya.
Buah itu salah. Ia tak tahu bagaimana lagi menamainya. Ia tampak seperti
buah, ia berbentuk seperti buah, kulitnya berwarna seperti buah yang sehat,
tapi memegangnya terasa seperti memegang gambar sebuah buah, bukan buah itu
sendiri. Ia terlalu ringan. Tidak, bukan terlalu ringan, ia terlalu diam. Ada,
dalam sebuah buah yang sungguh-sungguh buah, sebuah kehidupan yang kecil dan
tak terlihat, sebuah proses, sesuatu yang sedang terjadi di dalamnya bahkan
ketika ia terbaring diam di tangan. Buah ini tidak punya itu. Tidak ada yang
terjadi di dalamnya. Ia telah berhenti, berhenti dengan sempurna, berhenti
selamanya, pada satu titik dan akan tinggal di titik itu sampai akhir dunia,
tidak membusuk, tidak matang, tidak berubah, tidak hidup.
“Ia indah, ” kata Awu, perlahan, “dan ia mengerikan.”
“Ya.” Empu Wani mengamatinya dengan sesuatu yang hampir seperti kasih
sayang, kasih sayang seorang guru yang melihat murid mencapai, sendiri,
kesimpulan yang ia harapkan. “Itulah persisnya. Indah dan mengerikan, dan
keduanya karena alasan yang sama. Ia indah karena ia tak akan pernah hilang. Ia
mengerikan karena, ” ia berhenti, membiarkan Awu menyelesaikannya.
“Karena ia tak lagi hidup, ” kata Awu. “Ia membayar ketidakhilangannya
dengan kehidupannya.”
“Sebagian orang akan mengatakannya begitu.” Wani mengambil kembali buah
itu, mengembalikannya ke tempatnya di antara saudara-saudaranya yang membusuk
dengan sehat. “Sebagian orang akan mengatakan bahwa membusuk adalah harga dari
hidup, dan bahwa sebuah buah yang tak bisa membusuk telah membayar harga yang
terlalu mahal, telah, dengan kata lain, mati, hanya saja menolak untuk
membaringkan diri sebagaimana yang mati seharusnya. Saudarimu, kudengar, akan
mengatakannya begitu.”
Awu menegang. “Kau tahu tentang saudariku?”
“Aku tahu tentang banyak hal, anak. Tepi kota adalah tempat yang baik
untuk mendengar, justru karena ia di tepi. Aku tahu bahwa saudarimu mengubur
seekor burung dan berbisik kepadanya. Aku tahu bahwa ia duduk di tepi kanal
dengan seorang nakhoda yang mengukur air. Aku tahu bahwa ia adalah jenis orang
yang melihat sesuatu yang hilang dan memutuskan untuk mengingatnya. Itu adalah
satu jawaban atas cacat di jantung dunia, jawaban yang lembut, dan menyedihkan,
dan tak berdaya. Mengingat sesuatu tidak membuatnya tidak hilang. Ia hanya
membuatmu, yang mengingat, terus terluka oleh kehilangan yang sudah lewat.” Ia
menoleh kepada Awu, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang tajam di
matanya, sesuatu yang mengundang. “Tapi kau, kurasa, bukan jenis yang puas dengan
mengingat. Kau bukan jenis yang menerima cacat dan mencoba mencintainya. Kau
adalah jenis yang melihat cacat dan bertanya: bagaimana cara membuangnya?”
❖
Dan di sanalah,
di ruangan yang penuh benda-benda yang membusuk dan satu benda yang menolak
membusuk, godaan itu untuk pertama kalinya mengambil bentuk yang jelas, walau
tak satu pun dari mereka cukup berani, hari itu, untuk menamainya sampai ke
ujungnya.
“Kau bicara tentang buah, ” kata Awu, dan ia mendengar suaranya sendiri
menjadi hati-hati, cara suara menjadi hati-hati ketika seseorang berjalan
menuju tepi sesuatu. “Tentang kayu. Tentang benda.”
“Aku bicara tentang waktu, ” kata Empu Wani. “Dan waktu tidak peduli pada
perbedaan antara sebuah buah dan, sesuatu yang lebih dari buah. Waktu ada di
dalam segala sesuatu yang sama. Di dalam kayu. Di dalam buah. Di dalam lembu.
Di dalam, ” ia membiarkannya menggantung.
“Di dalam manusia, ” kata Awu.
“Apakah aku mengatakan itu?” Empu Wani tersenyum, senyum yang tak
menjawab. “Aku seorang tua yang bermain dengan buah, anak. Aku tak akan pernah
cukup berani mengatakan hal sebesar itu. Aku hanya mengatakan: waktu ada di
dalam segala sesuatu yang sama. Apa yang bisa diambil dari satu, secara
prinsip, bisa diambil dari yang lain. Aku tidak mengatakan bahwa aku bisa
melakukannya. Aku tidak mengatakan bahwa seseorang harus. Aku hanya mengatakan
bahwa prinsipnya tidak membedakan. Dan aku membiarkanmu, yang punya mata empu
dan hati raja, ya, aku mendengar apa yang dikatakan para tetua tentangmu, aku
membiarkanmu memikirkan sendiri apa artinya itu.”
Awu memikirkannya. Ia memikirkannya berdiri di sana, di ruangan itu, dan
ia memikirkannya dalam perjalanan pulang, dan ia memikirkannya pada malam-malam
berikutnya ketika ia seharusnya tidur. Sebuah manusia yang waktunya telah
diambil. Sebuah manusia yang tidak menua, tidak membusuk, tidak hilang. Sebuah
manusia yang, seperti buah itu, akan tinggal selamanya pada satu titik, bukan
mati, sebab mati adalah membaringkan diri dan berhenti, melainkan sesuatu yang
lain, sesuatu yang belum punya nama, sebuah keutuhan tanpa akhir. Dan ia
memikirkan, dengan rasa dingin dan rasa lapar yang bercampur menjadi sesuatu
yang tak bisa ia pisahkan lagi: bukan hanya satu manusia. Sebuah keluarga.
Sebuah kota. Sebuah daratan. Sebuah seluruh dunia yang waktunya telah diambil,
yang tak bisa lagi diambil oleh air, sebab apa yang air ambil adalah apa yang
berakhir, dan apa yang tak mengandung waktu tak pernah berakhir.
Sela, ia menyadari, telah menemukan cara untuk hidup berdamai dengan
kehilangan: mengingat. Tapi ia, Awu, sedang menemukan sesuatu yang lebih besar,
lebih berani, lebih sepadan dengan ketidakpuasan di jantungnya. Bukan cara
untuk hidup berdamai dengan kehilangan. Cara untuk mengakhiri kehilangan. Cara
untuk membuat kata itu, hilang, tidak lagi punya arti.
❖
Ia pulang larut,
dan ia berjalan menyusuri kanal yang sama yang dilewati saudarinya bersama
nakhoda yang mengukur air, dan ia memandang air yang gelap dan tenang dan ia
tidak merasakan apa yang dirasakan Sela ketika memandangnya.
Sela memandang air dan mendengar sesuatu yang menunggu, sesuatu yang
sabar, sesuatu yang akan datang. Awu memandang air dan, untuk pertama kalinya,
tidak merasa takut padanya, merasa, sebaliknya, sebuah tantangan, sebuah lawan
yang sepadan, sesuatu yang besar dan kuno dan tak terhindarkan yang, mungkin, untuk
pertama kalinya dalam seluruh sejarah dunia, akan bertemu dengan sesuatu yang
menolak untuk ditelannya. Di mana Sela tunduk pada kebenaran bahwa segala
sesuatu berakhir dan mencari cara untuk menanggungnya dengan anggun, Awu
menolak kebenaran itu sepenuhnya, dengan seluruh kekuatan dari mata empu dan
hati raja, dan mulai mencari cara untuk membuatnya menjadi tidak benar.
Itulah malam ketika dua jalan, yang selama ini hanya condong ke arah yang
berbeda, mulai benar-benar berpisah. Tak ada pertengkaran malam itu. Tak ada
perpisahan. Kedua saudari itu tidur di bawah atap yang sama, dekat perapian
yang sama, di rumah yang sama yang menjaga baranya agar tak padam. Tapi di
dalam diri mereka, dalam ruang yang tak terlihat tempat seseorang memutuskan
apa yang ia percayai tentang akhir dari segala sesuatu, mereka kini berdiri di
dua daratan yang berbeda, dan di antara dua daratan itu, perlahan, tak
terlihat, sebuah laut sudah mulai naik.
Sela, yang malam itu berbaring memikirkan seorang nakhoda dan sebuah
sumpah dalam dua bagian, akan memilih untuk mengingat, dan untuk mewariskan,
dan untuk tetap menjadi makhluk fana yang terluka oleh kehilangan sampai ke
dasar laut tempat ia akhirnya akan menelan tujuh kerikil. Awu, yang malam itu
berbaring memikirkan sebuah buah yang menolak membusuk, akan memilih untuk
membuang waktu dari dalam dirinya, dan dari dalam istananya, dan untuk menjadi
sesuatu yang tak punya nama, sesuatu yang utuh dan dingin dan abadi, yang akan
duduk di dasar laut yang sama selama sepuluh ribu tahun, tidak membusuk, tidak
menua, tidak hilang, dan, ia belum tahu ini, ia tak akan tahu sampai terlambat,
tidak hidup.
Tapi itu nanti. Hari ini keduanya tidur, dan rumah hangat, dan di luar,
di sepanjang kanal yang lurus dan setia, air mengalir ke mana ia disuruh, dan
menyimpan apa yang jatuh ke dalamnya, dan menunggu. Air tidak tergesa. Air tahu
bahwa dari dua jalan yang malam ini mulai berpisah, kedua-duanya pada akhirnya
akan menuju kepadanya, yang satu untuk ditelan dan diingat, yang satu untuk
menolak ditelan dan, dengan menolak, menjadi tahanan di dasarnya selamanya. Air
bisa menunggu. Air selalu bisa menunggu. Dan sementara dua saudari tidur di
daratan yang mereka kira abadi, air terus menghitung, tenang, sabar, asin,
menuju malam, masih jauh, masih banyak generasi jauhnya, tapi sudah pasti,
ketika ia akan datang untuk memungut keduanya, masing-masing menurut pilihannya
sendiri.
❖
BAB DELAPAN
Pertengkaran Pertama
Dua orang bisa memandang jurang yang
sama dan tidak bertengkar tentang kedalamannya. Mereka bertengkar tentang apa
yang harus dilakukan setelah melihatnya, dan tentang itu, saudara bisa menjadi
orang asing dalam satu sore.
yang dikatakan orang tentang kedua
saudari, jauh sesudahnya
Pertengkaran itu
tidak dimulai sebagai pertengkaran, sebagaimana hampir tak ada pertengkaran
sungguhan yang dimulai sebagai pertengkaran. Ia dimulai sebagai sebuah sore
yang biasa, dan sebuah pertanyaan yang biasa, dan barulah ketika sudah
terlambat keduanya menyadari bahwa mereka tidak sedang membicarakan hal yang
mereka kira mereka bicarakan.
Mereka sedang di ladang utara, ladang yang Bapa ingin mereka pelajari,
sebab Bapa sudah mulai memikirkan, walau ia tak mengatakannya dengan kata-kata,
sebab di Nagara Rata seseorang tak mengatakan hal-hal seperti itu sebelum
waktunya, siapa di antara kedua anaknya yang kelak akan duduk di tempatnya. Awu
memeriksa tanah dengan cara Awu memeriksa segalanya: menghitung, mengukur,
menimbang hasil terhadap usaha. Sela berjalan di tepi ladang, di tempat tanaman
yang ditanam orang bertemu dengan tanaman yang tumbuh sendiri, sebab ia selalu
lebih tertarik pada batas-batas, pada tempat-tempat di mana satu hal berubah
menjadi hal lain.
“Bapa akan membuka kanal selatan tahun depan, ” kata Awu, lebih kepada
dirinya sendiri daripada kepada Sela, suara orang yang sedang menyusun masa
depan di kepalanya. “Membawa air ke tanah baru. Bila berhasil, Nagara Rata akan
lebih besar dari yang pernah ada. Lebih besar dari yang dibayangkan kakek kita.
Kita akan menanam di tanah yang dulu terlalu kering untuk apa pun, dan dalam
tiga generasi tak seorang pun akan ingat bahwa tanah itu pernah kosong.”
“Kanal selatan, ” kata Sela, dan sesuatu dalam suaranya membuat Awu
mengangkat wajah. “Ke arah laut.”
“Ke arah tanah yang baik, ” Awu mengoreksi. “Yang kebetulan ada di
selatan.”
“Yang kebetulan ada di arah dari mana air datang.” Sela berhenti
berjalan. “Awu. Kau akan menggali kanal untuk membawa air kita ke selatan, ke
tanah yang lebih rendah, lebih dekat ke laut, di musim ketika air laut sedang
naik. Kau akan membuka jalan bagi air, dan menyebutnya membawa air kepada
tanah.”
❖
Awu meletakkan
tali hitungnya. Ia melakukannya pelan, dan kepelanannya adalah tanda, sebab Awu
yang tergesa adalah Awu yang tak menganggap sesuatu penting, dan Awu yang pelan
adalah Awu yang telah memutuskan untuk menghadapi sesuatu.
“Kita sudah membicarakan ini, ” katanya. “Bukan kau dan aku. Aku dan
orang Tirta itu. Dan jawabannya tetap sama. Air mungkin naik. Mungkin. Dalam
ratusan, ribuan tahun. Aku tak bisa menjalankan sebuah daratan, aku tak bisa
membuka tanah, memberi makan orang, membangun apa pun, bila aku melumpuhkan
diri dengan ketakutan tentang air yang tak akan dilihat oleh cucu dari cucu
kita. Kau memintaku untuk tidak menggali kanal selatan. Baik. Lalu apa? Tidak
menggali kanal mana pun, sebab semua kanal pada akhirnya menuju ke suatu arah?
Tidak menanam, sebab tanaman pada akhirnya mati? Tidak membangun, sebab segala
bangunan pada akhirnya runtuh?”
“Aku tidak memintamu berhenti membangun, ” kata Sela.
“Lalu apa yang kau minta?”
Dan Sela tidak punya jawaban yang siap, sebab ia belum tahu, sebab apa
yang ia rasakan masih lebih besar daripada apa yang ia bisa katakan. Maka ia
menjawab dengan sebuah pertanyaan, sebagaimana ia selalu menjawab ketika ia
belum tahu, dengan harapan bahwa pertanyaan akan menuntunnya ke jawaban yang ia
belum miliki.
“Mengapa kau ingin Nagara Rata lebih besar?” tanyanya. “Sungguh-sungguh,
Awu. Bukan jawaban yang akan kau berikan kepada Bapa. Jawaban yang sebenarnya.
Mengapa lebih besar? Mengapa lebih banyak tanah, lebih banyak panen, lebih
banyak kota? Kita sudah punya cukup. Kita sudah punya lebih dari cukup. Apa
yang kau kejar?”
Awu memandangnya cukup lama, dan ketika ia menjawab, ia menjawab dengan
kejujuran yang mengejutkan keduanya, kejujuran yang barangkali hanya mungkin di
antara dua saudari di sebuah ladang ketika tak ada orang lain yang mendengar.
“Karena yang besar bertahan lebih lama, ” katanya. “Karena sebuah dusun
kecil bisa hilang dan tak seorang pun ingat. Tapi sesuatu yang cukup besar,
sesuatu yang cukup agung, cukup kuat, cukup mengakar, sesuatu seperti itu tidak
hilang. Ia terlalu besar untuk hilang. Ia menjadi, ” ia mencari kata, “, ia
menjadi sesuatu yang harus diperhitungkan oleh waktu. Aku tidak ingin Nagara
Rata lebih besar karena aku serakah, Sela. Aku ingin ia lebih besar karena aku
tak tahan, aku tak tahan, pada gagasan bahwa suatu hari ia bisa menjadi seperti
dusun pesisir yang ditelan orang Tirat itu. Ada, lalu tiada, dan air menutup di
atasnya seolah-olah ia tak pernah ada. Aku akan membuatnya begitu besar
sehingga itu tak mungkin terjadi. Itu satu-satunya hal yang kuinginkan. Aku
ingin membuat sesuatu yang tak bisa hilang.”
❖
Dan di sanalah,
mendengar kata-kata saudarinya, Sela akhirnya memahami apa yang sedang terjadi,
bukan tentang kanal, tak pernah tentang kanal, melainkan tentang sesuatu yang
jauh lebih dalam, sesuatu yang telah tumbuh di dalam Awu seperti air asin
tumbuh di dalam tanah, tak terlihat dari permukaan sampai mata air pindah.
“Sesuatu yang tak bisa hilang, ” Sela mengulang, pelan. “Kau sudah bicara
dengan Empu Wani.”
Itu bukan pertanyaan, dan Awu tak memperlakukannya sebagai pertanyaan.
Sesuatu mengeras di wajahnya, pertahanan yang naik. “Aku bicara dengan banyak
orang.”
“Aku pernah melihat bengkelnya, ” kata Sela. “Bukan masuk. Hanya lewat.
Orang bercerita tentang benda-benda yang ia simpan di sana. Buah yang tidak
membusuk. Mereka menceritakannya seperti menceritakan sesuatu yang lucu,
sesuatu yang aneh. Tapi kau tidak menganggapnya lucu, kan? Kau menganggapnya, ”
ia berhenti, sebab kebenaran yang ia dekati terlalu besar, dan ia takut
padanya, takut pada apa artinya tentang saudarinya. “Kau menganggapnya
jawaban.”
“Dan kalau ya?” Suara Awu kini tajam. “Kalau ada cara, Sela, cara nyata,
bukan dongeng, bukan firasat, cara untuk membuat sesuatu tidak hilang? Untuk
membuat sebuah buah, sebuah rumah, sebuah daratan, tinggal selamanya pada saat
terbaiknya, tak tersentuh oleh waktu, tak tersentuh oleh air? Kau akan
menolaknya? Kau akan berdiri di tepi sebuah dunia yang sedang tenggelam dan
berkata: tidak, biarkan ia tenggelam, biarkan ia hilang, aku lebih suka
mengingatnya daripada menyelamatkannya?”
“Buah itu mati, Awu.”
“Buah itu utuh, ”
“Buah itu mati!” Dan kini suara Sela naik pula, untuk pertama kalinya,
sebab ada hal-hal yang tak bisa dikatakan dengan tenang, sebab ketenangan itu
sendiri akan menjadi kebohongan. “Aku tahu apa yang dilakukan Empu Wani, semua
orang tahu, ia mengambil sesuatu dari dalam benda supaya benda itu berhenti. Ia
menyebutnya membuang waktu. Tapi yang ia buang bukan hanya waktu, Awu. Yang ia
buang adalah, segalanya yang membuat sebuah benda hidup. Sebuah buah yang tidak
membusuk tidak juga matang. Tidak juga memberi benih. Tidak juga menjadi pohon.
Ia hanya berhenti, di satu titik, selamanya, dan kau memandangnya dan
menyebutnya selamat padahal yang kau lihat adalah sesuatu yang telah berhenti
menjadi dirinya supaya ia tak perlu kehilangan dirinya. Itu bukan
menyelamatkan, Awu. Itu cara lain untuk mati, cara yang lebih buruk, sebab
setidaknya yang mati membaringkan diri dan membiarkan yang hidup melanjutkan.
Yang seperti buah itu tinggal, dan utuh, dan kosong, selamanya, mengisi tempat
yang seharusnya ditinggalkan untuk sesuatu yang baru.”
❖
Mereka berdiri
saling berhadapan di ladang utara, dan untuk pertama kalinya dalam hidup
mereka, jarak di antara mereka bukan jarak yang bisa diseberangi dengan
berjalan.
“Kau lebih suka kehilangan, ” kata Awu, dan suaranya kini pelan lagi,
tapi pelan yang berbeda, pelan yang menyakiti. “Itulah dirimu, kan? Sejak
burung itu. Kau jatuh cinta pada kehilangan. Kau menjadikannya keindahan. Kau
berkata: lihat betapa indahnya bahwa segala sesuatu berakhir, betapa
berharganya menjadi karena ia tak abadi. Tapi itu adalah kemewahan, Sela. Itu
adalah hal yang bisa dikatakan seseorang yang belum pernah benar-benar
kehilangan apa pun. Mudah mencintai kehilangan ketika yang hilang hanyalah
seekor burung. Apa yang akan kau katakan ketika yang hilang adalah Bapa? Ketika
yang hilang adalah rumah kita? Ketika yang hilang adalah, ” ia berhenti, dan
Sela melihat sesuatu melintas di matanya, dan ia tahu, tanpa nama disebutkan,
bahwa Awu sedang memikirkannya, sedang memikirkan kehilangan dirinya, “,
semuanya? Akankah kau masih berdiri di sana memuji keindahan kehilangan? Atau
akankah kau, akhirnya, berharap seseorang telah menemukan cara untuk
menghentikannya?”
Dan Sela tidak punya jawaban untuk itu, sebab ia jujur, dan kejujuran
memaksanya untuk mengakui, di dalam dirinya, bahwa ia tak tahu. Bahwa ia tak
pernah benar-benar kehilangan apa pun yang besar. Bahwa burung itu mudah. Bahwa
ia tak tahu siapa dirinya akan menjadi ketika air mengambil Bapa, rumah,
daratan, segalanya, dan barangkali Awu benar, barangkali ia akan berubah,
barangkali ketika kehilangan menjadi cukup besar bahkan ia akan berlutut dan
memohon untuk sebuah buah yang tak membusuk.
Tapi ia tahu satu hal, dan ia mengatakannya, sebab itu satu-satunya hal
yang ia tahu dengan pasti.
“Mungkin kau benar, ” katanya. “Mungkin ketika air datang, aku akan
berubah. Mungkin aku akan memohon untuk apa yang ditawarkan Empu Wani. Aku
tidak tahu, Awu, dan aku tak akan berpura-pura tahu. Tapi aku tahu ini: bila
aku berubah, bila aku berlutut dan memohon untuk tidak kehilangan, itu akan
menjadi aku pada saat terburukku, bukan aku pada saat terbaikku. Dan kau, ”
suaranya pecah sedikit, sebab apa yang akan ia katakan adalah hal yang paling
sulit ia katakan kepada saudari yang ia cintai, “, kau sedang membangun seluruh
masa depanmu di atas saat terburukmu. Di atas ketakutan. Kau menyebutnya
keberanian, menyebutnya menolak untuk menyerah, tapi di dasarnya, Awu, di dasar
yang paling dalam, ia adalah ketakutan. Kau begitu takut kehilangan sehingga
kau bersedia berhenti hidup supaya tak perlu kehilangan. Dan aku tak bisa
mengikutimu ke sana. Aku mencintaimu, tapi aku tak bisa mengikutimu ke sana.”
❖
Tidak ada lagi
yang dikatakan setelah itu, sebab tak ada lagi yang bisa dikatakan tanpa
menjadikannya lebih buruk, dan keduanya cukup bijak, atau cukup takut, untuk
mengetahuinya.
Mereka berjalan pulang dengan jarak di antara mereka, jarak harfiah,
beberapa langkah tanah ladang, tapi jarak itu terasa lebih besar daripada
seluruh daratan yang datar. Matahari turun seperti ia selalu turun. Kanal
memantulkan langit seperti ia selalu memantulkannya. Segalanya sama, dan tak
ada yang sama, sebab di antara dua saudari yang berjalan pulang dalam diam,
sesuatu telah diucapkan yang tak bisa ditarik kembali: bahwa mereka, yang
tumbuh dari satu rumpun, yang tidur di bawah satu atap, yang menyebut diri
mereka saudara, mereka memandang akhir dari segala sesuatu dan menginginkan dua
hal yang tak bisa didamaikan. Yang satu ingin mengingat. Yang satu ingin
menolak. Dan tak ada ladang yang cukup luas, tak ada kanal yang cukup panjang,
tak ada cinta yang cukup dalam, untuk menjembatani jarak antara dua keinginan
itu.
Malam itu mereka tidur di tempat mereka selalu tidur, dekat perapian yang
sama, dan bila ada yang menengok ke dalam rumah itu ia akan melihat dua saudari
yang tidur berdekatan, damai, dan ia tak akan menduga bahwa ada apa-apa di
antara mereka. Sebab cinta mereka tidak putus malam itu. Itulah yang membuatnya
begitu menyakitkan, kelak, untuk diingat: bahwa cinta itu tidak putus, tidak
hari itu, tidak selama bertahun-tahun sesudahnya. Mereka akan terus saling
mencintai sepanjang sisa waktu yang mereka miliki sebagai manusia. Mereka hanya
tak bisa lagi sepakat tentang hal yang paling penting, dan mereka tahu kini
bahwa mereka tak bisa, dan maka mereka berhenti membicarakannya, dan apa yang
tak dibicarakan tumbuh di antara mereka dalam diam, sebagaimana air asin tumbuh
di dalam tanah, tak terlihat, sampai hari ketika ia akhirnya akan memaksa
segalanya ke permukaan.
Dan di luar, di sepanjang kanal yang akan digali lebih jauh ke selatan,
lebih dekat ke laut, di tahun yang akan datang, air mengalir tenang dan setia
dan menunggu, sebab air telah mendengar, dengan cara air mendengar, perdebatan
dua saudari, dan air tahu sesuatu yang tak diketahui keduanya: bahwa mereka
berdua keliru, dan mereka berdua benar. Sela keliru mengira ia bisa tetap
menjadi dirinya yang terbaik ketika air mengambil segalanya. Awu keliru mengira
ia bisa menyelamatkan apa pun dengan berhenti hidup. Tapi Sela benar bahwa
mengingat adalah satu-satunya kemenangan yang mungkin atas air, dan Awu benar
bahwa kehilangan, ketika ia cukup besar, mengubah seseorang menjadi tak
terkenali. Keduanya benar. Keduanya keliru. Dan air, yang tidak benar dan tidak
keliru, yang hanya datang, terus menghitung di bawah daratan yang tidur, menuju
malam ketika ia akan menguji kedua kebenaran dan kedua kekeliruan itu
sekaligus, dan membuktikan, kepada dua saudari yang kini tidur berdamai, betapa
mahal harga dari masing-masing.
❖
BAB SEMBILAN
Apa yang Hilang Itu Indah
Menerima bukan berarti menyerah.
Menerima berarti memegang sesuatu dengan tangan terbuka, cukup erat untuk
mencintainya, cukup longgar untuk merelakannya pergi. Inilah yang paling sulit
dipelajari, dan yang paling akhir.
ajaran yang kelak disebut narima, yang
akarnya tak diketahui, yang sebenarnya dimulai di sebuah ladang liar
Beberapa hari
lewat setelah pertengkaran di ladang utara, dan dalam hari-hari itu kedua
saudari hidup berdampingan dengan kesopanan yang lebih menyakitkan daripada
kemarahan.
Mereka tidak bertengkar lagi. Itulah yang salah. Mereka bicara tentang
hal-hal yang aman, tentang panen, tentang cuaca, tentang urusan rumah, dan
mereka bicara dengan ramah, dan mereka menghindari, dengan kehati-hatian dua
orang yang berjalan mengelilingi sebuah lubang di lantai, satu-satunya hal yang
benar-benar penting. Sela merasakannya seperti orang merasakan gigi yang sakit
dengan lidahnya, terus-menerus, tak bisa berhenti, menyentuh tempat yang sakit
hanya untuk memastikan ia masih sakit. Ia kehilangan saudarinya, perlahan,
bukan karena kematian, bukan karena jarak, melainkan karena sebuah kebenaran
yang telah diucapkan dan tak bisa ditarik kembali, dan ia tak tahan kehilangan
itu, dan, inilah yang membuatnya hampir tertawa pada dirinya sendiri dengan
pahit, ketidaktahanannya pada kehilangan itu adalah persis perasaan yang ia
tahu menggerakkan Awu, perasaan yang ia lawan dengan seluruh dirinya. Ia mulai
mengerti saudarinya justru pada saat ia paling jauh darinya.
Maka pada suatu pagi, Sela mengajak Awu pergi. Bukan ke ladang utara,
dengan tanahnya yang diukur dan dihitung. Ke tempat lain. Ke sebuah tempat yang
telah lama ingin ia tunjukkan kepada saudarinya, dan yang kini, ia merasa,
mungkin adalah satu-satunya cara yang tersisa untuk menjangkaunya, bukan dengan
kata-kata, yang sudah gagal, melainkan dengan sesuatu yang harus dilihat untuk
dipahami.
Awu, yang juga merasakan kehilangan itu, dan yang juga tak tahan padanya
walau ia tak akan pernah mengatakannya, setuju untuk pergi.
❖
Tempat itu
adalah sebuah ladang yang dulu ditanami dan kini tidak.
Itu terjadi kadang-kadang, bahkan di Nagara Rata yang teratur: sebuah
keluarga punah, atau pindah, atau kehilangan terlalu banyak anak untuk mengerjakan
tanahnya, dan ladang yang dulu lurus dan tertata dibiarkan, dan tanah, yang tak
pernah benar-benar menjadi milik siapa pun walau orang menyebutnya milik,
mengambil kembali apa yang dipinjamkannya. Ladang ini telah dibiarkan selama
bertahun-tahun, cukup lama sehingga garis-garis lurus yang dulu dibuat manusia
telah lenyap sepenuhnya, cukup lama sehingga seseorang yang datang tanpa
mengetahui sejarahnya tak akan pernah menduga bahwa tangan manusia pernah
menyentuh tempat ini.
Dan tempat itu hidup. Itulah yang ingin ditunjukkan Sela. Bukan kosong,
bukan terlantar, bukan mati, hidup, dengan kehidupan yang lebih liar dan lebih
penuh daripada ladang mana pun yang dijaga manusia. Tanaman yang tak ditanam
siapa pun tumbuh di mana-mana, berebut cahaya, dan di antara mereka ada
bunga-bunga yang tak punya nama sebab tak seorang pun menanamnya untuk dinamai.
Serangga berdengung. Seekor burung, bukan burung air, burung lain, burung kecil
berwarna yang tak pernah Sela lihat di ladang yang dijaga, terbang dari satu
tangkai ke tangkai lain. Di satu sudut, sebatang pohon muda telah tumbuh, anak
dari biji yang dibawa angin atau burung, berdiri di tempat yang tak pernah
direncanakan untuk sebuah pohon, dan justru karena itu, entah bagaimana, lebih
sungguh-sungguh sebuah pohon daripada pohon mana pun yang ditanam dalam
barisan.
“Apa ini?” tanya Awu, memandang sekeliling. Ada sesuatu dalam suaranya
yang bukan penolakan, belum penolakan, hanya ketidakmengertian, ketidaknyamanan
orang teratur yang dihadapkan pada sesuatu yang indah justru karena ia tak
teratur.
“Sebuah ladang yang ditinggalkan, ” kata Sela. “Keluarga Wregu, kau ingat
mereka? Mereka punah dua musim sebelum kita lahir. Tak ada yang mengambil alih
tanah ini. Maka tanah ini mengambil alih dirinya sendiri.”
❖
Mereka duduk di
tepi ladang liar itu, di atas batu yang dulu mungkin adalah bagian dari pondasi
rumah keluarga Wregu dan kini hanya sebuah batu, dan Sela mencoba, untuk
terakhir kalinya, untuk mengatakan apa yang tak bisa ia katakan dengan
berdebat.
“Aku tidak membawamu ke sini untuk bertengkar lagi, ” katanya. “Aku tahu
kita tak akan sepakat. Aku hanya ingin kau melihat ini, dan mendengar satu hal,
dan setelah itu aku tak akan membicarakannya lagi, aku berjanji.” Ia memungut
sehelai bunga tak bernama, memutarnya di antara jarinya. “Kau bilang aku jatuh cinta
pada kehilangan. Kau salah, tapi kau hampir benar, dan aku ingin mengatakan
kepadamu bagian yang benar, supaya setidaknya kau tahu apa sebenarnya yang
kupercaya, bukan apa yang kau kira kupercaya.”
Awu tidak menjawab, tapi ia mendengarkan. Itu sudah lebih dari yang Sela
harapkan.
“Aku tidak mencintai kehilangan, ” kata Sela. “Tak seorang pun mencintai
kehilangan. Kehilangan itu menyakitkan, dan aku tak akan berpura-pura ia tidak.
Tapi lihat tempat ini, Awu. Lihat sungguh-sungguh. Keluarga Wregu hilang. Itu
menyedihkan; mereka adalah orang-orang, dan mereka punya nama, dan kini mereka
tiada. Tapi karena mereka hilang, karena tanah ini dilepaskan, lihat apa yang
datang. Bunga yang tak akan pernah tumbuh bila tanah ini tetap ditanami padi.
Pohon yang tak akan pernah ada bila seseorang masih menjaga barisan. Burung
itu, yang tak akan pernah datang ke ladang yang dijaga. Tak satu pun dari ini
bisa ada selama yang lama masih bertahan. Mereka hanya bisa datang karena yang
lama pergi.”
Ia melepaskan bunga itu, membiarkannya jatuh ke rumput.
“Itulah yang kupercaya. Bukan bahwa kehilangan itu indah. Bahwa
kehilangan adalah harga dari sesuatu yang lebih indah daripada apa pun yang
bisa diberikan oleh ketiadaan kehilangan. Tempat di mana tak ada yang hilang
adalah tempat di mana tak ada yang baru bisa lahir. Buah Empu Wani yang tak
membusuk, ia tak akan pernah menjadi pohon, kau sendiri yang mengatakannya,
atau aku yang mengatakannya, aku lupa. Ia utuh, tapi ia mandul. Ia ada, tapi
tak ada yang bisa datang setelahnya, sebab ia tak pernah memberi ruang. Dan
sebuah dunia yang seluruhnya seperti buah itu, sebuah Nagara Rata yang abadi,
yang tak pernah hilang, yang waktunya telah dibuang, akan menjadi sebuah dunia
yang indah dan utuh dan mati, sebuah ladang yang dijaga selamanya, lurus dan
teratur dan tak pernah, tak pernah, membiarkan satu bunga liar pun tumbuh.”
❖
Awu memandang
ladang liar itu untuk waktu yang lama, dan Sela membiarkannya, dan untuk sesaat
ada harapan, tipis, hangat, hampir tak tertanggungkan, bahwa kata-kata itu
telah masuk, bahwa keindahan tempat ini telah berbicara ke tempat di dalam Awu
yang tak bisa dijangkau oleh debat.
“Ia indah, ” akhirnya Awu berkata, pelan. “Kau benar. Ia indah. Aku
melihatnya.”
Dan untuk satu detak jantung, Sela percaya ia telah berhasil.
“Tapi, ” Awu melanjutkan, dan dengan satu kata itu harapan itu padam,
“kau menunjukkan kepadaku sebuah ladang dan menyebut keluarga Wregu sebagai
harga yang pantas untuknya. Bunga-bunga ini, pohon ini, burung itu, semua ini
lahir, kau bilang, karena keluarga Wregu mati. Dan kau menemukannya indah.” Ia
menoleh kepada Sela, dan tak ada kemarahan di wajahnya, hanya sebuah kesedihan
yang dalam dan kokoh, kesedihan orang yang melihat sesuatu yang tak bisa ia
lihat dengan cara lain. “Tapi mereka adalah orang-orang, Sela. Mereka punya
nama. Kau sendiri mengatakannya. Keluarga Wregu. Mereka punya pagi-pagi dan
malam-malam dan pertengkaran dan tawa, sebagaimana kita, dan mereka punya
seseorang yang mereka cintai sebagaimana aku mencintaimu, dan kini mereka
tiada, dan di tempat mereka tumbuh bunga yang tak punya nama. Dan kau memintaku
untuk memandang bunga itu dan berkata: ya, ini sepadan. Kematian sebuah
keluarga sepadan dengan sehelai bunga liar.”
“Itu bukan, ” Sela mulai, tapi Awu mengangkat tangannya, lembut, bukan
untuk membungkam melainkan untuk meminta agar ia diizinkan menyelesaikan.
“Aku tahu itu bukan persis yang kau maksud. Tapi itu adalah dasarnya,
Sela, bila kau ikuti sampai ke dasarnya. Kau berkata kehilangan adalah harga
dari yang baru. Baik. Tapi seseorang harus membayar harga itu. Selalu ada
seseorang yang membayar. Dan ia tak pernah orang yang sama dengan orang yang
menikmati yang baru. Keluarga Wregu membayar; bunga-bunga ini menikmati. Dan
dari tempat dudukku, satu-satunya cara untuk menemukan keindahan dalam
pertukaran itu adalah dengan tidak terlalu memikirkan keluarga yang membayar.
Dengan membiarkan mereka menjadi kabur, menjadi sebuah nama tanpa wajah,
menjadi harga. Tapi aku tak bisa membiarkan orang menjadi kabur, Sela. Itulah
kelemahanku, atau kekuatanku, aku tak pernah tahu yang mana. Aku melihat
keluarga Wregu lebih jelas daripada aku melihat bunga-bunga ini. Aku selalu
akan. Dan selama aku melihat mereka, aku tak bisa menyebut kehilangan mereka
indah, dan aku tak bisa berhenti mencari cara, cara apa pun, dengan harga apa
pun, supaya tak ada keluarga lain yang harus membayar.”
❖
Dan di sanalah
keduanya berhenti, sebab keduanya telah mengatakan hal yang paling benar yang
mereka bisa katakan, dan kedua hal yang paling benar itu tidak bisa berdiri di
tempat yang sama.
Sebab Sela benar: sebuah dunia tanpa kehilangan adalah sebuah dunia tanpa
kelahiran, sebuah ladang yang dijaga selamanya tanpa satu bunga liar. Dan Awu benar:
keindahan yang dibeli dengan kematian seseorang yang punya nama hanya bisa
disebut indah oleh orang yang tak terlalu lama memandang wajah yang
membayarnya. Keduanya benar. Itulah tragedi yang tak bisa diperbaiki, tragedi
yang lebih dalam daripada satu yang benar dan satu yang salah: dua saudari yang
saling mencintai, memandang kebenaran yang sama dari dua tempat yang berbeda,
dan masing-masing melihat sesuatu yang nyata, dan sesuatu yang nyata itu tak
bisa didamaikan dengan sesuatu nyata yang dilihat oleh yang lain.
Mereka pulang dari ladang liar itu di sore hari, dan kali ini mereka
berjalan berdekatan, bukan dengan jarak seperti dari ladang utara, sebab kali
ini tak ada kemarahan, hanya kesedihan, dan kesedihan, tidak seperti kemarahan,
bisa dibagi. Mereka berjalan berdekatan dalam kesedihan yang sama, kesedihan
karena tahu bahwa mereka mencintai satu sama lain dan tak bisa mengikuti satu
sama lain, dan barangkali itu adalah bentuk kedekatan yang paling dalam yang
masih mungkin di antara mereka: bukan sepakat, melainkan berduka bersama atas
ketidaksepakatan yang tak bisa mereka sembuhkan.
Di belakang mereka, ladang liar keluarga Wregu meneruskan hidupnya yang
liar dan penuh, bunga-bunganya mekar dan layu dan mekar lagi, pohonnya tumbuh
setinggi jari lalu setinggi lengan, tak peduli pada dua saudari yang telah
datang dan berdebat dan pergi, tak peduli pada apa pun kecuali pada tugasnya
yang sederhana dan tak ada habisnya: menjadi, dan berakhir, dan dengan
berakhir, memberi ruang bagi yang menjadi berikutnya. Dan jauh di bawah ladang
itu, di bawah seluruh daratan, air terus naik dengan kelambatan yang tak
terlihat, dan air, bila ia bisa berbicara, akan mengatakan kepada kedua saudari
bahwa mereka berdua akan segera diuji, bahwa Sela akan diberi kesempatan untuk
melihat apakah ia masih bisa menyebut kehilangan indah ketika yang hilang
adalah segala-galanya, dan Awu akan diberi kesempatan untuk melihat apakah cara
untuk membuat tak ada yang membayar adalah cara yang ia bisa tanggung setelah
ia membayarnya. Air tahu. Air selalu tahu. Dan air, sabar dan asin dan tak
berpihak, terus menghitung di bawah ladang bunga liar, menuju malam ketika
kedua kebenaran akan bertemu dengan kebenaran yang lebih besar dan lebih dingin
daripada keduanya: bahwa air datang, apa pun yang dipercaya manusia, dan tak
peduli sedikit pun mana di antara mereka yang benar.
❖
BAGIAN IV
Bintang dan Firasat
BAB SEPULUH
Musim yang Salah
Sebuah bangsa tidak tenggelam karena ia
tak diperingatkan. Ia tenggelam karena peringatan datang sebagai sesuatu yang
masih bisa dirayakan, dan ia memilih merayakannya.
catatan yang ditemukan terukir di sebuah
batu Nagara Giri, jauh kemudian
Musim itu datang
terlambat, dan ia datang salah, dan keduanya bisa dijelaskan, itulah yang
membuat keduanya begitu mudah diabaikan.
Hujan, yang biasanya tiba ketika bintang burung terbit, tidak tiba. Ia
terlambat sepuluh hari, lalu dua puluh, dan ketika ia akhirnya datang ia datang
terlalu deras dan terlalu sebentar, mengisi kanal-kanal sampai meluap lalu
berhenti, meninggalkan tanah yang tergenang di tempat-tempat yang seharusnya
kering dan kering di tempat-tempat yang seharusnya basah. Padi tumbuh, tapi
tumbuh dengan keraguan, sebagian terlalu cepat dan sebagian tidak sama sekali,
dan para petani saling bertukar pandang di ladang dengan ekspresi yang tak
mereka punya kata untuknya, ekspresi orang yang merasakan ada yang salah pada
sesuatu yang terlalu besar dan terlalu lama untuk dilihat seluruhnya.
Tapi tiap hal, diambil sendiri, bisa dijelaskan. Musim memang kadang
terlambat; kakek bercerita tentang tahun-tahun ketika hujan terlambat sebulan
penuh. Kanal memang kadang meluap; itu sebabnya orang membangun tanggul. Padi
memang kadang tumbuh tak rata; itu sebabnya orang menanam lebih dari yang
dibutuhkan. Setiap tanda, sendiri-sendiri, adalah hal biasa yang pernah terjadi
sebelumnya dan akan terjadi lagi. Hanya bila seseorang menaruh semua tanda itu
berdampingan, musim yang terlambat, dan pasang yang lebih tinggi, dan sumur
yang menjadi payau, dan mata air yang berpindah ke darat, dan burung yang pergi
dan tak kembali, hanya bila seseorang menaruh semuanya dalam satu pandangan,
sebagaimana Giri Tua menaruh bintang dalam satu lingkaran, barulah tanda-tanda
itu berhenti menjadi banyak kebetulan kecil dan menjadi satu hal besar. Dan tak
seorang pun di Nagara Rata menaruh mereka dalam satu pandangan. Tak seorang
pun, kecuali satu gadis, yang telah diajari oleh dua orang asing dalam satu
musim cara melihat hal-hal yang terlalu lambat untuk dilihat.
❖
Sela
memperhatikan burung-burung itu pada suatu pagi di tepi kanal, dan butuh waktu
sebelum ia menyadari bahwa yang ia perhatikan adalah ketiadaan, bukan
keberadaan.
Burung-burung air selalu pergi pada akhir satu musim dan kembali pada
awal musim berikutnya; itu adalah ritme yang setua kanal itu sendiri, dan orang
Nagara Rata mengatur sebagian hidup mereka menurutnya, sebab kedatangan burung
berarti satu hal dan kepergian mereka berarti hal lain. Tahun ini mereka pergi
seperti biasa. Tapi mereka tidak kembali.
Bukan semuanya tidak kembali, itu akan terlalu jelas, terlalu mudah
ditakuti. Sebagian kembali. Tapi lebih sedikit. Jauh lebih sedikit, dan mereka
yang kembali tampak gelisah, tinggal lebih sebentar, lalu pergi lagi ke arah
utara, ke arah darat, sebagaimana mata air pergi ke arah darat, sebagaimana
segala sesuatu yang bisa merasakan air di dalam tanah pergi ke arah darat,
semuanya kecuali manusia, yang tinggal, sebab manusia telah mengukur dunia
dengan jarak dan bukan dengan waktu, dan jarak memberitahu mereka bahwa mereka
aman, dan waktu, yang akan memberitahu mereka kebenaran, adalah hal yang tak
bisa mereka baca.
Sela berdiri di tepi kanal dan menghitung burung, dan ketika ia selesai
menghitung ia merasakan sesuatu yang dingin di dadanya, sebab ia ingat, ia
adalah jenis yang mengingat, berapa banyak burung yang biasa ada di tepi kanal
ini pada pagi seperti ini, dan ia tahu bahwa yang ia lihat sekarang adalah
sebagian kecil dari itu. Burung tahu, ia berpikir. Burung tak bisa membaca
bintang dan burung tak punya batu yang menyimpan catatan, tapi burung tahu,
dengan pengetahuan yang lebih tua daripada membaca, bahwa tanah ini sedang
menjadi tanah yang salah, dan burung melakukan apa yang dilakukan oleh segala
sesuatu yang bijak dan tak terbebani oleh kebanggaan: ia pergi. Hanya kami yang
tinggal, pikir Sela. Hanya kami, yang menyebut diri kami pusat dunia, terlalu
bangga untuk pergi, terlalu yakin untuk takut. Burung lebih bijak dari kami.
Burung sudah pergi.
❖
Dan justru di
musim itu, musim yang salah, Nagara Rata bersiap untuk pesta panen yang paling
megah yang pernah diingat siapa pun.
Bukan kebetulan. Sela memahaminya, kelak, dengan kejelasan yang
menyakitkan: bahwa kemegahan pesta itu justru lahir dari kesalahan musim, bukan
terlepas darinya. Sebab orang-orang merasakan ada yang salah, mereka tidak
buta, mereka petani, mereka membaca tanah lebih baik daripada siapa pun, dan
justru karena mereka merasakannya, mereka membutuhkan, dengan kebutuhan yang
lebih dalam daripada akal, sesuatu yang akan menenggelamkan perasaan itu.
Mereka membutuhkan untuk meyakinkan diri mereka sendiri. Dan tak ada cara
meyakinkan diri yang lebih kuat daripada melimpah, daripada pesta, daripada
berdiri di tengah tumpukan makanan dan tawa dan musik dan berkata kepada
perasaan dingin di dalam dada: lihat, lihat betapa banyak yang kita punya,
betapa kaya kita, betapa diberkati, bagaimana mungkin ada yang salah pada dunia
yang memberi kita semua ini?
Maka mereka menyembelih lebih banyak ternak dari yang bijaksana untuk
disembelih. Mereka mengeluarkan padi yang seharusnya disimpan. Mereka
mengumpulkan dari empat penjuru daratan segala yang bisa dikumpulkan, dan
mereka menumpuknya di lapangan tempat empat kanal bertemu, tempat yang sama
dengan pasar, dan mereka menghias kota dengan segala yang mereka punya, sebab
sebagian dari mereka, tak seorang pun akan mengakuinya, tapi sebagian dari
mereka tahu, merasakan bahwa ini mungkin adalah pesta yang harus mereka ingat,
dan maka ia harus cukup besar untuk diingat.
Awu berada di tengah persiapan itu, di sisi Bapa, mengatur, dan ia
mengaturnya dengan kecakapan yang sama dengan kecakapan yang selalu ia bawa
pada segala hal. Bila ada bagian dalam dirinya yang merasakan ironi, bila empu
muda yang telah memandang buah yang menolak membusuk dan memikirkan keabadian
merasakan sesuatu yang ganjil tentang merayakan kelimpahan di musim yang salah,
ia tidak menunjukkannya. Atau barangkali ia tak merasakannya. Barangkali Awu,
yang begitu cerdas, telah melakukan apa yang dilakukan oleh yang cerdas ketika
kebenaran terlalu besar: ia telah membaginya menjadi bagian-bagian kecil yang
bisa ditangani, dan menyimpan bagian yang menakutkan di tempat yang tak perlu
ia pandang, dan menjalani hari-harinya di antara bagian-bagian yang aman,
mengatur pesta, melayani Bapa, membangun masa depan, sambil di suatu sudut
dirinya yang tak ia kunjungi, sebuah buah yang tak membusuk menunggu, dan
sebuah keputusan menunggu bersamanya.
❖
Lanang kembali
tiga hari sebelum pesta, sesuai musim, sesuai janjinya, untuk mengukur air.
Sela tahu ia datang sebelum ia melihatnya, sebab kabar tentang seorang
nakhoda Tirta yang masuk jauh ke pedalaman kini berjalan lebih cepat, orang
sudah mulai mengenalnya, dan mengenal kebiasaannya, dan beberapa bahkan mulai
memanggilnya dengan setengah ejekan dan setengah sayang sebagai orang yang
datang untuk berbicara dengan mata air. Sela menemukannya di tempat mereka
selalu bertemu, di tepi kanal, dan ketika ia melihatnya sesuatu di dadanya yang
telah dingin selama berhari-hari, sejak burung dan pesta dan musim yang salah,
menjadi sedikit lebih hangat, dan ia menyadari betapa ia telah merindukannya,
dan betapa berbahayanya merindukan seseorang yang hidupnya adalah pergi.
“Mata airmu, ” kata Lanang, sebagai salam, tapi matanya mengatakan hal
lain, hal yang lebih hangat, hal yang tak diucapkan. “Aku sudah melihatnya.
Yang baru, yang kau tunjukkan padaku musim lalu, yang sudah pindah ke darat.”
“Dan?”
“Ia pindah lagi. Lebih jauh ke darat. Beberapa langkah lagi, dalam satu
musim.” Ia mengatakannya pelan, dan Sela melihat di wajahnya bahwa ia telah
berhenti mengukur dengan harapan dan mulai mengukur hanya dengan kejujuran.
“Aku menandainya. Aku selalu menandai sekarang. Aku punya batu kakekku di
kampung, dan kini aku punya tanda mata airmu di sini, dan keduanya mengatakan
hal yang sama, dengan suara yang sama, yang tak mau berhenti: lebih cepat,
Sela. Air bergerak lebih cepat daripada yang kukira musim lalu. Bukan secepat
yang bisa dilihat orang biasa, tidak. Tapi lebih cepat daripada selutut dalam
empat generasi. Sesuatu telah berubah. Air yang besar sedang mempercepat
langkahnya.”
Mereka berdiri dengan kabar itu di antara mereka, di tepi kanal, dan di
kejauhan mereka bisa mendengar suara kota yang bersiap untuk pesta, musik yang
dilatih, ternak yang digiring, tawa anak-anak yang gembira oleh kegembiraan
yang akan datang. Dan kontras antara dua hal itu, kabar dingin di antara
mereka, dan kegembiraan hangat di kejauhan, begitu tajam sehingga Sela hampir
tak bisa menanggungnya.
“Mereka akan berpesta, ” katanya. “Besok lusa. Pesta panen terbesar yang
pernah ada. Dan air sedang mempercepat langkahnya, dan burung sudah pergi, dan
mereka akan berpesta seolah-olah dunia tak pernah lebih aman.”
Lanang memandangnya lama. “Dan kau?” tanyanya, lembut. “Akankah kau
berpesta bersama mereka?”
Sela memikirkannya. “Aku akan ada di sana, ” akhirnya ia berkata. “Aku
harus. Aku anak Bapa. Tapi aku tak akan berpesta, Lanang. Aku akan berdiri di
tengah pesta itu, dan aku akan mengingatnya. Setiap wajah. Setiap tawa. Aku
akan menyimpannya. Sebab bila orang tua dari perbukitan itu benar, bila air
datang, suatu hari, dan mengambil semua ini, maka pesta ini akan menjadi
sesuatu yang pernah ada, dan seseorang harus mengingat bahwa ia pernah ada, dan
menyimpannya dengan benar, supaya ia tidak menjadi seolah-olah ia tak pernah
ada. Itulah yang akan kulakukan di pesta. Aku akan menjadi orang yang
mengingatnya.”
❖
Malam sebelum
pesta, Sela tak bisa tidur, dan ia keluar dari rumah dan berdiri di halaman
tempat ia pernah mengubur seekor burung, dan ia memandang langit.
Ia tak bisa membaca langit sebagaimana Giri Tua membacanya, ia hanya
seorang gadis, dan satu malam pengajaran tak menjadikan seseorang pembaca
bintang, tapi ia bisa menemukan satu hal yang ditunjukkan kepadanya, satu hal:
burung bintang itu, yang membentangkan sayap, di ketinggian yang sama di atas
padi yang sama, susunan yang pernah berdiri di atas dunia ketika air yang besar
datang sebelumnya. Ia berdiri di sana, di sana, di atas Nagara Rata yang tidur
dan yang besok akan berpesta, dan Sela memandangnya, dan untuk pertama kalinya
ia tidak melihatnya sebagai sebuah peringatan tentang sesuatu yang jauh. Ia
melihatnya sebagai sesuatu yang sedang menonton. Sebagai mata. Sebagai sesuatu
yang telah melihat ini terjadi sebelumnya, sebuah bangsa yang berpesta di tepi
kehancurannya, dan akan melihatnya terjadi lagi, dengan kesabaran benda-benda
yang sangat tua, yang tak terkejut oleh apa pun, sebab mereka telah melihat
segalanya, berkali-kali, dalam putaran yang terlalu besar untuk diakhiri.
Dan di bawahnya, di bawah halaman, di bawah gundukan kecil tempat seekor
burung dulu dikubur dan dibisiki bahwa ia diingat, air bergerak. Lebih cepat
sekarang. Lanang benar; ia selalu benar, orang yang mengukur dan bukan menebak.
Air yang besar telah mempercepat langkahnya, dan ia bergerak di bawah daratan
yang tidur, asin dan sabar dan kini sedikit kurang sabar daripada dulu,
mendorong air tawar ke darat, mendorong burung ke darat, mendorong segala
sesuatu yang bisa merasakannya ke darat, segala sesuatu kecuali manusia, yang
besok akan berkumpul di lapangan tempat empat kanal bertemu, dan menumpuk
makanan setinggi seorang anak, dan menyalakan api, dan menyanyi, dan tertawa,
dan merayakan kelimpahan sebuah dunia yang sudah, di bawah kaki mereka, di
tempat yang tak bisa mereka lihat dan tak mau mereka rasakan, mulai diambil
dari mereka, sehasta demi sehasta, generasi demi generasi, menuju malam, masih
beberapa generasi jauhnya, tapi mendekat sekarang, mendekat lebih cepat
daripada dulu, ketika air akhirnya akan berhenti menghitung, dan mulai datang.
❖
BAB SEBELAS
Dewan yang Menertawakan
Kebenaran yang ditertawakan tidak
menjadi kurang benar. Ia hanya menunggu, dengan sabar, sampai tak ada lagi yang
tersisa untuk menertawakannya.
hukum para penjaga batu Nagara Giri
Orang tua dari
Giri itu kembali pada hari kedua setelah pesta panen, dan kepulangannya sendiri
adalah sebuah peringatan, sebab ia tak pernah kembali dalam tahun yang sama.
Ia datang menempuh jarak yang sama yang telah ia tempuh pulang beberapa
musim lalu, jarak yang berat bagi seseorang semuda apa pun dan hampir mustahil
bagi seseorang setua dia, dan ketika Sela melihatnya datang menyusuri tanggul,
kecil di kejauhan, bersandar pada tongkatnya, berjalan dengan kelambatan yang
menyakitkan untuk ditonton, ia tahu bahwa hanya satu hal yang bisa membawa
orang setua itu menempuh perjalanan seperti itu lagi, begitu cepat, di luar
musimnya. Ia tidak datang untuk berdagang. Ia tidak datang untuk meramal. Ia
datang karena ia telah membaca sesuatu di batu-batunya atau di langitnya yang
tak bisa ia diamkan, dan ia telah memutuskan untuk menghabiskan apa yang
barangkali tersisa dari kekuatannya untuk mengatakannya satu kali lagi, dengan keras,
di tempat yang mungkin mendengarnya.
Sela berlari menemuinya. Lanang, yang belum pergi, ikut bersamanya. Dan
ketika mereka mencapai orang tua itu di tanggul, ia berhenti, dan ia memandang
keduanya dengan matanya yang terbiasa memandang jauh, dan ada sesuatu di
matanya yang membuat Sela takut sebelum sepatah kata diucapkan.
“Bintang itu sudah penuh, ” katanya, ketika ia bisa bicara, sebab
napasnya pendek dari perjalanan. “Burung yang membentangkan sayap. Ia telah
mencapai ketinggian yang dicatat batu kami sebagai ketinggian terakhir,
ketinggian di mana, terakhir kali, air sudah tak bisa lagi dihentikan oleh apa
pun. Aku datang untuk mengatakannya kepada ayahmu. Bukan karena aku percaya ia
akan mendengar. Karena aku tak bisa hidup dengan tidak mengatakannya. Bawa aku
kepadanya, anak. Bawa aku ke dewan. Aku tak punya banyak perjalanan tersisa,
dan aku ingin menghabiskan yang terakhir ini dengan benar.”
❖
Dewan Nagara
Rata berkumpul di rumah Bapa, di ruang yang sama tempat jamuan dulu digelar,
tapi kali ini tanpa kehangatan jamuan, hanya para tetua, duduk dalam lingkaran,
dan di tengah mereka seorang tua dari perbukitan yang telah datang dua kali
untuk mengatakan satu hal.
Mereka berkumpul karena sopan santun, bukan karena percaya. Itu jelas
dari cara mereka duduk, dari pandangan yang mereka tukar, dari kesabaran yang
sudah letih bahkan sebelum siapa pun bicara. Orang tua dari Giri dihormati, ia
tamu, ia tua, ia membawa ilmu yang berguna, dan maka mereka akan
mendengarkannya, sebagaimana orang mendengarkan tamu yang dihormati yang
mengatakan sesuatu yang konyol: dengan wajah yang sopan, dan telinga yang sudah
menutup.
Awu duduk di sisi Bapa, di tempatnya, dan Sela duduk lebih jauh, di
antara yang muda, di tempatnya. Dan di antara mereka, di seberang lingkaran,
mata kedua saudari bertemu sekali, dan dalam tatapan itu ada seluruh sejarah
dari apa yang telah mereka katakan satu sama lain di ladang utara dan ladang
liar, dan keduanya tahu bahwa apa yang akan terjadi di ruang ini adalah versi
besar, versi publik, dari pertengkaran yang telah mereka lakukan dalam versi
kecil dan privat. Sela memohon dengan matanya. Awu memandang kembali dengan
mata yang menyesal dan tak tergoyahkan, mata seseorang yang sudah memutuskan di
pihak mana ia berdiri dan tahu bahwa pihak itu akan menyakiti saudarinya.
Orang tua dari Giri berbicara. Ia berbicara dengan baik, lebih baik
daripada Sela duga, sebab usia telah mengajarinya bahwa kebenaran tanpa
kefasihan adalah kebenaran yang tak didengar. Ia tidak memulai dengan ramalan,
ia tahu ramalan akan ditertawakan. Ia memulai dengan apa yang bisa dilihat dan
dihitung. Mata air yang berpindah ke darat. Sumur yang menjadi payau. Burung
yang pergi dan tak kembali. Garis pantai yang bergeser di batu seorang nakhoda,
yang ada di ruangan ini, yang bisa bersaksi. Ia menumpuk tanda di atas tanda,
sebagaimana Sela pernah menumpuknya dalam pikirannya, sampai semua tanda itu
berdiri bersama dalam satu pandangan, dan untuk sesaat, Sela merasakannya,
harapan yang menyakitkan itu lagi, untuk sesaat ruangan itu hening dengan
keheningan yang mungkin saja adalah awal dari mendengar.
❖
“Aku punya
seorang saksi, ” kata orang tua itu, dan ia memberi isyarat kepada Lanang, yang
berdiri.
Seorang nakhoda Tirta berdiri di hadapan dewan Nagara Rata, itu sendiri
adalah hal yang ganjil, hampir tak pantas, seorang asing pesisir berbicara di
ruang tempat daratan memutuskan urusannya sendiri, dan Sela melihat
ketidaknyamanan itu bergerak di sekeliling lingkaran seperti riak. Tapi Lanang bicara
dengan tenang, dengan ketenangan orang yang telah berhenti berharap dan tinggal
mengukur, dan ia menceritakan batunya: empat takik, empat nakhoda, air setinggi
lutut. Dan kemudian, lebih buruk, ia menceritakan mata air Sela, yang berpindah
ke darat dua kali dalam dua musim, lebih cepat sekarang, mempercepat
langkahnya.
“Aku tidak meminta kalian percaya pada langit, ” Lanang menutup. “Aku tak
bisa membaca langit; itu urusan orang tua ini. Aku hanya bisa mengukur air, dan
air mengatakan satu hal, dan ia mengatakannya di kampungku dan ia mengatakannya
di sini, di tanah kalian, di mata air kalian sendiri: ia naik, dan ia
mempercepat. Itu bukan ramalan. Itu pahat dan batu. Pergilah ke mata air di
cekungan utara, dan kalian akan menemukannya kering, dan kalian akan menemukan
yang baru beberapa langkah lebih ke darat, dan tahun depan ia akan lebih jauh
lagi. Itu bisa kalian lihat dengan mata kalian sendiri. Aku hanya meminta
kalian melihatnya.”
Untuk sesaat lagi, ruangan hening. Dan dalam keheningan itu, salah satu
tetua, bukan Bapa, seorang yang lebih muda, yang ingin menyenangkan Bapa dengan
mengatakan apa yang ia tahu Bapa pikirkan, tertawa kecil, tawa yang dimaksudkan
untuk memecahkan ketegangan, dan berkata: “Mata air pindah. Burung terbang. Dan
seorang nakhoda yang mengukur air dengan pahat ingin kita meninggalkan daratan
kita. Berapa yang ia minta, kupikir, untuk membawa kita ke tempat aman dengan
perahunya?”
Dan beberapa tetua tersenyum, sebab tuduhan itu, bahwa kabar buruk adalah
dagangan, bahwa ketakutan dijual oleh orang yang diuntungkan oleh ketakutan,
adalah cara yang nyaman untuk tidak perlu mendengarnya. Lanang tidak membela
diri. Ia hanya memandang tetua yang bicara dengan tatapan lelah, tatapan orang
yang telah mendengar tuduhan ini sebelumnya dan tahu bahwa membantahnya tak ada
gunanya, sebab tuduhan itu tak pernah benar-benar tentang kebenaran kabarnya,
melainkan tentang keinginan untuk tidak mempercayainya.
❖
Dan kemudian
Bapa Rata berbicara, dan ketika Bapa berbicara, semua diam, sebab pada akhirnya
keputusan ada padanya, dan semua tahu, bahkan sebelum ia membuka mulut, apa
yang akan ia katakan.
Ia tidak berbicara dengan kemarahan. Itu, sekali lagi, adalah yang paling
buruk. Ia berbicara dengan kebaikan, dengan kebijaksanaan seorang tua yang
telah memimpin dengan baik selama bertahun-tahun dan telah benar lebih sering daripada
siapa pun, dan yang kini, untuk pertama kalinya dalam hal yang paling penting,
akan menjadi keliru dengan seluruh kekuatan dari reputasinya untuk menjadi
benar.
“Sahabatku dari perbukitan, ” katanya, kepada orang tua Giri, “kau telah
menempuh perjalanan yang berat, dua kali, untuk mengatakan kepada kami sesuatu
yang kau percaya menyelamatkan kami. Itu adalah tindakan seorang sahabat
sejati, dan aku menghormatinya, dan aku tak akan pernah melupakannya.” Ia
berhenti. “Tapi aku harus memimpin daratan ini berdasarkan apa yang nyata,
bukan apa yang ditakuti. Dan inilah yang nyata. Mata air berpindah; mereka
selalu berpindah. Sumur menjadi payau; sebagian sumur selalu payau, dan kami
menggali yang baru. Burung pergi; mungkin mereka akan kembali tahun depan, dan
kalau tidak, akan datang burung lain. Air naik di pesisir; pesisir adalah
tempat air, dan kami bukan pesisir. Tiap hal yang kau katakan, sahabatku,
adalah benar. Dan tiap hal, diambil sendiri, adalah hal yang pernah terjadi
sebelumnya dan tak menenggelamkan siapa pun.”
“Tapi diambil bersama, ” mulai orang tua Giri.
“Diambil bersama, ” Bapa memotong, lembut, “mereka membentuk sebuah
cerita yang menakutkan. Aku mengerti. Tapi sebuah cerita yang menakutkan
bukanlah kebenaran, sahabatku. Manusia selalu bisa mengambil banyak hal kecil
yang benar dan menumpuknya menjadi satu hal besar yang menakutkan. Itu adalah
bakat tertua kita, dan bakat yang paling berbahaya, sebab ia membuat kita
meninggalkan yang nyata demi yang dibayangkan.” Ia memandang ke sekeliling
lingkaran, dan suaranya naik, mengisi ruangan, dan Sela mendengar di dalamnya
bukan kebodohan, Bapa tidak bodoh, itulah tragedinya, melainkan keyakinan yang
begitu dalam sehingga ia telah berhenti bisa membedakan dirinya dari kebenaran.
“Berdirilah di pintu ini dan pandang keluar. Daratan, sejauh mata memandang.
Setiap kota, setiap kanal, setiap ladang yang dibangun oleh tangan ayah dari
ayah kita. Air ingin mengambil ini? Biarkan ia mencoba. Biarkan ia menyeberangi
seribu kota. Biarkan ia menelan setiap dusun antara pesisir dan kita. Air
tunduk pada Nagara Rata, sahabatku. Ia mengalir di kanal yang kita gali. Ia
berhenti di tanggul yang kita bangun. Ia datang ketika kita memanggilnya dan
pergi ketika kita menyuruhnya. Tiga ribu tahun ia menjadi hamba kita. Ia tidak
akan menjadi tuan kita sekarang.”
Dan ruangan, yang telah menahan napas, menghembuskannya dalam gumaman
setuju, dalam anggukan, dalam kelegaan orang yang diberi izin untuk tidak
takut. Keputusan telah dibuat. Tidak akan ada perubahan. Kanal selatan akan
digali. Daratan akan diperluas. Dan kabar buruk seorang nakhoda dan ramalan
seorang tua dari perbukitan akan menjadi, dalam seminggu, sebuah cerita yang
diceritakan orang dengan tawa: ingat ketika orang Tirta itu mencoba menakuti
dewan, dan Bapa menaruhnya di tempatnya?
❖
Orang tua dari
Giri tidak membantah lagi. Ia telah hidup terlalu lama untuk membuang sisa
kekuatannya melawan sebuah pintu yang telah ditutup. Ia hanya menundukkan
kepalanya, sebagaimana ia menundukkannya di jamuan dulu, dan ia berdiri,
perlahan, dengan bantuan tongkatnya.
Tapi di ambang, sebelum ia pergi, ia berhenti, dan ia mengatakan satu hal
terakhir, bukan kepada dewan, bukan kepada Bapa, melainkan ke ruangan secara
keseluruhan, ke udara, ke batu-batu rumah yang akan, ia tahu, hidup lebih lama
daripada orang-orang yang duduk di dalamnya.
“Kalian benar bahwa air telah menjadi hamba kalian selama tiga ribu
tahun, ” katanya. “Aku tak akan membantahnya. Tapi aku akan mengatakan kepada
kalian satu hal yang diketahui orang-orang perbukitan yang tak diketahui orang
daratan, sebab kami tinggal di tempat di mana kami bisa melihat jauh, dan
kalian tinggal di tempat di mana segala sesuatu tampak dekat dan rata dan
abadi. Tidak ada hamba yang menjadi hamba selamanya. Setiap hamba menunggu. Air
telah melayani kalian selama tiga ribu tahun bukan karena ia tunduk, melainkan
karena, selama tiga ribu tahun, melayani kalian dan menunggu adalah hal yang
sama baginya. Tapi ia menunggu, sahabat-sahabatku. Sepanjang tiga ribu tahun
itu, di bawah setiap kanal yang kalian banggakan, ia menunggu. Dan apa yang
menunggu cukup lama selalu, pada akhirnya, sampai pada gilirannya.”
Lalu ia pergi, dan kali ini ia tak akan kembali, dan Sela tahu itu
memandangnya menyusuri tanggul untuk terakhir kalinya, semakin kecil, sampai
daratan yang datar dan yakin menelannya ke dalam jaraknya sendiri, seorang tua
yang telah menghabiskan perjalanan terakhirnya untuk mengatakan sebuah
kebenaran yang ditertawakan, dan yang pergi tanpa kepahitan, sebab ia tahu
sesuatu yang membuat kepahitan tak ada gunanya: bahwa kebenaran tidak
membutuhkan untuk dipercaya agar menjadi benar, dan bahwa air tidak membutuhkan
izin dewan untuk datang.
Dan di bawah rumah tempat dewan telah memutuskan untuk tidak takut, di
bawah seluruh daratan yang malam ini tidur dengan nyenyak dari kelegaan telah
diberitahu bahwa ia aman, air menunggu, sebagaimana ia telah menunggu selama tiga
ribu tahun, asin dan sabar di bawah air tawar yang melarikan diri darinya, di
bawah kanal-kanal yang mengira mereka menguasainya, di bawah tanggul-tanggul
yang mengira mereka menahannya. Ia tidak tersinggung oleh tawa dewan. Air tidak
bisa tersinggung. Ia hanya menunggu, dengan kesabaran yang telah lama melampaui
kesabaran dan menjadi sesuatu yang lebih dekat pada kepastian, gilirannya yang
sedang datang, masih beberapa generasi jauhnya, tapi datang, datang lebih cepat
sekarang, mendekat di bawah daratan yang tertawa, menuju malam ketika hamba
yang telah menunggu tiga ribu tahun akhirnya akan berdiri, dan mengambil apa
yang selama ini hanya ia jaga.
❖
BAB DUA BELAS
Awu Memilih Diam
Yang paling sulit dimaafkan bukanlah
orang yang tak percaya pada bahaya. Melainkan orang yang percaya, dan diam, dan
menyelamatkan dirinya sendiri.
yang tak pernah dikatakan siapa pun
tentang Ratu Kidul, sebab tak ada yang tahu cukup untuk mengatakannya
Pada malam
setelah dewan, ketika seluruh Nagara Rata tidur dengan kelegaan telah
diberitahu bahwa ia aman, Awu tidak tidur.
Ia berbaring di tempatnya, dekat perapian, mendengarkan napas Sela yang
tidur di sampingnya, atau yang berpura-pura tidur; Awu tak pernah yakin, di
malam-malam itu, mana di antara mereka yang benar-benar tidur dan mana yang
hanya berbaring diam supaya yang lain tak perlu bicara, dan ia memandang ke
atap yang tinggi dan gelap, dan ia memikirkan apa yang telah ia dengar di
dewan. Dan untuk pertama kalinya, sendirian dalam gelap, di tempat di mana tak
ada Bapa untuk dilayani dan tak ada tetua untuk diyakinkan dan tak ada saudari
untuk dilawan, Awu membiarkan dirinya berpikir hal yang tak ia izinkan dirinya
pikirkan di siang hari.
Ia berpikir: bagaimana bila mereka benar.
Bukan orang Tirta itu sendiri, Awu tak terlalu peduli pada orang Tirta
itu, yang ia anggap, dengan ketidakadilan yang ia ketahui ketidakadilannya,
sebagai sesuatu yang mengambil saudarinya darinya. Bukan pula orang tua dari
perbukitan, walau orang tua itu sulit untuk diabaikan. Melainkan
tanda-tandanya. Mata air yang berpindah ke darat. Sumur yang menjadi payau.
Burung yang tak kembali. Awu telah mendengar semuanya di dewan, dan ia telah
menyaksikan Bapa membantah semuanya, dan ia telah mengangguk bersama yang lain,
dan ia telah merasa lega bersama yang lain. Tapi Awu cerdas, lebih cerdas dari
Bapa, ia tahu ini tanpa kesombongan, sebagaimana seseorang tahu ia lebih tinggi
atau lebih cepat dari orang lain, dan kecerdasan itu, di malam hari, ketika tak
ada yang menyaksikannya, tak bisa berbohong kepada dirinya sendiri sebaik yang
bisa dilakukannya di siang hari.
Bapa membantah tiap tanda dengan mengambilnya sendiri-sendiri, dan tiap
tanda, sendiri, memang bisa dibantah. Tapi Awu telah mengamati cara Empu Wani
berpikir, dan Empu Wani telah mengajarinya, tanpa pernah mengatakannya, satu
hal: bahwa kebenaran sering bersembunyi bukan di dalam satu hal melainkan di
dalam pola dari banyak hal, dan bahwa orang yang membantah sebuah pola dengan
membantah tiap bagiannya secara terpisah adalah orang yang telah memutuskan,
sebelum ia mulai, untuk tidak melihat pola itu. Bapa telah memutuskan untuk
tidak melihat. Dan Awu, di malam hari, tidak bisa tidak melihat.
❖
Maka ia tahu.
Itulah hal yang harus dipahami tentang Awu, hal yang membuat segala yang ia
lakukan berikutnya menjadi bukan kebodohan melainkan sesuatu yang jauh lebih
gelap dan lebih manusiawi: ia tahu.
Ia tahu bahwa air datang. Mungkin tidak dalam hidupnya, bahkan orang tua
Giri mengatakan itu, bahkan Lanang, mungkin tidak dalam hidup anak-anaknya.
Tapi ia datang, dan ia mempercepat langkahnya, dan suatu hari, kepada seseorang
yang membawa darah Nagara Rata, ia akan tiba. Awu tahu ini dengan bagian
dirinya yang tak bisa berbohong, bagian yang sama yang membuatnya unggul dalam
segala hal, dan untuk beberapa malam ia berbaring dengan pengetahuan itu,
memutarnya, mencari apa yang harus dilakukan dengannya.
Dan di sinilah, kelak, seseorang yang menceritakan kisahnya akan
berhenti, dan berkata: di sinilah ia bisa menjadi pahlawan. Sebab ada sebuah
jalan, di persimpangan itu, yang terbuka bagi Awu, dan jalan itu jelas, dan
jalan itu sulit, dan jalan itu adalah jalan yang akan dipilih oleh seseorang
yang baik. Jalan itu adalah: gunakan apa yang kau tahu. Kau adalah anak Bapa,
calon penggantinya, yang paling cerdas di daratan. Kau memiliki pengaruh, dan
kau memiliki waktu, bukan banyak, tapi beberapa generasi, dan beberapa generasi
adalah cukup untuk hal-hal besar. Mulailah memindahkan orang ke darat, sedikit
demi sedikit, tanpa panik, sepanjang generasi. Bangun di tanah yang lebih
tinggi. Ajari anak-anak tentang air. Lakukan apa yang diminta orang Tirta itu:
bukan melarikan diri, melainkan bersiap, mengingat, mewariskan, supaya ketika
air akhirnya datang, ia menemukan sebuah bangsa yang telah lama tahu ia akan
datang, dan telah lama bersiap, dan tidak tenggelam bersama kebanggaannya.
Itulah jalan pahlawan. Awu melihatnya dengan jelas. Ia bahkan, untuk
beberapa malam, mempertimbangkannya. Dan kemudian ia menolaknya, dan alasan ia
menolaknya adalah hal yang paling penting yang harus dipahami tentang perempuan
yang kelak akan menjadi Ratu Kidul.
❖
Ia menolaknya
bukan karena ia jahat. Ia menolaknya karena ia memandang jalan itu sampai ke
ujungnya, sebagaimana ia memandang segala hal sampai ke ujungnya, dan di
ujungnya ia melihat sesuatu yang tak bisa ia tanggung.
Sebab jalan pahlawan, bila diikuti sampai ke ujungnya, mengarah ke satu
hal: penerimaan. Untuk menyiapkan sebuah bangsa menghadapi air adalah untuk
menerima bahwa air akan menang. Untuk memindahkan orang ke darat, untuk
mengajari anak-anak mengingat, untuk mewariskan kebenaran sepanjang generasi,
semua itu bersandar pada satu pengandaian yang tak terucap: bahwa daratan ini
akan hilang. Bahwa Nagara Rata, kota-kota lurus ini, kanal-kanal ini, rumah
tempat ia tidur di samping saudarinya, semua ini akan menjadi dasar laut, dan
yang terbaik yang bisa dilakukan siapa pun adalah memastikan bahwa
orang-orangnya selamat untuk mengingatnya, di tempat lain, di tanah lain,
sebagai sesuatu yang dulu ada.
Dan itulah persis yang tak bisa diterima Awu. Itulah cacat di jantung
dunia yang telah menyiksanya sejak ia masih kecil, sejak sebelum burung mati di
halaman, cacat yang ia lihat dan saudarinya lihat dan keduanya menjawab dengan
cara yang berlawanan. Sela menjawabnya dengan mengingat: ya, ia akan hilang,
dan aku akan menyimpannya supaya kehilangannya tidak sempurna. Jalan pahlawan
adalah jalan Sela, diperbesar ke ukuran sebuah bangsa: ya, ia akan hilang, dan
kita akan bersiap supaya kehilangannya tidak total. Tapi keduanya, pada
dasarnya, adalah jalan penerimaan. Keduanya berkata kepada air: kau akan
menang, dan kami hanya akan mengatur seberapa anggun kekalahan kami.
Awu tidak bisa berkata itu. Sesuatu di dalam dirinya, mata empu, hati
raja, atau barangkali hanya sebuah luka yang tak pernah sembuh sejak ia pertama
kali menyadari bahwa segala sesuatu berakhir, sesuatu di dalam dirinya menolak
untuk berkata kepada air: kau akan menang. Dan bila ada jalan lain, jalan mana
pun, betapapun gelap, betapapun mahal, yang memungkinkannya untuk berkata
sebaliknya, untuk berkata kepada air: tidak, kau tidak akan menang, tidak atas
apa yang kupilih untuk kuselamatkan, maka itulah jalan yang akan ia pilih,
walau ia harus berjalan di atasnya sendirian, walau ia harus meninggalkan
saudarinya di belakang, walau harga jalan itu adalah segala sesuatu yang
membuat hidup layak dijalani.
❖
Maka ia bangun,
di malam ketiga setelah dewan, ketika ia akhirnya yakin akan apa yang akan ia
lakukan, dan ia pergi ke Empu Wani.
Ia pergi di malam hari, diam-diam, melewati saudarinya yang tidur atau
berpura-pura tidur, melewati Bapa yang tidur dengan keyakinan seorang lelaki
yang telah menaruh sebuah ancaman di tempatnya, melewati kota yang tidur dengan
kelegaan. Ia berjalan ke tepi kota, ke rumah yang terlalu besar untuk seseorang
yang tinggal sendiri, dan ia mendapati Empu Wani terjaga, sebab Empu Wani
selalu terjaga, sebab orang yang berurusan dengan menghapus waktu barangkali
tak lagi tidur sebagaimana orang lain tidur.
Ia tidak terkejut melihat Awu. Itulah hal pertama yang Awu perhatikan,
dan hal yang seharusnya memperingatkannya, walau ia terlalu jauh dalam
keputusannya untuk diperingatkan: bahwa Empu Wani tidak terkejut, bahwa ia
memandang Awu datang di tengah malam dengan ekspresi seseorang yang telah lama
menunggu seorang tamu yang ia tahu pasti akan datang.
“Kau telah memutuskan, ” katanya. Bukan pertanyaan.
“Air datang, ” kata Awu. “Aku tahu ini. Dewan tidak tahu, atau tak mau
tahu, tapi aku tahu. Dan aku tidak akan, ” suaranya, yang selalu mantap,
bergetar sedikit, dan ia membencinya, dan ia melanjutkan melewatinya, “, aku
tidak akan menerimanya. Aku tidak akan menghabiskan hidupku menyiapkan sebuah
kekalahan yang anggun. Kau mengatakan kepadaku, dulu, bahwa waktu bisa diambil
dari dalam sebuah benda. Dari buah. Dari kayu. Dari, segala sesuatu yang sama.
Aku datang untuk bertanya: seberapa besar? Berapa banyak yang bisa kau buang
waktunya? Sebuah buah, ya. Tapi sebuah rumah? Sebuah orang? Banyak orang?
Sebuah, ” ia berhenti, di tepi sebuah kata yang terlalu besar.
“Sebuah istana, ” kata Empu Wani, pelan, menyelesaikannya untuknya,
sebagaimana ia selalu membiarkan Awu mengucapkan setengahnya lalu mengucapkan
setengah yang lain, supaya keputusan itu selalu terasa setengah milik Awu.
“Sebuah keluarga. Sebuah seluruh kaum bangsawan yang waktunya telah dibuang,
yang tak bisa lagi ditelan air, sebab apa yang air ambil adalah apa yang
berakhir, dan kalian tidak akan lagi mengandung akhir.” Ia memandang Awu dengan
matanya yang dekat dan tajam. “Itu yang kau tanyakan. Dan jawabannya adalah ya.
Secara prinsip, ya. Aku telah memikirkannya lebih lama daripada yang kau
bayangkan. Tapi aku harus mengatakan kepadamu harganya, anak, sebab aku bukan
orang jahat, apa pun yang dikatakan orang tentangku. Harganya adalah yang sama
dengan harga buah itu. Kalian tidak akan menua. Kalian tidak akan hilang. Dan
kalian tidak akan, ”
“Aku tahu harganya, ” kata Awu, memotongnya, sebab ia tak bisa menanggung
mendengarnya diucapkan keras-keras, sebab selama ia tak mendengarnya diucapkan
ia bisa berpura-pura ia tak sepenuhnya memahaminya. “Aku sudah memegang buah
itu. Aku tahu apa rasanya di tangan. Aku tahu apa yang hilang darinya. Aku
tidak peduli. Lebih baik utuh dan kosong selamanya daripada penuh dan hilang.
Lebih baik menjadi seperti buah itu daripada menjadi seperti keluarga Wregu,
yang kini hanya nama, hanya tanah tempat bunga liar tumbuh. Ajari aku. Apa pun
yang dibutuhkan, ajari aku. Aku akan membayar harganya, dan aku akan
membayarnya untuk semua orang yang kucintai yang bersedia membayarnya
bersamaku.”
❖
Dan Empu Wani
mengangguk, dan mulai mengajarinya, dan itulah malam ketika Ratu Kidul mulai
ada, bukan di dasar laut, bukan dalam keabadian, melainkan di sebuah rumah di
tepi kota, dalam seorang gadis yang memutuskan bahwa ia lebih suka tidak hidup
daripada kehilangan.
Tapi ada satu hal yang tak ia lihat, malam itu, satu hal yang akan ia
perlukan sepuluh ribu tahun untuk benar-benar memahaminya, dan inilah hal itu:
bahwa ketika ia berkata lebih baik utuh dan kosong daripada penuh dan hilang,
ia mengira ia sedang memilih untuk menyelamatkan apa yang ia cintai. Ia mengira
ia sedang berkata kepada air: kau tidak akan mengambil Bapa, kau tidak akan
mengambil rumah ini, kau tidak akan mengambil, ia hampir tak berani
memikirkannya, kau tidak akan mengambil Sela. Ia mengira menghalus adalah cara
untuk memegang yang ia cintai begitu erat sehingga air tak bisa merenggutnya.
Ia belum mengerti, bagaimana ia bisa, ia masih muda, ia masih hidup, ia masih
memiliki tubuh yang mengandung waktu, bahwa memegang sesuatu begitu erat
sehingga ia tak bisa hilang adalah cara lain untuk kehilangannya. Bahwa buah
yang tak membusuk juga tak bisa dimakan, tak bisa dibagi, tak bisa dinikmati;
ia hanya bisa dipandang, selamanya, utuh dan tak tersentuh dan sendiri. Bahwa
apa yang akan ia selamatkan dengan menghalus bukanlah Bapa, bukan rumah, bukan
Sela, sebab Sela tak akan pernah ikut, Awu sudah tahu ini, jauh di dalam, walau
ia belum mengizinkan dirinya tahu, melainkan hanya dirinya sendiri, sendirian,
utuh dan kosong dan abadi, memandang ke atas dari dasar laut pada sebuah dunia
yang telah ia pilih untuk tidak ia tanggung kehilangannya, dan yang, karena
pilihan itu, akan ia kehilangan lebih total daripada Sela, yang merelakannya,
akan pernah kehilangannya.
Tapi itu nanti. Malam itu, Awu hanya belajar. Ia duduk di rumah Empu Wani
sampai menjelang fajar, dan ia menyerap apa yang diajarkan kepadanya, dengan mata
empu dan hati raja dan luka yang tak sembuh, dan ketika ia pulang menjelang
pagi, melewati saudarinya yang tidur, ia berhenti sejenak di samping Sela, dan
ia memandangnya, dan sesuatu di dadanya yang ia telah putuskan untuk membuang
waktunya berdenyut, untuk terakhir kali barangkali, dengan sesuatu yang sangat
dekat dengan duka. Lalu ia berbaring, dan ia menutup matanya, dan di luar, di
sepanjang kanal yang lurus dan setia, air mengalir ke mana ia disuruh, dan
menyimpan apa yang jatuh ke dalamnya, dan menunggu, tidak tahu, atau barangkali
tahu dengan cara air tahu, bahwa di rumah di atasnya seorang gadis baru saja
memilih untuk bertemu dengannya bukan sebagai mangsa, melainkan sebagai sesuatu
yang akan turun ke dalamnya dengan sukarela, dan tinggal di dasarnya, utuh dan
kosong, lebih lama daripada air itu sendiri akan ingat mengapa ia pernah
datang.
❖
BAGIAN V
Ambang
BAB TIGA BELAS
Air Masuk Kanal
Bencana besar tidak datang sebagai
bencana. Ia datang sebagai sesuatu yang kecil dan ganjil, sesuatu yang bisa
dijelaskan, sesuatu yang masih bisa kau pungkiri, sampai pada suatu pagi kau
tak bisa lagi.
yang dipahami terlambat oleh orang
Nagara Rata
Air masuk ke
kanal kota pada sebuah pagi yang dalam segala hal lain tampak biasa, dan itulah
cara bencana besar selalu datang: pada pagi yang biasa, lewat sebuah hal kecil,
sehingga ketika orang mengingatnya kemudian mereka tak bisa percaya bahwa
langit tidak memberi tanda yang lebih besar.
Seorang perempuan menemukannya pertama. Ia turun ke kanal di tepi kota
untuk mengambil air, sebagaimana ia turun setiap pagi, sebagaimana ibunya turun
dan nenek ibunya turun, ke kanal yang sama yang telah memberi air tawar kepada
kota sejak kota berdiri. Ia mencelupkan periuknya, dan ia mengangkatnya, dan,
sebab ia haus, sebab pagi itu panas, sebab tak ada alasan di dunia untuk tidak
melakukannya, ia minum.
Dan ia memuntahkannya. Asin. Bukan asin yang aneh sedikit, bukan payau
seperti sumur yang mulai rusak, asin seperti laut, asin seperti air mata, asin
dengan rasa yang tak seorang pun di kota itu pernah rasakan di kanal mereka,
sebab kanal mereka membawa air dari sungai-sungai daratan, dari hujan yang
jatuh di tanah tinggi, dari segala sesuatu kecuali laut. Laut ada terlalu jauh
untuk masuk ke kanal kota. Itu telah benar selama tiga ribu tahun. Pagi itu, ia
berhenti benar.
Perempuan itu berdiri di tepi kanal dengan rasa asin di mulutnya dan
periuk di tangannya, dan ia memandang air yang tampak persis seperti air yang
selalu ada di sana, jernih, tenang, mengalir lurus ke arah yang selalu ia alir,
dan ia merasakan sesuatu yang tak ia punya nama untuknya, sesuatu yang lebih
tua daripada ketakutan, sesuatu yang bangkit dari bagian tubuh yang tahu
sebelum pikiran tahu. Lalu ia berlari, periuknya tertinggal, untuk memberitahu
seseorang, siapa pun, bahwa kanal telah berubah menjadi laut.
❖
Mula-mula,
sebagaimana yang sudah bisa diduga, mereka menjelaskannya.
Para tetua datang ke kanal, dan mereka mencicipi air, dan mereka mengakui
bahwa ya, ia asin, dan kemudian mereka mulai, dengan kefasihan orang yang telah
lama berlatih, menjelaskan mengapa itu tak berarti apa-apa. Mungkin sebuah lapisan
garam di dalam tanah telah pecah, di suatu tempat di hulu, dan mencemari air,
itu terjadi kadang-kadang, di tempat-tempat tertentu. Mungkin ada bangkai di
kanal, sesuatu yang membusuk, yang mengubah rasa. Mungkin, dan ini adalah
penjelasan yang paling disukai, sebab ia paling menenangkan, mungkin ini hanya
satu pagi, satu keanehan, sesuatu yang akan berlalu dengan air berikutnya,
dengan hujan berikutnya, dengan hari berikutnya.
Maka mereka menunggu hari berikutnya. Dan pada hari berikutnya, air masih
asin. Dan mereka menunggu lagi, dan menjelaskan lagi, dan pada hari ketiga
seseorang yang lebih jujur atau lebih takut daripada yang lain menelusuri kanal
ke arah dari mana air datang, ke selatan, selalu ke selatan, dan ia menemukan,
di tempat kanal kota bertemu dengan kanal yang lebih besar yang datang dari
arah pesisir, bahwa air asin masuk dari sana, dari arah laut, mengalir ke hulu,
ke daratan, ke tempat yang selama tiga ribu tahun hanya dialiri oleh air yang
mengalir ke arah sebaliknya.
Kanal tidak rusak. Tak ada lapisan garam yang pecah, tak ada bangkai.
Yang terjadi jauh lebih sederhana dan jauh lebih mengerikan: laut telah naik
cukup tinggi, dan telah datang cukup dekat, sehingga pada pasang tertinggi ia
kini bisa mendorong dirinya ke dalam mulut kanal yang menghadap ke pesisir, dan
mengalir ke hulu, melawan arah yang seharusnya, ke jantung daratan. Air laut
tidak lagi menunggu di kejauhan. Ia telah menemukan sebuah pintu, pintu yang
digali oleh tangan manusia sendiri, kanal yang dibangun untuk membawa air tawar
ke laut, kini membawa air asin dari laut, dan ia telah masuk.
❖
Sela mendengar
kabar itu di hari pertama, dan ia tidak perlu menunggu hari ketiga untuk
memahami apa artinya, sebab ia telah diajari, dan sebab ia telah mengingat.
Ia pergi ke kanal dan ia mencicipi air dengan tangannya sendiri, dan ia
merasakan laut di tempat yang seharusnya tawar, dan ia memikirkan semua yang
telah menuntunnya ke pagi ini: mata air yang berpindah ke darat, sumur yang
menjadi payau, burung yang pergi, batu Lanang dengan empat takiknya, bintang
burung yang telah mencapai ketinggian terakhirnya. Semua tanda itu, selama ini,
terjadi di tempat yang tak bisa dilihat, di bawah tanah, di langit, di pesisir
yang jauh. Pagi ini, untuk pertama kalinya, salah satu dari mereka telah naik
ke permukaan, ke tempat yang tak bisa diabaikan, ke mulut setiap orang di kota
yang minum dari kanal. Air telah berhenti memberi tanda yang hanya bisa dibaca
oleh pengingat. Ia telah mulai memberi tanda yang bisa dirasakan oleh lidah.
Ia menemukan Lanang di tepi kota, dan ia tak perlu mengatakan apa-apa,
sebab Lanang sudah tahu, sebab seorang pelaut mengenali laut bahkan ketika ia
datang di tempat yang salah.
“Ia masuk lewat kanal, ” kata Lanang. Wajahnya pucat, dan untuk pertama
kalinya sejak Sela mengenalnya, ada ketakutan yang nyata di sana, bukan
kekhawatiran terukur seorang yang mengukur air, melainkan ketakutan manusia
biasa yang melihat sesuatu yang ia tahu akan datang tiba lebih cepat dari yang
ia harapkan. “Aku tak menduga ini. Aku menduga air akan datang dari bawah,
lewat tanah, pelan, sepanjang generasi. Aku tak menduga ia akan menemukan
kanal. Kanal-kanal kalian, Sela, yang kalian banggakan, yang kalian gali lurus
dan dalam dari pesisir ke jantung daratan, mereka adalah jalan. Kalian menggali
jalan untuk air, selama tiga ribu tahun, dan kalian menyebutnya membawa air ke
laut. Tapi sebuah jalan berjalan dua arah. Dan sekarang laut telah
menemukannya.”
Dan Sela memikirkan kanal selatan, kanal baru yang Bapa akan gali, lebih
jauh ke selatan, lebih dekat ke laut, lebih dalam, dan ia merasa mual, sebab ia
mengerti, dengan kejelasan yang mengerikan, bahwa setiap kanal yang digali
Nagara Rata untuk menjadi lebih besar adalah pintu lain yang dibuka untuk air,
dan bahwa kebanggaan mereka, ambisi mereka, keinginan mereka untuk tumbuh dan
meluas dan menjadi terlalu besar untuk hilang, semua itu, justru itu, adalah
yang sedang mengundang air masuk lebih cepat.
❖
Bapa Rata datang
ke kanal pada hari keempat, ketika sudah tak mungkin lagi tidak datang, dan ia
berdiri di tepi air asin dengan wajah yang Sela tak pernah lihat sebelumnya.
Sebab Bapa tidak bodoh, itu, sekali lagi, selalu, adalah tragedinya, dan
berdiri di tepi kanal yang telah berubah menjadi laut, ia mengerti. Sela
melihatnya mengerti. Ia melihat pemahaman itu masuk ke wajah ayahnya seperti
air masuk ke kanal, melawan arah, ke tempat yang selama ini terlindung darinya,
dan untuk satu saat yang panjang dan mengerikan ia melihat Bapa Rata, yang
telah memimpin dengan baik, yang telah benar lebih sering daripada siapa pun,
yang telah berdiri di dewan dan berkata air tunduk pada Nagara Rata, ia
melihatnya berdiri di tepi bukti bahwa ia keliru, dan ia melihat sesuatu di
dalam lelaki tua itu berperang dengan dirinya sendiri.
Untuk satu saat, pintu terbuka. Untuk satu saat, Sela percaya, berharap,
dengan harapan yang sudah terlalu sering dikecewakan tapi yang menolak untuk
mati, bahwa Bapa akan berbalik kepada kota dan berkata: aku keliru. Orang tua
dari perbukitan benar. Nakhoda itu benar. Air datang, dan kita harus bersiap,
dan kita harus mulai sekarang. Satu saat, satu kalimat, dan sejarah bisa
berjalan dengan cara yang lain.
Tapi mengakui itu, bagi Bapa, bukan hanya mengakui sebuah fakta tentang
air. Itu adalah mengakui bahwa seluruh hidupnya, setiap keputusan, setiap
keyakinan, kebanggaan yang telah ia berikan kepada kotanya, kepastian yang
dengannya ia telah menertawakan seorang tua yang menempuh perjalanan dua kali
untuk menyelamatkannya, bahwa semua itu telah keliru, di hal yang paling
penting, dan bahwa kekeliruannya akan menenggelamkan dunia. Dan itu adalah
terlalu besar. Tak ada manusia yang cukup kuat untuk mengangkat beban sebesar
itu dalam satu pagi di tepi kanal. Maka Bapa melakukan apa yang dilakukan
manusia ketika kebenaran terlalu berat: ia memungutnya sebagian, dan
menurunkannya kembali.
“Pasang tinggi, ” katanya, akhirnya, kepada kota yang menunggu
kata-katanya. Suaranya mantap, tapi Sela, yang mengenalnya, mendengar usaha di
balik kemantapan itu. “Pasang yang luar biasa tinggi, didorong oleh angin
barangkali, atau musim. Ia telah mendorong air laut ke kanal kita. Itu akan
surut. Kita akan menutup mulut kanal selatan dengan tanggul sampai pasang
berlalu, dan kita akan menggali kanal air tawar yang baru dari hulu, dari tanah
tinggi, untuk sementara. Ini adalah masalah, dan kita akan menyelesaikannya,
sebagaimana kita selalu menyelesaikan masalah.” Ia berpaling dari air. “Ini
bukan apa yang ditakuti orang tua itu. Ini adalah pasang tinggi. Tak lebih.”
Dan kota, yang ingin mempercayainya, mempercayainya, sebagian besar dari
mereka, sebagian besar dari waktu. Tapi sesuatu telah berubah, dan semua
merasakannya, walau hanya sedikit yang akan mengakuinya. Sebab kau bisa
menjelaskan air asin di kanal. Tapi kau tak bisa, setelah kau merasakannya di
lidahmu sendiri, sepenuhnya melupakan rasanya. Laut kini punya rasa, di Nagara
Rata, di tempat yang dulu hanya tawar. Dan rasa itu akan tinggal, di bawah
setiap kata penenang, di bawah setiap penjelasan, mengingatkan, mengingatkan,
mengingatkan.
❖
Malam itu, kedua
saudari berdiri bersama di tepi kanal, sendirian, setelah kota tidur, dan untuk
pertama kalinya sejak ladang liar mereka tidak berdebat.
Mereka tak perlu berdebat. Air asin di antara mereka telah menyelesaikan
perdebatan dengan cara yang tak bisa dilakukan oleh kata-kata mana pun: ia
telah membuktikan, kepada keduanya, bahwa apa yang selama ini hanya firasat
bagi Sela dan hanya kemungkinan yang ditolak bagi Awu adalah nyata. Air datang.
Mereka berdua tahu sekarang. Tak ada lagi yang perlu diyakinkan, tak ada lagi
yang perlu dibantah. Hanya tinggal pertanyaan yang selalu memisahkan mereka,
pertanyaan yang kini menjadi mendesak: apa yang harus dilakukan dengan
kebenaran yang akhirnya tak terbantahkan.
“Kau sudah tahu, ” kata Awu, pelan, memandang air gelap. “Jauh sebelum
ini. Kau sudah tahu sejak burung itu, mungkin. Sejak mata air pindah.”
“Ya, ” kata Sela.
“Dan kau tak pernah berhenti tahu. Bahkan ketika aku menyuruhmu berhenti.
Bahkan ketika Bapa menertawakan orang tua itu. Kau hanya, terus tahu,
diam-diam, sendirian.” Awu menoleh kepadanya, dan di wajahnya ada sesuatu yang
sangat dekat dengan rasa hormat, dan sesuatu yang lebih dekat lagi dengan duka.
“Aku tak tahu bagaimana kau menanggungnya. Mengetahui, dan diam, dan tak bisa
membuat siapa pun percaya. Aku tak tahu bagaimana kau tidak menjadi gila
karenanya.”
“Aku mengingat, ” kata Sela, sederhana. “Itu yang kulakukan dengannya.
Setiap tanda, aku menyimpannya. Setiap hari, aku menyimpannya. Mengetahui tanpa
bisa berbuat apa-apa akan membuat siapa pun gila, kau benar. Tapi mengingat
bukan tidak berbuat apa-apa, Awu. Mengingat adalah sesuatu. Ia adalah
satu-satunya sesuatu yang bisa kulakukan, dan maka aku melakukannya, dan ia
menjagaku tetap waras. Aku tak bisa menghentikan air. Tapi aku bisa menjadi
tempat di mana semua ini, ” ia mengangkat tangannya ke arah kota yang tidur,
kanal yang asin, daratan yang luas dan terkutuk, “, semua ini tidak akan
sepenuhnya hilang.”
Dan Awu tidak menjawab, sebab ia juga punya rencana untuk kebenaran yang
tak terbantahkan, rencana yang sudah ia mulai pelajari di rumah Empu Wani,
rencana yang sama sekali berbeda dari rencana saudarinya dan yang tak bisa ia
ceritakan kepada saudarinya, belum, mungkin tak akan pernah. Maka kedua saudari
berdiri dalam diam di tepi kanal yang telah menjadi laut, masing-masing
memegang rencananya sendiri untuk hari ketika air datang, masing-masing
mencintai yang lain, masing-masing tahu kini bahwa mereka tak akan menghadapi
hari itu bersama. Dan di bawah mereka, di kanal yang dulu tawar dan kini asin,
air laut mengalir ke hulu, ke jantung daratan, melawan arah, dengan kesabaran
yang akhirnya mulai berbuah, bukan lagi menunggu di kejauhan, bukan lagi
bergerak hanya di bawah tanah tempat tak ada yang merasakannya, melainkan di
sini, di permukaan, di mulut setiap orang, asin dan nyata dan tak terbantahkan,
langkah pertama dari sebuah kedatangan yang telah tiga ribu tahun dalam
perjalanan, dan yang kini, akhirnya, telah sampai di pintu.
❖
BAB EMPAT BELAS
Dua Jalan
Ada perpisahan yang lebih dalam daripada
kematian. Kematian memisahkan dua orang yang ingin tinggal bersama. Tapi ada
perpisahan di mana dua orang yang saling mencintai memandang jalan yang sama
dan tahu mereka harus berjalan ke arah yang berlawanan, dan tetap saling
mencintai sepanjang jalan.
yang dikatakan, jauh kemudian, tentang
dua saudari yang menjadi dua bangsa
Setelah air
masuk ke kanal, waktu di Nagara Rata berubah, walau tak seorang pun akan bisa
menunjuk hari ketika ia berubah.
Pasang tinggi tidak surut, sebagaimana Bapa berjanji ia akan surut. Atau
lebih tepatnya: ia surut, dan kembali, dan surut, dan kembali, dan tiap kali ia
kembali ia datang sedikit lebih jauh ke hulu, sehingga apa yang mula-mula hanya
menyentuh kota-kota di tepi selatan perlahan menjalar ke utara, kanal demi
kanal, sumur demi sumur. Bapa menutup mulut kanal selatan dengan tanggul,
sebagaimana ia janjikan, dan untuk satu musim ia berhasil, dan kota bernapas
lega dan mulai melupakan rasa asin itu. Lalu pasang datang lebih tinggi dari
tanggul, dan menelannya, dan masuk lagi, dan kali ini tak ada yang bisa
menyebutnya pasang tinggi yang luar biasa, sebab ia telah datang terlalu sering
untuk disebut luar biasa.
Ini berlangsung bukan dalam hari atau bulan, melainkan dalam tahun. Air
bersabar, sebagaimana ia selalu bersabar. Ia tidak datang sebagai banjir yang
menenggelamkan dalam semalam; itu akan datang nanti, untuk generasi yang lain.
Untuk generasi Awu dan Sela, air datang sebagaimana usia datang pada seseorang
yang dicintai: terlalu pelan untuk dilihat dari hari ke hari, terlalu pasti
untuk dihentikan, sehingga suatu pagi kau memandang dan menyadari bahwa yang
dulu kuat kini rapuh, yang dulu penuh kini surut, dan kau tak bisa mengingat
hari ketika perubahan itu terjadi sebab ia tak pernah terjadi dalam satu hari,
ia terjadi di semua hari, sedikit demi sedikit, sementara kau memandang ke arah
lain.
Dan sepanjang tahun-tahun itu, dua saudari hidup, dan menua, dan
masing-masing mempersiapkan, dalam diam, jalan yang telah ia pilih. Sela
mengingat, dan mulai mengajar, mula-mula anak-anak di kota, lalu siapa pun yang
mau mendengar, bukan untuk panik, melainkan untuk mengetahui: bahwa air datang,
bahwa ia telah datang sebelumnya, bahwa yang terpenting adalah jangan lupa. Awu
pergi ke Empu Wani, malam demi malam, dan belajar hal-hal yang tak ia ceritakan
kepada siapa pun, dan mengumpulkan, di sekelilingnya, mereka yang seperti dia,
bangsawan, empu, orang-orang yang tak tahan pada gagasan kehilangan, yang lebih
suka utuh dan kosong daripada penuh dan hilang.
❖
Mereka sudah tak
lagi muda ketika Awu akhirnya memberitahu Sela apa yang akan ia lakukan, dan ia
memberitahunya bukan karena ia ingin, melainkan karena ia tak bisa lagi
menanggung tidak memberitahunya.
Sebab di antara semua orang yang akan ikut dengannya ke dalam jalan yang
telah ia pilih, hanya ada satu yang ia inginkan lebih dari semua, satu yang
tanpanya bahkan keabadian akan terasa seperti kehilangan, dan satu yang ia
tahu, sejak malam pertama di rumah Empu Wani, tak akan pernah ikut. Tapi
mengetahui sesuatu dan mengucapkannya adalah dua hal yang berbeda, dan Awu
telah menunda mengucapkannya selama bertahun-tahun, sebab selama ia tak
mengucapkannya, ada sebuah dunia kecil di mana Sela mungkin berkata ya.
Mereka duduk di tepi kanal, di tempat mereka selalu duduk, di tempat yang
dulu memberi air tawar dan kini memberi air asin, di sebuah sore ketika langit
berwarna tembaga sebagaimana ia selalu berwarna tembaga di sore hari, tak
peduli pada apa yang terjadi pada manusia di bawahnya.
“Ada cara, ” kata Awu, akhirnya, “untuk tidak hilang.”
Dan Sela, yang telah mengenal saudarinya seumur hidupnya, yang telah
mengamati Awu pergi ke rumah Empu Wani malam demi malam dan tidak bertanya
sebab ia takut pada jawabannya, menutup matanya sejenak, sebab kalimat itu
telah datang, akhirnya, kalimat yang telah ia takuti selama bertahun-tahun.
“Awu, ”
“Dengar aku. Biarkan aku mengatakannya, satu kali, sepenuhnya, sebelum
kau menolaknya. Aku berutang itu padamu, dan kau berutang itu padaku.” Awu
menarik napas. “Empu Wani bisa melakukannya. Bukan teori, bukan buah dalam rak,
pada manusia. Ia telah mencobanya, dan ia berhasil, dan mereka yang telah ia
ubah masih ada, utuh, tak tersentuh oleh tahun-tahun yang telah lewat. Ketika
air datang, ketika ia benar-benar datang, bukan asin di kanal melainkan air
yang menenggelamkan, kami tidak akan tenggelam. Kami akan turun ke dalamnya
dengan sengaja. Kami akan membawa apa yang bisa kami bawa, bukan dengan perahu,
perahu hanya menunda, tapi ke bawah, ke dalam, ke tempat di mana waktu telah
dibuang dari kami sehingga air tak bisa mengambil apa pun, sebab tak ada lagi
yang bisa diambil. Kami akan tinggal, Sela. Ketika segala sesuatu yang lain
hilang, kami akan tinggal. Utuh. Selamanya.” Suaranya, yang telah mantap, melembut.
“Dan aku ingin kau bersamaku. Lebih dari apa pun yang pernah kuinginkan, aku
ingin kau ada di sana, supaya ketika seluruh dunia ini menjadi dasar laut, kau
dan aku masih ada untuk, ” ia berhenti, sebab kata berikutnya terlalu besar.
“Untuk apa, Awu?” tanya Sela, lembut. “Untuk apa kita masih ada?”
❖
Dan Awu tidak
punya jawaban untuk itu, dan ketidakmampuannya menjawab adalah, bagi Sela,
seluruh jawaban yang ia butuhkan.
“Kau berkata kita akan tinggal, ” kata Sela, dan ia mengatakannya tanpa
kemarahan, dengan kelembutan yang lebih sulit ditanggung Awu daripada kemarahan
mana pun. “Tapi tinggal untuk apa? Kau bisa mengatakan kepadaku apa yang akan
kita selamatkan, tapi kau tak bisa mengatakan apa yang akan kita lakukan dengan
keselamatan itu. Sebab tak ada yang bisa dilakukan, Awu. Itulah yang kau tak
izinkan dirimu lihat. Sebuah buah yang tak membusuk tak bisa dimakan. Ia tak
memberi benih. Ia tak menjadi pohon. Ia hanya ada, utuh, selamanya, dan tak
seorang pun bisa berbuat apa pun dengannya kecuali memandangnya. Kau menawariku
untuk menjadi seperti itu. Untuk turun ke dasar laut dan tinggal di sana, utuh
dan kosong, memandang ke atas pada sebuah dunia yang telah hilang, tidak bisa
menyentuhnya, tidak bisa mengubahnya, tidak bisa mati dan membiarkan sesuatu
yang baru tumbuh di tempatku, hanya ada, dan ada, dan ada, sampai bahkan air
lupa mengapa ia datang. Itu bukan keselamatan, Awu. Itu adalah kehilangan yang
paling sempurna yang pernah dibayangkan siapa pun. Kau akan kehilangan
segalanya kecuali dirimu sendiri, dan kau akan kehilangannya selamanya, tanpa
kemurahan akhir.”
“Aku akan punya kau, ” kata Awu, dan suaranya pecah, untuk pertama
kalinya dalam ingatan Sela, suara saudarinya yang kuat pecah seperti tanggul
yang ditelan pasang. “Bila kau ikut, aku akan punya kau. Itu bukan tak ada
apa-apa. Itu adalah segalanya.”
Dan di sanalah Sela hampir menyerah. Sebab ia mencintai saudarinya, lebih
dari ia mencintai prinsip mana pun, lebih dari ia mencintai kebenaran mana pun
tentang buah dan pohon dan kehilangan, dan mendengar Awu yang kuat memohon
dengan suara yang pecah hampir cukup untuk membuatnya berkata ya, hampir cukup
untuk membuatnya turun ke dasar laut dan tinggal di sana selamanya, utuh dan
kosong, asalkan ia tidak harus kehilangan saudarinya. Untuk satu napas yang
panjang, ya menggantung di bibirnya.
Lalu ia memikirkan ladang liar keluarga Wregu. Bunga-bunga yang tak akan
pernah tumbuh bila yang lama tak pergi. Pohon yang berdiri di tempat yang tak
direncanakan. Ia memikirkan burung yang ia kubur, dan kata-kata yang ia
bisikkan, kau diingat. Ia memikirkan orang tua dari perbukitan yang berkata:
wariskan, supaya ingatan menyeberangi generasi sampai seseorang berdiri di atas
laut dan tahu namanya. Dan ia mengerti bahwa untuk berkata ya kepada Awu adalah
untuk berkata tidak kepada semua itu, untuk menjadi buah yang tak membusuk dan
bukan ladang yang melepaskan, untuk berhenti dan bukan mewariskan, untuk
menyelamatkan dirinya sendiri dengan harga menjadi tempat di mana tak ada lagi
yang baru bisa lahir.
“Tidak, ” kata Sela, dan kata itu membelah sesuatu di dalam dirinya
bahkan ketika ia mengucapkannya. “Tidak, Awu. Aku tak bisa.”
❖
Mereka duduk
dengan kata itu di antara mereka, dan langit kehilangan tembaganya dan menjadi
kelabu, dan air asin mengalir di kanal di kaki mereka, dan untuk waktu yang
lama tak seorang pun bicara.
“Aku akan tinggal, ” kata Sela akhirnya, dan kini ia tak lagi menolak
melainkan menjelaskan, memberi saudarinya kebenarannya sebagaimana Awu telah
memberinya kebenaran Awu. “Bukan di dasar laut. Di sini, di atas, di antara
yang fana. Aku akan menua, Awu. Aku akan menjadi tua dan rapuh dan akhirnya aku
akan mati, sebagaimana Bapa akan mati, sebagaimana segala sesuatu yang hidup
mati. Dan sebelum aku mati, aku akan mengingat. Aku akan menyimpan segala
sesuatu yang bisa kusimpan, dunia ini, kota ini, kau, malam-malam ini di tepi
kanal, semuanya, dan aku akan mewariskannya. Kepada anak-anak, bila aku punya.
Kepada murid, bila aku tak punya. Aku akan membuat ingatan ini begitu kuat
sehingga ia bisa menyeberangi air, menyeberangi generasi, menyeberangi seluruh
waktu yang gelap yang akan datang, sampai suatu hari, jauh, jauh dari sini, di
sebuah masa yang tak bisa kubayangkan, seseorang yang membawa darahku akan
berdiri di atas laut yang menutupi semua ini, dan akan tahu bahwa di bawahnya
dulu ada sebuah dunia, dan akan tahu namanya.”
“Dan kau akan mati, ” kata Awu. “Ingatanmu akan diwariskan, mungkin, tapi
kau, kau sendiri, kau yang duduk di sampingku sekarang, kau akan hilang.
Selamanya. Sementara aku akan tinggal.”
“Ya, ” kata Sela. “Aku akan hilang, dan kau akan tinggal. Itulah
perbedaan kita, akhirnya, diucapkan sepenuhnya. Kau memilih untuk tinggal dan
kehilangan segalanya. Aku memilih untuk hilang dan menyelamatkan, bukan diriku,
aku tak bisa menyelamatkan diriku, tak seorang pun bisa, melainkan ingatan
tentang segalanya. Kau akan menjadi satu hal yang utuh di tengah dunia yang
hilang. Aku akan menjadi sebuah dunia yang hilang yang seseorang, suatu hari,
akan ingat. Dan aku tak tahu mana di antara kita yang membuat pilihan yang
benar, Awu. Aku bersumpah aku tak tahu. Aku hanya tahu pilihan mana yang bisa
kutanggung, dan pilihan mana yang tidak.”
❖
Dan itulah
perpisahan mereka, walau mereka akan hidup bertahun-tahun lagi di bawah atap
yang sama, walau air belum datang dan dunia belum berakhir.
Sebab sesuatu telah diucapkan yang tak bisa ditarik kembali, dan
kedua-duanya tahu, kini, dengan kepastian penuh: bahwa ketika air akhirnya
datang, mereka akan berpisah, satu turun ke dalam laut dan satu tinggal di
atasnya untuk mati, dan tak ada cinta, dan mereka saling mencintai, mereka tak
pernah berhenti saling mencintai, itulah yang membuatnya tak tertanggungkan,
tak ada cinta yang cukup besar untuk mengubah arah dua jalan yang berjalan ke
arah berlawanan. Mereka telah memandang akhir dari segala sesuatu dari dua
tempat yang berbeda untuk terakhir kalinya, dan masing-masing telah melihat
sesuatu yang nyata, dan kedua hal nyata itu tak bisa berjalan bersama.
Awu menangis. Sela tak pernah melihatnya menangis, tak sekali pun dalam
seluruh hidup mereka, dan melihatnya menangis kini, saudari yang kuat, yang
memiliki mata empu dan hati raja, yang telah memutuskan untuk membuang waktu
dari dirinya supaya ia tak perlu kehilangan apa pun, melihatnya menangis adalah
hal yang akan tinggal bersama Sela jauh lebih lama daripada kata-kata mana pun,
akan tinggal bersamanya sampai ke air sebatas dada, akan tinggal bersamanya,
barangkali, lebih lama dari itu. Sebab dalam tangis itu Sela melihat kebenaran
yang Awu sendiri tak akan pernah izinkan dirinya ucapkan: bahwa Awu tahu, jauh
di dalam, bahwa ia sedang memilih kehilangan yang lebih besar, bukan yang lebih
kecil. Bahwa keabadian yang ia kejar bukanlah kemenangan atas kehilangan
melainkan bentuk kehilangan yang paling lengkap. Bahwa ia menangis bukan karena
Sela menolak ikut, melainkan karena, jauh di dalam, ia tahu Sela benar untuk
menolak, dan ia akan tetap memilih jalannya, dan ia akan tetap turun ke dalam
laut, sebab ia tak bisa, ia benar-benar tak bisa, melakukan hal yang lain.
Mereka berpelukan, di tepi kanal, di bawah langit yang telah menjadi
kelabu, dua saudari yang saling mencintai dan tak bisa saling menyelamatkan,
dan untuk satu saat yang panjang mereka memegang satu sama lain seolah-olah
memegang cukup erat bisa mengubah sesuatu, seolah-olah cinta adalah jenis
kekuatan yang bisa membengkokkan jalan. Tapi ia bukan. Cinta tidak
membengkokkan jalan; ia hanya membuatnya lebih menyakitkan untuk dijalani. Dan
ketika mereka melepaskan, dan berjalan pulang berdampingan dalam gelap,
masing-masing tahu bahwa mereka telah mengucapkan selamat tinggal yang
sesungguhnya, jauh sebelum air datang, jauh sebelum dunia berakhir, bahwa mereka
akan menghabiskan tahun-tahun yang tersisa sebagai dua orang yang telah
berpisah tapi belum pergi, mencintai satu sama lain melintasi sebuah jarak yang
tak bisa diseberangi, menunggu air yang akan membuat perpisahan itu menjadi
nyata.
Dan di kanal di belakang mereka, air asin mengalir ke hulu dalam gelap,
sabar dan tak tergesa, mengingat, bila air mengingat, bahwa ia telah mendengar
dua saudari memilih dua jalan, dan bahwa kedua jalan itu, pada akhirnya, menuju
kepadanya: yang satu untuk ditelan dan diwariskan, yang satu untuk turun dengan
sukarela dan tinggal. Air bisa menunggu sedikit lebih lama. Air selalu bisa.
Dan ia menghitung, di bawah daratan yang akan segera ia ambil, menuju malam
terakhir, mendekat sekarang, mendekat dengan tiap pasang, ketika ia akhirnya
akan datang bukan sebagai rasa asin di lidah, melainkan sebagai dinding air di
malam hari, dan menyaksikan kedua saudari menempuh, masing-masing, jalan yang
malam ini mereka pilih.
❖
BAB LIMA BELAS
Daratan Sebelum Laut
Ingatlah daratan sebagaimana ia pada
hari sebelum laut: luas, dan datar, dan yakin, dan dicintai. Sebab itulah hari
yang akan paling sulit dipercaya pernah ada, dan karena itu, yang paling
penting untuk diingat.
kata pertama dari ajaran yang akan
diwariskan tujuh generasi, sumbernya tak diketahui
Bertahun-tahun
lewat setelah malam di tepi kanal, dan dunia berubah, dan dunia tetap berdiri,
dan keduanya benar pada saat yang sama, sebab itulah cara dunia berakhir: tidak
sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit, sehingga sampai ke ujung selalu ada
cukup yang tersisa untuk membuat orang percaya bahwa tak ada yang benar-benar
hilang.
Kota-kota di tepi selatan telah ditinggalkan, satu demi satu, ketika air
asin membuat tanah mereka tak bisa ditanami dan sumur mereka tak bisa diminum.
Penduduknya pindah ke utara, ke kota-kota yang masih kering, dan kota-kota yang
masih kering menerima mereka dengan campuran kasihan dan tidak sabar, dan tak
seorang pun menyebut perpindahan itu sebagai apa yang sebenarnya ia adanya:
langkah pertama dari pengunduran sebuah bangsa dari tanah yang telah ia tempati
selama tiga ribu tahun. Mereka menyebutnya kemalangan. Mereka menyebutnya tanah
yang buruk. Mereka menyebutnya apa pun kecuali nama yang benar, sebab nama yang
benar terlalu besar untuk diucapkan.
Bapa Rata telah mati. Ia mati sebelum air mencapai kotanya sendiri, mati
sebagai orang tua di tempat tidurnya, dan ia mati, ini adalah belas kasihan,
barangkali satu-satunya yang diberikan kepadanya, masih percaya, atau hampir
percaya, bahwa Nagara Rata akan bertahan. Di hari-hari terakhirnya ia bicara
tentang kanal-kanal yang akan diperbaiki, tentang tanggul yang akan dibangun
lebih tinggi, tentang masa depan yang masih ia bayangkan datar dan luas dan
aman. Awu duduk di sisinya sampai akhir, dan ia tidak membantahnya, sebab tak
ada gunanya membantah seorang lelaki sekarat, dan sebab ada bagian dari Awu
yang iri pada keyakinan yang dengannya ayahnya bisa mati. Sela juga ada di
sana, dan ia menyimpan kata-kata terakhir Bapa, setiap kata, walau kata-kata
itu keliru, justru karena kata-kata itu keliru, sebab keyakinan yang keliru
dari seseorang yang dicintai adalah hal yang juga patut diingat, hal yang juga
akan hilang bila tak ada yang menyimpannya.
❖
Sela tidak
menikah dengan Lanang, walau orang di kota menduga ia akan, walau Lanang
sendiri, barangkali, pernah berharap ia akan.
Mereka mencintai satu sama lain dengan cara yang tak punya nama, cara dua
orang yang sama-sama mendengar air dan karena itu tak bisa benar-benar hidup di
dunia yang sama dengan orang yang tak mendengarnya. Tapi Lanang adalah seorang
pelaut, dan ia tak bisa tinggal di daratan, dan Sela telah memilih untuk
tinggal di daratan sampai akhir, untuk mengingatnya, untuk menjadi tempat di
mana ia tak sepenuhnya hilang. Maka mereka tak bisa hidup bersama, sebab hidup
masing-masing menuntut tempat yang berbeda, dan mereka cukup mengenal satu sama
lain untuk tahu bahwa meminta yang lain meninggalkan jalannya adalah meminta
yang lain berhenti menjadi dirinya. Lanang datang sesuai musim, sepanjang
tahun-tahun itu, dan tiap kali ia datang mereka duduk di tepi kanal, dan ia
memberitahunya seberapa jauh air telah berjalan, dan tiap kali angkanya lebih
besar. Dan tiap kali ia pergi, Sela memandangnya pergi dengan pengetahuan bahwa
suatu musim ia tak akan datang lagi, sebab laut yang dicintai Lanang adalah
laut yang sama yang akan mengambil segalanya, dan seorang pelaut, pada
akhirnya, milik lautnya.
Tapi Sela tidak sendirian, sebab ia telah mulai mengajar, dan
murid-muridnya menjadi, dengan cara, keluarganya. Ia mengajari mereka bukan
ramalan, bukan ketakutan, melainkan ingatan. Ia mengajari mereka kisah Nagara
Rata, bukan kisah yang dipoles untuk membuatnya tampak abadi, melainkan kisah
yang benar, kisah sebuah bangsa yang luas dan yakin dan dicintai yang tak
percaya pada air sampai air datang. Ia mengajari mereka tanda-tanda: mata air
yang berpindah ke darat, sumur yang menjadi payau, burung yang pergi. Ia
mengajari mereka untuk mewariskan, dan untuk menyuruh yang mewarisi untuk
mewariskan lagi, supaya rantai ingatan tak pernah putus. Dan kepada yang paling
ia percaya, ia mengajari satu hal lagi, satu hal yang ia sendiri tak sepenuhnya
mengerti: kata-kata dalam lidah yang sangat tua, kata-kata yang ia bisikkan
dulu kepada seekor burung mati, kau diingat, kau diingat, kau diingat. Ia tak
tahu dari mana kata-kata itu datang. Ia hanya tahu bahwa mereka harus
diteruskan, bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada
dirinya, sesuatu yang dimulai sebelum dia dan akan berlanjut setelahnya,
melintasi air, melintasi generasi, menuju tujuan yang tak bisa ia lihat.
❖
Awu, di
tahun-tahun yang sama, mempersiapkan jalannya sendiri, dan jalannya menuntut
persiapan yang sama sekali berbeda dari jalan saudarinya.
Sebab menghalus, telah diajarkan Empu Wani kepadanya, bukanlah sesuatu
yang bisa dilakukan dalam satu malam ketika air datang. Ia adalah sesuatu yang
harus disiapkan jauh sebelumnya, dengan hati-hati, sebab membuang waktu dari
dalam manusia adalah pekerjaan yang lebih halus dan lebih berbahaya daripada
membuangnya dari dalam buah. Maka Awu mengumpulkan, sepanjang tahun-tahun itu,
mereka yang akan turun bersamanya: para bangsawan yang tak tahan kehilangan
kuasa mereka, para empu yang tak tahan kehilangan karya mereka, orang-orang
yang, seperti Awu, lebih suka utuh dan kosong daripada penuh dan hilang. Mereka
berkumpul di rumah Empu Wani, dan kemudian, ketika rumah itu terlalu kecil, di
tempat-tempat lain, tempat-tempat rahasia, dan mereka belajar, dan mereka
bersiap, dan mereka menunggu air.
Awu menjadi pemimpin mereka, sebab ia memiliki mata empu dan hati raja,
dan sebab di antara mereka semua ia adalah yang paling tak tergoyahkan dalam
pilihannya. Mereka memandangnya sebagaimana orang Nagara Rata dulu memandang
Bapa: sebagai orang yang akan benar, sebagai orang yang akan memimpin mereka
melalui sesuatu yang menakutkan menuju tempat yang aman. Dan Awu memimpin
mereka, dan ia tak pernah menunjukkan kepada mereka keraguan yang ia tunjukkan,
satu kali, hanya satu kali, kepada saudarinya di tepi kanal, tangis itu, suara
yang pecah, pengetahuan terkubur bahwa ia memilih kehilangan yang lebih besar.
Ia mengubur itu dalam-dalam, lebih dalam daripada ia mengubur apa pun, sebab
seorang pemimpin tak bisa memimpin orang ke dalam laut sambil menunjukkan bahwa
ia ragu apakah laut adalah tempat yang benar untuk dituju. Dan dengan
menguburnya, ia mulai, bahkan sebelum ia menghalus, bahkan ketika ia masih
berdaging dan fana, ia mulai menjadi dingin. Sebab itulah harga pertama dari
jalannya, dibayar jauh sebelum harga yang sebenarnya: untuk memimpin orang
menuju keabadian, ia harus terlebih dulu membunuh, di dalam dirinya, kemampuan
untuk meragukannya.
❖
Dan kemudian
datang sebuah hari, bukan hari ketika air datang, itu masih ada di depan, masih
satu malam yang gelap di masa depan yang dekat, sebuah hari ketika kedua
saudari, yang kini sudah tua, pergi bersama untuk terakhir kalinya ke tempat
yang oleh orang-orang dulu disebut tepi.
Mereka pergi ke selatan, ke arah yang dari sana air datang, melewati
kota-kota yang telah ditinggalkan, melewati tanah yang telah menjadi asin,
sampai mereka mencapai tempat di mana daratan yang dulu membentang sejauh mata
memandang kini berakhir, tidak di kabut, sebagaimana ia berakhir di masa kecil
mereka, melainkan di air. Laut telah datang sejauh ini. Tempat yang dulu adalah
pusat keganjilan, tepi yang tak diseberangi siapa pun, kini adalah pantai, dan
di luar pantai itu terbentang laut yang tak berujung, abu-abu dan bergerak dan
sabar, di tempat yang dulu adalah daratan, kota, ladang, rumah orang.
Mereka berdiri di sana bersama, dua perempuan tua yang dulu adalah dua
gadis yang berjalan ke pasar, dan mereka memandang laut yang menutupi dunia
masa kecil mereka, dan untuk waktu yang lama tak seorang pun bicara.
“Di bawah sana, ” kata Sela akhirnya, pelan, “ada pasar. Tempat empat
kanal bertemu. Tempat kita berjalan di hari itu, kau di depan, aku di
belakang.”
“Aku ingat, ” kata Awu.
“Dan ladang keluarga Wregu. Yang liar, yang penuh bunga. Itu juga di
bawah sana sekarang.”
“Aku ingat, ” kata Awu lagi, dan suaranya, Sela mendengar, telah menjadi
sesuatu yang lain selama tahun-tahun ini, masih suara saudarinya, tapi lebih
dingin, lebih jauh, suara seseorang yang telah mulai menarik dirinya dari dunia
bahkan sebelum ia meninggalkannya. “Aku ingat semuanya, Sela. Itulah yang
paling menakutkan tentang apa yang akan kulakukan. Aku akan membawa semua
ingatan ini ke bawah bersamaku, dan aku akan menyimpannya, utuh, tak berubah,
selamanya. Kau akan mewariskan ingatanmu dan kemudian mati, dan ingatanmu akan
berubah saat ia diwariskan, sedikit demi sedikit, sampai ia menjadi sesuatu
yang lain, sebuah kisah, sebuah legenda. Tapi ingatanku tak akan pernah
berubah. Aku akan ingat pasar ini, dan ladang ini, dan hari ini, persis
sebagaimana adanya, selama sepuluh ribu tahun. Dan aku mulai bertanya-tanya, ”
ia berhenti.
“Bertanya-tanya apa?”
“Apakah itu sebuah berkat atau sebuah hukuman, ” kata Awu. “Mengingat
segalanya, dengan sempurna, selamanya, tanpa pernah diizinkan untuk melupakan,
tanpa pernah diizinkan untuk berubah. Kau bilang dulu bahwa buahku tidak hidup.
Aku mulai bertanya-tanya apakah ingatan yang tak pernah berubah juga tidak
hidup, apakah ingatan yang sebenarnya, ingatan yang hidup, harus berubah, harus
melembut, harus dilupakan sedikit demi sedikit supaya yang tersisa bisa
ditanggung. Dan aku akan tak pernah punya itu. Aku akan ingat hari ini, di
pantai ini, denganmu, dengan kejelasan yang persis sama, sepuluh ribu tahun
dari sekarang, ketika kau telah lama menjadi tanah dan tanah itu telah lama
menjadi dasar laut. Dan aku akan sendirian dengan ingatan itu. Itu, kurasa,
adalah hal yang baru mulai kupahami sekarang, terlalu terlambat untuk mengubah
apa pun: bahwa aku tidak memilih untuk menyelamatkan dunia ini. Aku memilih
untuk menjadi kuburannya. Sebuah kuburan yang tak pernah bisa melupakan siapa
yang ia kubur.”
❖
Sela mengambil
tangan saudarinya, di pantai itu, di tepi laut yang telah menelan dunia mereka
dan akan segera menelan sisanya, dan untuk sesaat keduanya berdiri seperti
mereka berdiri di hari pasar, bertahun-tahun dan seumur hidup yang lalu: yang
satu dan yang lain, bersama, di atas tanah yang mereka kira tak akan pernah
pergi.
“Apa pun yang terjadi, ” kata Sela, “apa pun yang kita pilih, dan ke mana
pun jalan kita membawa kita, aku ingin kau tahu bahwa aku tak pernah berpikir
kau keliru. Aku berpikir kau memilih jalan yang tak bisa kutanggung. Itu bukan
hal yang sama dengan keliru. Aku tak tahu mana di antara kita yang akan
terbukti telah memilih dengan benar. Mungkin tak ada di antara kita. Mungkin
air akan membuktikan kita berdua bodoh, masing-masing dengan cara kita sendiri.
Tapi kau adalah saudariku, dan aku mencintaimu, dan aku akan mengingatmu, kau,
Awu, bukan Ratu yang akan kau jadikan dirimu, melainkan kau, gadis yang
berjalan di depan di hari pasar, gadis yang menangis satu kali di tepi kanal.
Aku akan mewariskan itu juga. Aku akan memastikan seseorang, suatu hari, mengetahui
bahwa sebelum ada Ratu di laut selatan, ada seorang gadis bernama Awu yang
sangat takut kehilangan sehingga ia memilih untuk tidak hidup. Dan bahwa
saudarinya mencintainya, sampai akhir, dan sesudahnya.”
Awu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggenggam tangan
saudarinya lebih erat, untuk satu saat, dan dalam genggaman itu ada segala
sesuatu yang tak bisa lagi ia ucapkan, segala sesuatu yang telah ia kubur
supaya ia bisa memimpin, segala sesuatu yang akan ia bawa ke dasar laut dan
simpan, tak berubah, selama sepuluh ribu tahun. Lalu ia melepaskan, dan kedua
saudari berbalik dari laut, dan berjalan kembali ke utara, ke daratan yang
masih tersisa, untuk menghabiskan hari-hari terakhir yang mereka miliki sebelum
air datang.
Di belakang mereka, laut bergerak di tempat yang dulu adalah daratan,
abu-abu dan sabar dan tak berujung, dan ia telah berhenti menghitung, sebab tak
ada lagi yang perlu dihitung. Ia telah sampai. Apa yang tersisa hanyalah waktu
yang singkat sebelum malam terakhir, satu pasang yang lebih tinggi dari semua
pasang, satu malam yang lebih gelap dari semua malam, ketika air akan berhenti
datang sedikit demi sedikit dan datang sekaligus, dan menutup di atas Nagara
Rata sebagaimana ia telah menutup di atas pasar dan ladang dan rumah keluarga
Wregu, dan dua saudari akan berdiri, untuk terakhir kalinya, di tepi dunia
mereka, dan masing-masing akan menempuh jalan yang telah ia pilih: yang satu
turun ke dalam air untuk tinggal di sana, utuh dan kosong dan abadi, dan yang
satu berdiri di air sampai sebatas dada, di tanah yang sudah tenggelam, untuk
menelan tujuh kerikil dan bersumpah.
Tapi itu adalah malam yang lain, dan kisah yang lain. Hari ini, dua
saudari tua berjalan pulang dari pantai bersama, di bawah langit yang berwarna
tembaga, melintasi daratan yang masih, untuk beberapa hari lagi, untuk beberapa
pasang lagi, daratan. Daratan sebelum laut. Luas, dan datar, dan yakin, dan
dicintai. Dan seseorang dari mereka mengingatnya, setiap langkah, setiap warna,
setiap napas, supaya ia tidak sepenuhnya hilang; dan seorang lagi mengingatnya
pula, dengan cara yang berbeda, dengan cara yang akan membuatnya, kelak, lebih
kesepian daripada siapa pun yang pernah hidup; dan di antara mereka berdua,
dalam ingatan yang satu yang akan diwariskan dan ingatan yang lain yang akan
dibekukan, daratan sebelum laut akan bertahan, tidak utuh, tidak selamanya,
tapi cukup, cukup untuk diteruskan, cukup untuk menyeberangi tujuh generasi dan
air yang dalam, cukup supaya suatu hari, jauh dari sini, seseorang akan berdiri
di atas laut dan tahu bahwa di bawahnya, dulu, ada sebuah dunia, dan tahu
namanya.
❖
❖
Akhir Buku Satu
Daratan Sebelum Laut
Kisah berlanjut dalam Buku Dua
Banjir Tujuh Generasi