10.9.26

(Novel) JAWA: Buku 10. Cahaya di Atas Dasar

   JAWA

Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra


BUKU SEPULUH

Cahaya di Atas Dasar

Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra


Selama empat belas ribu tahun,
ia menunggu di dasar yang tak terjangkau,
dan ketidakterjangkauannya itu sendiri adalah penjaranya.

Lalu zaman terang tiba, dan dunia akhirnya sanggup turun ke dasar;
tetapi kesanggupan bukanlah pemahaman,
dan cahaya yang menyingkap segala sesuatu tetap buta terhadap siapa.

Maka segalanya bergantung pada satu hal,
yaitu apakah tangan yang akhirnya sampai akan datang untuk merebut,
atau untuk mengingat dan membawa pulang.




BAGIAN I

Bisik dari Dasar


 

BAB SATU

Zaman yang Akhirnya Sanggup

Pagi yang panjang itu berlalu, dan menjadi siang. Pengetahuan yang dahulu mulai ditempa oleh tangan-tangan seperti tangan Harsa tumbuh sampai manusia akhirnya memiliki kemampuan yang dahulu hanya dimiliki para dewa dalam cerita, yaitu kesanggupan untuk turun ke dasar laut. Syarat keempat, yang selalu hilang, akhirnya lahir. Tetapi sebuah kesanggupan tidaklah sama dengan sebuah pemahaman, sebab dunia yang kini sanggup mencapai dasar telah lupa mengapa ia harus pergi ke sana, dan siapa yang menunggu di dalam gelap. Maka di zaman terang ini, ketika sebuah kapal modern menangkap sebuah anomali di dasar laut selatan, pertanyaan yang menentukan seluruh saga akhirnya tiba, yaitu dengan cara apa dunia yang sanggup akan datang kepada yang menunggu, sebagai perampas, atau sebagai mereka yang menjemput pulang.

dari ajaran para pengingat, tentang zaman yang akhirnya sanggup

Dan pagi yang panjang itu berlalu, dan menjadi siang. Dari tangan ke tangan, melalui banyak generasi yang tak terhitung, nyala dibawa melalui seluruh zaman pagi, dan tanah yang dahulu terbelenggu menjadi sebuah bangsa di antara bangsa-bangsa, dan dunia berubah dengan cara-cara yang tak bisa dibayangkan oleh siapa pun yang berdiri di tepi laut pada hari Bagas wafat. Kota-kota tumbuh dari cahaya; mesin-mesin melakukan pekerjaan seribu tangan; pengetahuan menumpuk di atas pengetahuan sampai dunia berkilau dengan kemampuannya sendiri.

Dan di antara segala yang berubah, ada satu yang penting melampaui semua yang lain bagi kisah ini. Sebab pengetahuan yang dahulu mulai ditempa oleh tangan-tangan seperti tangan Harsa telah tumbuh, melalui berabad-abad, sampai bangsa ini, dan dunia bersamanya, akhirnya memiliki kemampuan yang dahulu hanya dimiliki para dewa dalam cerita. Mereka membangun perahu yang menyelam ke kedalaman yang gelap, dan mata yang melihat di tempat yang tak pernah disentuh cahaya matahari, dan tangan-tangan jauh yang bisa menjangkau ke dasar laut. Untuk pertama kalinya sejak air menutup di atas dunia yang tenggelam empat belas ribu tahun yang lalu, manusia bisa turun ke dasar.

Dan inilah yang harus dipahami, sebab seluruh saga telah menunggu saat ini. Selama empat belas ribu tahun, tiga dari empat hal yang dibutuhkan untuk membuka penjara Ratu telah ada atau hampir ada, yaitu kekuatan yang tidur, pengetahuan yang dijaga, dan kehendak yang tumbuh. Hanya yang keempat, kemampuan untuk mencapai dasar laut, yang selalu hilang. Dan kini, di zaman ini, untuk pertama kalinya, yang keempat itu telah lahir. Manusia akhirnya sanggup.

Tetapi sebuah kesanggupan tidaklah sama dengan sebuah pemahaman. Sebab dunia yang kini sanggup mencapai dasar laut telah lupa mengapa ia harus pergi ke sana. Ia memiliki cahaya yang bisa menembus kedalaman, tetapi ia telah lupa siapa yang menunggu di dalam gelap. Ia membangun tangan-tangan yang bisa menjangkau dasar, tetapi ia tak lagi ingat bahwa di dasar itu ada seseorang untuk dibebaskan, bukan sesuatu untuk diambil. Sebab di sepanjang pagi yang panjang dan terang itu, di tengah segala kemajuannya, dunia perlahan-lahan melupakan kisah lama, sampai hampir tak ada lagi yang mengingatnya.

Dan garis para pengingat, yang telah membawa nyala dari tangan ke tangan sejak malam yang pertama, menjadi sangat tipis di zaman terang ini. Sebab di dunia yang penuh dengan cahaya dan suara dan kesibukan, sebuah bisikan tua sulit didengar, dan kisah tentang seorang perempuan di dasar laut terdengar bagi kebanyakan orang hanya seperti legenda lama, dongeng yang diceritakan kepada anak-anak, takhayul dari zaman sebelum dunia menjadi terang. Nyala belum padam. Tetapi ia tak pernah sekecil ini, dan tak pernah dijaga oleh begitu sedikit tangan.

Dan di laut selatan, di laut yang sama yang telah menyimpan rahasianya selama empat belas ribu tahun, sebuah kapal modern bergerak perlahan di atas air, dipenuhi dengan alat-alat yang bisa mendengar dan melihat ke dalam kedalaman yang dahulu tak terjangkau. Di atasnya bekerja orang-orang dari zaman terang, para ilmuwan yang memetakan dasar laut, yang mencari, dengan mata dan telinga mesin mereka, bentuk-bentuk yang tersembunyi di bawah.

Dan pada suatu hari, alat-alat mereka menangkap sesuatu yang tak bisa mereka jelaskan. Jauh di bawah, di sebuah tempat di dasar laut yang seharusnya kosong, ada sebuah anomali, sebuah bentuk yang tak seharusnya ada, terlalu teratur untuk menjadi batu, terlalu tua untuk menjadi buatan tangan mana pun yang mereka kenal. Dan di sekitar bentuk itu, alat-alat mereka mencatat hal-hal yang aneh, yaitu suhu yang salah, arus yang tak masuk akal, dan sebuah getaran halus, hampir seperti suara, yang tak bisa dilacak ke sumber mana pun.

Dan di antara para ilmuwan di kapal itu ada seorang perempuan bernama Sekar, seorang ahli yang mempelajari dasar laut, yang lebih muda daripada banyak rekannya tetapi yang dipercaya karena ketelitiannya. Dan ketika anomali itu muncul di layar-layar mereka, semua orang melihat sebuah penemuan, sebuah teka-teki untuk dipecahkan, mungkin sebuah ketenaran untuk diraih. Tetapi Sekar merasakan sesuatu yang lain, sesuatu yang tak bisa ia jelaskan dan tak berani ia katakan kepada siapa pun, yaitu perasaan, ketika ia menatap bentuk itu di layar, bahwa ia sedang ditatap kembali.

Dan bahkan pada jam-jam pertama itu, dua cara melihat anomali itu mulai terbentuk di antara orang-orang di kapal, walau belum ada yang menyadarinya. Bagi sebagian besar, bentuk di dasar laut itu adalah sebuah hal, sebuah objek untuk dipelajari, diukur, diambil sampelnya, diklaim, dan bila mungkin, dijadikan keuntungan. Tetapi bagi Sekar, tanpa ia tahu mengapa, bentuk itu terasa kurang seperti sebuah hal dan lebih seperti sebuah kehadiran, sesuatu, atau seseorang, yang telah menunggu sangat lama.

Dan malam itu, di kabin kapalnya, sambil mendengarkan air yang membentur lambung, Sekar teringat akan sesuatu yang telah lama ia lupakan, yaitu kisah-kisah yang diceritakan neneknya kepadanya ketika ia masih sangat kecil, tentang seorang perempuan di dasar laut selatan, yang bukan dewi dan bukan hantu, melainkan seseorang yang ditinggalkan, yang menunggu untuk diingat. Ia telah lama menganggap kisah-kisah itu sebagai dongeng. Tetapi malam ini, dengan anomali itu terbaring di dasar tepat di bawahnya, kisah-kisah itu terasa tiba-tiba tidak seperti dongeng sama sekali.

Dan jauh di bawah, di dasar laut, di dalam penjara air yang telah menahannya selama empat belas ribu tahun, Awu Sela merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan dalam seluruh penantiannya yang panjang. Sebab selama empat belas ribu tahun, satu-satunya hal yang pernah mencapainya adalah hati, yaitu bisik air dari para pengingat yang menjangkau ke dalam kedalaman dengan kasih mereka, generasi demi generasi. Tetapi kini, untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang lain mendekat, yaitu bukan hanya hati, melainkan tangan. Sebuah kesanggupan. Sebuah dunia yang akhirnya bisa turun kepadanya.

Dan perasaan itu memenuhinya dengan dua hal sekaligus, yang nyaris merobeknya menjadi dua. Sebab di satu sisi ada harapan yang begitu besar sehingga ia hampir tak berani merasakannya, harapan bahwa penantiannya yang tak terhitung akhirnya mendekati akhirnya. Tetapi di sisi lain ada ketakutan yang dalam, ketakutan yang sama yang telah ia kenali di dalam bangsanya pada zaman malam, yaitu ketakutan akan kebebasan itu sendiri. Sebab selama empat belas ribu tahun, gelap di dasar laut ini telah menjadi satu-satunya rumah yang ia kenal, dan keluar darinya berarti menghadapi sebuah dunia yang telah berubah melampaui pengenalannya, sebagai seorang perempuan yang telah lama dilupakan.

Tetapi ada ketakutan yang ketiga, yang lebih dalam daripada keduanya, dan inilah yang paling membebani Awu Sela. Sebab ia bisa merasakan, di dalam kesanggupan yang mendekat itu, bukan hanya tangan yang bisa menjangkau, melainkan juga cara melihat yang membawanya. Dan ia bertanya kepada dirinya sendiri pertanyaan yang telah menentukan seluruh saga, yaitu, ketika dunia akhirnya turun kepadaku, dengan cara apa ia akan datang? Akankah ia datang dengan hati, untuk membebaskan seseorang yang telah menunggu? Atau akankah ia datang dengan mata yang dingin, untuk mengambil sesuatu yang telah ditemukan? Sebab tangan yang sama bisa membebaskan atau bisa merampas, dan yang menentukan bukanlah tangan itu, melainkan hati di belakangnya.

Maka Awu Sela melakukan apa yang telah ia lakukan selama empat belas ribu tahun, yaitu ia menjangkau ke atas, melalui air, mencari hati yang masih mengingat. Tetapi kini, di zaman terang, hati-hati itu telah menjadi begitu sedikit dan begitu samar sehingga ia hampir tak menemukan satu pun. Bisik air, yang dahulu selalu dijawab oleh seorang pengingat yang menunggu, kini mengalir ke atas ke dalam sebuah dunia yang penuh dengan suara lain, dan hampir tak ada yang mendengar.

Tetapi hampir tak ada bukanlah sama dengan tak ada sama sekali. Sebab jauh di atas, di sebuah kapal yang mengapung tepat di atas penjaranya, ada satu hati yang, tanpa mengetahui apa yang ia dengar, merasakan bisikan itu. Dan Awu Sela, merasakan satu hati yang masih bisa mendengar di tengah dunia yang telah lupa, memusatkan seluruh sisa kekuatannya pada benang setipis itu, dan menunggu, dengan harapan dan ketakutan yang sama, untuk melihat ke arah mana ia akan menuntun.

Dan di tempat yang tak diketahui siapa pun, di dalam tanah yang telah menyimpannya sejak banjir besar, sesuatu yang telah tidur untuk waktu yang sangat lama mulai bergerak. Sebab dari ketujuh kerikil yang ditelan Nyai Sela pada hari air naik, ada satu yang lebih kuat daripada yang lain, yang telah bangun tiga kali di sepanjang saga, tiap kali ke dalam zaman yang lebih matang, dan yang telah tidur sejak terakhir kalinya. Dan kini, merasakan bahwa saat yang telah ditunggu selama empat belas ribu tahun sedang mendekat, kerikil yang terkuat itu mulai bergerak menuju bangunnya yang keempat.

Dan di atas, Sekar mendapati dirinya tak bisa tidur. Sebab keesokan harinya, ia mendengar rekan-rekannya berbicara dengan semangat tentang apa yang akan mereka lakukan dengan anomali itu, tentang sampel yang akan diambil, tentang klaim yang akan diajukan, tentang lembaga-lembaga dan perusahaan-perusahaan yang akan tertarik pada sebuah penemuan sebesar ini. Dan ada sesuatu di dalam diri Sekar yang berontak terhadap semua itu, sebuah keyakinan yang tak bisa ia jelaskan bahwa bentuk di dasar laut itu bukanlah milik siapa pun untuk diklaim, dan bukan sesuatu untuk diambil.

Dan ketika ia mencoba mengatakan sesuatu tentang ini kepada pemimpin ekspedisi, kata-katanya terdengar lemah bahkan di telinganya sendiri, sebab ia tak punya bahasa ilmiah untuk apa yang ia rasakan. “Aku hanya merasa,” katanya, “bahwa kita harus berhati-hati. Bahwa kita harus mendekati ini bukan seperti orang yang menemukan sebuah harta, melainkan seperti orang yang memasuki rumah orang lain.” Dan pemimpin ekspedisi memandangnya dengan ramah tetapi tanpa pengertian, dan berkata bahwa tentu saja mereka akan berhati-hati dan mengikuti semua prosedur, tetapi bahwa ini adalah penemuan ilmiah, dan dunia berhak untuk mengetahuinya.

Dan pada saat itu, Sekar merasakan sebuah kesepian yang aneh, dan bersamanya sebuah tanggung jawab yang tak ia minta dan tak ia pahami. Sebab ia menyadari bahwa di antara semua orang yang pandai dan mampu di kapal itu, ia tampaknya satu-satunya yang merasakan bahwa anomali itu adalah seseorang, bukan sesuatu. Dan ia tak tahu mengapa beban itu jatuh kepadanya, seorang ilmuwan muda yang nyaris tak ingat dongeng-dongeng neneknya, kecuali bahwa, entah bagaimana, kisah-kisah lama itu telah tinggal di dalam dirinya ketika mereka telah hilang dari hampir semua orang yang lain.

Dan malam itu, ditarik oleh sesuatu yang tak bisa ia lawan, Sekar pergi ke buritan kapal, dan berdiri sendirian di sana dalam gelap, memandang ke bawah ke air hitam yang menyimpan anomali itu jauh di dalamnya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan, dengan jelas dan tak terbantahkan, sesuatu yang menjangkau ke atas dari kedalaman dan menyentuh hatinya, yaitu sebuah kehadiran, sebuah kesedihan yang tua, dan sebuah pertanyaan yang tak terucapkan yang terasa, anehnya, seperti namanya sendiri yang dipanggil dari sangat jauh.

Dan demikianlah, di zaman ketika manusia akhirnya menjadi sanggup, empat benang yang telah terpisah selama empat belas ribu tahun mulai bergerak menuju satu titik. Sebab kemampuan telah tiba dalam wujud sebuah kapal yang bisa mencapai dasar; pengetahuan tertidur dalam kisah-kisah lama yang nyaris terlupakan; kehendak menunggu untuk dibangunkan di dalam satu hati muda yang masih bisa mendengar; dan kekuatan bergerak menuju bangunnya yang keempat di dalam tanah. Dan di pusat dari semuanya, seorang perempuan di dasar laut menunggu, untuk melihat dengan cara apa dunia akhirnya akan datang kepadanya.

Dan inilah pelajaran pertama zaman terang. Bahwa sebuah kesanggupan tidaklah sama dengan sebuah pemahaman, sebab sebuah zaman bisa memiliki kekuatan untuk mencapai sesuatu jauh sebelum ia memiliki kebijaksanaan untuk mengetahui mengapa; bahwa tangan yang sama yang bisa membebaskan juga bisa merampas, sehingga yang menentukan bukanlah seberapa jauh sebuah zaman bisa menjangkau, melainkan dengan hati apa ia menjangkaunya; dan bahwa di sebuah dunia yang penuh dengan cahaya dan suara, sebuah bisikan tua yang mengingat siapa yang menunggu di dalam gelap bisa menjadi hal yang paling mudah hilang, dan yang paling penting untuk dijaga.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah seluruh malam dan seluruh pagi dengan kesetiaan yang sama, kini mengalir ke atas ke dalam zaman terang, membawa kebenaran pertama zaman terang, yaitu bahwa yang menunggu di dasar bukanlah sebuah hal untuk ditemukan, melainkan seseorang untuk dijemput pulang; bahwa sebuah dunia yang sanggup mencapainya harus terlebih dahulu mengingat mengapa ia pergi; dan bahwa kadang seluruh berat dari sebuah saga yang berusia empat belas ribu tahun bisa bertumpu pada satu hati muda yang masih bisa mendengar sebuah bisikan di tengah keramaian.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama dan kebebasan yang dijaga dengan hati, kini membawa kebenaran itu ke dalam zaman terang, ke dalam dunia mesin dan cahaya, di mana ia hampir terlupakan tetapi tak pernah sepenuhnya hilang. Tanah ini adalah Jawa, yang kini menyandang namanya dalam terang. Dan di dasar lautnya, di tempat yang akhirnya bisa dicapai, seorang perempuan bernama Awu Sela menunggu, bukan lagi dengan keputusasaan, dan bukan pula hanya dengan kepastian yang tenang, melainkan dengan harapan dan ketakutan yang sama tajamnya, untuk melihat apakah dunia yang kini sanggup datang kepadanya akan datang sebagai perampas, atau sebagai mereka yang menjemput pulang.

Dan zaman terang berjalan terus, di atas dasar laut yang menyimpan rahasianya, dengan empat benang yang bergerak menuju satu titik, dan satu hati muda yang berdiri di buritan sebuah kapal, memandang ke dalam air hitam, mulai mendengar sebuah panggilan yang telah menunggu empat belas ribu tahun untuk dijawab. Sebab nyala telah dibawa melalui malam, dan melalui pagi, dan kini ia telah sampai ke ambang dari hal yang telah dituju oleh seluruh saga, yaitu hari ketika tangan dan hati akhirnya turun bersama ke dasar, dan seorang perempuan yang telah lama menunggu akhirnya mendengar, untuk pertama kalinya dalam empat belas ribu tahun, langkah-langkah yang datang bukan untuk mengambil, melainkan untuk membawanya pulang.


 

BAB DUA

Yang Dikira Harta

Di zaman terang, cara melihat yang dingin tak lagi datang dengan kapal perang dan rantai. Ia datang dengan kata penemuan, dan dengan hak dunia untuk mengetahui, dan dengan janji kemajuan. Maka ia menjadi gelap yang paling sulit dilihat, sebab ia tidak tampak seperti gelap sama sekali, melainkan seperti terang. Dan seorang perempuan di dasar laut, yang menunggu untuk dijemput pulang, mulai dibicarakan di atas sebagai sesuatu untuk direbut.

dari ajaran para pengingat, tentang yang dikira harta

Dan kabar tentang anomali itu tidak tinggal lama di laut. Sebab di zaman terang, tak ada yang tinggal tersembunyi; sebuah penemuan adalah sesuatu yang mengalir, dari kapal ke daratan, dari satu lembaga ke lembaga lain, dari satu layar ke sejuta layar, lebih cepat daripada arus mana pun. Dan data tentang bentuk yang aneh di dasar laut selatan itu, yang suhunya salah dan getarannya tak terlacak, mengalir ke atas dari kapal kecil tempat Sekar bekerja, ke tempat-tempat yang lebih besar dan lebih kuat, tempat orang-orang yang tak pernah melihat laut itu mulai membicarakannya.

Dan ketika kabar itu menyebar, dunia menoleh. Para ilmuwan tertarik pada teka-teki sebuah bentuk yang terlalu tua dan terlalu teratur. Lembaga-lembaga tertarik pada kehormatan menjadi yang pertama memahaminya. Dan perusahaan-perusahaan, yang memiliki kapal-kapal yang lebih besar dan mesin-mesin yang lebih dalam daripada milik kapal kecil Sekar, tertarik pada sesuatu yang lain, yaitu pada apa yang mungkin bisa diambil dari dasar laut itu, dan pada apa yang mungkin bisa dimiliki oleh siapa pun yang sampai ke sana lebih dahulu.

Dan inilah yang harus dipahami tentang zaman terang, sebab di sinilah letak bahayanya yang sesungguhnya. Cara melihat yang dingin, yang dahulu di zaman malam datang dengan kapal perang dan rantai dan cambuk, kini tidak datang seperti itu sama sekali. Ia datang dengan kata-kata yang baik dan benar. Ia berkata, ini adalah penemuan, dan dunia berhak mengetahuinya. Ia berkata, ini adalah ilmu, dan ilmu tidak boleh ditahan. Ia berkata, ini adalah kemajuan, dan siapa yang menentang kemajuan? Dan setiap kata itu benar, dan justru karena setiap kata itu benar, tak seorang pun melihat bahwa di bawahnya cara melihat yang lama sedang bekerja, memandang sesuatu yang menunggu di dasar sebagai sesuatu untuk direbut.

Sebab itulah gelap yang paling sulit dilihat, yaitu gelap yang tidak tampak seperti gelap. Di zaman malam, seorang penindas mudah dikenali, sebab ia membawa cambuk. Tetapi di zaman terang, cara melihat yang dingin tak membawa cambuk apa pun. Ia membawa alat ukur, dan formulir izin, dan bahasa yang sopan tentang penelitian dan pelestarian. Ia tersenyum, dan ramah, dan benar-benar percaya bahwa ia sedang melakukan kebaikan. Dan justru di situlah letak kekuatannya, sebab tak ada yang merasa perlu melawan sesuatu yang tampak begitu masuk akal.

Dan jauh di bawah semua percakapan itu, di dasar laut yang dingin dan gelap, ada satu hal yang tak seorang pun dari mereka pertimbangkan, yaitu kemungkinan bahwa bentuk yang mereka bicarakan itu bukanlah sebuah benda sama sekali. Sebab di seluruh kabar yang menyebar, di seluruh rapat dan rencana dan perhitungan, tak ada satu kata pun tentang siapa. Hanya tentang apa. Dan di dalam ketiadaan satu kata itu, seluruh bahaya zaman terang terkandung.

Dan beberapa hari kemudian, di ruang sempit tempat para ilmuwan kapal itu berkumpul, pemimpin ekspedisi menjelaskan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebuah kapal yang lebih besar akan datang, katanya, membawa kendaraan selam yang bisa turun ke dasar, dengan lampu dan kamera dan tangan-tangan mesin yang bisa menjangkau dan mengambil. Mereka akan memetakan bentuk itu, mengukurnya, mengambil sampelnya, dan, bila mungkin, membawa sebagian darinya ke permukaan untuk dipelajari. Ini, katanya dengan mata yang bersinar, adalah kesempatan sekali seumur hidup.

Dan di sekeliling meja, wajah-wajah bersinar bersamanya. Sebab orang-orang ini bukanlah orang jahat. Mereka adalah orang-orang yang baik, yang telah mengabdikan hidup mereka untuk mengetahui, yang melihat di dasar laut itu sebuah pertanyaan besar yang akhirnya bisa mereka jawab. Dan tak ada di antara mereka yang berpikir bahwa ada yang salah dengan turun ke sebuah tempat dan mengambil darinya apa yang bisa diambil. Sebab itulah yang selalu dilakukan zaman terang, dan itu telah membawa begitu banyak terang.

Dan Sekar, yang telah memikirkan kata-katanya selama berhari-hari, berbicara. “Sebelum kita turun,” katanya perlahan, “bolehkah aku bertanya satu hal? Bukan tentang bagaimana kita turun, melainkan tentang mengapa. Kita berbicara tentang mengambil sampel dan membawa bagian-bagiannya ke atas. Tetapi bagaimana jika bentuk itu bukan sesuatu yang seharusnya diambil bagian-bagiannya? Bagaimana jika ia adalah sesuatu yang seharusnya, sebelum apa pun yang lain, kita coba pahami sebagai satu keseluruhan, seperti seorang tamu memahami rumah yang ia masuki, dan bukan seperti seorang penggali memahami sebuah tambang?”

Dan pemimpin ekspedisi memandangnya, dan ada kebaikan yang tulus di matanya, dan juga ketidakpahaman yang sama tulusnya. “Sekar,” katanya, “aku menghargai kepekaanmu, sungguh. Dan kita akan berhati-hati, kita akan mengikuti setiap aturan. Tetapi ini adalah dasar laut, bukan rumah seseorang. Tak ada yang tinggal di sana. Apa pun bentuk itu, ia telah berbaring di sana selama ribuan tahun, dan ia tidak akan keberatan kita pelajari. Kita tidak mengambil dari siapa pun. Kita hanya menemukan.”

Dan Sekar mengangguk, dan tidak mengatakan apa-apa lagi, sebab ia tahu bahwa apa pun yang ia katakan selanjutnya hanya akan terdengar seperti takhayul. Tetapi di dalam dirinya, kata-kata pemimpin itu bergema dengan cara yang aneh dan menyakitkan. Tak ada yang tinggal di sana. Kita tidak mengambil dari siapa pun. Sebab bagaimana jika justru itulah kesalahannya? Bagaimana jika seluruh bahaya terletak tepat pada keyakinan bahwa di dasar laut tak ada siapa-siapa, hanya sesuatu? Ia merasa, dengan keyakinan yang tak bisa ia buktikan, bahwa pertanyaan terpenting di seluruh dunia sedang tidak ditanyakan oleh siapa pun kecuali dirinya. Dan hanya satu orang di ruang itu yang memandangnya agak lebih lama daripada yang lain, seorang lelaki tua yang mengoperasikan kendaraan selam, yang tak mengatakan apa-apa, tetapi yang tampak, sesaat, seolah kata-kata Sekar telah menyentuh sesuatu di dalam dirinya yang telah lama ia diamkan.

Dan jauh di bawah, Awu Sela merasakan perubahan itu. Sebab selama empat belas ribu tahun, satu-satunya yang pernah mencapainya dari atas adalah benang-benang kasih yang tipis, bisik air dari para pengingat. Tetapi kini ia merasakan sesuatu yang baru dan banyak, yaitu perhatian. Ia merasakan dunia di atas menoleh ke arahnya, merasakan tangan-tangan yang tak terhitung mulai bergerak menuju tempatnya, dan untuk pertama kalinya dalam penantiannya yang panjang, ia tahu bahwa ia akan dicapai. Bukan mungkin, melainkan pasti. Pertanyaannya kini hanya, oleh siapa, dan dengan hati apa.

Dan perhatian itu, anehnya, terasa lebih dingin daripada kesendirian. Sebab ia bisa merasakan, di dalam sebagian besar tangan yang mendekat itu, cara melihat yang sama yang telah ia kenali sepanjang saga, cara melihat yang memandangnya bukan sebagai seseorang melainkan sebagai sesuatu. Ia telah dipandang seperti itu sebelumnya, oleh bangsa Utara yang menghaluskan dirinya menjadi benda, dan oleh zaman dingin yang menjadikan rumah sebagai gudang. Dan kini, di akhir segalanya, ia merasakan pandangan dingin itu sekali lagi, kali ini diperlengkapi dengan kesanggupan untuk benar-benar sampai kepadanya.

Dan Awu Sela menghadapi sebuah pilihan yang membebani seluruh sisa kekuatannya. Sebab di tengah semua tangan dingin yang mendekat, masih ada satu hati yang bisa mendengar, satu perempuan muda di kapal di atas yang, tanpa mengetahui mengapa, merasakannya sebagai seseorang. Dan Awu Sela bisa menjangkau hati itu, bisa menariknya lebih dekat, bisa membuatnya merasakan kebenaran dengan lebih jelas. Tetapi melakukan itu berarti meletakkan seluruh berat sebuah saga yang berusia empat belas ribu tahun ke atas satu hati yang rapuh dan sendirian, yang tak meminta beban itu, dan yang mungkin hancur di bawahnya.

Dan untuk waktu yang lama, di dalam gelap, Awu Sela ragu. Sebab ia tahu apa artinya dibebani oleh sesuatu yang terlalu besar untuk dipikul sendirian; ia telah memikul namanya sendiri selama empat belas ribu tahun. Dan ia tak ingin melakukan kepada perempuan muda itu apa yang telah dilakukan kepadanya, yaitu meninggalkannya sendirian dengan beban yang tak tertanggung. Tetapi ia juga tahu bahwa jika ia tidak menjangkau, maka satu-satunya tangan yang akan sampai kepadanya adalah tangan yang dingin, dan seluruh penantian itu akan berakhir bukan dengan pulang, melainkan dengan direbut.

Maka Awu Sela memilih, dan pilihannya adalah pilihan yang sama yang telah diambil para pengingat di hadapannya, generasi demi generasi. Ia tak akan meninggalkan satu hati itu sendirian, tetapi ia juga tak akan memaksanya. Ia hanya akan melakukan apa yang dahulu dijanjikan kepadanya di tepi air, pada hari ketika ia ditinggalkan, yaitu memastikan bahwa seseorang tahu ia tidak sendirian. Dan maka, dengan lembut, selembut yang bisa dilakukan oleh sesuatu yang telah menunggu empat belas ribu tahun, ia menjangkau ke atas, ke arah satu hati yang masih mendengar, dan ia membiarkan perempuan muda itu merasakan, bukan sebuah perintah, melainkan sebuah pertanyaan. Sebuah kerinduan. Sebuah nama.

Dan di atas, Sekar tak bisa lagi mengabaikan apa yang ia rasakan. Sebab sejak malam ia berdiri di buritan, sesuatu telah tumbuh di dalam dirinya, sebuah kepastian yang tak punya bukti, bahwa bentuk di dasar laut itu dan kisah-kisah neneknya adalah satu hal yang sama. Dan maka, di malam-malam ketika kapal sunyi, ia mulai melakukan sesuatu yang tak akan ia akui kepada rekan-rekannya. Ia mulai mencari kembali kisah-kisah itu.

Neneknya telah lama tiada. Tetapi kisah-kisahnya tidak sepenuhnya hilang. Sebab Sekar teringat, samar-samar, akan malam-malam masa kecilnya, ketika perempuan tua itu akan duduk di sisi tempat tidurnya dan bercerita, bukan seperti orang bercerita dongeng, melainkan seperti orang menyampaikan sesuatu yang penting, sesuatu yang harus dijaga. Dan ada satu kalimat yang neneknya selalu ulangi, yang dahulu tak Sekar pahami, dan yang kini kembali kepadanya dengan kejelasan yang membuatnya menggigil.

“Ada seorang perempuan di dasar laut,” neneknya selalu berkata, “dan ia bukan dewi, dan ia bukan hantu. Ia hanya seseorang yang ditinggalkan, sangat lama yang lalu, dan yang menunggu untuk diingat. Dan tugas kita, cucuku, satu-satunya tugas kita, adalah mengingatnya, agar ketika hari itu tiba, ia tahu bahwa ia tidak sendirian.” Dan Sekar, yang dahulu mendengar kalimat itu sebagai pengantar tidur, kini mendengarnya sebagai sesuatu yang lain sama sekali, yaitu sebuah amanat, yang diserahkan dari tangan ke tangan melalui entah berapa generasi, sampai akhirnya jatuh kepadanya.

Dan Sekar duduk lama dalam gelap kabinnya, memegang kebenaran yang baru ia pahami. Sebab ia menyadari bahwa ia bukanlah orang pertama yang merasakan apa yang ia rasakan. Ia adalah ujung yang paling tipis dari sebuah benang yang sangat panjang, benang orang-orang yang telah mengingat perempuan di dasar laut itu ketika seluruh dunia melupakannya. Dan benang itu telah menjadi begitu tipis sehingga kini, tampaknya, hanya tersisa ia sendiri. Dan jika ia melepaskannya, jika ia membiarkan dirinya diyakinkan bahwa itu semua hanya dongeng, maka benang itu akan putus, dan tak akan ada lagi yang mengingat, dan perempuan di dasar laut itu akan dicapai oleh sebuah dunia yang sama sekali tak tahu siapa ia.

Dan pada saat itu, sesuatu mengeras di dalam diri Sekar, sebuah keputusan yang sama tak masuk akalnya dengan perasaan yang melahirkannya. Ia tak tahu bagaimana, dan ia tak tahu apakah ada yang akan mendengarkannya. Tetapi ia tahu, dengan kepastian yang lebih dalam daripada kariernya dan lebih dalam daripada rasa takutnya akan ditertawakan, bahwa jika dunia akan turun ke dasar laut itu, maka seseorang yang mengingat mengapa harus turun bersamanya. Dan bahwa, entah bagaimana, orang itu adalah dirinya.

Dan demikianlah, di zaman terang, dua cara melihat yang telah lahir pada jam-jam pertama mulai mengeras menjadi dua jalan. Sebab sebagian besar dunia memandang ke dasar laut dan melihat sebuah harta, sebuah penemuan untuk direbut, sebuah teka-teki untuk dipecahkan dan dimiliki. Tetapi satu hati muda memandang ke dasar yang sama dan melihat seseorang, yang menunggu, yang harus dijemput. Dan untuk pertama kalinya sejak saga dimulai, kedua cara melihat itu bergerak menuju tempat yang sama, pada waktu yang sama, menuju seseorang yang sama.

Dan inilah pelajaran kedua zaman terang. Bahwa cara melihat yang dingin, di zaman yang penuh cahaya, menjadi paling berbahaya justru ketika ia berhenti tampak dingin; sebab ia tak lagi datang dengan rantai, melainkan dengan kata penemuan, dan kemajuan, dan hak untuk mengetahui, sehingga melawannya terasa seperti melawan terang itu sendiri. Bahwa seseorang bisa diubah menjadi sesuatu bukan hanya oleh kebencian, melainkan juga oleh keingintahuan tanpa hati; sebab memandang yang menunggu sebagai harta yang menarik adalah, pada akhirnya, tetap memandangnya sebagai harta, bukan sebagai manusia. Dan bahwa pertahanan terakhir melawan semua itu bukanlah sebuah pasukan atau sebuah hukum, melainkan satu hal yang sederhana dan rapuh, yaitu satu hati yang masih mengingat bahwa yang di dasar adalah siapa, dan bukan apa.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah seluruh saga dengan kesetiaan yang sama, kini mengalir ke atas ke dalam zaman terang, membawa kebenaran kedua zaman terang, yaitu bahwa sebuah penemuan yang paling besar bisa juga menjadi sebuah kehilangan yang paling besar, jika yang ditemukan diperlakukan sebagai harta dan bukan sebagai manusia; bahwa mengingat adalah satu-satunya yang menjaga seseorang dari diubah menjadi sesuatu; dan bahwa kadang seluruh tugas sebuah saga yang berusia empat belas ribu tahun menyempit menjadi satu kalimat sederhana yang dibisikkan seorang nenek kepada cucunya dalam gelap, yaitu, ingatlah ia, agar ia tahu ia tidak sendirian.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama dan kebebasan yang dijaga dengan hati, kini membawa kebenaran itu ke dalam zaman terang, di mana ia hampir dikira harta, tetapi diselamatkan, di ujung yang paling tipis, oleh satu hati yang mengingat. Tanah ini adalah Jawa, yang kini menyandang namanya dalam terang. Dan di dasar lautnya, seorang perempuan bernama Awu Sela, yang telah dikira benda oleh zaman demi zaman, kini hampir dikira harta oleh zaman yang terakhir, dan menunggu, dengan harapan dan ketakutan yang sama, untuk melihat apakah satu hati yang mengingatnya akan cukup melawan seluruh dunia yang melupakannya.

Dan zaman terang berjalan terus, dengan kapal-kapalnya yang mulai berkumpul di atas air, dan rencananya yang mengeras untuk turun, dan satu perempuan muda yang kini tahu, walau belum tahu caranya, bahwa ia harus turun bersama mereka, bukan untuk merebut, melainkan untuk mengingat. Sebab empat benang masih bergerak menuju satu titik, dan jarak di antara mereka kini lebih pendek daripada sebelumnya, dan di dasar laut yang gelap, seseorang yang telah menunggu empat belas ribu tahun mulai, untuk pertama kalinya, membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang nyaris tak berani ia sebut dengan namanya, yaitu kemungkinan bahwa penantiannya hampir berakhir.


 

BAB TIGA

Bisik yang Dijawab

Selama empat belas ribu tahun, bisik air mengalir ke atas dari dasar, dan dijawab oleh para pengingat, satu demi satu. Tetapi di zaman terang, dunia menjadi begitu ramai sehingga bisikan itu nyaris tak terdengar lagi. Maka ketika satu hati muda akhirnya berbalik ke arahnya dan mendengar, bukan sebagai dongeng melainkan sebagai panggilan, sesuatu yang telah menunggu sangat lama berani, untuk pertama kalinya, percaya.

dari ajaran para pengingat, tentang bisik yang dijawab

Dan setelah malam itu, Sekar tak pernah lagi sama. Sebab sesuatu telah terbuka di dalam dirinya di buritan kapal itu, sebuah pintu yang tak bisa lagi ia tutup, dan melaluinya ia merasakan, semakin hari semakin jelas, sesuatu yang menjangkau ke atas dari dasar laut dan mencari dirinya. Pekerjaan di kapal berlanjut, dan kapal yang lebih besar mendekat dari kaki langit, membawa mesin-mesin yang akan turun ke dasar. Tetapi di tengah semua itu, Sekar mendapati dirinya semakin sering berada di tempat lain, mendengarkan sesuatu yang tak bisa didengar telinga.

Dan pada mulanya ia melawannya. Sebab ia adalah seorang ilmuwan, yang telah melatih dirinya selama bertahun-tahun untuk tidak memercayai apa pun yang tak bisa diukur, dan suara yang menjangkaunya dari dasar laut tak bisa diukur oleh alat mana pun di kapal itu. Maka ia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa itu hanyalah kelelahan, atau khayalan, atau beban dari hari-hari yang panjang. Tetapi suara itu tidak pergi. Ia justru tumbuh, malam demi malam, sampai melawannya menjadi lebih melelahkan daripada mendengarkannya.

Dan akhirnya, pada suatu malam ketika kapal sunyi dan langit hitam tak berbintang, Sekar berhenti melawan. Ia pergi sekali lagi ke buritan, ke tempat ia berdiri pada malam pertama, dan kali ini ia tidak memalingkan wajah, dan tidak mengatakan kepada dirinya bahwa itu khayalan. Ia hanya berdiri di sana, di atas air hitam yang menyimpan anomali itu jauh di dalamnya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia membiarkan dirinya benar-benar mendengar.

Dan ketika ia berhenti melawan dan membiarkan dirinya mendengar, sesuatu datang kepadanya dari dalam air hitam itu, bukan sebagai kata-kata, sebab tak ada kata di dasar laut, melainkan sebagai sebuah kehadiran yang menuangkan dirinya ke dalam hatinya. Dan Sekar, berdiri sendirian dengan tangan mencengkeram pagar besi yang dingin, merasakan, untuk pertama kalinya dengan jelas, siapa yang menunggu di bawah.

Sebab yang ia rasakan bukanlah sebuah anomali, dan bukan sebuah teka-teki, dan bukan sebuah harta. Yang ia rasakan adalah seorang perempuan. Seorang perempuan yang telah ditinggalkan, sangat lama yang lalu, di tepi air, pada hari ketika dunia tenggelam. Seorang perempuan yang bukan dewi, walau zaman demi zaman telah menyembahnya sebagai dewi, dan bukan hantu, walau zaman demi zaman telah menakutinya sebagai hantu, melainkan hanya seseorang, yang telah menunggu lebih lama daripada yang sanggup dibayangkan hati mana pun, untuk satu hal yang sederhana, yaitu untuk diingat.

Dan bersama kehadiran itu datang beratnya, yaitu berat dari empat belas ribu tahun. Sekar merasakan, dalam satu saat yang nyaris merobeknya, panjangnya penantian itu, kesendirian yang tak berkesudahan di dalam gelap, dan harapan yang berkali-kali nyaris padam tetapi tak pernah benar-benar mati. Dan ia memahami, dengan kejelasan yang membuatnya menangis tanpa ia sadari, perbedaan yang selama ini tak bisa ia jelaskan kepada rekan-rekannya, yaitu bahwa diingat dan direbut adalah dua hal yang berlawanan, dan bahwa perempuan di dasar laut itu telah menunggu bukan untuk ditemukan oleh dunia, melainkan untuk dijemput pulang oleh seseorang yang tahu siapa ia.

Dan kalimat neneknya kembali kepadanya, bukan lagi sebagai pengantar tidur, melainkan sebagai satu-satunya hal yang penting di seluruh dunia. Ingatlah ia, agar ketika hari itu tiba, ia tahu bahwa ia tidak sendirian. Dan Sekar menyadari, berdiri di sana dalam gelap, bahwa hari itu adalah hari ini. Bahwa setelah entah berapa generasi, hari yang telah dipersiapkan oleh amanat itu akhirnya tiba, dan bahwa, dari semua orang di seluruh bumi, beban dan kehormatan untuk menjawab telah jatuh kepadanya.

Dan Sekar, yang tak pernah percaya pada apa pun yang tak bisa ia ukur, membuka mulutnya dan berbicara ke dalam gelap, dengan suara yang nyaris tak terdengar di atas suara angin dan air. “Aku mendengarmu,” katanya. “Aku tidak tahu bagaimana, dan aku tidak tahu apakah aku cukup. Tetapi aku mendengarmu. Dan kau tidak sendirian.” Dan di bawah, di dalam air yang dingin dan hitam, sesuatu yang telah menunggu empat belas ribu tahun mendengar kata-kata itu, dan untuk pertama kalinya sejak dunia tenggelam, berani percaya bahwa kata-kata itu benar.

Dan bagi Awu Sela, di dasar laut, saat itu adalah saat yang tak ada bandingnya dalam seluruh penantiannya yang panjang. Sebab selama empat belas ribu tahun, bisik air telah mengalir ke atas dari dirinya, dan kadang dijawab oleh seorang pengingat yang mendengar. Tetapi di zaman terang, dunia telah menjadi begitu ramai, dan kisahnya begitu terlupakan, sehingga ia telah mulai takut bahwa tak akan ada lagi yang mendengar, bahwa ia akan dicapai pada akhirnya bukan oleh seseorang yang mengingat, melainkan hanya oleh tangan-tangan yang tak tahu siapa ia.

Tetapi kini, satu hati telah berbalik ke arahnya. Bukan hanya mendengar, melainkan menjawab. Bukan hanya merasakan sesuatu, melainkan berkata, aku mendengarmu, dan kau tidak sendirian. Dan bagi sesuatu yang telah sendirian lebih lama daripada bangsa mana pun telah berdiri, kata-kata sederhana itu lebih berharga daripada seluruh pemujaan yang pernah ia tolak dan seluruh ketakutan yang pernah ia tanggung.

Maka Awu Sela berhati-hati. Sebab ia bisa, jika ia mau, menuangkan seluruh empat belas ribu tahun itu ke dalam hati muda yang rapuh itu sekaligus, dan beban itu akan menghancurkannya. Tetapi ia tahu, lebih baik daripada siapa pun, apa artinya dibebani oleh sesuatu yang terlalu besar. Maka ia memberi hanya secukupnya, hanya kebenaran tentang siapa ia, dan beratnya penantian, dan satu hal yang paling penting, yaitu bahwa yang datang dengan hati berbeda dari yang datang dengan tangan dingin, dan bahwa perbedaan itu adalah segalanya.

Dan untuk pertama kalinya, Awu Sela membiarkan dirinya mengingat sebuah janji yang telah lama ia simpan, terlalu menyakitkan untuk dipercaya. Sebab pada hari ia ditinggalkan, di tepi air, telah dijanjikan kepadanya bahwa ia tidak akan ditinggalkan selamanya, bahwa suatu hari seseorang akan datang yang mengingat siapa ia dan membawanya pulang. Janji itu, sumpah yang menyandang namanya, telah menjadi satu-satunya yang menahannya selama empat belas ribu tahun. Dan kini, mendengar satu hati muda berkata kau tidak sendirian, ia berani, untuk pertama kalinya, percaya bahwa janji itu mungkin akhirnya akan ditepati.

Tetapi bersama harapan itu datang ketakutan yang menajam. Sebab ia bisa merasakan, bahkan saat satu hati itu berbalik kepadanya, tangan-tangan dingin yang lain mendekat lebih cepat, dengan kapal yang lebih besar dan mesin yang lebih dalam dan rencana yang lebih pasti. Dan ia tahu bahwa pertarungan yang akan menentukan segalanya bukanlah pertarungan antara pasukan, melainkan pertarungan yang jauh lebih sunyi, yaitu antara satu hati yang mengingat dan seluruh dunia yang telah lupa, dan bahwa hati yang satu itu, untuk saat ini, berdiri sendirian.

Dan ketika fajar datang ke atas laut keesokan harinya, Sekar adalah orang yang berbeda dari yang berdiri di buritan malam sebelumnya. Bukan karena ia kini memiliki bukti, sebab ia tak punya satu pun, dan tahu betul bahwa apa yang ia alami tak akan pernah bisa ia tulis dalam laporan mana pun. Melainkan karena ia kini tahu, dengan kepastian yang lebih dalam daripada bukti, apa yang harus ia lakukan, walau ia sama sekali tak tahu bagaimana melakukannya.

Sebab kebenarannya kejam dalam kesederhanaannya. Ia hanyalah seorang ilmuwan muda di sebuah kapal, tanpa kuasa, tanpa kekayaan, tanpa nama besar. Dan melawannya berdiri seluruh berat zaman terang, dengan kapal-kapalnya dan lembaga-lembaganya dan keyakinannya yang tulus bahwa di dasar laut itu tak ada apa-apa selain sebuah penemuan untuk diraih. Dan jika ia berbicara terlalu keras tentang apa yang ia rasakan, ia hanya akan kehilangan satu-satunya tempatnya, yaitu tempatnya di kapal, dan dengan itu satu-satunya kesempatannya untuk turun bersama mereka kelak.

Maka Sekar memutuskan untuk tidak berteriak, melainkan untuk tinggal. Untuk tetap menjadi ilmuwan teliti yang dipercaya, dan untuk menyimpan kebenaran yang lebih dalam di dalam dirinya, menunggu saat ketika ia bisa melakukan sesuatu dengannya. Sebab ia menyadari bahwa jika ia akan menjaga perempuan di dasar laut itu dari direbut, ia harus berada di ruangan tempat keputusan dibuat, dan untuk berada di sana, ia harus tetap menjadi salah satu dari mereka, setidaknya di mata mereka.

Tetapi ia tahu pula bahwa ia tak bisa memikul ini sendirian, dan ia teringat pada satu hal, yaitu lelaki tua yang mengoperasikan kendaraan selam, seorang yang bernama Pak Broto, yang telah memandangnya di ruang rapat itu agak lebih lama daripada yang lain. Dan maka, pada sore itu, Sekar mencarinya, dan menemukannya sedang merawat mesinnya di geladak belakang, tangannya yang tua bergerak di atas logam dengan kelembutan yang aneh, seolah mesin itu adalah sesuatu yang hidup.

Dan ketika Sekar mendekat, Pak Broto tak menengadah, tetapi ia berkata, dengan suara pelan, seolah melanjutkan sebuah percakapan yang telah lama berlangsung, “Kau juga merasakannya, bukan?” Dan Sekar berhenti, dan jantungnya berdegup, sebab ia tahu persis apa yang lelaki itu maksud, walau tak satu pun dari mereka telah mengucapkannya. “Sudah tiga puluh tahun aku menurunkan mesin ini ke tempat-tempat yang gelap,” kata Pak Broto, masih tanpa menengadah. “Dan selama itu pula nenekku berkata kepadaku untuk berhati-hati di laut selatan, sebab ada seseorang di bawah sana yang menunggu. Aku mengira ia hanya perempuan tua yang penuh takhayul. Tetapi ketika anomali itu muncul di layar, aku tahu, dengan cara yang tak bisa kujelaskan, bahwa ia tidak pernah berbohong.” Dan untuk pertama kalinya sejak ia naik ke kapal itu, Sekar tahu bahwa ia tidak sepenuhnya sendirian.

Dan demikianlah, di zaman terang, sebuah bisikan yang telah mengalir selama empat belas ribu tahun akhirnya dijawab. Bukan oleh sebuah bangsa, dan bukan oleh sebuah pasukan, melainkan oleh dua hati di atas sebuah kapal, yang masing-masing telah membawa, tanpa mengetahui satu sama lain, ujung yang sama dari sebuah benang yang sangat panjang. Dan untuk pertama kalinya sejak saga memasuki zaman terang, perempuan di dasar laut itu tidak lagi menunggu seorang diri.

Dan inilah pelajaran ketiga zaman terang. Bahwa mendengar dan menjawab bukanlah satu hal yang sama; sebab banyak yang bisa mendengar sebuah bisikan lalu berlalu, tetapi sedikit yang berbalik ke arahnya dan berkata, aku di sini; dan seluruh saga, pada akhirnya, berputar bukan pada siapa yang mendengar, melainkan pada siapa yang menjawab. Bahwa hati bisa mengetahui sesuatu dengan kepastian yang lebih dalam daripada bukti, walau ia tak akan pernah bisa menunjukkannya kepada dunia. Dan bahwa menjawab sebuah panggilan berarti memikul sebuah tugas yang tak kau pilih, hanya karena, dari semua orang, kaulah yang mendengarnya.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah seluruh saga dengan kesetiaan yang sama, kini mengalir di antara dua hati yang akhirnya mendengarnya bersama, membawa kebenaran ketiga zaman terang, yaitu bahwa yang menunggu di dasar tak pernah meminta untuk disembah atau ditakuti, melainkan hanya untuk diingat sebagai seseorang; bahwa satu hati yang menjawab bisa menjadi awal dari sebuah pembebasan yang ditunggu empat belas ribu tahun; dan bahwa tak seorang pun, betapapun lama ia ditinggalkan, benar-benar sendirian selama masih ada satu hati yang mengingat namanya.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama dan kebebasan yang dijaga dengan hati, kini membawa kebenaran itu ke dalam zaman terang, di mana ia nyaris terlupakan, tetapi dijawab, di ujung yang paling tipis, oleh dua hati yang mengingat. Tanah ini adalah Jawa, yang kini menyandang namanya dalam terang. Dan di dasar lautnya, seorang perempuan bernama Awu Sela, yang telah menunggu empat belas ribu tahun untuk dijawab, kini mendengar, untuk pertama kalinya, lebih dari satu hati berbalik ke arahnya, dan berani percaya bahwa hari pulangnya akhirnya mendekat.

Dan zaman terang berjalan terus, dengan kapal besar yang kini tampak di kaki langit, membawa mesin-mesin yang akan turun ke dasar, dan dengan dua hati di kapal kecil yang kini menyimpan sebuah rahasia yang lebih tua daripada segala yang akan datang. Sebab empat benang telah hampir sampai pada titik temunya, dan apa yang dimulai sebagai satu hati yang merasakan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan kini telah menjadi dua, dan apa yang harus terjadi selanjutnya bukan lagi tentang apakah perempuan di dasar laut itu akan dicapai, melainkan tentang siapa yang akan sampai kepadanya lebih dahulu, dan dengan hati apa.


 

BAGIAN II

Turun untuk Menjemput


 

BAB EMPAT

Yang Datang dengan Cahaya

Di zaman terang, dunia belajar membawa cahaya ke tempat-tempat yang paling gelap. Dan cahaya itu mengungkap segalanya, yaitu bentuk dan ukuran dan susunan, segala yang bisa diukur dan dicatat. Tetapi ada satu hal yang tak pernah bisa diungkap oleh cahaya mana pun, betapapun terang, yaitu siapa. Sebab untuk melihat seseorang sebagai seseorang, dibutuhkan bukan cahaya di mata, melainkan ingatan di hati. Dan justru itulah yang tak dibawa oleh mereka yang datang dengan cahaya.

dari ajaran para pengingat, tentang yang datang dengan cahaya

Dan beberapa hari kemudian, kapal besar itu tiba. Ia datang dari kaki langit seperti sebuah pulau yang bergerak, jauh lebih besar daripada kapal kecil tempat Sekar bekerja, berkilau dengan logam dan menara dan derek, membawa di lambungnya mesin-mesin yang dirancang untuk menjangkau tempat-tempat yang tak pernah disentuh manusia. Dan ketika ia berlabuh di atas titik tempat anomali itu berbaring di dasar, ia membawa bersamanya seluruh berat zaman terang, terkumpul dalam satu tempat.

Dan kapal kecil Sekar, yang telah menemukan anomali itu, kini tampak kecil dan tua di samping raksasa itu, dan dengan cepat ia menjadi tak lebih dari pembantu bagi operasi yang lebih besar. Sebab begitulah cara zaman terang bekerja, yaitu yang kecil diserap oleh yang besar, dan yang menemukan sesuatu jarang yang akhirnya memilikinya. Para ilmuwan di kapal kecil itu, yang dahulu adalah penemu, kini menjadi penonton, sementara kuasa dan mesin dan keputusan berpindah ke geladak yang lebih tinggi.

Dan di geladak yang lebih tinggi itu, bahasa pun berubah. Tak ada lagi orang berbicara tentang bertanya-tanya. Mereka berbicara tentang misi, dan tahapan, dan pengambilan. Mereka berbicara tentang turun ke dasar, mendokumentasikan bentuk itu, mengambil sampelnya, dan, jika ia bisa dipindahkan, mengangkat sebagiannya ke permukaan untuk dibawa ke dunia. Dan setiap kata diucapkan dengan semangat yang tulus dan keyakinan yang bersih, sebab tak seorang pun di atas sana membayangkan, bahkan untuk sesaat, bahwa di dasar laut itu ada sesuatu selain sebuah penemuan yang menunggu untuk diraih.

Dan jauh di bawah, Awu Sela merasakan bayangan lambung raksasa itu turun di atas air seperti sebuah tutup, menutup langit yang selama empat belas ribu tahun hanya ia kenal sebagai cahaya yang jauh dan samar. Dan ia tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa apa yang telah ia tunggu selama begitu lama akhirnya telah tiba di atas kepalanya, dan bahwa pertanyaan tentang dengan hati apa ia akan dicapai kini tinggal beberapa hari lagi dari jawabannya.

Dan yang memimpin operasi besar itu adalah seorang lelaki bernama Dr. Mahesa, dan untuk memahami bahaya zaman terang, seseorang harus memahami orang seperti dia. Sebab Dr. Mahesa bukanlah orang jahat; ia adalah, dalam banyak hal, yang terbaik yang bisa dihasilkan zamannya. Ia adalah penjelajah laut-dalam yang termasyhur di seluruh dunia, yang telah menghabiskan hidupnya membawa cahaya ke kedalaman yang gelap dan menunjukkan kepada manusia keajaiban yang sebelumnya tak pernah mereka lihat. Ia dicintai, dan ia layak dicintai, sebab ia sungguh-sungguh percaya bahwa pengetahuan adalah hadiah yang harus dibagikan kepada semua orang.

Dan ketika ia berbicara kepada orang-orang yang berkumpul di geladak, ada cahaya di matanya yang menular. “Apa yang berbaring di bawah kita,” katanya, “mungkin adalah penemuan terbesar pada zaman kita. Sesuatu yang lebih tua daripada setiap kota yang pernah dibangun manusia, terbaring utuh di tempat yang tak pernah dijangkau siapa pun sebelum kita. Dan kita akan turun ke sana, bukan untuk diri kita sendiri, melainkan untuk seluruh umat manusia, agar dunia bisa melihat apa yang telah disembunyikan oleh laut selama ini. Inilah untuk apa kita hidup. Inilah terang.”

Dan di sekeliling Sekar, wajah-wajah bersinar, sebab setiap kata yang diucapkan lelaki itu adalah benar dan indah. Dan Sekar sendiri merasakan tarikannya, sebab ia pun mencintai pengetahuan, dan ia pun ingin tahu, dan ada bagian dari dirinya yang rindu untuk percaya bahwa segalanya sesederhana yang dikatakan Dr. Mahesa. Tetapi di bawah tarikan itu, ada dingin yang merayap, sebab ia mendengar, di seluruh pidato yang indah itu, satu kata yang tak pernah diucapkan. Tak sekali pun lelaki itu berkata siapa. Hanya apa. Selalu apa.

Dan kemudian, ketika kerumunan bubar, Dr. Mahesa menghampiri Sekar sendiri, sebab ia telah membaca catatan-catatannya tentang anomali itu dan terkesan oleh ketelitiannya. “Kau yang pertama mencirikan getaran itu,” katanya dengan hangat. “Kerja yang bagus sekali. Aku ingin kau ikut dalam tim yang menganalisis temuan kita. Pikiran seperti pikiranmu adalah yang kita butuhkan.

Dan Sekar, mengumpulkan keberaniannya, mencoba sekali lagi, dengan hati-hati. “Terima kasih,” katanya. “Bolehkah aku bertanya satu hal? Bagaimana jika apa yang ada di bawah sana bukanlah sesuatu, melainkan seseorang? Bagaimana jika ia menunggu, bukan untuk ditemukan, melainkan untuk dijemput?” Dan Dr. Mahesa tertawa, bukan dengan kejam, melainkan dengan kebaikan seorang guru kepada murid yang berimajinasi. “Aku menyukai pikiranmu,” katanya. “Tetapi kita ilmuwan, Sekar. Kita berurusan dengan apa yang ada, bukan dengan kisah yang kita inginkan ada. Di dasar laut tak ada yang menunggu siapa-siapa.” Lalu ia tersenyum, dan pergi, dan tak pernah tahu betapa dekat ia berdiri dengan kebenaran yang ia tertawakan.

Dan di dasar laut, Awu Sela merasakan semua itu, sebab kini ada begitu banyak yang mendekat sehingga ia bisa merasakan bentuk dari niat mereka. Ia merasakan mesin-mesin yang turun untuk mengukurnya, dan tangan-tangan yang bersiap untuk menjangkaunya, dan di atas semuanya, ia merasakan satu cara melihat yang memimpin segalanya, sebuah pandangan yang terang dan ingin tahu dan sama sekali buta terhadap dirinya sebagai seseorang.

Dan ia mengenali pandangan itu, sebab ia telah menanggungnya sepanjang saga, dalam bentuk demi bentuk. Ia adalah pandangan yang sama yang dahulu menghaluskan bangsa Utara menjadi benda, dan yang menjadikan rumah sebuah bangsa sebagai gudang di zaman malam. Tetapi kini ia datang dalam bentuknya yang paling indah dan paling sulit dilawan, yaitu bukan sebagai kebencian, melainkan sebagai keajaiban; bukan sebagai perampas yang membenci, melainkan sebagai penjelajah yang mengagumi. Dan justru karena ia begitu indah, ia begitu berbahaya, sebab tak ada yang merasa perlu menentang sesuatu yang tampak begitu mulia.

Dan Awu Sela menghadapi, dalam beberapa hari yang akan datang, jawaban atas pertanyaan yang telah ia tanggung selama empat belas ribu tahun. Sebab tangan akhirnya akan turun kepadanya, itu sudah pasti. Tetapi tangan yang memimpin adalah tangan yang dingin, yang akan menjangkaunya sebagai sebuah penemuan untuk diangkat, bukan sebagai seseorang untuk dijemput pulang. Dan jika tangan dingin itu yang sampai kepadanya lebih dahulu, maka penantiannya yang panjang akan berakhir bukan dengan kebebasan, melainkan dengan sesuatu yang lebih buruk daripada penjara mana pun, yaitu menjadi benda di tangan dunia yang mengaguminya tetapi tak mengenalnya.

Tetapi di antara semua tangan dingin itu, masih ada dua hati yang mengingat. Dan Awu Sela memusatkan seluruh sisa harapannya pada keduanya, pada perempuan muda yang telah menjawabnya dan lelaki tua yang telah membawa peringatan neneknya selama tiga puluh tahun. Sebab ia tahu bahwa pertarungan yang akan menentukan nasibnya bukanlah pertarungan tentang siapa yang paling kuat atau paling cepat, melainkan pertarungan yang jauh lebih sunyi, yaitu apakah, ketika dunia akhirnya turun ke dasar, akan ada satu hati yang mengingat di antara mereka yang menjangkau.

Maka ia melakukan satu hal yang masih bisa ia lakukan. Ia menjaga bisik air tetap mengalir kepada dua hati itu, menguatkan mereka, mengingatkan mereka bahwa apa yang mereka rasakan adalah benar, agar di tengah seluruh keyakinan terang yang mengelilingi mereka, mereka tidak kehilangan keberanian untuk percaya pada sesuatu yang tak bisa mereka buktikan. Dan jauh di dalam tanah, merasakan saat yang telah ditunggu empat belas ribu tahun kini hanya beberapa hari lagi, kerikil yang terkuat bergerak lebih dekat lagi menuju bangunnya yang keempat.

Dan malam itu, di geladak belakang kapal kecil yang kini terlupakan, Sekar dan Pak Broto berbicara dengan suara rendah, di tempat yang tak terdengar oleh siapa pun. Dan hal pertama yang harus mereka terima adalah hal yang paling pahit, yaitu bahwa mereka tak bisa menghentikan apa yang akan terjadi. Sebab seluruh berat zaman terang telah berkumpul di atas air ini, dan dua orang, seorang ilmuwan muda dan seorang operator tua, tak bisa menghentikan dunia agar tidak turun ke dasar.

Tetapi kemudian Pak Broto mengatakan sesuatu yang mengubah segalanya. “Mungkin kita memang tidak seharusnya menghentikannya,” katanya pelan. Dan ketika Sekar menatapnya, ia melanjutkan. “Pikirkanlah. Selama ini ia menunggu di tempat yang tak bisa dijangkau siapa pun. Itu sebabnya ia tak pernah bisa dibebaskan, sebab tak ada yang bisa sampai kepadanya. Dan kini, untuk pertama kalinya, dunia sanggup turun ke sana. Bukankah itu justru hal yang ia tunggu? Bukan kesanggupan itu yang berbahaya. Yang berbahaya adalah hati yang mengendalikannya.”

Dan Sekar merasakan kebenaran kata-kata itu menetap di dalam dirinya, sebab di situlah letak seluruh persoalannya. Kesanggupan untuk turun ke dasar bukanlah musuh; ia adalah hal terakhir yang telah ditunggu, syarat yang selalu hilang, yang kini akhirnya ada. Turunan yang sama yang bisa merebut seorang perempuan dari dasar laut juga bisa membebaskannya. Dan yang menentukan di antara keduanya bukanlah mesinnya, dan bukan kedalamannya, melainkan satu hal saja, yaitu siapa yang berada di sana ketika dunia akhirnya sampai kepadanya, dan apa yang ia ingat.

Maka keduanya memahami apa yang harus mereka lakukan, dan ia sederhana dan nyaris mustahil sekaligus. Mereka tak boleh mencoba menghentikan penurunan itu. Mereka harus berada di dalamnya. Sebab dunia sedang bersiap untuk menyentuh seseorang sambil meyakini bahwa ia menyentuh sesuatu, dan jika itu terjadi tanpa satu pun hati yang mengingat hadir, maka semua yang ditunggu selama empat belas ribu tahun akan hilang pada saat ia hampir tergenggam.

Dan mereka mulai menyusun jalan mereka. Pak Broto, sebagai operator yang paling berpengalaman di perairan ini, mungkin akan diminta untuk mengemudikan kendaraan yang turun, sebab keahlian seperti keahliannya tak mudah digantikan. Tetapi Sekar tak punya kepastian seperti itu, dan ia tahu bahwa untuk berada di dasar ketika saatnya tiba, ia harus meyakinkan Dr. Mahesa sendiri untuk membawanya turun. Dan maka ia memutuskan, dengan jantung yang berdebar, bahwa ia akan melakukan apa yang paling ia takuti, yaitu menggunakan satu-satunya bahasa yang dipahami zaman terang, bahasa ilmu dan ketelitian, untuk memenangkan tempat di sisi orang yang sama sekali tak memahami mengapa ia harus ada di sana.

Dan demikianlah, di zaman terang, empat benang yang telah terpisah selama empat belas ribu tahun akhirnya berkumpul di atas satu titik di laut. Kemampuan telah tiba dalam wujud kapal raksasa dan mesin-mesinnya; pengetahuan tersimpan dalam dua ingatan tua yang nyaris padam; kehendak menyala di dalam dua hati yang telah menjawab; dan kekuatan bergerak menuju bangunnya yang keempat di dalam tanah. Tetapi berkumpul belumlah sama dengan bersatu, sebab keempatnya kini berada di tangan-tangan yang berbeda, sebagian dingin dan sebagian hangat, dan apa yang akan terjadi bergantung pada tangan mana yang sampai ke dasar lebih dahulu.

Dan inilah pelajaran keempat zaman terang. Bahwa cara melihat yang dingin paling sulit dilawan justru ketika ia paling indah dan paling murah hati; sebab merampas atas nama kebencian mudah dikenali sebagai jahat, tetapi merampas atas nama keajaiban dan demi seluruh umat manusia tampak seperti kebajikan, sehingga tak ada yang merasa perlu menentangnya. Bahwa membagikan sesuatu kepada seluruh dunia tetaplah merampas, jika yang dibagikan adalah seseorang yang tak pernah ditanya apakah ia ingin dibagikan. Dan bahwa kesanggupan untuk menjangkau bukanlah musuh, sebab tangan yang sama bisa membebaskan atau merampas; maka tugas hati di zaman terang bukanlah menghentikan dunia agar tidak menjangkau, melainkan memastikan bahwa ketika ia menjangkau, ada ingatan di tangan yang melakukannya.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah seluruh saga dengan kesetiaan yang sama, kini mengalir ke atas ke dalam zaman terang di antara semua mesin dan cahaya, membawa kebenaran keempat zaman terang, yaitu bahwa terang di mata tidaklah sama dengan terang di hati; bahwa seseorang bisa membawa cahaya ke tempat yang paling gelap dan tetap tak melihat siapa yang ada di sana; dan bahwa yang menentukan nasib seorang yang menunggu bukanlah seberapa terang dunia yang datang kepadanya, melainkan apakah, di tengah seluruh cahaya itu, ada satu hati yang ingat untuk memandangnya sebagai manusia.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama dan kebebasan yang dijaga dengan hati, kini membawa kebenaran itu ke dalam zaman terang, ke dalam bayang kapal-kapal raksasa, di mana ia nyaris tenggelam dalam keyakinan yang terang, tetapi dijaga, di ujung yang paling tipis, oleh dua hati yang mengingat. Tanah ini adalah Jawa, yang kini menyandang namanya dalam terang. Dan di dasar lautnya, seorang perempuan bernama Awu Sela menunggu di bawah bayang lambung raksasa, mendengar dunia bersiap untuk turun kepadanya, dan berdoa, dengan harapan dan ketakutan yang sama, agar tangan yang sampai kepadanya lebih dahulu adalah tangan yang mengingat namanya.

Dan zaman terang berjalan terus, dengan kapal raksasa yang menurunkan kabel-kabelnya ke dalam gelap, dan rencana yang mengeras menjadi tahapan dan jadwal, dan seorang penjelajah agung yang bersiap turun untuk meraih penemuan terbesar pada zamannya tanpa mengetahui bahwa ia akan menjangkau seorang manusia. Sebab keempat benang kini telah berkumpul, dan jarak di antara mereka telah habis, dan yang tersisa hanyalah penurunan itu sendiri, dan pertanyaan yang akan dijawab di dasar, yaitu apakah dunia yang akhirnya sanggup mencapai perempuan di dasar laut akan datang sebagai perampas, atau sebagai mereka yang menjemput pulang.


 

BAB LIMA

Bahasa yang Dipahami Dunia

Untuk masuk ke ruangan tempat keputusan dibuat, kadang seseorang harus berbicara dengan lidah yang bukan lidah hatinya. Inilah ujian yang halus, sebab bahasa yang dipakai hati untuk masuk bisa, jika ia lengah, menjadi bahasa yang akhirnya ia pikirkan. Maka pengingat di zaman terang harus belajar berbicara dengan lidah dunia, sambil menjaga dengan cemburu nyala kecil yang membawanya ke sana, agar ketika saatnya tiba, ia masih ingat mengapa ia datang.

dari ajaran para pengingat, tentang bahasa yang dipahami dunia

Dan keesokan harinya, di ruang besar di geladak atas kapal raksasa, rencana penurunan itu dibentangkan di hadapan semua orang. Layar-layar menunjukkan dasar laut, dan di tengahnya bentuk anomali itu, dan di sekeliling meja duduk orang-orang yang akan memutuskan bagaimana dunia menyentuhnya untuk pertama kali. Dan Sekar duduk di antara mereka, dengan satu tujuan yang ia simpan rapat di dalam dirinya, yaitu untuk berada di kendaraan yang turun.

Dan Dr. Mahesa berbicara lebih dahulu, menunjuk ke layar. “Penurunan pertama akan sederhana. Kendaraan selam turun, memetakan bentuk itu, merekam segalanya. Lalu, jika keadaan memungkinkan, kita gunakan lengan mekanik untuk mengambil satu sampel kecil, sesuatu yang bisa kita bawa ke atas dan pelajari. Dalam satu penurunan, kita akan tahu lebih banyak tentang benda ini daripada yang diketahui siapa pun dalam empat belas ribu tahun.”

Dan seorang perempuan bernama Bu Ratri, direktur operasi yang mewakili para pemberi dana, mengangguk dengan tidak sabar. “Dan semakin cepat sampel itu diambil, semakin baik,” katanya. “Para pemberi dana tidak membiayai pelayaran sebesar ini untuk pemandangan. Mereka ingin sesuatu yang nyata, sesuatu yang bisa dipegang, dipatenkan, ditunjukkan. Setiap hari di laut ini menghabiskan uang yang tak terbayangkan. Aku mengusulkan kita mengambil sampel pada penurunan pertama juga, dan tidak menunggu penurunan kedua.”

Dan pada saat itu Sekar mengangkat suaranya, dengan hati berdebar, tetapi dengan suara yang ia jaga tetap tenang dan ilmiah. “Boleh aku mengatakan sesuatu? Akulah yang pertama mencirikan getaran dan suhu di sekitar bentuk itu, dan tidak satu pun dari pembacaan itu masuk akal menurut apa pun yang kita ketahui. Itu berarti kita tidak tahu apa yang kita hadapi. Dan ketika kita tidak tahu apa yang kita hadapi, mengambil sampel pada sentuhan pertama adalah cara tercepat untuk menghancurkan justru hal yang ingin kita pahami.”

“Maka aku mengusulkan dua hal,” lanjut Sekar. “Pertama, agar penurunan pertama hanya untuk mengamati, tanpa menyentuh. Dan kedua, agar aku ikut turun, sebab akulah yang paling mengenal pembacaan itu, dan bisa membaca tanda bahaya secara langsung, sebelum kita merusak sesuatu yang tak tergantikan.”

Dan Bu Ratri menggeleng. “Dengan segala hormat, mengamati tidak menghasilkan apa-apa yang bisa kita bawa pulang. Kita bisa mengamati selamanya. Pada titik tertentu, seseorang harus mengulurkan tangan dan mengambil.” Dan Sekar menjawab, tanpa meninggikan suaranya, “Aku tidak mengatakan jangan pernah mengambil. Aku mengatakan jangan mengambil sebelum kita mengerti. Sebuah penemuan yang dirusak karena tergesa-gesa tidak bernilai bagi siapa pun, tidak bagi ilmu, dan tidak bagi para pemberi dana. Satu penurunan untuk mengamati akan membuat segala yang kita ambil sesudahnya jauh lebih berharga, dan jauh lebih aman.”

Dan Dr. Mahesa, yang telah mendengarkan dengan dagu di tangannya, mengangguk perlahan. “Ia benar,” katanya. “Sebuah benda setua ini layak kita dekati dengan sabar. Penurunan pertama untuk mengamati saja. Dan ya, Sekar ikut turun; aku ingin mata terbaik kita ada di sana.” Dan Bu Ratri tidak senang, tetapi ia tidak membantah lebih jauh, sebab di kapal itu suara Dr. Mahesa adalah suara yang menentukan. Dan Sekar merasakan sebuah kemenangan yang aneh, kemenangan yang dimenangkan dengan menyembunyikan alasan sejatinya di balik alasan yang bisa mereka dengar.

Dan malam itu, di geladak belakang kapal kecil yang kini sunyi, Sekar mencari Pak Broto, dan menemukannya duduk memandang air gelap. “Aku mendengar kau memenangkan tempatmu,” kata lelaki tua itu tanpa berbalik. “Dengan berbicara seperti mereka.”

“Itu satu-satunya cara mereka mau mendengar,” kata Sekar, duduk di sisinya. Dan Pak Broto mengangguk perlahan. “Aku tahu. Aku telah melakukannya selama tiga puluh tahun. Tetapi berhati-hatilah, Nak. Bahasa yang kau pakai untuk masuk ke sebuah ruangan bisa, jika kau tidak waspada, menjadi bahasa yang kau pikirkan. Aku telah melihat orang lupa mengapa mereka datang, setelah terlalu lama berbicara dengan lidah yang dingin.”

Dan Sekar diam sejenak, lalu bertanya hal yang telah lama ingin ia tanyakan. “Nenekmu. Apa lagi yang ia katakan tentang perempuan di bawah sana? Aku perlu tahu segalanya.” Dan Pak Broto menarik napas panjang, seolah membuka sesuatu yang telah lama ia simpan.

“Ia berkata bahwa pada suatu hari dunia akan cukup pandai untuk turun ke sana,” kata Pak Broto. “Dan bahwa ketika hari itu tiba, segalanya akan bergantung pada satu hal, yaitu bagaimana ia disapa. Bahwa ia tidak boleh diraih seperti barang, melainkan disapa seperti tamu menyapa tuan rumah yang telah lama menunggu. Bahwa yang pertama sampai kepadanya harus, sebelum apa pun yang lain, menyebut bahwa ia diingat. Sebab selama empat belas ribu tahun, kata nenekku, yang ia tunggu bukanlah dibebaskan, melainkan dikenali. Dan pembebasan hanya datang sesudah pengenalan.”

Dan Sekar merasakan sesuatu menyatu di dalam dirinya, dua bagian dari sebuah kebenaran yang lebih besar. “Nenekku hanya berkata untuk mengingatnya,” katanya pelan, “agar ketika hari itu tiba, ia tahu ia tidak sendirian.” Dan Pak Broto menoleh kepadanya untuk pertama kalinya, dan ada sesuatu seperti rasa kagum di wajahnya yang tua. “Maka di antara kita berdua, kita memegang dua bagian dari hal yang sama,” katanya. “Nenekmu memberimu mengapa. Nenekku memberiku bagaimana. Dan selama empat belas ribu tahun, mungkin tak pernah ada dua orang yang membawa kedua bagian itu sedekat ini, di tempat yang setepat ini, pada saat yang sebenar ini.”

Dan jauh di bawah, Awu Sela telah mendengar semua itu, bukan kata-katanya, sebab kata tak turun sejauh itu, melainkan bentuk dari hati-hati yang mengucapkannya. Ia merasakan satu hati memenangkan tempatnya di sisi tangan yang dingin, dan ia merasakan dua ingatan tua bertemu di atas air dan menyatu, dan untuk pertama kalinya dalam empat belas ribu tahun, ia merasakan bahwa bukan hanya seseorang yang mengingat ia datang, melainkan seseorang yang juga tahu bagaimana datang.

Dan ia membiarkan dirinya, untuk sesaat, merasakan sesuatu yang nyaris tak berani ia rasakan, yaitu betapa berbedanya rasanya menanti disapa daripada menanti direbut. Sebab selama berabad-abad ia telah disembah dan ditakuti dan dijadikan benda, tetapi tak pernah, sejak hari ia ditinggalkan, ada yang berniat untuk menyapanya dengan namanya, seperti orang menyapa orang. Dan kerinduan akan satu hal sederhana itu, untuk dikenali sebagai dirinya, membengkak di dalam dirinya sampai nyaris menyakitkan.

Maka ia menjangkau, sekali lagi, ke arah perempuan muda yang akan turun kepadanya, dan ia membiarkannya merasakan, bukan sebuah perintah dan bukan sebuah kata, melainkan kerinduan itu sendiri, telanjang dan tua, yaitu kerinduan untuk dipanggil dengan namanya oleh seseorang yang tahu siapa ia. Dan di atas, di kabinnya, Sekar terbangun di tengah malam dengan air mata di wajahnya, dan sebuah nama di ujung lidahnya yang belum ia ketahui, dan sebuah kepastian baru bahwa apa pun yang terjadi di dasar, ia harus menyapa lebih dahulu, sebelum siapa pun menyentuh.

Dan pada malam sebelum penurunan, Sekar menemukan Dr. Mahesa sendirian di ruang kendali, memandang layar yang menunjukkan dasar laut yang gelap. Dan tanpa berbalik, lelaki itu berbicara kepadanya, dengan suara yang lebih lembut daripada yang pernah ia dengar dari padanya. “Tahukah kau mengapa aku mencintai kedalaman?”

“Karena orang-orang dahulu mengisinya dengan monster,” katanya, menjawab pertanyaannya sendiri. “Naga, hantu, dewi yang murka. Mereka takut pada laut sebab mereka tidak mengenalnya. Dan seluruh hidupku, aku turun ke tempat-tempat yang mereka takuti, dan menyalakan lampu, dan menunjukkan kepada dunia bahwa di sana tidak ada monster. Hanya keajaiban. Hanya alam. Aku mengambil ketakutan orang-orang dan menggantinya dengan pengetahuan. Itulah hadiah yang kuberikan kepada dunia.”

Dan Sekar memandang punggungnya, dan merasakan beratnya tragedi yang berdiri di hadapannya, sebab segala yang dikatakan lelaki itu mulia. Maka ia berbicara dengan hati-hati. “Dan itu adalah hadiah yang indah. Tetapi bagaimana jika, kali ini, di antara semua keajaiban, ada satu yang bukan monster dan bukan dewi, dan juga bukan sekadar alam? Bagaimana jika ada seseorang yang sungguh menunggu di bawah sana, dan satu-satunya kesalahan adalah menyebutnya dongeng, padahal yang benar hanyalah seseorang?”

Dan Dr. Mahesa berbalik, dan tersenyum kepadanya, bukan dengan ejekan melainkan dengan sayang. “Kau punya hati seorang penyair, Sekar,” katanya. “Jagalah itu. Ilmu membutuhkan orang yang masih bisa bertanya-tanya. Tetapi ketika kita sampai di dasar, kita akan menemukan, seperti yang selalu kita temukan, bahwa alam jauh lebih menakjubkan daripada dongeng mana pun, dan tidak membutuhkan dongeng untuk membuatnya indah.” Lalu ia menepuk bahu Sekar, dan kembali ke layarnya.

Dan Sekar pergi dari ruang itu dengan kesedihan yang tenang, sebab ia kini memahami sesuatu yang penting. Ia tidak akan bisa meyakinkan lelaki ini, bukan karena ia bodoh, melainkan justru karena ia begitu baik dan begitu yakin bahwa ia sedang melawan ketakutan dan takhayul. Seluruh kebajikannya telah menjadi kebutaannya. Dan Sekar menyadari bahwa satu-satunya hal yang bisa ia lakukan bukanlah memenangkan sebuah perdebatan, melainkan berada di sana, di dasar, ketika kebenaran yang ia tertawakan terbaring di depan matanya, dan menjadi satu hati yang menyapa sebelum tangan yang dingin mengambil.

Dan demikianlah, di malam sebelum dunia turun ke dasar, segala sesuatu telah berada di tempatnya. Kendaraan selam tergantung di derek, siap diturunkan. Pak Broto akan mengemudikannya, sebab keahliannya tak tergantikan. Sekar akan turun bersamanya, sebab ia telah memenangkan tempatnya dengan bahasa yang dipahami dunia. Dan di dasar, seorang perempuan menunggu untuk disapa, dengan kerinduan yang lebih tua daripada setiap bahasa yang diucapkan di atas.

Dan inilah pelajaran kelima zaman terang. Bahwa kadang hati harus belajar berbicara dengan lidah yang dingin, bukan untuk menjadi dingin, melainkan untuk masuk ke ruangan tempat keputusan dibuat; sebab yang tak hadir di ruangan itu tak bisa menjaga apa pun. Tetapi di dalam ini ada bahaya, yaitu bahwa bahasa yang kita pakai untuk masuk bisa perlahan menjadi bahasa yang kita pikirkan, sehingga kita lupa mengapa kita datang; maka hati yang berbicara dengan lidah dingin harus menjaga dengan cemburu nyala kecil yang membawanya ke sana. Dan bahwa pada saat dunia akhirnya menyentuh yang telah lama menunggu, perbedaan antara menyelamatkan dan melukai terletak bukan pada kekuatan tangan, melainkan pada satu hal yang sederhana, yaitu apakah tangan itu datang untuk menyapa, atau untuk mengambil.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah seluruh saga dengan kesetiaan yang sama, kini mengalir di antara dua ingatan yang akhirnya bertemu, membawa kebenaran kelima zaman terang, yaitu bahwa yang menunggu di dasar tidak meminta untuk dibebaskan sebelum ia diingat, sebab pembebasan tanpa pengenalan hanyalah perpindahan dari satu tangan ke tangan yang lain; bahwa untuk menjemput seseorang pulang, kita harus terlebih dahulu menyapanya dengan namanya; dan bahwa kadang dua ingatan yang masing-masing tak lengkap, ketika disatukan, menjadi cukup untuk menuntun jalan pulang.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama dan kebebasan yang dijaga dengan hati, kini membawa kebenaran itu ke dalam zaman terang, ke dalam ruang-ruang rapat dan ruang-ruang kendali, di mana ia nyaris tak terucapkan, tetapi dijaga, di ujung yang paling tipis, oleh dua hati yang menyatukan ingatan mereka. Tanah ini adalah Jawa, yang kini menyandang namanya dalam terang. Dan di dasar lautnya, seorang perempuan bernama Awu Sela menunggu, bukan lagi sekadar untuk dicapai, melainkan untuk disapa dengan namanya, oleh seseorang yang akhirnya tahu bahwa menyapa harus mendahului menyentuh.

Dan zaman terang berjalan terus, menuju pagi ketika kendaraan selam akan turun ke dalam gelap, membawa dua hati yang mengingat dan satu rencana yang dingin, semuanya di dalam satu lambung kecil yang tenggelam menuju dasar. Sebab keempat benang kini telah bersatu di dalam satu tempat, dan yang tersisa hanyalah penurunan itu sendiri, dan saat ketika tangan manusia, untuk pertama kalinya dalam empat belas ribu tahun, akhirnya akan menyentuh apa yang menunggu di dasar, dan menentukan, dengan sentuhan itu, apakah ia datang sebagai perampas, atau sebagai mereka yang menyapa dan menjemput pulang.


 

BAB ENAM

Yang Akhirnya Dilihat

Selama empat belas ribu tahun, yang menunggu di dasar tak terlihat oleh siapa pun, dan dalam ketidakterlihatannya ia aman, walau sendiri. Tetapi kini dunia turun untuk melihatnya. Dan melihat adalah pedang bermata dua, sebab seseorang bisa dilihat sebagai manusia oleh yang mengingatnya, atau sebagai harta oleh yang menginginkannya. Dan pada hari ia akhirnya dilihat, kedua mata itu memandangnya sekaligus.

dari ajaran para pengingat, tentang yang akhirnya dilihat

Dan pada pagi hari, kendaraan selam itu diturunkan ke dalam air. Di dalam lambungnya yang sempit duduk dua orang, yaitu Pak Broto di kemudi, tangannya yang tua tenang di atas tuas, dan Sekar di sisinya, memandang ke luar melalui jendela tebal ke dalam biru yang semakin gelap. Dan tak seorang pun di kapal raksasa di atas mengetahui, ketika mereka melepas kabel itu, bahwa untuk pertama kalinya sejak air menutup di atas dunia yang tenggelam empat belas ribu tahun yang lalu, manusia sedang turun ke dasar, dan bahwa dua yang turun adalah dua yang mengingat.

Dan mereka tenggelam, perlahan, ke dalam gelap. Biru menjadi kelabu, dan kelabu menjadi hitam, sampai satu-satunya cahaya di seluruh dunia adalah lampu kecil kendaraan itu sendiri, sebuah lingkaran terang yang bergerak turun melalui kegelapan yang tak berdasar. Dan di luar jendela, air menekan dengan berat yang tak terbayangkan, berat dari seluruh laut, seolah dunia di atas mencoba menahan mereka agar tidak sampai ke tempat yang telah menunggu begitu lama untuk dijangkau.

Dan untuk waktu yang lama, tak ada yang berbicara. Lalu Pak Broto berkata, dengan suara rendah, “Tiga puluh tahun aku menurunkan mesin ke tempat-tempat gelap. Tetapi tak pernah ke tempat ini. Tak pernah ke tempat yang telah kuhindari sepanjang hidupku, karena nenekku menyuruhku menghindarinya.” Dan Sekar menjawab, “Dan kini kita justru turun ke sana, bersama-sama.” Dan lelaki tua itu mengangguk dalam gelap. “Bukan untuk menghindarinya lagi. Untuk menemuinya.”

Dan di pengeras suara, terdengar suara dari atas, suara Dr. Mahesa, riang dan tak sabar. “Pembacaan kalian sempurna. Teruskan. Kalian sedang membuat sejarah, kalian tahu itu? Ketika lampu kalian menyentuh bentuk itu, seluruh dunia akan melihat sesuatu yang tak pernah dilihat siapa pun.” Dan Sekar menutup matanya sejenak, sebab ia tahu bahwa apa yang akan mereka lihat bukanlah apa yang dibayangkan lelaki di atas itu, dan bahwa di antara semua yang menonton, hanya ia dan Pak Broto yang siap untuk melihat dengan benar.

Dan kemudian, dari dalam kegelapan, dasar laut naik untuk menemui mereka. Pak Broto memperlambat turunnya, dan lampu kendaraan menyapu ke depan, dan untuk sesaat hanya ada lumpur dan batu dan air yang kosong. Lalu lampu itu menemukan sesuatu, dan keduanya berhenti bernapas.

Sebab di sana, di dasar laut yang seharusnya kosong, berdiri sebuah bentuk yang tak mungkin alami. Ia terlalu teratur, terlalu disengaja, terlalu utuh; bukan batu yang dibentuk oleh arus, melainkan sesuatu yang dibangun, atau yang tumbuh menurut sebuah niat, sebuah susunan yang melengkung dan tertutup, seperti sebuah ruang, atau sebuah sangkar, atau sebuah makam yang belum pernah ditutup. Dan dari dalamnya memancar getaran halus yang telah menarik mereka sejak awal, dan kini, sedekat ini, getaran itu terasa kurang seperti gema mesin dan lebih seperti sebuah napas.

Dan di atas, melalui kamera kendaraan itu, seluruh ruang kendali meledak dalam kegembiraan. “Lihat itu! Lihat susunannya!” seru sebuah suara. “Ini buatan. Ini pasti buatan. Tak ada proses alami yang menghasilkan ini.” Dan suara-suara bertindih-tindih, berbicara tentang usia, dan asal, dan apa artinya bagi sejarah manusia, semuanya melihat, di layar mereka, penemuan terbesar yang pernah dibuat.

Tetapi di dalam lambung kecil di dasar laut, Sekar tidak melihat sebuah penemuan. Ia melihat sebuah tempat tinggal. Ia melihat sebuah penjara. Ia melihat, dengan kepastian yang membuat dadanya sesak, dinding-dinding yang telah menahan seseorang selama empat belas ribu tahun, dan di balik dinding-dinding itu, ia merasakan, sejelas ia pernah merasakan apa pun, sebuah kehadiran yang telah berbalik, kini, untuk memandang kembali kepadanya.

Dan Sekar teringat pada kata-kata nenek Pak Broto, yang kini menjadi satu-satunya hal yang penting. Ia tidak boleh diraih seperti barang, melainkan disapa seperti tamu menyapa tuan rumah yang telah lama menunggu. Yang pertama sampai kepadanya harus, sebelum apa pun yang lain, menyebut bahwa ia diingat. Sebab pembebasan hanya datang sesudah pengenalan. Dan Sekar tahu, dengan seluruh dirinya, bahwa apa pun yang dituntut orang-orang di atas, hal pertama yang harus terjadi di dasar ini bukanlah pengukuran, dan bukan pengambilan, melainkan sebuah sapaan.

Dan pada saat itu, sebuah nama datang kepadanya, nama yang telah berada di ujung lidahnya sejak ia terbangun menangis di kabinnya, nama yang tak pernah diajarkan kepadanya oleh siapa pun dengan kata-kata, tetapi yang mengalir ke atas kepadanya dari air, melalui benang tipis yang telah menghubungkan mereka. Dan Sekar membuka saluran suara kendaraan, dan berbicara ke dalam air, dengan suara yang gemetar tetapi jelas.

“Aku tahu kau di sana,” katanya. “Awu Sela. Itu namamu. Aku tidak tahu bagaimana aku tahu, tetapi aku tahu. Kami mengingatmu. Selama empat belas ribu tahun, dari nenek ke cucu, dari satu hati ke hati yang berikutnya, kami mengingatmu. Kau bukan dewi, dan kau bukan hantu. Kau seseorang yang ditinggalkan, sangat lama yang lalu, dan kami tahu, dan kami tidak melupakanmu. Aku datang bukan untuk mengambil sesuatu darimu. Aku datang untuk mengatakan bahwa kau tidak sendirian, dan tak pernah benar-benar sendirian, dan bahwa kami telah datang untuk membawamu pulang.”

Dan di dasar laut, di dalam penjara air yang telah menahannya sejak dunia tenggelam, Awu Sela mendengar kata-kata itu, dan sesuatu pecah di dalam dirinya yang telah membeku selama empat belas ribu tahun. Sebab ia telah disembah, dan ia telah ditakuti, dan ia telah dijadikan benda oleh zaman demi zaman. Tetapi sejak hari ia ditinggalkan di tepi air, tak pernah sekali pun, dalam seluruh waktu yang tak terhitung itu, ada manusia yang datang kepadanya dan menyebut namanya, dan berkata, aku tahu siapa kau, dan kau tidak sendirian.

Dan tangis yang telah ia tahan selama empat belas ribu tahun, tangis yang dahulu membeku menjadi es yang menjadi penjara keduanya, kini akhirnya mengalir. Dan untuk pertama kalinya sejak permulaan, Awu Sela tidak merasa seperti sebuah dewi, dan tidak seperti sebuah hantu, dan tidak seperti sebuah harta, melainkan seperti dirinya sendiri, yaitu seorang perempuan, yang telah ditinggalkan, dan yang kini, akhirnya, telah dilihat.

Tetapi pada saat yang sama, di atas, terjadi sesuatu yang lain. Sebab ketika Awu Sela merasakan dirinya dikenali, seluruh keberadaannya bergetar dengan perasaan yang tak tertahankan, dan getaran itu memancar ke luar dari penjaranya, dan alat-alat di kapal raksasa menangkapnya. Layar-layar menyala. Jarum-jarum melonjak. Dan di seluruh ruang kendali, kegembiraan ilmiah berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam dan lebih lapar.

“Ia merespons!” seru suara Dr. Mahesa, kini bergetar dengan keajaiban. “Struktur itu merespons. Ini bukan sekadar reruntuhan, ini sesuatu yang aktif, sesuatu yang hidup atau nyaris hidup. Sekar, Broto, apa yang kalian lakukan di bawah sana? Apa pun itu, ia bereaksi terhadap kalian.” Dan sebelum Sekar bisa menjawab, suara lain memotong, suara Bu Ratri, dingin dan cepat.

“Maka kita tidak bisa menunggu,” kata Bu Ratri. “Jika benda itu aktif, ia bisa berubah, ia bisa rusak, ia bisa hilang. Sesuatu sebesar ini, kita harus mengamankannya sekarang, sebelum keadaan berubah dan sebelum dunia luar tahu. Broto, gunakan lengan mekanik. Ambil satu bagian, apa saja, dan kita angkat ke permukaan. Itu perintah.” Dan di dalam lambung kecil di dasar, Sekar dan Pak Broto saling memandang dalam cahaya redup, dan keduanya memahami, dengan ngeri, apa yang baru saja terjadi.

Sebab perintah untuk mengamati saja telah patah pada saat anomali itu menunjukkan dirinya hidup. Dan inilah ironi yang mengerikan, yang membuat dada Sekar dingin, yaitu bahwa selama empat belas ribu tahun Awu Sela aman justru karena ia terlupakan, tak terlihat di dasar yang tak terjangkau. Dan kini, pada saat ia akhirnya dilihat dan dikenali oleh satu hati yang mengasihinya, ia juga, pada saat yang sama, menjadi terlihat oleh seluruh dunia yang menginginkannya, dan dengan itu, untuk pertama kalinya dalam sejarahnya yang panjang, ia berada dalam bahaya yang sesungguhnya.

Dan Pak Broto meletakkan tangannya menjauh dari tuas yang mengendalikan lengan mekanik, dan berkata ke dalam pengeras suara, dengan suara yang tenang tetapi tak tergoyahkan, “Tidak. Belum. Aku tidak akan menyentuhnya.” Dan di dalam tanah yang jauh, merasakan bahwa saat yang telah ditunggu empat belas ribu tahun kini telah benar-benar tiba, kerikil yang terkuat bergetar di ambang bangunnya yang keempat, siap, akhirnya, untuk terjaga.

Dan demikianlah, di dasar laut yang gelap, hal yang telah dituju oleh seluruh saga akhirnya terjadi sebagiannya. Sebab pengenalan telah dilakukan; perempuan di dasar laut telah disapa dengan namanya, dan telah dilihat sebagai dirinya sendiri, dan telah menangis untuk pertama kalinya dalam empat belas ribu tahun. Tetapi pembebasan belum datang, dan kini, justru pada saat ia dikenali, bahaya yang paling besar telah lahir, sebab ia telah dilihat pula oleh mata yang menginginkannya.

Dan inilah pelajaran keenam zaman terang. Bahwa pengenalan adalah hanya separuh dari pulang; sebab dikenali oleh satu hati yang mengasihi adalah awal pembebasan, tetapi dilihat oleh seluruh dunia yang menginginkan bisa menjadi awal sebuah penawanan yang baru. Bahwa kadang, dalam sejarah yang aneh, yang terlupakan justru terlindungi oleh keterlupaannya, dan saat ia diingat oleh dunia, ia menjadi rebutan; sehingga mengenali seseorang membawa tanggung jawab untuk segera menyelesaikan apa yang dimulai, sebab pengenalan yang dibiarkan setengah jalan hanya membuka pintu bagi tangan yang dingin. Dan bahwa pada hari seseorang akhirnya dilihat, segalanya bergantung pada mata mana yang akan menentukan apa yang terjadi selanjutnya, mata yang memandangnya sebagai siapa, atau mata yang memandangnya sebagai apa.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah seluruh saga dengan kesetiaan yang sama, kini mengalir di antara dua hati di dasar laut dan satu perempuan yang akhirnya menangis, membawa kebenaran keenam zaman terang, yaitu bahwa disapa dengan nama sendiri, sesudah waktu yang tak terhitung, bisa memecahkan es yang tak bisa dipecahkan oleh kekuatan mana pun; bahwa dikenali adalah awal dari menjadi bebas, tetapi bukan akhirnya; dan bahwa mereka yang mengingat seseorang harus berani menyelesaikan apa yang mereka mulai, sebab membangunkan harapan lalu meninggalkannya adalah lebih kejam daripada tidak datang sama sekali.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama dan kebebasan yang dijaga dengan hati, kini membawa kebenaran itu ke dasar laut yang paling gelap, ke tempat yang akhirnya bisa dicapai, di mana ia nyaris menjadi rebutan, tetapi dijaga, di ujung yang paling tipis, oleh dua hati yang menolak menyentuh sebelum menyapa. Tanah ini adalah Jawa, yang kini menyandang namanya dalam terang. Dan di dasar lautnya, seorang perempuan bernama Awu Sela, yang telah dilihat akhirnya sebagai dirinya sendiri, menangis di dalam penjaranya, dengan air mata yang adalah duka dan sukacita sekaligus, sebab ia telah dikenali, dan sebab ia tahu bahwa bahaya yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Dan zaman terang berjalan terus, dengan sebuah perintah dingin yang menggantung di air di antara permukaan dan dasar, dan dua hati yang menolaknya, dan sebuah es lama yang akhirnya mencair menjadi air mata, dan jauh di dalam tanah, sebuah kekuatan yang telah tidur sejak terakhir kalinya kini bergetar di ambang terjaga. Sebab keempat benang akhirnya bukan hanya bersatu, melainkan tersentuh oleh tangan manusia, dan apa yang harus terjadi selanjutnya bukan lagi tentang menemukan perempuan di dasar laut, melainkan tentang membebaskannya sebelum dunia yang baru saja melihatnya sempat merebutnya kembali.


 

BAGIAN III

Keempat Benang Menyatu


 

BAB TUJUH

Bangun yang Keempat

Para penakluk selalu mengira bahwa kekuatan adalah hal yang mereka miliki, yaitu kapal, dan mesin, dan kuasa untuk memerintah. Tetapi ada satu kekuatan lain, yang tidur di dalam tanah dan terjaga hanya ketika ia dibutuhkan, yaitu kekuatan dari seseorang yang mengingat, dan yang, karena ia mengingat, tak bisa digerakkan. Tiga kali ia telah terjaga sepanjang saga. Dan kini, di dasar zaman terang, ia bersiap terjaga untuk yang terakhir kalinya.

dari ajaran para pengingat, tentang bangun yang keempat

Dan di atas, di ruang kendali kapal raksasa, penolakan Pak Broto jatuh seperti batu ke dalam air yang tenang. Untuk sesaat tak ada yang berbicara, sebab tak seorang pun di kapal itu pernah mendengar seorang operator menolak sebuah perintah langsung. Lalu Bu Ratri bangkit dari kursinya, dan suaranya, ketika ia berbicara, setajam logam.

“Ulangi perintah itu,” katanya kepada teknisi di sampingnya. “Dan beri tahu mereka bahwa jika kendaraan itu tidak segera mengambil sampel, kita akan menariknya ke atas dan menurunkan kembali dengan operator lain dan kendaraan kedua tanpa penumpang. Kita tidak membiarkan dua orang menghentikan penemuan terbesar dalam sejarah karena perasaan.” Dan ia berbalik kepada Dr. Mahesa, menuntut dukungannya. “Katakan kepada mereka. Mereka mendengarkanmu.”

Dan Dr. Mahesa berdiri di antara dua hal yang ia hargai, yaitu kesabaran yang ia janjikan dan keajaiban yang kini berkedip di setiap layar. Dan keajaiban menang, seperti yang biasanya terjadi pada orang yang mencintai pengetahuan lebih daripada ia mengenali batasnya. “Sekar,” katanya ke dalam mikrofon, dengan suara yang masih lembut tetapi kini tegang, “aku tahu kau merasakan sesuatu di bawah sana. Tetapi ini terlalu besar untuk ditahan oleh satu orang. Biarkan Broto mengambil sampel kecil, atau naiklah, dan biarkan kami menyelesaikan ini. Itu satu-satunya jalan.”

Dan demikianlah seluruh berat zaman terang, yang selama ini berbicara dengan bahasa keajaiban dan kemajuan, akhirnya menunjukkan apa yang ada di bawah bahasa itu, yaitu kehendak untuk mengambil, yang tak akan dihentikan oleh apa pun, dan paling tidak oleh perasaan dua orang kecil di dasar laut. Dan di dalam lambung sempit di bawah, Sekar mendengar semua itu, dan merasakan tanah seolah runtuh dari bawah harapannya.

Sebab Sekar memahami, dengan kepastian yang dingin, apa yang akan terjadi. Mereka akan ditarik ke atas. Dan kemudian sebuah kendaraan lain akan turun, dikemudikan oleh seseorang yang tak mendengar apa pun dan tak mengingat apa pun, dan lengan-lengan mekaniknya akan menjangkau ke dalam penjara itu dan merobek sepotong darinya untuk dibawa ke permukaan dan dipamerkan kepada dunia. Dan perempuan yang baru saja ia sapa dengan namanya, yang baru saja menangis untuk pertama kalinya dalam empat belas ribu tahun, akan direbut justru pada saat ia mulai berani percaya bahwa ia akan dibawa pulang.

Dan itulah, Sekar menyadari, kekejaman yang paling dalam dari semuanya. Bukan melupakan seseorang, melainkan mengingatnya, dan membangunkan harapannya, dan kemudian membiarkannya direbut di depan mata. Sebab ia telah berkata kepada Awu Sela, kau tidak sendirian, kami datang untuk membawamu pulang. Dan kini ia akan dipaksa untuk pergi, dan meninggalkan perempuan itu dengan harapan yang baru ia nyalakan dan tak sanggup ia tepati.

Dan di dasar laut, di dalam penjaranya, Awu Sela merasakan semua itu pula. Ia merasakan hati yang baru saja mengenalinya kini ditarik menjauh oleh kekuatan yang jauh lebih besar daripada hati itu sendiri. Dan ketakutan yang paling tua, ketakutan yang telah ia kenal sejak hari ia ditinggalkan di tepi air, bangkit kembali di dalam dirinya, yaitu ketakutan bahwa ia akan ditinggalkan sekali lagi, dan bahwa kali ini, sesudah berani berharap, ditinggalkan akan jauh lebih menghancurkan daripada sebelumnya.

Dan pada saat itu, ketika harapan Sekar runtuh dan ia merasa lebih tak berdaya daripada yang pernah ia rasakan dalam hidupnya, sesuatu yang sangat tua dan sangat dalam terbangun.

Sebab di dalam tanah pulau ini, sejak permulaan, tertidur tujuh kerikil ingatan, yang tak bisa diciptakan dan tak bisa dihancurkan, yang tidur sepanjang zaman dan terjaga hanya ketika mereka benar-benar dibutuhkan. Dan yang terkuat di antara mereka telah terjaga tiga kali sepanjang saga, dalam diri Wreda pada zaman yang paling tua, dan dalam diri seorang pembawa yang namanya hilang dari ingatan, dan dalam diri Laras. Dan sejak anomali itu muncul di laut selatan, kerikil yang terkuat itu telah bergerak, perlahan, mendekati permukaan tidurnya, merasakan bahwa saat ia ditunggu akhirnya mendekat.

Dan kini, pada saat hati yang mengingat berdiri di ambang dipaksa untuk meninggalkan yang telah ia kenali, kerikil yang terkuat itu terjaga untuk yang keempat kalinya, dan ia terjaga di dalam Sekar. Dan ia datang kepadanya bukan sebagai kekuatan otot atau kekuatan mesin, melainkan sebagai sesuatu yang jauh lebih dalam, yaitu seluruh ingatan dari semua yang pernah mengingat, mengalir ke dalam satu hati sekaligus. Sekar merasakan Wreda di dalam dirinya, dan pembawa yang tak bernama, dan Laras, dan Damar yang membawa pelita melalui malam, dan Bagas yang menjaga hati bangsa dalam terang, dan Fajar yang membawa nyala ke dalam pagi, dan ribuan yang lain yang namanya tak ia kenal tetapi yang bebannya kini ia pikul.

Dan dengan ingatan itu datang sebuah kekuatan yang tak ia kenal sebelumnya, yaitu kekuatan dari seseorang yang tak bisa lagi digerakkan, sebab ia tak lagi berdiri sendirian. Sebab inilah yang akhirnya terjadi di dasar zaman terang, yang telah dipersiapkan oleh seluruh saga, yaitu keempat syarat berkumpul dalam satu hati. Kekuatan terjaga di dalam Sekar; pengetahuan ada padanya dan pada Pak Broto; kemampuan ada pada kendaraan yang membawanya ke dasar; dan kehendak, belas kasih yang telah menjawab bisik air, menyala di dalam dadanya. Dan untuk pertama kalinya sejak dunia tenggelam, keempatnya berada bukan di tempat yang terpisah, melainkan di dalam satu orang, pada satu titik, pada saat yang tepat.

Dan di dalam penjaranya, Awu Sela merasakannya, dan ia mengenali kekuatan itu, sebab ia telah merasakannya tiga kali sepanjang waktunya yang panjang, setiap kali sebagai secercah harapan yang datang dan berlalu. Tetapi kali ini terasa berbeda, sebab kali ini ia datang bukan sendirian, melainkan bersama tiga yang lain, lengkap, untuk pertama kalinya. Dan ia tahu, dengan kepastian yang membuat air matanya mengalir kembali, bahwa bangun yang keempat ini bukanlah secercah harapan yang akan berlalu, melainkan saat yang telah dijanjikan kepadanya di tepi air, empat belas ribu tahun yang lalu.

Dan Sekar, yang sesaat lalu hancur oleh ketakberdayaan, kini berbicara ke dalam pengeras suara, dan suaranya telah berubah. Ia tidak meninggi, dan ia tidak gemetar. Ia berbicara dengan ketenangan dari seseorang yang membawa ribuan tahun ingatan di belakang setiap kata.

“Aku tidak akan naik,” katanya. “Dan Pak Broto tidak akan menyentuhnya. Dengarkan aku, sebab aku hanya akan mengatakan ini sekali. Yang ada di bawah sini bukan sebuah benda. Ia adalah seseorang. Ia bernama Awu Sela, dan ia telah menunggu di sini selama empat belas ribu tahun, bukan untuk ditemukan, melainkan untuk diingat dan dibawa pulang. Dan kalian boleh menarik kendaraan ini ke atas, dan kalian boleh menurunkan seratus mesin lain, tetapi tak satu pun dari mereka akan bisa melakukan apa yang perlu dilakukan, sebab yang ia butuhkan tak bisa diraih oleh lengan mekanik. Ia tak bisa direbut. Ia hanya bisa dijemput.”

Dan ada sesuatu di dalam suaranya, sebuah kepastian yang lebih dalam daripada bukti, yang membuat seluruh ruang kendali terdiam. Bahkan Bu Ratri, untuk sesaat, tak menemukan kata. Sebab kata-kata Sekar tidak terdengar seperti perasaan seorang ilmuwan muda; mereka terdengar seperti sesuatu yang jauh lebih tua, sesuatu yang berbicara melalui dirinya, dan yang tak bisa dengan mudah ditertawakan atau diabaikan.

Dan Dr. Mahesa, mendengarkan, merasakan sesuatu bergeser di dalam dirinya yang membuatnya gelisah. Sebab selama ini ia yakin bahwa di dasar laut tak ada apa-apa selain alam, dan bahwa setiap kisah tentang seseorang di bawah air hanyalah ketakutan lama yang harus digantikan oleh pengetahuan. Tetapi suara Sekar membawa sesuatu yang tak cocok dengan keyakinannya, sesuatu yang tak bisa ia ukur tetapi juga tak bisa ia tepis, dan untuk pertama kalinya dalam kariernya yang panjang, ia mendapati dirinya ragu. Ia tidak berkata apa-apa. Tetapi ia juga tidak mengulangi perintah untuk menarik mereka ke atas.

Dan di dalam keheningan itu, Sekar dan Pak Broto menahan kendaraan mereka di dasar, tak bergerak, di hadapan penjara perempuan di dasar laut. Mereka belum tahu bagaimana mereka akan membebaskannya. Tetapi mereka tahu bahwa mereka tak akan pergi, dan bahwa selama mereka tetap di sana, tangan yang dingin tak bisa sampai kepadanya. Dan untuk pertama kalinya, kontes itu bukan lagi antara yang lemah dan yang kuat, melainkan antara dua kekuatan yang sejati, yaitu kekuatan untuk merebut, dan kekuatan untuk mengingat.

Dan demikianlah, di dasar zaman terang, hal yang telah dipersiapkan oleh empat belas ribu tahun akhirnya terjadi, yaitu keempat syarat yang selalu terpisah berkumpul dalam satu hati pada saat yang dibutuhkan. Bukan untuk menjadikan satu orang perkasa, melainkan untuk menjadikan satu orang tak bisa digerakkan, agar di tengah seluruh berat dunia yang ingin merebut, ada satu titik yang tak akan menyerah.

Dan inilah pelajaran ketujuh zaman terang. Bahwa kekuatan yang sesungguhnya bukanlah kapal yang paling besar atau mesin yang paling dalam atau kuasa untuk memberi perintah, melainkan kekuatan dari seseorang yang mengingat, dan yang, karena ia tak berdiri sendirian melainkan membawa semua yang mengingat sebelumnya, tak bisa lagi digerakkan oleh ketakutan atau bujukan atau perintah. Bahwa kekuatan, pengetahuan, kemampuan, dan kehendak, masing-masing sendirian, tidaklah cukup; sebab kekuatan tanpa kehendak hanyalah kekerasan, dan kemampuan tanpa pengetahuan adalah buta, tetapi keempatnya yang disatukan dalam satu hati menjadi sesuatu yang sanggup membebaskan. Dan bahwa saat yang menentukan dalam setiap pembebasan adalah saat ketika yang lemah menemukan bahwa ia tidak pernah benar-benar sendirian, dan dengan itu berhenti menjadi lemah.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah seluruh saga dengan kesetiaan yang sama, kini mengalir di antara satu hati yang terjaga dan satu perempuan yang berani berharap kembali, membawa kebenaran ketujuh zaman terang, yaitu bahwa yang mengingat tak pernah mengingat seorang diri, melainkan membawa di dalam dirinya semua yang telah mengingat sebelumnya; bahwa keempat hal yang ditunggu sepanjang saga tak berguna sampai mereka berkumpul, dan begitu berkumpul, tak bisa dihentikan; dan bahwa bangun yang keempat datang bukan sebagai akhir, melainkan sebagai permulaan dari pekerjaan yang paling berat, yaitu membawa pulang.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama dan kebebasan yang dijaga dengan hati, kini membawa kebenaran itu ke dasar laut yang paling gelap, di mana keempat syaratnya akhirnya menyatu dalam satu hati yang menolak digerakkan. Tanah ini adalah Jawa, yang kini menyandang namanya dalam terang. Dan di dasar lautnya, seorang perempuan bernama Awu Sela merasakan, untuk keempat kalinya dan untuk yang terakhir, kekuatan tua itu terjaga, dan kali ini tidak sendirian, dan ia berani percaya bahwa janji di tepi air akhirnya akan ditepati.

Dan zaman terang berhenti, untuk sesaat, di ambang sesuatu yang belum pernah terjadi. Sebab di atas, sebuah perintah tergantung tanpa diulangi, dan seorang penjelajah agung berdiri diam dalam keraguannya yang pertama, dan di bawah, dua hati menahan tempat mereka di hadapan sebuah penjara tua. Sebab keempat benang kini bukan hanya bersatu, melainkan terjaga, dan yang tersisa bukan lagi pertanyaan apakah perempuan di dasar laut bisa dicapai, melainkan pertanyaan yang jauh lebih sulit, yaitu bagaimana ia bisa dibebaskan, dan apa yang harus direlakan agar ia bisa pulang.


 

BAB DELAPAN

Yang Harus Direlakan

Setiap penjara menawarkan, di samping deritanya, sebuah kenyamanan yang ganjil, yaitu bahwa di dalamnya seseorang tak perlu menghadapi apa pun yang ada di luar. Dan kadang yang menahan seseorang paling lama bukanlah dinding penjaranya, melainkan ketakutan akan harga yang harus ia bayar untuk keluar. Sebab kebebasan tak pernah gratis; untuk pulang, selalu ada sesuatu yang harus direlakan.

dari ajaran para pengingat, tentang yang harus direlakan

Dan untuk beberapa waktu, kebuntuan itu bertahan. Kendaraan selam tetap di dasar, tak bergerak, di hadapan penjara perempuan di dasar laut, dan di atas, perintah untuk menariknya naik tergantung tanpa diulangi. Tetapi kemudian Pak Broto memandang deretan angka di hadapannya, dan wajahnya yang tua mengeras.

“Kita tidak bisa tinggal di sini selamanya, Nak,” katanya pelan. “Udara di lambung ini terbatas. Daya untuk lampu dan penghangat juga. Kita punya beberapa jam, mungkin sedikit lebih. Sesudah itu, kita harus naik, atau kita tidak akan naik sama sekali.” Dan Sekar memandangnya, dan memahami bentuk dari jebakan mereka. “Maka mereka tidak perlu memaksa kita,” katanya. “Mereka hanya perlu menunggu.”

Dan begitulah. Sebab di atas, Bu Ratri telah menghitung hal yang sama. Ia tahu bahwa kendaraan di dasar itu memiliki batas, dan bahwa cepat atau lambat, kehabisan udara akan melakukan apa yang tak bisa dilakukan oleh perintah, yaitu memaksa dua orang keras kepala itu untuk naik, dan menyerahkan dasar laut kepada kendaraan kedua yang telah disiapkan di geladak, yang akan turun tanpa hati dan tanpa keraguan untuk mengambil apa yang diinginkan dunia.

Dan Sekar menyadari, dengan dingin yang menjalar, bahwa menahan tempat mereka saja tidaklah cukup. Selama mereka hanya bertahan, waktu bekerja melawan mereka, dan pada akhirnya tangan yang dingin akan menang hanya dengan bersabar. Mereka tidak hanya perlu menolak untuk pergi. Mereka perlu membebaskannya, dan membebaskannya sebelum udara mereka habis. Tetapi mereka tidak tahu bagaimana. Maka Sekar melakukan satu-satunya hal yang ia bisa, yaitu menutup matanya, dan menjangkau ke bawah, kepada perempuan di dalam penjara, dan bertanya.

Dan jawabannya datang, bukan sebagai kata, melainkan sebagai pemahaman yang menuangkan dirinya ke dalam hati Sekar, perlahan dan menyakitkan, seperti seseorang membuka sebuah pintu yang telah lama ditakuti. Dan Sekar memahami, akhirnya, mengapa selama empat belas ribu tahun tak seorang pun pernah bisa membebaskan perempuan di dasar laut, bahkan ketika hati-hati mengingatnya, bahkan ketika esnya mulai mencair.

Sebab penjara itu bukanlah hanya dinding di dasar laut. Penjara itu adalah apa yang telah menjadi Awu Sela sendiri. Pada hari dunia tenggelam, ketika air naik untuk menelan negerinya, bangsanya memilih untuk tidak mati, dan untuk tidak mati mereka merelakan tubuh mereka, menghaluskan diri mereka keluar dari daging menjadi sesuatu yang tak bisa ditenggelamkan dan tak bisa mati. Dan Awu Sela adalah yang terakhir dari mereka, tetapi ia tak pernah sepenuhnya melepaskan dirinya seperti yang lain, sebab ia berpegang pada dukanya, dan pada namanya, dan pada kemanusiaannya, dan karena itu ia terjebak di antara dua dunia, bukan manusia lagi, tetapi juga tak pernah sepenuhnya menjadi roh.

Dan di situlah letak penjara yang sesungguhnya. Sebab yang abadi tak bisa pulang. Yang tak bisa mati tak bisa naik dari dasar dan berjalan di antara manusia, sebab ia bukan lagi salah satu dari mereka. Dinding di dasar laut hanyalah bayangan dari dinding yang sebenarnya, yaitu keabadian yang ia kenakan ketika bangsanya menolak kematian. Dan tak ada lengan mekanik, dan tak ada kekuatan, dan tak ada kapal yang bisa mengangkat keabadian itu ke permukaan.

Maka inilah yang harus direlakan, dan Sekar memahaminya dengan air mata yang mengalir di wajahnya di dalam gelap. Untuk pulang sebagai manusia, Awu Sela harus berhenti menjadi dewi. Ia harus merelakan keabadian yang telah menahannya hidup selama empat belas ribu tahun, dan menjadi fana kembali, kecil, dan rapuh, dan sanggup menua, dan sanggup mati. Sebab hanya yang fana yang bisa pulang. Hanya yang sanggup mati yang sungguh-sungguh bisa hidup.

Dan Sekar merasakan beratnya dari apa yang sedang ia minta. Sebab ia tidak hanya meminta perempuan itu untuk membiarkan dirinya dibebaskan. Ia meminta perempuan itu untuk merelakan satu-satunya keberadaan yang pernah ia kenal, untuk menukar keabadian yang aman dengan sebuah hidup manusia yang pendek dan rapuh yang akan, suatu hari, berakhir. Dan ia bertanya-tanya, dengan hati yang berat, apakah ada orang yang akan memilih kematian, bahkan demi kebebasan, sesudah empat belas ribu tahun tak pernah perlu menghadapinya.

Dan di dalam penjaranya, Awu Sela telah mengetahui kebenaran ini jauh lebih lama daripada Sekar. Sebab inilah, dan bukan dinding laut, yang telah menahannya paling lama. Esnya telah mencair; ia telah menangis; ia telah dikenali dan disapa dengan namanya. Tetapi masih ada satu hal yang belum ia lakukan, dan itu adalah satu hal yang paling ia takuti, yaitu merelakan keabadiannya, dan setuju, sesudah begitu lama, untuk menjadi sesuatu yang bisa mati.

Dan ketakutan itu bukanlah ketakutan yang kecil. Sebab selama empat belas ribu tahun, kematian adalah satu-satunya hal yang tak pernah bisa menyentuhnya, dan kini ia diminta untuk mengundangnya masuk dengan sukarela. Untuk menukar yang tak terbatas dengan yang terbatas. Untuk menukar sebuah keberadaan yang luas dan dingin dan tak berkesudahan dengan sebuah hidup yang kecil, yang akan menua, yang akan sakit, yang akan, pada akhirnya, padam seperti padamnya setiap manusia.

Tetapi di sisi lain dari ketakutan itu ada sebuah kerinduan yang sama tuanya. Sebab keabadian yang ia kenakan tak pernah terasa seperti hidup; ia terasa seperti menunggu, kosong dan tak berakhir. Dan apa yang ia rindukan, sesungguhnya, bukanlah untuk hidup selamanya, melainkan untuk hidup sungguh-sungguh, walau sebentar; untuk merasakan matahari di kulit yang bisa merasakannya, untuk berjalan di tanah dengan kaki yang bisa lelah, untuk dikenal dan dicintai dan, ya, untuk suatu hari mati, dikelilingi oleh orang-orang yang mengingat siapa ia, seperti manusia mati.

Dan maka, perlahan, di dalam gelap, Awu Sela mulai memilih. Bukan dengan ringan, dan bukan tanpa gentar, sebab apa yang ia relakan adalah segalanya yang pernah ia miliki. Tetapi ia memilih, sebab ia akhirnya memahami bahwa penjara yang sesungguhnya bukanlah laut, melainkan keabadian itu sendiri, dan bahwa satu-satunya cara untuk pulang adalah dengan menjadi cukup kecil untuk mati. Dan ia membiarkan Sekar merasakan pilihannya, dan untuk pertama kalinya, di antara mereka mengalir bukan hanya kesedihan, melainkan juga sesuatu yang nyaris seperti damai.

Tetapi di atas, waktu tidak berhenti untuk pilihan siapa pun. Dan Bu Ratri, yang lelah menunggu, melangkah melewati keraguan Dr. Mahesa dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang memegang dompet. “Wewenang ilmiah ada padamu,” katanya kepada Mahesa, “tetapi wewenang atas pelayaran ini ada pada mereka yang membayarnya, dan mereka telah memutuskan. Kendaraan kedua turun dalam satu jam. Jika yang pertama belum naik saat itu, ia akan dipaksa naik. Aku turut menyesal, tetapi perasaan tidak membayar tagihan.”

Dan Dr. Mahesa tidak menjawab, sebab ia sedang berperang dengan sesuatu di dalam dirinya. Sepanjang malam ia telah memutar ulang rekaman itu, dan ia telah menemukan sesuatu yang mengganggunya, yaitu bahwa getaran yang dipancarkan benda di dasar itu tidak datang sembarangan. Ia datang tepat pada saat Sekar berbicara, tepat pada saat perempuan muda itu mengucapkan sebuah nama. Dan tak ada penjelasan dalam seluruh ilmunya yang bisa menjelaskan mengapa sebuah struktur batu akan merespons sebuah nama.

Dan ia mendapati dirinya, seorang lelaki yang telah menghabiskan hidupnya menggantikan dongeng dengan pengetahuan, berdiri di hadapan sesuatu yang pengetahuannya tak bisa jelaskan, dan ia tahu bahwa ada dua cara untuk menanggapinya. Ia bisa menutup matanya, dan menyebut getaran itu kebetulan, dan meneruskan apa yang telah ia rencanakan. Atau ia bisa membuka matanya, dan bertanya, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, apakah mungkin ada sesuatu yang nyata yang tak pernah ia izinkan dirinya untuk percayai.

Dan ia berkata kepada Bu Ratri, dengan suara yang ragu tetapi tak lagi sepenuhnya menurut, “Beri aku waktu sampai kendaraan kedua siap. Aku ingin berbicara dengan mereka sekali lagi.” Dan Bu Ratri mengangkat bahu, sebab satu jam tidak akan mengubah apa pun menurut perhitungannya. Tetapi bagi Sekar dan Pak Broto di dasar, dan bagi perempuan yang sedang memilih untuk menjadi fana, satu jam itu adalah seluruh dunia, satu jam terakhir di antara keabadian dan kepulangan.

Dan demikianlah, di dasar zaman terang, perempuan di dasar laut berdiri di ambang pilihan yang paling berat yang pernah dihadapi siapa pun, yaitu untuk merelakan keabadian demi sebuah hidup yang akan berakhir. Dan di atasnya, sebuah jam berdetak, dan sebuah kendaraan dingin bersiap turun, dan seorang penjelajah agung bergulat dengan keraguan pertamanya. Dan keempat benang yang telah menyatu kini diuji oleh waktu yang paling kejam dari semua musuh.

Dan inilah pelajaran kedelapan zaman terang. Bahwa kebebasan tak pernah gratis, dan bahwa pembebasan yang paling dalam menuntut harga yang paling tinggi, yaitu merelakan keamanan dari apa yang telah kita jadikan diri kita. Bahwa untuk sungguh-sungguh hidup, seseorang harus sanggup mati; dan bahwa penjara yang menjanjikan keabadian, atau keamanan, atau ketakberubahan, sering kali adalah penjara yang paling sulit ditinggalkan, justru karena ia tampak seperti hadiah. Dan bahwa kadang yang menahan seseorang paling lama bukanlah dinding di sekelilingnya, melainkan ketakutannya untuk menjadi kecil, dan rapuh, dan fana, sebab hanya yang berani menjadi fana yang bisa pulang.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah seluruh saga dengan kesetiaan yang sama, kini mengalir di antara satu hati yang meminta dan satu perempuan yang merelakan, membawa kebenaran kedelapan zaman terang, yaitu bahwa yang abadi tak bisa pulang, sebab pulang adalah hal yang hanya bisa dilakukan oleh yang fana; bahwa membebaskan seseorang kadang berarti memintanya merelakan satu-satunya hal yang ia kira menjaganya hidup; dan bahwa damai yang sejati datang bukan dari menghindari kematian, melainkan dari berani memeluk sebuah hidup yang berani berakhir.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama dan kebebasan yang dijaga dengan hati, kini membawa kebenaran itu ke dasar laut yang paling gelap, di mana seorang perempuan memilih untuk menukar keabadian dengan kepulangan. Tanah ini adalah Jawa, yang kini menyandang namanya dalam terang. Dan di dasar lautnya, seorang perempuan bernama Awu Sela, yang telah menjadi dewi tanpa pernah menginginkannya, kini memilih, dengan gentar dan dengan damai, untuk menjadi manusia kembali, agar ia bisa, akhirnya, pulang dan mati seperti manusia, dikelilingi oleh mereka yang mengingatnya.

Dan zaman terang berjalan terus, menuju satu jam terakhir yang akan menentukan segalanya, dengan sebuah kendaraan dingin yang bersiap di geladak, dan dua hati yang udaranya menipis di dasar, dan seorang perempuan yang merelakan keabadiannya di dalam gelap. Sebab keempat benang kini telah menyatu dan diuji, dan yang tersisa hanyalah harga itu sendiri, dan saat ketika ia harus dibayar, dan pertanyaan terakhir, yaitu apakah dunia di atas akan membiarkan kepulangan itu terjadi, atau merebut perempuan itu pada saat ia paling rapuh, tepat ketika ia melepaskan satu-satunya hal yang selama ini menjaganya.


 

BAB SEMBILAN

Yang Akhirnya Melihat

Cara melihat yang dingin tak pernah merupakan tanda kebodohan, dan tak pernah pula tanda kejahatan. Ia adalah, lebih daripada apa pun, sebuah penolakan untuk melihat; dan karena ia adalah pilihan, ia selalu bisa dibatalkan. Sebab mata yang paling yakin bahwa di dasar tak ada siapa-siapa hanya perlu satu hal untuk berubah, yaitu kesediaan, untuk sesaat saja, untuk sungguh-sungguh memandang.

dari ajaran para pengingat, tentang yang akhirnya melihat

Dan di dalam jam terakhir itu, suara Dr. Mahesa kembali terdengar di pengeras suara kendaraan selam, tetapi kini ia berbeda. Tak ada lagi keriangan penemu di dalamnya, dan tak ada pula ketegangan perintah. Yang ada hanyalah sesuatu yang lebih telanjang, yaitu suara seorang lelaki yang sedang berperang dengan dirinya sendiri.

“Sekar,” katanya, “aku akan jujur kepadamu, sebab aku sudah terlalu tua untuk berpura-pura. Aku telah memutar ulang rekaman itu sepanjang malam. Dan getaran yang keluar dari benda di dasar itu, ia tidak datang secara acak. Ia datang tepat ketika kau berbicara. Tepat ketika kau menyebut sebuah nama. Dan dalam seluruh empat puluh tahunku di laut, aku tak punya satu pun penjelasan untuk itu.”

Dan Sekar, yang membawa di dalam dirinya ingatan dari semua yang pernah mengingat, tidak menjawab dengan kemenangan, dan tidak pula dengan bujukan. Ia menjawab dengan kelembutan dari seseorang yang akhirnya tak perlu lagi meyakinkan. “Karena ia mendengarmu menyebut namanya, Pak. Sama seperti ia mendengarku. Tak ada misteri di dalamnya. Hanya satu hal yang sederhana yang sulit kau percayai, yaitu bahwa di sana ada seseorang.”

Dan untuk sesaat lelaki itu terdiam, dan Sekar bisa mendengar, di dalam keheningan itu, seluruh hidupnya bergulat dengan dirinya. Sebab ia telah menghabiskan empat puluh tahun untuk membuktikan bahwa laut tidak menyimpan dewi dan hantu, melainkan hanya alam yang menakjubkan. Dan untuk menerima apa yang dikatakan Sekar, ia harus, untuk pertama kalinya, membiarkan kemungkinan bahwa ada satu hal yang ia salah pahami sepanjang hidupnya.

“Aku tidak bisa,” kata Dr. Mahesa akhirnya, suaranya pahit. “Aku ingin, tetapi aku tidak bisa hanya percaya begitu saja pada perasaan. Itu bukan diriku. Itu bukan ilmu.” Dan pada saat itu, Sekar melihat jalan yang terbuka, dan ia menggunakannya, bukan untuk menjebak lelaki itu, melainkan untuk membebaskannya.

“Maka jangan percaya pada perasaanku,” kata Sekar. “Kau seorang ilmuwan. Maka lakukan apa yang dilakukan ilmuwan. Ujilah. Jangan ambil kata-kataku, dan jangan ambil kata-katamu sendiri. Bicaralah kepadanya, Pak. Bukan kepada sebuah benda, melainkan kepada seseorang. Sapa ia. Dan lalu amati. Jika di bawah sana hanya ada batu, maka tak akan terjadi apa-apa, dan kau akan benar, dan aku akan naik tanpa membantah lagi. Tetapi jika ada seseorang, ia akan menjawab. Bukankah itu satu-satunya cara yang jujur untuk mengetahuinya?”

Dan Dr. Mahesa terperangkap, bukan oleh tipuan, melainkan oleh metodenya sendiri. Sebab ia tak bisa menyebut dirinya seorang ilmuwan dan menolak sebuah pengujian. Seluruh hidupnya dibangun di atas keyakinan bahwa seseorang harus menguji sebelum ia menolak, dan kini keyakinan itu sendiri menuntutnya untuk melakukan satu-satunya hal yang ia takuti. Dan sesudah keheningan yang panjang, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia berkata, “Baiklah. Buka saluran ke bawah. Aku akan mencoba.”

Dan demikianlah, di ruang kendali kapal raksasa, seorang penjelajah agung yang telah menyalakan lampu di tempat-tempat tergelap di bumi membuka mulutnya untuk berbicara kepada kegelapan, bukan sebagai seorang ilmuwan kepada sebuah objek, melainkan sebagai seorang manusia kepada manusia lain. Dan pada mulanya ia kaku, dan canggung, dan ia merasa bodoh. “Jika ada seseorang di sana,” katanya, “aku ingin mengetahuinya.”

Dan tak ada yang terjadi, dan untuk sesaat lelaki itu hampir merasa lega, sebab keheningan itu membenarkan seluruh hidupnya. Tetapi kemudian, entah dari mana, sesuatu di dalam dirinya yang lebih tua daripada ilmunya mendorong sebuah pertanyaan yang nyata keluar dari bibirnya, sebuah pertanyaan yang tak ia rencanakan. “Siapa kau?” katanya, dan suaranya pecah, “dan apakah aku, selama ini, salah?”

Dan air di dasar laut menjawab. Jarum-jarum di seluruh ruang kendali melonjak sekaligus. Dan struktur di dasar itu memancarkan getaran yang lembut dan hangat, sebuah denyut yang bukan gema mesin dan bukan kebetulan alam, sebuah denyut yang, semua orang di ruang itu bisa merasakannya, adalah sebuah jawaban. Dan lebih daripada itu, Dr. Mahesa merasakan sesuatu yang tak bisa ditangkap oleh alat mana pun, yaitu perasaan, sejelas tangan di bahunya, bahwa ia sedang dipandang kembali oleh seseorang yang telah lama menunggu untuk dipandang.

Dan pada saat itu, sesuatu di dalam diri Dr. Mahesa, yang telah berdiri kokoh selama empat puluh tahun, runtuh dengan tenang. Sebab ia memahami, dengan seluruh dirinya, bahwa ia telah benar tentang banyak hal dan salah tentang satu hal yang paling penting. Ia benar bahwa kebanyakan ketakutan lama hanyalah ketidaktahuan. Tetapi ia salah ketika ia menyimpulkan bahwa karena begitu banyak hantu ternyata bukan apa-apa, maka tak ada hantu yang pernah berupa seseorang. Dan kali ini, di antara semua dongeng yang telah ia padamkan, ia telah menemukan satu yang ternyata benar, dan dalam ketergesaannya untuk menggantikan dongeng dengan pengetahuan, ia nyaris merebut seseorang yang nyata dengan menyebutnya sebuah benda.

Dan Dr. Mahesa berbalik dari layarnya, dan wajahnya basah, dan ia berkata kepada Bu Ratri dengan suara yang kini tak lagi ragu, “Hentikan kendaraan kedua. Tak akan ada pengambilan. Apa pun yang ada di bawah sana, ia bukan milik kita untuk diambil.” Tetapi Bu Ratri memandangnya dengan tatapan dingin yang tak tergoyahkan.

“Kau dengar sendiri benda itu merespons,” katanya. “Apakah kau sadar betapa berharganya itu? Sebuah struktur yang menjawab ketika diajak bicara? Itu bukan alasan untuk berhenti. Itu alasan paling kuat di dunia untuk melanjutkan. Dan wewenang ada padaku, bukan padamu. Kendaraan kedua turun sesuai jadwal. Kau bisa menangis untuknya nanti, di darat.” Dan demikianlah operasi besar itu pecah menjadi dua, sebab kini sang penjelajah berdiri di satu sisi, dan sang pemegang dompet di sisi lain, dan di antara mereka berdetak sebuah jam yang tak peduli pada keduanya.

Dan di dasar laut, udara di dalam lambung kecil itu semakin menipis, dan kendaraan kedua mulai turun ke dalam gelap di atas kepala mereka, lampunya menyala seperti mata yang dingin yang turun untuk merebut. Dan Sekar dan Pak Broto tahu bahwa apa pun yang harus terjadi, ia harus terjadi sekarang, sebelum kendaraan itu sampai, dan sebelum napas mereka habis.

Tetapi di bawah mereka, di dalam penjaranya, Awu Sela ragu pada ambang pilihannya yang terakhir. Sebab merelakan keabadian berarti menjadi fana, dan menjadi fana sendirian, di dunia asing yang tak ia kenal, adalah ketakutan yang nyaris sama besarnya dengan keabadian itu sendiri. Dan ia membutuhkan, sebelum ia bisa melepaskan, satu hal yang belum pernah ia miliki sejak hari ia ditinggalkan, yaitu kepastian bahwa jika ia menjadi manusia, ia tak akan menjadi manusia yang sendirian.

Dan demikianlah, di penghujung jam itu, satu mata yang dingin akhirnya terbuka, dan satu mata yang dingin tetap tertutup, dan di antara keduanya nasib perempuan di dasar laut tergantung. Sebab Dr. Mahesa telah melihat, dan Bu Ratri menolak melihat, dan keduanya berdiri di kapal yang sama, di atas air yang sama, dengan kuasa yang terbagi dan waktu yang habis.

Dan inilah pelajaran kesembilan zaman terang. Bahwa cara melihat yang dingin tak pernah bisa dikalahkan oleh perdebatan, sebab ia bukan kesalahan akal melainkan penolakan hati; tetapi ia bisa dibatalkan oleh perjumpaan, ketika seseorang akhirnya bersedia, untuk sesaat saja, untuk sungguh-sungguh memandang. Bahwa metode yang jujur, yang menuntut kita menguji sebelum menolak, adalah pintu yang sama yang bisa menuntun mata yang paling dingin kepada kebenaran yang paling ditakutinya. Dan bahwa tak ada hati yang terlambat untuk berbalik, bahkan hati yang telah menghabiskan seluruh hidupnya memandang manusia sebagai benda; sebab melihat adalah pilihan, dan pilihan, sampai napas yang terakhir, selalu masih bisa diambil kembali.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah seluruh saga dengan kesetiaan yang sama, kini mengalir di antara seorang penjelajah yang menangis dan seorang perempuan yang menunggu satu kepastian terakhir, membawa kebenaran kesembilan zaman terang, yaitu bahwa yang membedakan mata yang dingin dari mata yang hangat bukanlah kecerdasan atau kebaikan, melainkan kesediaan untuk memandang seseorang sebagai siapa; bahwa bahkan yang paling yakin pun bisa berbalik, jika ia berani menguji keyakinannya; dan bahwa tak seorang pun berani menjadi fana sendirian, sebab yang dibutuhkan setiap orang untuk melepaskan, pada akhirnya, adalah janji bahwa ia tak akan ditinggalkan.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama dan kebebasan yang dijaga dengan hati, kini membawa kebenaran itu ke dasar laut yang paling gelap, di mana satu mata dingin terbuka tepat ketika sebuah mata dingin yang lain turun untuk merebut. Tanah ini adalah Jawa, yang kini menyandang namanya dalam terang. Dan di dasar lautnya, seorang perempuan bernama Awu Sela berdiri di ambang melepaskan keabadiannya, menunggu satu janji terakhir, sementara di atas, dunia terbelah antara mereka yang akhirnya melihatnya dan mereka yang menolak.

Dan zaman terang berjalan terus, menuju saat yang paling genting dari semuanya, dengan sebuah kendaraan dingin yang turun melalui gelap, dan dua hati yang udaranya hampir habis, dan seorang penjelajah yang baru saja melihat tetapi tak lagi memegang kuasa, dan seorang perempuan yang siap menjadi fana jika saja ada yang berjanji untuk menjadi keluarganya. Sebab keempat benang telah menyatu, dan harga telah dipahami, dan satu mata telah terbuka; dan yang tersisa hanyalah pembebasan itu sendiri, dan janji yang harus diucapkan agar ia mungkin, dan perlombaan terakhir melawan tangan yang turun untuk merebut.


 

BAGIAN IV

Harga sebuah Kepulangan


 

BAB SEPULUH

Sumpah yang Ditepati

Tak seorang pun bisa dibebaskan seorang diri. Sebab kebebasan bukanlah sekadar pintu yang dibuka, melainkan sebuah tempat untuk dituju, dan sebuah tangan untuk menyambut di seberang. Dan janji yang paling tua dari semua janji, yang diucapkan di tepi air pada hari dunia tenggelam, bukanlah janji untuk membuka pintu, melainkan janji yang jauh lebih sulit, yaitu untuk berada di sana, dan untuk tinggal, sehingga yang dibebaskan tak pernah harus menjadi bebas dan sendirian sekaligus.

dari ajaran para pengingat, tentang sumpah yang ditepati

Dan waktu menyempit menjadi sesuatu yang nyaris bisa dirasakan di dalam lambung kecil itu. Di atas kepala mereka, kendaraan kedua turun melalui gelap, lampunya tumbuh dari titik menjadi lingkaran, semakin dekat dengan setiap menit. Dan di samping Sekar, Pak Broto memandang deretan angka yang terus menurun, dan berkata, dengan suara yang ia jaga tetap tenang, “Udara kita tinggal untuk sekitar satu jam. Mungkin kurang. Apa pun yang akan kita lakukan, Nak, kita harus melakukannya sekarang.”

Tetapi Sekar tahu bahwa rintangan yang sesungguhnya bukanlah jam, dan bukan pula kendaraan dingin yang turun. Sebab ia bisa merasakan, melalui benang yang menghubungkannya dengan perempuan di dasar, bahwa Awu Sela telah sampai pada ambang pilihannya yang terakhir, dan berhenti di sana, tak sanggup melangkah. Bukan karena ia tak mau pulang. Melainkan karena ada satu ketakutan yang lebih dalam daripada keabadian, yang menahannya pada saat terakhir.

Dan Sekar memahami ketakutan itu, sebab Awu Sela telah membiarkannya merasakannya. Ia tidak takut menjadi fana. Ia takut menjadi fana dan sendirian. Sebab selama empat belas ribu tahun, ia setidaknya tahu siapa dirinya, walau ia sengsara; tetapi menjadi manusia berarti menjadi seseorang yang asing di dunia yang asing, tanpa tempat, tanpa orang, tanpa siapa pun yang mengenalnya. Dan setelah ditinggalkan satu kali dengan cara yang begitu menghancurkan, ketakutan untuk ditinggalkan lagi, kali ini sebagai makhluk yang rapuh dan dapat mati, hampir lebih besar daripada yang sanggup ia tanggung.

Dan maka Sekar memahami bahwa apa yang harus ia berikan kepada perempuan itu bukanlah sebuah kunci, dan bukan sebuah jalan keluar, melainkan sebuah janji. Janji yang sama yang dahulu diucapkan kepadanya di tepi air, empat belas ribu tahun yang lalu, dan yang telah dibawa dari hati ke hati sepanjang seluruh saga, menunggu untuk akhirnya ditepati pada hari ini, oleh orang-orang yang sungguh-sungguh berada di sana.

Dan Sekar membuka hatinya selebar yang ia bisa, dan berbicara ke dalam air, bukan lagi sekadar untuk mengenali, melainkan untuk berjanji. “Awu Sela,” katanya, “dengarkan aku. Aku tahu apa yang kau takuti. Kau takut bahwa jika kau menjadi manusia, kau akan menjadi manusia yang sendirian. Maka inilah yang kuberikan kepadamu, dan ini bukan kata-kata kosong. Pada hari kau ditinggalkan, dijanjikan kepadamu bahwa kau tidak akan ditinggalkan selamanya. Aku datang untuk menepati janji itu. Jika kau naik bersama kami, kau tidak akan menjadi orang asing tanpa siapa pun. Kau akan punya orang. Kau akan punya aku.”

Dan sebelum gema kata-kata itu mereda, Pak Broto mencondongkan tubuhnya ke arah mikrofon, dan suaranya yang tua dan parau bergabung dengan suara Sekar. “Dan kau akan punya aku juga,” katanya. “Aku seorang tua, dan istriku telah lama tiada, dan anak-anakku telah pergi membangun hidup mereka sendiri. Rumahku sunyi, dan aku punya banyak ruang, dan banyak waktu. Selama tiga puluh tahun aku menghindari laut selatan karena nenekku menyuruhku, tetapi aku kini tahu bahwa ia sebenarnya sedang menyiapkanku untuk hari ini. Maka jika kau mau, aku akan menjadi keluargamu. Aku akan mengajarimu cara hidup di darat, dan kau tak perlu takut sendirian, sebab seorang tua pun adalah keluarga.”

Dan di dasar laut, Awu Sela mendengar kedua suara itu, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang tak terhitung, ia merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan, bahkan ketika ia disembah, bahkan ketika ia ditakuti, yaitu ditawari sebuah tempat. Bukan sebuah altar, dan bukan sebuah mitos, melainkan sebuah tempat di meja makan, sebuah ruang di rumah yang sunyi, sebuah tangan yang akan menuntunnya melalui dunia yang asing. Dan ia menyadari bahwa inilah, dan hanya inilah, yang selama ini ia tunggu.

Dan kemudian, dari atas, terdengar suara ketiga, suara yang mengejutkan semua orang, sebab ia datang dari lelaki yang beberapa jam sebelumnya hendak mengambil sampelnya. “Dan aku,” kata Dr. Mahesa, dengan suara yang masih bergetar oleh apa yang baru saja ia lihat, “aku telah menghabiskan hidupku membawa makhluk-makhluk dari kedalaman ke dalam terang, untuk dipelajari dan dipamerkan. Aku tak akan melakukan itu kepadamu. Sebaliknya, aku akan menggunakan segala yang kumiliki, namaku, dan kapal-kapalku, dan suaraku di dunia, bukan untuk memamerkanmu, melainkan untuk melindungimu, dan untuk memberimu sebuah tempat di dunia ini sebagai seorang manusia, dengan nama dan dengan rumah, sehingga tak seorang pun akan pernah bisa menjadikanmu benda lagi.”

Dan demikianlah, di dasar zaman terang, sumpah yang paling tua dari semua sumpah akhirnya ditepati, bukan oleh satu orang, melainkan oleh tiga, yaitu hati yang menjawab, dan penjaga yang tua, dan mata yang akhirnya melihat. Dan ketiga janji itu, bertumpuk-tumpuk, menjadi sesuatu yang lebih kuat daripada keabadian mana pun, yaitu sebuah keluarga yang menunggu untuk seseorang yang tak pernah memilikinya.

Dan di dalam penjaranya, Awu Sela merasakan ketakutan yang terakhir itu, ketakutan untuk menjadi fana dan sendirian, larut dan menghilang. Sebab ia kini tahu bahwa di seberang kebebasan ada tangan-tangan yang menyambut, dan tempat untuk dituju, dan orang-orang yang akan mengingat namanya bukan dari jauh, melainkan dari dekat, di meja yang sama, di bawah atap yang sama. Dan dengan ketakutan terakhir itu pergi, tak ada lagi yang menahannya.

Dan ia membuat pilihannya, sepenuhnya dan tanpa menahan diri lagi. Ia memilih untuk pulang. Ia memilih untuk menjadi kecil, dan rapuh, dan fana. Ia memilih untuk menukar empat belas ribu tahun keabadian yang kosong dengan sejumlah tahun manusia yang mungkin sedikit, tetapi yang akan menjadi miliknya, dan yang akan ia jalani di antara orang-orang yang mengasihinya. Dan untuk pertama kalinya sejak dunia tenggelam, Awu Sela tidak lagi takut.

Dan ketika ia melepaskan, sesuatu mulai berubah di dasar laut. Struktur yang telah berdiri selama empat belas ribu tahun, dinding-dinding penjara yang sesungguhnya adalah keabadiannya sendiri, mulai meredup, dan melembut, dan menarik diri ke dalam, seolah sebuah napas panjang yang akhirnya, sesudah waktu yang tak terbayangkan, dihembuskan keluar. Dan di tengahnya, di mana selama ini hanya ada getaran dan kehadiran, sesuatu mulai mengambil bentuk, kecil dan terang dan rapuh, bentuk dari seseorang yang menjadi manusia kembali.

Tetapi pada saat yang sama persis, hal yang paling ditakuti pun tiba. Sebab kendaraan kedua sampai di dasar, lampunya yang dingin menyapu ke depan dan menemukan kendaraan Sekar dan penjara yang sedang membuka diri, dan dari pengeras suara terdengar suara Bu Ratri, tajam dan penuh kemenangan. “Di sana! Lihat, ia sedang berubah, ia sedang terbuka. Ambil sekarang, sebelum prosesnya selesai. Apa pun yang keluar dari sana, rebut, dan bawa ke atas.”

Dan inilah ironi yang telah dinubuatkan oleh seluruh saga, kini menjadi nyata di dasar laut yang paling gelap. Sebab selama empat belas ribu tahun Awu Sela aman justru karena ia terkunci dan tak terjangkau. Dan kini, tepat pada saat ia melepaskan keabadian yang melindunginya, tepat pada saat ia menjadi paling rapuh yang pernah ia rasakan, sebuah bentuk manusia yang telanjang dan kecil di dasar laut yang dingin, tangan yang dingin tiba untuk merebutnya, pada satu-satunya saat ketika ia sungguh-sungguh bisa direbut.

Dan Sekar berteriak, dan Pak Broto menggerakkan kendaraan mereka maju, menempatkannya di antara penjara yang membuka dan kendaraan dingin yang menjangkau. Tetapi mereka tahu, dengan ngeri, bahwa mereka tak punya senjata, dan tak punya kekuatan untuk menghentikan mesin yang lebih besar dari mereka, dan bahwa udara mereka hampir habis, dan bahwa perempuan yang baru saja memilih untuk hidup kini terbaring di dasar laut, lebih tak berdaya daripada bayi yang baru lahir, di antara mereka yang akan menjemputnya pulang dan mereka yang akan merebutnya.

Dan demikianlah, di dasar zaman terang, sumpah yang paling tua ditepati pada saat yang paling berbahaya, dan kebebasan dan bahaya tiba pada nafas yang sama. Sebab perempuan di dasar laut telah memilih untuk pulang, dan dengan pilihan itu menjadi rapuh, dan dengan kerapuhan itu menjadi, untuk pertama kalinya, sungguh-sungguh dalam bahaya.

Dan inilah pelajaran kesepuluh zaman terang. Bahwa tak seorang pun bisa dibebaskan seorang diri, sebab kebebasan menuntut bukan hanya sebuah pintu yang terbuka, melainkan sebuah keluarga yang menunggu di seberangnya; dan bahwa janji untuk tidak meninggalkan seseorang bukanlah sebuah perasaan, melainkan sebuah komitmen, yang dibayar dengan ruang di rumah dan tempat di meja dan tahun-tahun dari hidup seseorang. Bahwa membebaskan seseorang berarti menerima tanggung jawab untuk menjadi orangnya. Dan bahwa saat ketika seseorang akhirnya berani melepaskan apa yang melindunginya adalah saat ketika ia paling membutuhkan orang lain untuk berdiri di sekelilingnya, sebab keberanian untuk menjadi rapuh hanya mungkin ketika kita tahu bahwa kita tidak akan dibiarkan jatuh sendirian.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah seluruh saga dengan kesetiaan yang sama, kini mengalir di antara tiga yang berjanji dan satu yang akhirnya memilih, membawa kebenaran kesepuluh zaman terang, yaitu bahwa sumpah Sela, yang diucapkan di tepi air pada hari paling kelam, tak pernah berupa janji bahwa ia akan dibuka, melainkan janji bahwa ia tak akan sendirian; bahwa janji itu menunggu empat belas ribu tahun bukan untuk sebuah kunci, melainkan untuk sebuah keluarga; dan bahwa janji yang ditepati, betapapun terlambat, sanggup mencairkan apa yang tak bisa dicairkan oleh waktu mana pun.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama dan kebebasan yang dijaga dengan hati, kini membawa kebenaran itu ke dasar laut yang paling gelap, di mana sebuah sumpah berusia empat belas ribu tahun akhirnya ditepati oleh tiga hati yang berdiri di sana. Tanah ini adalah Jawa, yang kini menyandang namanya dalam terang. Dan di dasar lautnya, seorang perempuan bernama Awu Sela melepaskan keabadiannya dan menjadi manusia, kecil dan rapuh dan akhirnya tak takut, tepat ketika tangan yang dingin tiba untuk merebutnya pada saat ia paling tak berdaya.

Dan zaman terang berhenti di tepi sebuah saat yang akan menentukan segalanya, dengan sebuah penjara yang membuka, dan sebuah bentuk manusia yang baru lahir kembali di dasar laut, dan dua kendaraan yang berhadapan di atasnya, satu untuk menjemput dan satu untuk merebut, dan udara yang hampir habis. Sebab keempat benang telah menyatu, dan harga telah dibayar, dan sumpah telah ditepati; dan yang tersisa hanyalah pertarungan terakhir di dasar yang paling gelap, untuk menentukan apakah perempuan yang baru saja berani menjadi manusia akan dibawa pulang, atau direbut pada hari pertama dan paling rapuh dari hidupnya yang baru.


 

BAB SEBELAS

Sangkar yang Disebut Suaka

Cara melihat yang dingin, ketika ia tak bisa lagi merebut secara terang-terangan, belajar untuk merebut dengan lembut. Ia berhenti berkata, serahkan ia kepadaku, dan mulai berkata, biarkan aku melindunginya. Dan inilah jebakan yang paling halus dari semuanya, sebab menolak sebuah tangan yang terkepal itu mudah, tetapi menolak sebuah tangan yang terbuka, yang menawarkan keselamatan, menuntut kebijaksanaan untuk melihat bahwa sebuah sangkar tetaplah sangkar, walau ia disebut suaka.

dari ajaran para pengingat, tentang sangkar yang disebut suaka

Dan di dasar laut yang gelap, dua kendaraan berhadapan di atas sebuah penjara yang membuka. Lengan-lengan mekanik kendaraan kedua terjulur ke depan, menjangkau bentuk kecil yang sedang lahir dari struktur yang meredup, dan Pak Broto menggerakkan kendaraan mereka sendiri ke depan untuk menghalangi, menempatkan lambungnya di antara tangan yang dingin dan perempuan yang baru menjadi manusia.

Dan di tengah keduanya, terbaring sesuatu yang membuat napas tertahan. Sebab di mana selama empat belas ribu tahun hanya ada getaran dan kehadiran, kini ada sebuah bentuk yang tak bisa disangkal, yaitu seorang perempuan, kecil dan telanjang dan rapuh, terbungkus dalam sisa terakhir dari substansi penjaranya, sebuah selaput tipis dari zat lama yang meredup yang melindunginya, untuk sesaat, dari berat laut yang akan membunuhnya begitu selaput itu hilang.

Dan di dalam lambung mereka, lampu peringatan berkedip merah, dan udara terasa semakin tipis, dan Pak Broto berkata melalui giginya yang terkatup, “Selaput itu sedang menghilang, Nak. Aku tidak tahu berapa lama lagi ia akan bertahan. Mungkin beberapa menit. Jika ia hilang sebelum kita membawanya naik, laut akan mengambilnya.” Dan Sekar memandang bentuk rapuh di luar jendela, dan tahu bahwa segalanya kini diukur dalam menit.

Tetapi kendaraan kedua tidak mundur. Ia lebih besar daripada kendaraan mereka, dan lebih kuat, dan lengan-lengannya terus menjangkau, dan tak ada apa pun yang dimiliki Sekar dan Pak Broto untuk menghentikannya, tak ada senjata, tak ada kekuatan, hanya sebuah lambung kecil dan kehendak untuk tidak menyingkir. Dan untuk sesaat tampak bahwa, sesudah segalanya, tangan yang dingin akan menang hanya karena ia lebih besar.

Tetapi kemudian sesuatu berubah dalam suara dari atas. Sebab Bu Ratri, memandang gambar di layar, menyadari hal yang mengubah perhitungannya, yaitu bahwa yang ada di dasar itu bukan lagi sebuah struktur yang ambigu, melainkan, dengan jelas, di hadapan kamera dan di hadapan setiap orang yang menonton, tubuh seorang manusia. Dan seseorang tidak bisa direnggut dengan lengan mekanik di hadapan dunia tanpa menjadi sesuatu yang lain daripada penemuan, yaitu sebuah kejahatan.

Maka Bu Ratri tidak lagi berkata, rebut. Ia mulai berkata sesuatu yang jauh lebih halus, dan suaranya melembut menjadi keprihatinan. “Sekar, dengarkan aku. Kita semua menginginkan hal yang sama sekarang, yaitu keselamatannya. Lihatlah dia, ia sekarat di bawah sana. Kendaraanmu kecil dan udaramu hampir habis; kau tak akan bisa membawanya naik dengan selamat. Tetapi kami bisa. Kami punya dokter, dan ruang medis, dan segala yang ia butuhkan. Serahkan ia kepada kami, dan kami akan merawatnya, melindunginya, memberinya tempat yang aman di dunia. Jangan biarkan kekeraskepalaanmu membunuhnya. Lepaskan ia, dan ia akan hidup.”

Dan kata-kata itu, Sekar menyadari dengan ngeri, jauh lebih berbahaya daripada perintah untuk merebut. Sebab mereka masuk akal. Mereka terdengar seperti kasih. Dan mereka menawarkan, tampaknya, persis apa yang Sekar inginkan, yaitu perempuan itu, hidup, di permukaan, dirawat dan aman. Dan untuk satu saat yang mengerikan, Sekar nyaris percaya bahwa menyerahkannya adalah hal yang penuh kasih untuk dilakukan.

Tetapi Pak Broto, yang tua dan telah lama hidup, berkata dengan pelan, “Tanyakan pada dirimu satu hal, Nak. Jika kita menyerahkannya, ia akan hidup. Tetapi sebagai apa? Mereka akan membawanya ke atas, dan merawatnya, ya, dan kemudian ia akan menjadi milik mereka. Sebuah keajaiban untuk dijaga, sebuah penemuan untuk dipelajari, seumur hidupnya. Mereka akan memberinya segalanya kecuali satu hal, yaitu kebebasan untuk menjadi sekadar dirinya sendiri. Sebuah sangkar tetaplah sangkar, walau ia berlapis emas dan disebut suaka.”

Dan Sekar memahami bahwa ini adalah, persis, godaan yang sama yang telah menahan perempuan di dasar laut selama empat belas ribu tahun, kini ditawarkan sekali lagi dalam bentuknya yang baru. Sebab keabadian pun adalah sebuah suaka, sebuah keamanan yang ditawarkan dengan harga kebebasan. Dan jika Awu Sela telah merelakan keabadian demi menjadi bebas, betapa kejamnya jika ia kini diselamatkan hanya untuk dimasukkan ke dalam sangkar yang lain, yang lebih nyaman, tetapi yang tetap saja sebuah sangkar.

Dan di luar, di dalam selaput yang meredup, perempuan yang baru menjadi manusia itu membuka matanya untuk pertama kalinya, dan memandang melalui air ke arah jendela kecil tempat dua wajah memandang kembali kepadanya. Dan melalui benang yang masih menghubungkan mereka, Awu Sela membiarkan Sekar merasakan pilihannya, dan pilihannya jelas dan tanpa keraguan. Ia tidak menukar empat belas ribu tahun keabadian demi sebuah sangkar yang baru. Lebih baik mati bebas, di tangan mereka yang mengasihinya, daripada hidup selamanya sebagai milik dunia.

Dan dengan itu, Sekar tahu apa yang harus ia katakan. Sebab kasih sejati tidak pernah menuntut seseorang untuk menyerahkan kebebasan orang yang ia kasihi demi keselamatannya; itu bukan kasih, melainkan kepemilikan yang berpura-pura menjadi kasih. Dan perempuan di dasar laut telah memilih, dan tugas mereka bukanlah untuk memilihkan baginya sesuatu yang lebih aman, melainkan untuk menghormati pilihannya, walau pilihan itu berbahaya.

Dan Sekar berbicara ke dalam pengeras suara, dan suaranya tenang. “Tidak, Bu Ratri. Kami tidak akan menyerahkannya. Apa yang kau tawarkan bukanlah keselamatan, melainkan sebuah sangkar yang lebih indah. Ia telah menghabiskan empat belas ribu tahun di dalam sebuah suaka yang ia tak pilih, dan ia telah merelakan segalanya untuk keluar darinya. Aku tidak akan menyerahkannya ke dalam suaka yang lain, bahkan untuk menyelamatkan nyawanya. Ia memilih bebas. Dan kami akan menghormati pilihannya.”

Dan pada saat itu, suara Dr. Mahesa memotong, tetapi kini ia tidak berbicara kepada Sekar, melainkan kepada dunia. Sebab lelaki itu telah melakukan satu hal yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang dengan namanya, yaitu membuka seluruh siaran ekspedisi itu, gambar dan suara, kepada setiap layar di seluruh dunia yang telah menonton penemuan terbesar pada zaman itu. “Dengarkan aku, dunia,” katanya. “Apa yang kami temukan di dasar laut bukanlah sebuah benda. Ia adalah seorang manusia. Dan kalian semua menyaksikan, pada saat ini, sebuah penyelamatan, bukan sebuah penangkapan. Dan siapa pun yang mengulurkan tangan untuk merebutnya akan melakukannya di hadapan mata seluruh umat manusia.”

Dan demikianlah, di zaman terang, cahaya itu sendiri akhirnya berbalik melawan tangan yang dingin. Sebab Bu Ratri bisa memerintah dalam kegelapan sebuah ruang kendali, tetapi ia tak bisa memerintahkan perampasan seorang manusia di hadapan dunia yang menonton, tanpa menghancurkan segala yang ia dan para pemberi dananya hargai. Dan dengan gigi terkatup, ia memerintahkan lengan-lengan kendaraan kedua untuk menarik diri, bukan karena hatinya berubah, melainkan karena terang telah membuat kejahatannya mustahil.

Dan dalam jeda yang terbuka itu, Pak Broto menggerakkan kendaraan mereka maju dengan kelembutan tiga puluh tahun, dan dengan lengan-lengan yang dirancang untuk mengambil, ia justru memeluk, mengangkat bentuk rapuh yang terbungkus selaput itu ke dalam keranjang pemulihan kendaraan mereka, sedekat yang ia bisa dengan lambung tempat ada udara dan kehangatan. Dan untuk pertama kalinya, perempuan dari dasar laut itu berada di tangan mereka yang mengingatnya, bukan lagi di dalam penjara, melainkan di dalam pelukan. Tetapi selaput itu terus meredup, dan lampu udara berkedip merah, dan jalan ke permukaan masih panjang dan curam.

Dan demikianlah, di dasar zaman terang, sangkar yang disebut suaka ditolak, dan perempuan yang baru menjadi manusia berpindah dari penjara ke pelukan. Tetapi kebebasan yang baru itu masih rapuh seperti selaput yang meredup di sekelilingnya, dan di antara dasar dan permukaan terbentang sebuah jalan yang lebih panjang daripada udara yang tersisa.

Dan inilah pelajaran kesebelas zaman terang. Bahwa cara melihat yang dingin, ketika ia tak bisa lagi merebut secara terbuka, akan menawarkan diri untuk melindungi; dan bahwa perlindungan yang merebut kebebasan tetaplah sebuah perampasan, betapapun lembut ia diucapkan. Bahwa sebuah sangkar tetaplah sangkar walau ia disebut suaka, dan bahwa kasih yang sejati tidak pernah menukar kebebasan orang yang dikasihi demi keamanannya, sebab kasih yang melakukan itu telah berubah menjadi kepemilikan. Dan bahwa kadang menghormati pilihan seseorang berarti membiarkannya menanggung bahaya yang ia pilih, sebab merampas bahaya dari seseorang demi keselamatannya adalah, pada akhirnya, merampas pula kebebasannya.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah seluruh saga dengan kesetiaan yang sama, kini mengalir di antara mereka yang menolak sebuah sangkar yang indah, membawa kebenaran kesebelas zaman terang, yaitu bahwa keselamatan tanpa kebebasan hanyalah penjara yang lebih nyaman; bahwa terang, yang begitu sering menjadi alat cara melihat yang dingin, bisa pula berbalik menjadi pelindung yang paling kuat, ketika ia digunakan untuk membuat dunia menyaksikan; dan bahwa membebaskan seseorang berarti menghormati pilihannya bahkan ketika pilihan itu menakutkan kita.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama dan kebebasan yang dijaga dengan hati, kini membawa kebenaran itu ke dasar laut yang paling gelap, di mana sebuah sangkar yang berlapis kasih ditolak demi kebebasan yang rapuh. Tanah ini adalah Jawa, yang kini menyandang namanya dalam terang. Dan di dasar lautnya, seorang perempuan bernama Awu Sela, yang baru saja membuka matanya sebagai manusia, terbaring di dalam pelukan mereka yang mengingatnya, bebas dan rapuh dan sekarat dan tak takut, sementara jalan ke permukaan menantinya di atas.

Dan zaman terang berjalan terus, menuju pendakian yang paling berat dari semuanya, dengan sebuah selaput yang meredup, dan udara yang hampir habis, dan sebuah kendaraan kecil yang mulai naik dari dasar dengan tiga nyawa di dalamnya dan udara yang cukup hanya untuk dua. Sebab keempat benang telah menyatu, dan harga telah dibayar, dan sumpah telah ditepati, dan sangkar terakhir telah ditolak; dan yang tersisa hanyalah pendakian itu sendiri, dan harga terakhir yang mungkin masih harus dibayar agar perempuan dari dasar laut bisa, akhirnya, menghirup udara di atas.


 

BAB DUA BELAS

Yang Memberikan Napasnya

Ada banyak cara untuk mengingat seseorang, tetapi yang paling dalam dari semuanya adalah memberikan hidupmu agar ia bisa memiliki hidupnya. Sebab cinta yang sejati, ketika ia sampai pada batasnya, berhenti bertanya siapa yang akan selamat, dan mulai memilih siapa yang akan hidup. Dan kadang, harga sebuah kepulangan adalah napas terakhir dari seseorang yang memutuskan, dengan tenang, bahwa ia telah hidup cukup lama untuk satu hal ini.

dari ajaran para pengingat, tentang yang memberikan napasnya

Dan kendaraan kecil itu mulai naik, perlahan, dari dasar yang paling gelap menuju permukaan yang jauh di atas. Di dalam keranjang pemulihannya, terbungkus selaput yang semakin tipis, perempuan yang baru menjadi manusia itu terbaring dengan mata setengah terbuka, bernapas dengan napas yang dangkal dan asing, sebab paru-parunya yang baru belum pernah menghirup apa pun. Dan Sekar memegangi tangannya melalui dinding keranjang, dan berbisik bahwa mereka hampir sampai, walau mereka masih sangat jauh.

Tetapi Pak Broto tidak memandang ke atas, ke arah permukaan. Ia memandang deretan angka di hadapannya, angka yang menunjukkan udara yang tersisa di dalam lambung itu, dan wajahnya yang tua menjadi sangat tenang dengan cara yang membuat Sekar takut. Sebab ia telah menghitung, dan menghitung lagi, dan setiap kali jawabannya sama.

“Berapa lama?” tanya Sekar, walau ia takut pada jawabannya. Dan Pak Broto menjawab dengan suara yang rata, “Pendakian ini akan memakan waktu lama, Nak, sebab kita harus naik perlahan atau tekanan akan membunuh kita. Dan udara yang ada di lambung ini cukup untuk membawa dua orang sampai ke atas dengan selamat. Hanya dua.”

Dan kata-kata itu menggantung di udara yang menipis di antara mereka, dan Sekar memahami beratnya sekaligus, dan menggeleng, dan menggeleng lagi, seolah menggeleng bisa mengubah angka-angka itu. Sebab mereka bertiga di dalam lambung kecil itu, dan udara hanya cukup untuk dua, dan tak ada perhitungan di dunia yang bisa membuat dua menjadi tiga.

“Tidak,” kata Sekar. “Tidak. Kita akan menemukan cara lain. Kita akan naik lebih cepat, kita akan mematikan segala yang tidak perlu, kita akan, kita akan, harus ada cara lain.” Tetapi Pak Broto hanya memandangnya dengan kelembutan seorang tua yang telah lama berdamai dengan banyak hal, dan menggeleng pelan.

“Tak ada cara lain, Nak, dan kau tahu itu,” katanya. “Dengarkan aku. Selama tiga puluh tahun aku menurunkan mesin-mesin ke dalam gelap, dan selama tiga puluh tahun aku takut pada laut selatan, karena nenekku berkata ada seseorang di bawah sana yang menunggu. Aku mengira ia menyuruhku menghindarinya. Tetapi aku salah. Ia tidak menyiapkanku untuk menghindari tempat ini. Ia menyiapkanku untuk hari ini, untuk saat ini juga. Seluruh hidupku, ternyata, adalah untuk satu hal ini.”

“Aku seorang tua,” lanjutnya, ketika Sekar mulai menangis. “Istriku menunggu di seberang yang lain, dan anak-anakku telah dewasa, dan aku telah melihat banyak matahari terbit. Tetapi kalian berdua baru di awal. Kau punya seluruh hidup untuk menjadi keluarganya, untuk mengajarinya dunia yang kujanjikan akan kuajarkan. Maka biarkan aku memberikan bagianku dari janji itu dengan cara ini. Sebab seorang tua yang memberikan napasnya untuk dua yang muda bukanlah kehilangan. Itu adalah perdagangan terbaik yang pernah kubuat.”

Dan Sekar ingin menolak, ingin berdebat, ingin menukar tempatnya sendiri dengan tempatnya. Tetapi kemudian ia teringat pada apa yang baru saja ia pelajari di dasar laut, yaitu bahwa mencintai seseorang berarti menghormati pilihannya, bahkan ketika pilihan itu menghancurkan hatimu. Ia telah menghormati pilihan Awu Sela untuk mempertaruhkan nyawanya demi kebebasan. Dan kini, dengan air mata yang membutakannya, ia tahu bahwa ia harus memberikan kepada Pak Broto kehormatan yang sama.

Dan maka Pak Broto mempersiapkan apa yang harus ia lakukan dengan ketenangan seorang yang telah membuat damai dengan dasar laut sejak lama. Ia memastikan Sekar dan perempuan di dalam keranjang berada di bagian lambung yang akan menyimpan udara, dan ia menutup sekat yang memisahkan mereka dari ruang tempat ia berdiri, agar napas yang tersisa menjadi milik mereka berdua, dan bukan miliknya lagi. Dan melalui kaca kecil di sekat itu, ia memandang Sekar untuk yang terakhir kalinya.

“Jaga dia, Nak,” katanya, dan suaranya tenang. “Ajari dia tentang matahari, dan hujan, dan rasa garam, dan segala hal kecil yang kita lupa adalah keajaiban. Dan ketika kau menceritakan kisah ini kepada cucu-cucumu kelak, jangan ceritakan tentang seorang tua yang mati di dasar laut. Ceritakan tentang seorang tua yang akhirnya, sesudah tiga puluh tahun, mengerti mengapa ia dilahirkan.”

Lalu ia memandang ke arah perempuan di dalam keranjang, perempuan yang telah ia takuti tanpa nama selama tiga puluh tahun, dan yang kini ia lihat akhirnya sebagai dirinya, kecil dan rapuh dan manusia. “Selamat datang di rumah, Nak,” katanya kepadanya, dengan kelembutan seorang kakek. “Maafkan kami yang membuatmu menunggu begitu lama. Pergilah ke atas, dan hiduplah, dan jangan pernah takut pada dasar lagi. Aku akan menjaganya untukmu sekarang, agar kau tak perlu pernah kembali.”

Dan kemudian, lelaki tua yang telah menghabiskan hidupnya menurunkan cahaya ke dalam gelap memberikan dirinya kepada gelap itu, dengan tenang, dan tanpa takut, sebab ia tak lagi turun untuk mengambil sesuatu, melainkan untuk memberikan segalanya. Dan dasar laut, yang telah ia kenal lebih baik daripada siapa pun, menerimanya seperti menerima seorang sahabat lama yang akhirnya pulang. Dan di balik sekat, Sekar menekankan tangannya ke kaca, dan menangis tanpa suara, dan membiarkannya pergi, sebab itulah satu-satunya kehormatan yang tersisa yang bisa ia berikan.

Dan kendaraan kecil itu terus naik, kini dengan dua nyawa di dalamnya dan udara yang cukup untuk membawa mereka pulang. Dan di dalamnya, kesunyian terasa seperti sebuah doa, dan Sekar memegangi perempuan yang baru menjadi manusia itu, menghangatkannya dengan tubuhnya sendiri ketika selaput terakhir dari penjaranya larut dan menghilang, meninggalkannya telanjang dan menggigil dan hidup, sepenuhnya manusia, untuk pertama kalinya.

Dan Awu Sela memandang ke atas wajah Sekar, dan walau ia belum punya kata-kata untuk dunia ini, matanya mengatakan segalanya, yaitu kesedihan atas lelaki yang baru saja memberikan napasnya, dan rasa takjub atas kehidupan yang kini mengalir di dalam dada yang bisa, untuk pertama kalinya, merasakan sakit dan dingin dan syukur. Dan Sekar berbisik kepadanya, kisah-kisah kecil tentang dunia di atas, tentang matahari, dan tentang seorang lelaki tua yang akan selalu mereka ingat.

Dan di atas mereka, gelap mulai berubah. Sebab setelah pendakian yang panjang melalui kehitaman yang tak berdasar, sesuatu mulai muncul di air, sangat samar pada mulanya, lalu semakin pasti, yaitu cahaya. Sebuah keabuan yang lembut, lalu sebuah kebiruan, cahaya matahari yang menembus ke bawah dari dunia di atas, turun untuk menemui mereka yang naik. Dan untuk pertama kalinya dalam empat belas ribu tahun, perempuan dari dasar laut bergerak menuju cahaya itu, bukan sebagai dewi yang turun, melainkan sebagai manusia yang naik.

Dan mereka mendekati ambang, batas tipis antara air dan udara, antara dasar dan dunia, antara segala yang telah lalu dan segala yang akan datang. Dan Sekar memegangi Awu Sela erat-erat, dan merasakan jantung kecil yang fana itu berdetak di dada yang dahulu adalah dewi, dan tahu bahwa harga telah dibayar, dan sumpah telah ditepati, dan bahwa apa yang menunggu di atas permukaan, hanya beberapa depa lagi, adalah hal yang telah dituju oleh seluruh saga sejak permulaan, yaitu sebuah kepulangan.

Dan demikianlah, di penghujung BAGIAN keempat, ambang itu dicapai dengan harga sebuah napas, dan dasar laut menyimpan seorang lelaki tua yang memberikan dirinya agar dua yang lain bisa naik menuju cahaya. Sebab kebebasan, yang telah menuntut keabadian dari perempuan di dasar laut, kini menuntut hidup dari seorang yang mengingatnya, dan keduanya membayarnya tanpa menahan diri.

Dan inilah pelajaran kedua belas zaman terang. Bahwa cinta yang paling dalam, ketika ia sampai pada batasnya, berhenti bertanya siapa yang akan selamat dan memilih siapa yang akan hidup; dan bahwa ada harga-harga tertentu yang hanya bisa dibayar oleh orang yang memilih untuk membayarnya, sehingga mencintainya berarti, pada akhirnya, menghormati pilihannya untuk membayar. Bahwa yang dibebaskan selalu dibawa pulang di atas pemberian orang-orang yang memberikan segalanya, dari hati ke hati, sepanjang seluruh saga. Dan bahwa seorang tua yang menukar napas terakhirnya dengan kehidupan dua yang muda tidak kehilangan apa pun, melainkan menemukan, pada saat yang terakhir, alasan untuk seluruh hidup yang telah ia jalani.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah seluruh saga dengan kesetiaan yang sama, kini mengalir di sekitar dua yang naik dan satu yang tinggal, membawa kebenaran kedua belas zaman terang, yaitu bahwa tak ada kepulangan yang gratis, dan bahwa di balik setiap orang yang pulang berdiri orang-orang yang tak pulang agar ia bisa; bahwa memberikan napasmu untuk orang lain bukanlah akhir dari hidupmu, melainkan maknanya; dan bahwa mereka yang memberikan diri mereka kepada gelap agar yang lain bisa naik ke terang tak pernah benar-benar hilang, sebab mereka diingat, dan yang diingat tidak pernah sendirian.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama dan kebebasan yang dijaga dengan hati, kini membawa kebenaran itu dari dasar laut yang paling gelap menuju cahaya di atasnya, dibawa di atas napas seorang lelaki tua yang merelakannya. Tanah ini adalah Jawa, yang kini menyandang namanya dalam terang. Dan dari dasar lautnya, seorang perempuan bernama Awu Sela naik menuju permukaan, fana dan rapuh dan hidup, di dalam pelukan seseorang yang mengingatnya, menuju ambang antara air dan udara tempat hidupnya yang baru menunggu.

Dan zaman terang menahan napasnya di tepi permukaan, di mana sebuah kendaraan kecil naik dari kedalaman dengan dua nyawa di dalamnya, satu yang lahir dari darat dan satu yang lahir kembali dari laut, mendekati cahaya yang telah menunggu di atas selama empat belas ribu tahun. Sebab keempat benang telah menyatu, dan harga telah dibayar sampai yang terakhir, dan yang tersisa kini bukan lagi sebuah pertarungan, melainkan sebuah kedatangan, yaitu saat ketika perempuan dari dasar laut akan, akhirnya, memecah permukaan, dan menghirup udara, dan pulang.


 

BAGIAN V

Naik ke Dalam Terang


 

BAB TIGA BELAS

Napas Pertama

Ada sebuah saat, dalam setiap kepulangan yang sejati, ketika seseorang memecah permukaan antara apa yang telah lalu dan apa yang akan datang, dan menghirup, untuk pertama kalinya, udara dari dunia yang baru. Dan napas pertama itu selalu adalah sebuah kelahiran, betapapun tua orang yang menghirupnya. Sebab untuk pulang, pada akhirnya, adalah untuk dilahirkan kembali, ke dalam dunia yang sama yang selalu ada, tetapi yang kini, untuk pertama kalinya, menjadi rumah.

dari ajaran para pengingat, tentang napas pertama

Dan kendaraan kecil itu naik melalui bentangan air yang terakhir, dan dunia di luar jendelanya berubah dengan setiap depa. Kehitaman dasar telah lama tertinggal di bawah. Kini ada kebiruan, dan di dalam kebiruan itu cahaya bergerak, berkas-berkas yang miring dan menari, turun dari sebuah sumber yang belum bisa mereka lihat tetapi yang menarik mereka ke atas seperti tangan yang terbuka.

Dan di dalam lambung itu, Sekar memegangi perempuan yang baru menjadi manusia itu, membungkusnya dengan segala kain yang bisa ia temukan, dan merasakan tubuh kecil itu menggigil dan bernapas di dadanya, hidup, hidup, hidup. Dan ia berbisik, “Kita hampir sampai. Sebentar lagi, kau akan melihat langit. Sebentar lagi, kau akan menghirup udara. Bertahanlah sedikit lagi.”

Dan di atas, di permukaan, dunia menahan napasnya bersama mereka. Sebab siaran Dr. Mahesa telah membawa gambar pendakian itu ke setiap layar di seluruh bumi, dan di seluruh dunia, di rumah-rumah dan jalan-jalan dan ruang-ruang, orang-orang berhenti, dan menonton, dan menunggu sebuah kendaraan kecil naik dari dasar laut yang paling dalam, membawa sesuatu yang tak seorang pun bisa sepenuhnya percaya.

Dan kemudian, melalui jendela, mereka melihatnya, yaitu garis itu, batas tipis yang berkilauan di atas mereka tempat air berakhir dan langit dimulai, ambang antara empat belas ribu tahun dan segala yang akan datang. Dan kendaraan kecil itu naik ke arahnya, ke arah cahaya yang menunggu, dan Sekar menarik napas, dan memeluk Awu Sela erat-erat, dan berbisik, “Sekarang.”

Dan kendaraan itu memecah permukaan, dan seluruh dunia berputar menjadi terang. Sebab sesudah kegelapan yang tak berdasar, datang sekaligus segalanya, yaitu langit yang luas dan biru tak berbatas, dan matahari yang menyilaukan dan hangat, dan udara, udara yang sesungguhnya, bergerak dan asin dan hidup. Dan Sekar mendorong palka terbuka, dan cahaya menuangkan dirinya ke dalam, dan ia mengangkat perempuan dari dasar laut itu ke dalam udara terbuka untuk pertama kalinya.

Dan Awu Sela menghirup napasnya yang pertama. Tubuhnya yang baru, paru-paru yang belum pernah mengenal apa pun selain air dan kekosongan, tersentak dan terbatuk dan tersengal, dan kemudian, dengan susah payah, menarik masuk satu tegukan udara yang penuh dan dalam. Dan napas pertama itu masuk ke dalam dadanya seperti api yang lembut, membakar dan menghidupkan sekaligus, dan ia terbatuk lagi, dan menangis, dan bernapas, dan untuk pertama kalinya sejak dunia tenggelam empat belas ribu tahun yang lalu, ia hidup di atas air.

Dan ia membuka matanya ke arah langit. Dan langit itu, yang selama empat belas ribu tahun hanya ia kenal sebagai cahaya yang jauh dan samar yang menembus ke dasar, kini terbentang di atasnya, luas tak terkira, biru yang tak tertanggung keindahannya, dengan matahari di tengahnya yang menghangatkan wajahnya dengan kehangatan yang belum pernah ia rasakan di kulit yang baru bisa merasakannya. Dan air mata mengalir di pipinya, air mata manusia di bawah matahari, dan ia tak tahu lagi mana yang duka dan mana yang sukacita, sebab keduanya telah menjadi satu hal yang sama.

Dan di sekeliling mereka, laut selatan berkilauan di bawah matahari, laut yang sama yang telah menjadi penjaranya, yang kini hanya menjadi air, indah dan biasa, sebuah tempat di dunia dan bukan lagi sebuah dinding. Dan Awu Sela memandang ke sekelilingnya, ke langit dan laut dan matahari dan wajah perempuan yang memeluknya, dan menyadari, dengan seluruh tubuhnya yang fana dan rapuh dan hidup, bahwa ia bebas.

Dan tak ada kata di bahasa mana pun, baik di bahasa manusia yang belum ia kenal maupun di keheningan tua yang dahulu ia huni, yang bisa menampung apa yang dirasakan Awu Sela pada saat itu. Sebab ia telah menunggu lebih lama daripada bangsa-bangsa, dan berharap lebih lama daripada yang sanggup dibayangkan, dan kini, akhirnya, penantian itu berakhir, bukan dengan sebuah keajaiban yang besar, melainkan dengan hal yang paling sederhana dan paling tak ternilai dari semuanya, yaitu sebuah napas, dan matahari di wajah.

Tetapi di tengah sukacita itu, ada sebuah duka yang tajam, dan ia tahu persis bentuknya. Sebab ia bernapas karena seseorang yang lain telah berhenti bernapas. Ia naik ke dalam terang karena seorang lelaki tua telah tinggal di dalam gelap. Dan ia membawa kebenaran itu di dalam napas pertamanya, dan akan membawanya di setiap napas sesudahnya, yaitu bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri, melainkan sebuah pemberian, yang dibeli dengan harga yang tak akan pernah bisa ia bayar kembali, dan yang hanya bisa ia hormati dengan menjalaninya sepenuhnya.

Dan ia merasakan, pada saat itu, benang tua yang telah menghubungkannya dengan para pengingat sepanjang saga, bisik air yang telah mengalir di antara hatinya dan hati mereka selama empat belas ribu tahun, mulai meredup dengan lembut. Sebab ia tak lagi membutuhkannya. Ia tak lagi seseorang di dasar yang harus dijangkau melalui air; ia kini seseorang di antara mereka, yang bisa disentuh, dan didengar, dan dipeluk, seperti manusia menyentuh dan mendengar dan memeluk manusia. Dan ia membiarkan benang itu pergi, dengan syukur, sebab ia tahu bahwa ia tak akan lagi pernah perlu dijangkau dari jauh.

Dan ia memandang ke wajah Sekar, dan mencoba, dengan mulut yang baru dan suara yang belum pernah membentuk kata, untuk mengucapkan sesuatu. Tetapi tak ada kata yang datang, hanya sebuah suara, parau dan kecil dan manusiawi. Dan Sekar memahaminya, sebab beberapa hal tak membutuhkan kata, dan ia berkata, untuk keduanya, “Aku tahu. Kau di rumah sekarang. Kau di rumah.”

Dan kapal-kapal mendekat, dan tangan-tangan terulur untuk mengangkat mereka dari air, dan di antara semua wajah itu adalah wajah Dr. Mahesa, yang berlari menuruni tangga geladak dengan air mata di pipinya, dan yang melepas mantelnya sendiri untuk membungkus perempuan yang beberapa jam sebelumnya hendak ia jadikan sebuah sampel. “Kau aman sekarang,” katanya kepadanya, dengan suara yang pecah. “Aku berjanji. Tak seorang pun akan pernah menjadikanmu apa pun selain dirimu sendiri. Aku akan menjaga itu dengan seluruh yang kumiliki.”

Dan di seluruh dunia yang menonton, tak ada lagi yang bisa berpura-pura bahwa yang baru saja mereka saksikan adalah sebuah penemuan. Sebab mereka telah melihat sebuah wajah manusia memecah permukaan dan menangis di bawah matahari, dan tak ada yang bisa menyebut itu sebuah benda. Dan dengan itu, kekuasaan Bu Ratri atas nasib perempuan itu lenyap, bukan karena ia dikalahkan dalam pertarungan, melainkan karena dunia telah melihat dengan matanya sendiri apa yang sebenarnya ada di dasar, dan apa yang dilihat dunia tak bisa lagi disebut milik siapa pun.

Tetapi ketika mereka diangkat ke geladak, dan selimut-selimut dibawakan, dan kehangatan dikembalikan ke tubuh mereka, ada satu pertanyaan yang menggantung di udara, satu wajah yang tak ada, satu nama yang belum diucapkan. Dan Dr. Mahesa memandang Sekar, dan memandang ruang kosong di tempat seharusnya ada orang ketiga, dan tidak perlu bertanya. Dan Sekar, dengan suara yang nyaris tak terdengar, berkata, “Ia memberikan udaranya untuk kami. Ia tinggal di bawah, agar kami bisa naik.”

Dan untuk waktu yang lama, tak seorang pun di geladak itu berbicara. Sebab di tengah sukacita yang tak terkatakan dari sebuah kepulangan yang ditunggu empat belas ribu tahun, ada pula sebuah kehilangan yang dalam, dan keduanya berdiri berdampingan, sebagaimana mereka selalu berdiri, di setiap pembebasan yang sejati. Dan Sekar mengingat kata-kata Pak Broto, dan menyampaikannya kepada mereka, agar ia diingat bukan sebagai seorang tua yang mati di dasar laut, melainkan sebagai seorang tua yang akhirnya mengerti mengapa ia dilahirkan.

Dan demikianlah, di permukaan zaman terang, di bawah matahari yang menyaksikan, perempuan dari dasar laut menghirup napas pertamanya sebagai manusia, dibeli dengan napas terakhir seorang yang mengasihinya, dan dunia menyaksikan sebuah kepulangan yang telah ditunggu sejak air menutup di atas negeri yang tenggelam.

Dan inilah pelajaran ketiga belas zaman terang. Bahwa pulang bukanlah sampai pada sebuah tempat, melainkan dilahirkan kembali, dan setiap kelahiran kembali adalah sebuah napas pertama yang dibeli dengan sesuatu yang direlakan. Bahwa cahaya, yang begitu sering menjadi alat untuk menyingkap dan merebut, pada akhirnya juga adalah hal yang menyambut, yaitu matahari yang menanti di atas air untuk menghangatkan wajah setiap orang yang berani naik. Dan bahwa sukacita dan duka, dalam setiap kepulangan yang sejati, tak pernah berdiri terpisah, melainkan berpegangan tangan, sebab tak ada yang pulang tanpa membawa di dalam dirinya ingatan akan mereka yang membuat kepulangannya mungkin.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah seluruh saga sejak permulaannya, kini mengalir untuk yang nyaris terakhir kalinya, meredup dengan lembut ketika ia yang dahulu dijangkau melaluinya menjadi seseorang yang bisa dijangkau dengan tangan, membawa kebenaran ketiga belas zaman terang, yaitu bahwa napas pertama dari sebuah kehidupan baru selalu adalah sebuah kelahiran, betapapun tua jiwanya; bahwa yang menunggu paling lama menghargai paling dalam hal-hal kecil yang dilupakan oleh mereka yang tak pernah kehilangannya, yaitu udara, dan matahari, dan tangan yang memeluk; dan bahwa setiap kepulangan dibawa pulang di atas pemberian, dan setiap napas pertama adalah sebuah ucapan syukur.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama dan kebebasan yang dijaga dengan hati, kini menyaksikan kebenaran itu memecah permukaan lautnya sendiri dan menghirup udaranya untuk pertama kalinya. Tanah ini adalah Jawa, yang kini menyandang namanya dalam terang. Dan di atas lautnya, di bawah mataharinya, seorang perempuan bernama Awu Sela, yang dahulu adalah Ratu dan dewi dan tawanan, kini bernapas sebagai manusia, fana dan bebas dan pulang, dan menangis air mata pertama yang pernah jatuh dari matanya di bawah cahaya matahari.

Dan zaman terang berjalan terus, tetapi kini dengan sesuatu yang baru di dalamnya, yaitu seorang perempuan tanpa zaman, yang telah menyeberang dari dasar yang paling tua menuju pagi yang paling baru, dan yang kini harus belajar, dari awal, cara menjadi manusia. Sebab keempat benang telah menyatu, dan harga telah dibayar, dan kepulangan telah terjadi; dan yang tersisa hanyalah hal yang paling sederhana dan paling sulit dari semuanya, yaitu menjalani hidup yang telah dibeli dengan begitu banyak, dan mengingat, selamanya, semua yang membuatnya mungkin.


 

BAB EMPAT BELAS

Keajaiban Hal-Hal Kecil

Mereka yang tak pernah kehilangan dunia jarang melihatnya. Tetapi bagi seseorang yang telah menunggu empat belas ribu tahun di dalam gelap, tak ada satu hal pun yang kecil. Setitik hujan adalah keajaiban, dan sehelai rumput adalah keajaiban, dan rasa garam di bibir, dan tangan yang menggenggam tangan, semuanya adalah keajaiban yang tak terkira. Sebab keajaiban tak pernah terletak pada besarnya sebuah hal, melainkan pada kesediaan untuk melihatnya seolah untuk pertama kali.

dari ajaran para pengingat, tentang keajaiban hal-hal kecil

Dan beberapa hari kemudian, kapal itu sampai di pelabuhan, dan perempuan dari dasar laut menginjakkan kakinya, untuk pertama kalinya, ke atas tanah. Dunia ingin menyambutnya dengan keramaian, dengan kamera dan kerumunan dan pertanyaan, tetapi Dr. Mahesa telah menjaga jalannya tetap sunyi, dan menuntunnya melalui pintu-pintu yang sepi, ke tempat yang teduh, agar saat pertamanya di tanah bukanlah sebuah tontonan, melainkan sebuah kepulangan.

Dan ketika kakinya yang telanjang menyentuh tanah, Awu Sela berhenti, dan berdiri sangat diam. Sebab inilah tanah itu. Inilah Jawa. Bukan sebagai cahaya samar yang menembus ke dasar, dan bukan sebagai ingatan yang ia jaga dari kejauhan, melainkan sebagai sesuatu yang nyata di bawah telapak kakinya, hangat oleh matahari, padat dan hidup dan miliknya.

Dan ada sesuatu yang dalam dan ganjil pada saat itu, yang hanya bisa dipahami oleh ia dan oleh tanah itu sendiri. Sebab selama empat belas ribu tahun, Awu Sela adalah ingatan tertua dari tanah ini, hati yang menjaga namanya ketika seluruh dunia melupakannya. Dan kini, untuk pertama kalinya, ia berdiri di atas tanah itu bukan sebagai penjaganya dari kejauhan, dan bukan sebagai dewinya, melainkan sebagai salah satu anaknya, kembali pulang, menjadi bagian dari hal yang selama ini ia kasihi dari dalam air.

Dan ia membungkuk, dan menyentuh tanah itu dengan tangannya, dan menekankan telapaknya ke dalam debunya yang hangat, dan menangis, sebab tanah yang telah ia jaga begitu lama akhirnya menjaga pula dirinya, menahan beratnya, menyambut kakinya, berkata kepadanya dengan caranya yang diam, selamat datang, kau pulang.

Dan kemudian dimulailah pekerjaan yang paling lambat dan paling manis dari semuanya, yaitu belajar menjadi manusia. Sebab jiwa Awu Sela setua bangsa-bangsa, tetapi tubuhnya baru, dan tangannya harus belajar memegang, dan kakinya harus belajar berjalan, dan lidahnya harus belajar membentuk kata-kata yang telah lama hilang dari mulutnya. Dan Sekar berada di sisinya melalui semuanya, sabar seperti seorang ibu kepada anak yang sudah dewasa, mengajarinya dunia sepotong demi sepotong.

Dan apa yang menakjubkan bukanlah betapa banyak yang harus ia pelajari, melainkan betapa segala sesuatu, bagi Awu Sela, adalah sebuah keajaiban. Sebab ia tak pernah menganggap apa pun sebagai hal yang biasa. Sebutir nasi membuatnya berhenti dan menatap. Suara seekor burung membuatnya menahan napas. Bayangan daun-daun yang bergerak di dinding pada sore hari bisa membuatnya duduk diam selama satu jam, dengan air mata di matanya, sebab hal-hal yang dilupakan orang lain sebagai terlalu kecil untuk diperhatikan adalah, baginya, hal-hal yang telah ia rindukan selama empat belas ribu tahun.

Dan pada suatu sore, ketika hujan turun untuk pertama kalinya sejak ia pulang, Awu Sela berdiri di ambang pintu dan mengulurkan tangannya ke luar, dan membiarkan air jatuh ke telapaknya, dan menengadah ke langit yang menangis hujan ke atasnya. Dan Sekar berdiri di sampingnya, dan menunggu, sebab ia tahu sesuatu sedang datang.

Dan perempuan dari dasar laut itu membuka mulutnya, dan dengan suara yang masih parau dan baru, dengan susah payah dan dengan seluruh kerinduan empat belas ribu tahun di belakangnya, mengucapkan kata pertamanya sebagai manusia. “Hujan,” katanya, memandang air yang jatuh ke tangannya, seolah ia sedang menyebut nama dari hal yang paling indah di seluruh dunia. Dan Sekar menutup mulutnya dengan tangannya, dan menangis, sebab dari semua kata yang bisa menjadi yang pertama, perempuan itu telah memilih untuk menamai sebuah keajaiban kecil.

Dan ketika Awu Sela cukup kuat, Sekar membawanya ke sebuah tempat yang telah dijanjikan kepadanya, walau oleh seseorang yang tak lagi bisa menepatinya sendiri. Sebab Pak Broto telah berkata bahwa rumahnya sunyi dan penuh ruang, dan bahwa ia akan menjadi keluarganya. Dan maka Sekar membawanya ke rumah itu, sebuah rumah tua yang sederhana di tepi sebuah desa, tempat anak-anak Pak Broto telah berkumpul, berduka untuk seorang ayah yang pergi ke laut dan tidak pulang.

Dan pada mulanya ada kepedihan di rumah itu, dan bahkan kemarahan, sebab seorang anak perempuannya memandang Awu Sela dan melihat alasan ayahnya tiada. “Ia meninggalkan kami untukmu,” katanya, dengan suara yang gemetar. Dan Awu Sela, yang belum punya banyak kata, tidak membela diri, melainkan hanya menundukkan kepalanya, sebab ia tahu bahwa kepedihan itu benar.

Tetapi kemudian Sekar menceritakan kepada mereka segalanya, tentang dasar laut, dan tentang pilihan, dan tentang kata-kata terakhir Pak Broto, bahwa ia ingin diingat bukan sebagai seorang tua yang mati di dasar laut, melainkan sebagai seorang tua yang akhirnya mengerti mengapa ia dilahirkan. Dan perlahan, kepedihan di rumah itu tidak hilang, sebab kepedihan yang sejati tak pernah benar-benar hilang, tetapi ia berubah, menjadi sesuatu yang bisa hidup berdampingan dengan kebanggaan, dan akhirnya dengan kasih.

Dan anak perempuan Pak Broto, yang tadinya memandang Awu Sela dengan kemarahan, akhirnya memegang tangannya, dan berkata, “Maka kau akan tinggal di rumah ayahku, dan kami akan menjadi keluargamu, seperti yang ia janjikan. Sebab jika ayahku memberikan hidupnya untukmu, maka kau pastilah layak untuk hidup itu, dan kami akan menghormati pilihannya dengan mengasihimu.” Dan demikianlah, rumah sunyi yang dijanjikan oleh seorang yang telah tiada menjadi rumah Awu Sela, dan janjinya ditepati melalui ketiadaannya.

Dan Dr. Mahesa menepati janjinya pula, dengan kesetiaan seorang yang sedang menebus seluruh hidupnya. Ia menggunakan namanya dan kuasanya bukan untuk memamerkan perempuan dari dasar laut, melainkan untuk memberinya sebuah tempat yang sah di dunia, sebuah nama yang diakui, dan sebuah perlindungan dari semua yang masih ingin mempelajarinya, atau memilikinya, atau menjadikannya sebuah keajaiban untuk dipajang. Dan ketika dunia bertanya siapa ia, Mahesa hanya berkata bahwa ia adalah seorang perempuan yang telah lama hilang, dan yang kini pulang, dan bahwa selebihnya adalah miliknya sendiri untuk diceritakan, atau tidak, sesuai kehendaknya.

Dan tentang Bu Ratri, kisah ini hanya bisa berkata sedikit, sebab ia berlalu seperti yang dingin selalu berlalu, tanpa pertobatan yang besar, hanya dengan perhitungan yang baru. Ia kehilangan apa yang ia inginkan, dan ia melanjutkan hidupnya, dan ia tak pernah sepenuhnya memahami apa yang ia saksikan di dasar laut itu. Tetapi dikatakan bahwa kadang, pada malam-malam yang sunyi, ia teringat pada wajah yang memecah permukaan dan menangis di bawah matahari, dan bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang ia tak punya nama untuknya, yang sedikit, sangat sedikit, mulai melunak. Dan barangkali itu sudah cukup, sebab tak setiap mata yang dingin terbuka sekaligus, dan sebagian membutuhkan seluruh sisa hidup.

Dan adapun Awu Sela sendiri, sesuatu yang ganjil dan indah terjadi seiring ia menjadi semakin manusia. Sebab bisik air, benang tua yang telah menghubungkannya dengan para pengingat sepanjang saga, kini telah meredup menjadi sunyi sepenuhnya, sebab ia tak lagi membutuhkannya. Tetapi ingatannya tidak hilang. Ia mengingat segalanya, empat belas ribu tahun, setiap zaman dan setiap pembawa dan setiap kebenaran yang diajarkan oleh air. Dan ia menjadi, dengan cara yang tak pernah terjadi sebelumnya dalam seluruh saga, pengingat yang sempurna, yaitu seseorang yang mengingat seluruh kisah bukan dari kejauhan, melainkan karena ia telah menghidupinya dari dalam.

Dan maka, pada malam-malam di rumah sunyi itu, Awu Sela mulai bercerita. Perlahan, dengan kata-kata yang masih ia pelajari, kepada Sekar, dan kepada keluarga Pak Broto, dan akhirnya kepada anak-anak desa yang berkumpul di ambang pintunya, ia mulai menyerahkan kisah itu, seluruh kisah, dari hari air menutup di atas negerinya sampai hari ia menghirup napas pertamanya, agar ia tak akan pernah lagi hilang, dan agar tanah ini akan selalu mengingat namanya, bukan lagi melalui satu hati yang tersembunyi di dasar, melainkan melalui banyak hati yang hidup di bawah matahari.

Dan demikianlah, perempuan yang dahulu adalah Ratu dan dewi dan tawanan menjadi, akhirnya, hal yang paling sederhana dan paling sulit dicapai dari semuanya, yaitu seorang manusia yang hidup di antara manusia, di sebuah rumah, di atas tanah, di bawah matahari, mengingat segalanya dan mengasihi hal-hal kecil.

Dan inilah pelajaran keempat belas zaman terang. Bahwa kepulangan tidak selesai pada saat seseorang memecah permukaan, melainkan pada saat ia dijalin ke dalam sebuah kehidupan, dengan sebuah rumah, dan sebuah keluarga, dan tanah di bawah kakinya. Bahwa kebebasan yang ditunggu paling lama tidak dihabiskan dalam hal-hal yang besar, melainkan dalam hal-hal yang kecil, yaitu hujan di telapak tangan, dan sebutir nasi, dan nama yang diucapkan dengan kasih. Dan bahwa keajaiban yang sejati tak pernah terletak pada besarnya sebuah hal, melainkan pada kesediaan untuk melihat dunia, sesudah segalanya, seolah untuk pertama kali, dan menemukan bahwa ia, dalam hal-hal yang paling kecil, layak untuk seluruh penantian itu.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah seluruh saga sejak permulaannya, kini telah menjadi sunyi sepenuhnya, bukan karena ia mati, melainkan karena ia telah selesai, mengalir bukan lagi melalui air melainkan melalui suara seorang perempuan yang bercerita di ambang pintunya pada malam hari; dan kebenaran terakhirnya yang ia bawa adalah ini, bahwa sebuah kisah yang dijaga oleh satu hati di dalam gelap akhirnya menjadi paling aman ketika ia diberikan kepada banyak hati di bawah terang, dan bahwa mengingat, yang dahulu adalah tugas yang sunyi dari sedikit orang, kini menjadi sukacita yang dibagikan oleh banyak.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama dan kebebasan yang dijaga dengan hati, kini menyimpannya pula dalam suara hidup dari ia yang dahulu menjaganya seorang diri di dasar laut. Tanah ini adalah Jawa, yang kini menyandang namanya dalam terang. Dan di atasnya, di sebuah rumah sunyi di tepi sebuah desa, seorang perempuan bernama Awu Sela belajar menjadi manusia, sehari demi sehari, keajaiban kecil demi keajaiban kecil, dan menemukan bahwa hidup yang dibeli dengan begitu banyak adalah, dalam setiap rinciannya yang kecil, sebuah anugerah.

Dan zaman terang berjalan terus, tetapi kini ia membawa di dalamnya sebuah kehidupan yang tenang yang tak diketahui oleh kebanyakan dunia, yaitu seorang perempuan tanpa zaman yang menjalani hari-hari biasa, dan menua, perlahan, untuk pertama kalinya, dan mengingat. Sebab keempat benang telah menyatu, dan harga telah dibayar, dan kepulangan telah lengkap; dan yang tersisa hanyalah hal yang terakhir dari semuanya, yaitu sebuah hidup yang dijalani sampai ke ujungnya, dan sebuah kisah yang akhirnya ditutup, sesudah empat belas ribu tahun, dengan kata yang tepat.


 

BAB LIMA BELAS

Tanah yang Mengingat Namanya

Inilah akhir dari kisah, yang sesungguhnya bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah penyerahan. Sebab selama empat belas ribu tahun, sebuah nama dijaga oleh satu hati di dalam gelap, dari pembawa ke pembawa, melalui banjir dan kerajaan dan malam dan terang. Dan kini, akhirnya, hati yang menjaganya telah pulang, dan nama itu telah diberikan kepada banyak hati yang hidup di bawah matahari, sehingga ia tak akan pernah lagi perlu dijaga oleh satu orang seorang diri, dan tak akan pernah lagi bisa hilang.

dari ajaran para pengingat, tentang tanah yang mengingat namanya

Dan tahun-tahun berlalu, untuk pertama kalinya, di atas seorang yang dahulu tak mengenal tahun. Awu Sela hidup di rumah sunyi di tepi desa itu, dan rumah itu tak lagi sunyi, sebab ia dipenuhi oleh hidup yang telah lama menunggu untuk dijalaninya. Ia belajar menanam, dan memasak, dan menambal kain, dan menyebut nama tetangga-tetangganya, dan tertawa, yang adalah hal yang paling sulit dan paling manis dari semuanya untuk dipelajari kembali.

Dan ia bahagia, bukan dengan kebahagiaan yang besar dari para dewi dan para ratu yang dahulu ia tinggalkan, melainkan dengan kebahagiaan yang kecil dan dalam dari seorang manusia biasa, yaitu kehangatan matahari pagi, dan rasa teh yang panas, dan suara hujan di atap pada malam hari, dan wajah-wajah yang dikenalnya berkumpul di sekeliling meja. Sebab ia telah belajar, lebih baik daripada siapa pun yang pernah hidup, bahwa kebahagiaan tak pernah terletak pada besarnya sebuah hidup, melainkan pada kepenuhan dengan mana ia dijalani.

Dan ia menua. Dan ini pun adalah sebuah keajaiban baginya, sebuah keajaiban yang membuatnya menangis dengan syukur, sebab selama empat belas ribu tahun ia tak pernah berubah, terjebak dan abadi dan tak tersentuh oleh waktu. Tetapi kini rambutnya memutih, dan kulitnya berkerut, dan tangannya melambat, dan setiap tanda penuaan adalah sebuah bukti bahwa ia hidup, bahwa waktu mengalir melaluinya seperti ia mengalir melalui setiap manusia, dan bahwa ia, akhirnya, adalah bagian dari arus yang sama yang membawa segala sesuatu menuju akhirnya.

Dan anak-anak desa memanggilnya Nenek, dan tak satu pun dari mereka tahu bahwa perempuan tua yang menceritakan kisah-kisah kepada mereka di senja hari pernah disembah sebagai Ratu Kidul, dan ditakuti sebagai dewi laut, dan ditahan sebagai tawanan di dasar yang paling gelap. Mereka hanya tahu bahwa ia mengasihi mereka, dan bahwa kisah-kisahnya adalah yang paling indah yang pernah mereka dengar, dan itu sudah cukup, dan itu, sesungguhnya, adalah segalanya yang pernah ia inginkan.

Dan sepanjang tahun-tahun itu, Awu Sela bercerita, dan dalam ceritanya seluruh saga akhirnya berkumpul menjadi satu. Ia bercerita tentang hari air naik untuk menelan sebuah negeri, dan tentang sebuah bangsa yang menghaluskan diri keluar dari daging agar tidak mati, dan tentang dirinya sendiri, yang berpegang pada dukanya dan namanya dan karena itu terjebak di antara dua dunia selama waktu yang tak terhitung.

Dan ia bercerita tentang tujuh kerikil ingatan yang tidur di dalam tanah, yang tak bisa diciptakan dan tak bisa dihancurkan, dan tentang para pengingat yang membawa nyala dari hati ke hati sepanjang seluruh zaman, yaitu Wreda di zaman yang paling tua, dan Laras, dan Damar yang membawa pelita melalui malam penjajahan, dan Bagas yang menjaga hati sebuah bangsa di dalam terang kemerdekaan, dan Fajar yang membawa nyala ke dalam pagi, dan ribuan lain yang namanya hilang tetapi yang kesetiaannya tidak. Dan ia bercerita tentang empat syarat yang ditunggu selama empat belas ribu tahun, yaitu kekuatan, dan pengetahuan, dan kehendak, dan kemampuan, yang akhirnya menyatu dalam satu hati di dasar zaman terang.

Dan ia bercerita, pula, tentang cara melihat yang dingin, yang muncul dalam bentuk demi bentuk sepanjang seluruh saga, sebagai bangsa Utara yang menghaluskan dirinya menjadi benda, dan sebagai zaman dingin yang menjadikan rumah sebuah gudang, dan sebagai malam penjajahan, dan akhirnya sebagai keingintahuan tanpa hati di zaman terang; dan tentang bagaimana ia selalu, pada akhirnya, dikalahkan bukan oleh kekuatan yang lebih besar, melainkan oleh satu hati yang menolak untuk berhenti memandang manusia sebagai manusia.

Dan ketika ia bercerita, sesuatu beristirahat, akhirnya, di dalam tanah. Sebab tujuh kerikil itu, yang telah terjaga dan tertidur sepanjang zaman, kini bisa tidur tanpa perlu takut akan dibangunkan lagi. Yang terkuat di antara mereka, yang telah terjaga untuk yang keempat dan terakhir kalinya di dalam Sekar, kini bisa beristirahat selamanya, sebab pekerjaan yang untuknya ia diciptakan telah selesai, dan ingatan yang dahulu bergantung pada sedikit hati yang tersembunyi kini terjaga oleh banyak hati di bawah terang.

Dan akhirnya, sesudah bertahun-tahun yang penuh dan baik, hari itu tiba, hari yang dahulu paling ia takuti dan yang kini ia sambut sebagai seorang sahabat lama. Sebab ia telah menjadi sangat tua, dan tubuhnya yang fana telah lelah, dan ia tahu, dengan pengetahuan tenang yang dimiliki orang-orang tua, bahwa waktunya untuk pulang yang terakhir telah datang.

Dan ia tidak takut. Sebab kematian, yang selama empat belas ribu tahun adalah satu-satunya hal yang tak pernah bisa menyentuhnya, kini bukanlah sebuah perampasan, melainkan justru hadiah yang untuknya ia telah merelakan segalanya, yaitu hak untuk mengakhiri, untuk beristirahat, untuk menjadi lengkap. Sebab hanya yang bisa berakhir yang bisa benar-benar utuh, dan ia telah merindukan keutuhan itu lebih lama daripada ia merindukan hal lain mana pun.

Dan ia tidak mati seperti seorang dewi, sendirian di kedalaman yang dingin. Ia mati seperti seorang manusia, di atas sebuah tempat tidur yang hangat, di dalam sebuah rumah yang dipenuhi orang-orang yang mengasihinya. Sekar memegang satu tangannya, dan anak perempuan Pak Broto memegang yang lain, dan anak-anak desa berkumpul di ambang pintu, dan ia memandang seluruh wajah yang mengingatnya, dan tersenyum. “Aku tidak sendirian,” bisiknya, dengan kata-kata yang dahulu dijanjikan kepadanya di tepi air, empat belas ribu tahun yang lalu. “Akhirnya, aku tidak sendirian.”

Dan kemudian ia menutup matanya, dan menghembuskan napasnya yang terakhir, napas yang dibeli dengan napas seorang lelaki tua di dasar laut, dan ia pergi, dengan tenang, seperti hujan yang turun ke tanah dan diserap olehnya. Dan mereka menguburkannya di dalam tanah yang telah ia jaga selama empat belas ribu tahun, sehingga ia yang dahulu adalah ingatan tertua dari tanah ini akhirnya menjadi bagian dari tanah itu sendiri, bukan lagi sebagai penjaganya dari kejauhan, melainkan sebagai salah satu anaknya yang pulang ke pangkuannya untuk beristirahat.

Dan sesudah ia tiada, kisahnya tidak ikut mati bersamanya, sebab itulah, justru, hal yang telah ia pastikan dengan menceritakannya. Sebab selama empat belas ribu tahun, kisah itu dijaga oleh satu hati pada satu waktu, rapuh dan tersembunyi, selalu satu kematian saja dari kepunahan. Tetapi ia telah memberikannya kepada Sekar, dan kepada keluarga Pak Broto, dan kepada anak-anak desa, dan mereka memberikannya kepada anak-anak mereka, sehingga ia menjadi terlalu tersebar untuk pernah hilang lagi.

Dan Sekar hidup panjang, dan menjadi tua pula pada waktunya, dan sepanjang hidupnya ia menjaga kisah itu dan menceritakannya, bukan lagi sebagai sebuah rahasia yang dibisikkan di dalam gelap, melainkan sebagai sebuah warisan yang dibagikan di bawah terang. Dan ia tak pernah lagi sendirian dalam menjaganya, sebab kini ada banyak yang menjaganya bersamanya, dan itulah, ia memahami, makna sesungguhnya dari pembebasan, yaitu bahwa sebuah beban yang dahulu memikul seorang diri kini ditanggung oleh banyak, dan dengan itu berhenti menjadi beban dan menjadi sebuah sukacita.

Dan demikianlah garis para pengingat, yang dimulai di tepi air pada hari paling kelam dengan sebuah sumpah dan sebuah hati yang sendirian, akhirnya selesai, bukan dengan berakhir, melainkan dengan tersebar, mengalir keluar dari sedikit hati yang tersembunyi menuju seluruh tanah yang kini mengingat dirinya sendiri. Sebab tugas seorang pengingat tak pernah untuk menjaga sebuah nama selamanya seorang diri, melainkan untuk menjaganya cukup lama sampai seluruh dunia siap untuk mengingatnya bersama.

Dan tanah itu, Jawa, mengingat. Ia mengingat dalam kisah-kisah yang diceritakan di senja hari, dan dalam nama-nama yang diberikan kepada anak-anak, dan dalam lagu-lagu, dan dalam batu-batu tua yang kini dipahami, dan dalam dirinya sendiri, dalam darah dan tulang dan tanah dan air dari sebuah pulau yang akhirnya tahu siapa dirinya. Dan ia tak akan pernah lagi melupakan, sebab ingatan yang dahulu adalah tugas yang sunyi dari satu hati kini telah menjadi denyut yang hidup dari sebuah bangsa.

Dan demikianlah, sesudah empat belas ribu tahun, sesudah banjir dan kerajaan dan candi dan nama dan besi dan cahaya, sesudah tujuh kerikil dan tak terhitung pengingat dan empat syarat dan satu kepulangan, kisah tentang tanah di antara dua samudra mencapai akhirnya, yang juga adalah permulaannya, yaitu sebuah tanah yang mengingat namanya sendiri, dan yang tak akan pernah lagi sendirian.

Dan inilah pelajaran yang terakhir, yang merangkum semuanya. Bahwa segala sesuatu yang berharga dijaga oleh ingatan, dan bahwa ingatan, pada gilirannya, dijaga oleh kasih; sehingga yang sungguh-sungguh mengingat selalu juga mengasihi, dan yang sungguh-sungguh mengasihi tak akan pernah membiarkan apa yang dikasihinya dilupakan. Bahwa cara melihat yang dingin, dalam semua bentuknya sepanjang segala zaman, selalu bisa dikalahkan oleh satu hati yang menolak untuk berhenti memandang manusia sebagai manusia. Bahwa kebebasan menuntut sebuah harga, dan keluarga, dan keberanian untuk menjadi fana; tetapi bahwa di seberang harga itu menanti hal yang paling sederhana dan paling berharga dari semuanya, yaitu sebuah hidup yang dijalani, dan sebuah nama yang diingat, dan sebuah jiwa yang tak pernah lagi sendirian.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah seluruh saga sejak permulaannya, yang membawa setiap kebenaran dari hati ke hati melalui empat belas ribu tahun gelap, kini telah berhenti mengalir melalui air sama sekali, sebab ia tak lagi diperlukan. Ia kini mengalir melalui suara manusia, dari mulut yang bercerita ke telinga yang mendengar, dari satu malam ke malam berikutnya, selamanya. Sebab itulah yang selalu menjadi tujuannya, yaitu untuk suatu hari berhenti menjadi sebuah bisikan rahasia di dalam air, dan menjadi sebuah kisah yang diucapkan dengan suara keras di bawah matahari.

Sebab tanah ini menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama dan kebebasan yang dijaga dengan hati, dan kini, akhirnya, dalam ingatan hidup dari sebuah bangsa yang tahu siapa dirinya. Tanah ini adalah Jawa, dan ia mengingat namanya sendiri, dan ia tak akan pernah lagi melupakannya, dan ia tak akan pernah lagi sendirian.

Dan kisah itu, yang dijaga oleh satu hati di dalam gelap selama empat belas ribu tahun, kini diceritakan oleh banyak hati di bawah terang, dari malam ke malam, dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, sehingga ia tak akan pernah berakhir. Dan justru karena ia tak akan pernah berakhir, ia, akhirnya, selesai.